Share

Bab 106

Author: Saraswati_5
last update Last Updated: 2026-03-06 10:27:38

Ruang interogasi di kantor polisi itu terasa dingin dan terlalu sunyi.

Lampu neon putih menggantung tepat di atas meja logam, memantulkan cahaya pucat yang membuat bayangan tampak lebih tajam dari biasanya. Bau kopi basi dan kertas lama bercampur dengan udara malam yang masih terbawa masuk dari pintu yang sesekali terbuka.

Jordan duduk santai di kursi besi.

Kedua tangannya disilangkan di dada, kaki kanan bertumpu di kaki kiri dengan posisi yang jauh dari kata gugup. Ia terlihat seperti seseoran
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 107

    Lorong kantor polisi yang tadinya hanya terasa dingin, kini berubah menjadi tempat yang menyesakkan.Semua orang terdiam.Kata-kata petugas tadi seolah masih menggantung di udara.Subjek utama eksperimen itu adalah… Jordan Mahesa.Gilang berdiri kaku di tempatnya. Tangannya yang menggenggam map terasa semakin berat. Dadanya seperti ditekan sesuatu yang tidak terlihat.Aditya di sampingnya mengerutkan kening dalam.“Apa maksudnya eksperimen manusia?” gumamnya.Petugas itu tampak ragu sebelum menjawab.“Kami belum tahu pasti. Tapi berkas-berkasnya… bukan penelitian medis biasa.”Komisaris Bima mengembuskan napas pelan, lalu menatap ke arah ruang interogasi tempat Jordan berada.“Berapa banyak dokumen yang ditemukan?”“Puluhan map, Pak. Sebagian besar berisi laporan perkembangan fisik, psikologis, dan… catatan pengujian.”“Pengujian apa?”Petugas itu menelan ludah.“Ketahanan tubuh, reaksi terhadap obat tertentu, dan… latihan kemampuan taktis.”Bima terdiam.Ia sudah lama bekerja di duni

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 106

    Ruang interogasi di kantor polisi itu terasa dingin dan terlalu sunyi.Lampu neon putih menggantung tepat di atas meja logam, memantulkan cahaya pucat yang membuat bayangan tampak lebih tajam dari biasanya. Bau kopi basi dan kertas lama bercampur dengan udara malam yang masih terbawa masuk dari pintu yang sesekali terbuka.Jordan duduk santai di kursi besi.Kedua tangannya disilangkan di dada, kaki kanan bertumpu di kaki kiri dengan posisi yang jauh dari kata gugup. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu bus, bukan seorang siswa SMA yang baru saja menembakkan pistol di sebuah pabrik kosong.Di depannya duduk seorang penyidik berusia sekitar empat puluh tahun.Namanya Komisaris