MasukTalitha menggertakkan giginya, matanya dipenuhi rasa iri yang sangat besar. "Zahira tidak boleh seberuntung itu! Tidak boleh!" batinnya.
Di sisi lain, Zahira berusaha melepaskan diri dari pria yang mengaku gigolo itu, "Lepaskan Pak! Malu di liatin orang," ujarnya dengan canggung. Mereka berdua kini berdiri di depan mobil mewah berwarna merah terang. Danis dengan berat melerai pelukannya, wajahnya kembali ke setelan pabrik, angkuh dan galak. "Aku akan pulang sendiri. Sampai jumpa!" Zahira membungkuk dengan sopan. Lalu gadis itu berjalan menuju tepian jalan, hendak menyetop taksi. Namun, betapa terkejutnya dia saat tubuh kecilnya seperti melayang. Rupanya Danis mengangkat tubuh itu layaknya karung beras. Robi berinisiatif untuk membuka pintu mobil. Matanya berkali-kali mengerjab-erjab karena masih tidak percaya saat melihat tingkah bosnya. Kemarin malam, bosnya yang galak dan anti perempuan itu baru membawa pulang seorang wanita muda. Dan sekarang dia memaksakan kehendaknya. Padahal kebersamaan mereka belum sampai satu hari tapi tingkahnya seolah-olah wanita itu adalah miliknya. "Pulang denganku!" Danis berkata dengan dingin. Pria itu berjalan menuju mobilnya dan menghiraukan tatapan semua orang. "Ini penculikan! Tolong!" pekik wanita itu. Dia memukul bahu Danis dan bahkan berusaha untuk menjambak rambut pria yang menggendongnya. Robi berdiri sambil meringis, "Gawat!" gumamnya. Tepat di depan mobil yang telah terbuka, Danis menurunkan gadis itu. Wajah Zahira memerah karena malu, rambutnya berantakan begitu pula bajunya. Matanya berkaca-kaca karena hampir menangis, Zahira berniat mengumpati pria gila itu. Tapi baru mau membuka mulut, Danis menyela, "500 juta! Kamu ingat?" Akhirnya Zahira hanya bisa mengumpat dalam hati, "Sialan!" "Masuk!" Perintah Danis tidak terbantahkan. Sebelum masuk Zahira menghentakan kakinya karena kesal. Sedangkan Danis dia hanya tersenyum simpul. "Jalan!" ujar Danis. Pria itu memasang wajah muram dan galak. Robi dengan patuh menyalakan mesin dan mobil mulai melaju. "Tuan Putri ... di mana tempat tinggalmu?" tanya Danis dengan lembut. Amarah di matanya seolah-olah menguap begitu saja. Robi hampir tersedak ludahnya sendiri. Selama lima tahun tidak pernah sedikit pun dia mendengar bosnya itu berkata begitu lembut. Bahkan saat mengetahui bahwa bosnya bangun dari koma dan mengalami amnesia pun. Dia berharap perilakunya berubah yaitu menjadi lebih ramah. Tapi kenyataannya malah semakin galak dan ketus. Di balik sikapnya itu, pasti ada udang di balik batu. "Jangan-jangan pria tua ini mengincar gadis lugu di sebelahnya?" batin Robi. Entah mengapa dia sedikit iba pada gadis itu. Zahira bersedekap, wajahnya masam dengan bibir mengerucut. Dia mulai protes, "Pak, ini berlebihan! Hubungan kita hanya sebatas hubungan satu malam. Aku pelanggan dan bapak adalah penjual jasa. Dan aku bukan anakmu atau istrimu yang harus bersikap patuh!" pekiknya di akhir kalimat. Robi hanya bisa menyimak dan ikut menganggukan kepala. Apa yang di katakan wanita itu memang benar. Tapi dia bilang bosnya adalah penjual jasa. Sejak kapan? Dan jasa apa yang bosnya jual? Danis hanya tersenyum samar, mendengar ocehan wanita itu. Baginya terlihat lucu. "Tapi, kamu kan belum bayar jasaku?" cibir Danis dengan sebelah alis terangkat. "Aku akan bayar! Aku pasti bayar, Pak!" pekik Zahira, kedua tangannya reflek menepuk pahanya sendiri dengan kesal. Lalu kedua tangan itu mengacak rambutnya karena frustasi. "Tenang ... gadis kecil. Tenang ... " ujar Danis lembut. Pria berusia 35 tahun itu menepuk-nepuk kepala Zahira sampai kepala gadis itu menunduk ke bawah. Kepala Zahira mengangguk-angguk dengan mulutnya menganga dan mata melotot. Dengan cepat, wanita muda itu menangkis tangan pria yang memperlakukannya seperti kucing. "Aku bukan gadis kecil, Pak! Aku wanita dewasa, usiaku 25 tahun," ujar Zahira dengan bibir mengerucut. Walaupun kadang saat dia sedang bekerja, orang-orang mengira bahwa dia adalah mahasiswa magang. Saking wajahnya yang begitu imut. "Oh! Benarkah? Tapi kamu terlihat berusia 17 tahun!" ujar Danis dengan nada mengejek. Yang benar saja? Pria ini benar-benar keterlaluan. Zahira hanya bisa menggigit bibir bawahnya karena frustasi. Mata bulatnya menyipit, ekspresinya benar-benar lucu. Karena gemas, Danis menangkup wajah wanita itu dan mencium bibirnya sekilas. Cup! Karena terkejut, punggung Zahira langsung menegak kaku dengan mata terbelaklak. Sedangkan Robi yang awalnya cuma melirik karena penasaran dengan perubahan sikap bosnya. Justru dikejutkan dengan sikap agresif bosnya itu. Yang awalnya anti perempuan, sekarang malah berubah jadi sedikit mesum. Saking terkejutnya, kepalanya menjadi sedikit pening, hingga membuat kakinya reflek menginjak rem dengan mendadak. Ban mobil dan aspal saling bergesek dan menimbulkan suara decitan yang terdengar linu. Brak!! Tubuh Robi terhenyak ke depan, keningnya menghantam setir, rasanya cukup sakit. Sedangkan Danis dan Zahira, tubuh mereka menghantam punggung kursi di depannya. "Auuwwwww!!" Zahira dan Danis meringis secara bersamaan. "Rooobbbiiiii!!!!!" Danis memekik. Tanduk dan taringnya benar-benar keluar. Robi terperanjat, pria itu mengelus dahinya yang benjol. Dia meminta maaf dengan suara yang bergetar, "Ma-maaffff, Tuan! Tadi ada kucing lewat!" sangkalnya. "Pergunakan matamu!" eram Danis dengan mata melotot.Zahira yang sedang berkemas menoleh dan terseyum lalu berkata, "Dokter Emran tidak di sini, Ta."Talitha tertawa, "Aku tahu."Setelah mendengar jawaban Talitah, Zahira tidak berkata apa-apa lagi. Setelah selesai berkemas dia pergi melewati Talitha dengan acuh tak acuh. Kedua tangan Talitha terkepal kuat, senyumnya langsung menghilang. Gadis itu mengejar Zahira dan menarik lengannya, "Tunggu, Ra. Aku datang kesini mau ngomong sesuatu."Zahira melepas cekalan tangan Talitha dengan hati-hati, "Aku ngantuk, kapan-kapan aja ya."Mata Talitha berkaca-kaca, dia bahkan sampai menitikkan air mata dan berkata dengan sedih, "Kamu ngindari aku ya? Mentang-mentang kamu adik Zaidan dan pacar Danis jadi lupa sama ak.""Bukan begitu, Ta. Tapi menurutku, kita sebaiknya emang jaga jarak," ujar Zahira dengan canggung.Sebenarnya Zahira memang ingin jaga jarak kepada Talitha dan Emran. Tapi karena dia orang yang tidak enakan, Zahira menjadi merasa bersalah.Talitha tersenyum. "Aku cuma bercanda kok. Kam
"Ya! Lagian perawat itu kekasihku. Dia hanya sedang merajuk." Emran kembali menegakkan punggungnya, kedua tangannya terlipat di dada dan mengangkat wajahnya dengan bangga. Revan mendengkus dan membuang muka. Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka,. Zahira datang sambil membawa nampan yang berisi perlengkapan merawat luka. Tanpa sadar, dua pria itu tersenyum lembut, yang satu menatapnya dengan penuh kerinduan dan yang satu menatapnya dengan cinta yang mengebu-gebu. Emran menyingkir dan membiarkan Zahira melakukan tugasnya. Zahira memegang tangan Revan dan perlahan melepaskan perban. "Lukanya kembali robek. Tolong tahan ya Pak." Revan memiringkan kepalanya lalu berkata dengan nada menggoda, "Tidak masalah. Aku bahkan rela dirawat oleh Suster secantik anda seumur hidup." Tepat saat Zahira mengangkat wajahnya, Revan berkedip dengan genit. Zahira hampir tersedak air liurnya sendiri. Gadis itu hanya bisa tersenyum canggung. Kenapa selalu seperti ini? Siapapun pria yang Zahira t
"Rumah sakit," jawab Emran dengan acuh tak acuh. Pria itu masuk kembali ke dalam kamar mandi. Dahi Talitha mengerut melihat masih ada busa sabun di tengkuk suaminya. Itu artinya pria itu belum selesai mandi dan keluar dengan terburu-buru. Sekarang berbagai pertanyaan muncul di kepalan Talitha.Hah! Taitha benar-benar kesal dan pusing di buatnya.***Malam ini Zahira shift malam. Saat Zahira berjalan sendiri di koridor setelah dari kamar mandi, dia melihat sosok yang tidak asing berdiri tidak jauh di depan ruang perawat. Zahira tanpa sadar memelankan langkahnya dengan perasaan was-was.Sosok itu adalah Emran. Pria itu tersenyum dan melambaikan tangan. Zahira reflek menoleh kebelakang untuk memastikan tapi tidak ada siapapun kecuali dirinya."Zahira ... " panggil Emran.Deg!Panggilan itu hampir membuat jantung Zahira jatuh, dia menggigit bibirnya karena takut. Sikap Emran yang keras kepala dan obsesif benar-benar membuat Zahira trauma. Gadis itu berpura-pura tidak dengar, dia yang ha
Ucapan Zahira begitu lembut dan sopan, namun setiap katanya mengandung duri yang tajam. Wulan membeku di tempat, wajah ramahnya hilang tak berjejak. Namun sekali lagi, dia menahan diri demi status dan kemewahan. Wulan meraih gelas minumnya dan meneguknya hingga tandas. Wulan mengelap bibirnya dengan tissu lalu melirik jam tangannya dan berkata dengan lembut, "Maaf ya Ra ... Tante pamit dulu karena ada janji. Tapi tolong pertimbangkan tawaran Tante, oke ... " Zahira mengangkat kelopak matanya, matanya yang hitam dan jernih dipenuhi hawa dingin. Dia tidak menyangka ada orang yang tidak tahu malu seperti Wulan. Wulan berdiri dengan santai, mengambil tas mahalnya dan tersenyum. Saat berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar, ekspresi Wulan tampak mengerikan. Zahira melirik kue yang sudah tidak berbentuk itu dengan jijik dan bergumam, "Sayang sekali, padahal kuenya enak." *** Thalita duduk di meja rias sambil bersolek, dia masih menggunakan jubah mandi dan rambutnya yang bas
Pertanyaan itu cukup membuat Zahira termangu beberapa detik, "Maksudnya?"Wulan mengerutkan bibirnya dan wajahnya berubah murung lalu berkata dengan nada sedih, "Ehhh ... Talitha sangat sibuk, dia tidak pernah di rumah dan tidak pernah mengurus putraku. Jika di rumah dia hanya malas-malasan."Wulan menceritakan kehidupan Emran dan Talitha yang tidak ada hubungan dengan Zahira, membuat gadis itu merasa canggung. Zahira mengusap tengkuknya lalu berkata sambil tersenyum tipis, "Wajar si ... Talitha kan sedang hamil."Melihat ekspresi Zahira yang polos dan tidak terpengaruh membuat Wulan merasa kesal. Wanita paruh baya itu hanya menggertakkan giginya lalu kembali berpura-pura. Wulan kembali menghela nafas dan terlihat tidak berdaya. "Aku juga pernah hamil, tapi aku merasa dia aneh. Dia kadang terlihat dingin dan acuh pada Emran. Aku juga dengar rumor bahwa dia sedang dekat dengan pria lain. Jangan-jangan anak itu bukan milik putraku."Setelah mengatakan hal buruk pada menantunya yang dulu
Melihat Zahira ketakutan, Wulan menggigit bibirnya dengan canggung dan berkata dengan lembut dan hati-hati, "Boleh masuk, Ra? Ada hal yang ingin aku katakan." Zahira tercengang. Apakah matahari terbit dari barat? Kenapa nyonya angkuh seperti Wulan akan bersikap rendah hati seperti ini. Semakin dipikirkan, semakin terasa mustahil. Melihat Wulan begitu sopan, Zahira semakin merasa gelisah. Dia berkedip beberapa kali sambil memegang gagang pintu dengan kuat. Dia masih ingat setiap interaksi bersama Wulan, mereka tidak pernah berakhir menyenangkan. Jadi Zahira harus membuat alasan karena tidak ingin berduaan saja dengan ibu mantan pacarnya yang problematik itu. Setelah menenangkan diri, Zahira berdehem dan mulai merangkai alasan. "Tante, kebetulan tempat tinggalku masih berantakan. Sebentar lagi orang yang akan membereskannya akan segera datang. Bagaimana kalau kita mengobrol di kafe depan?" ujarnya dengan ragu. Jika ada interaksi di antara mereka berdua harus di depan umum agar ti







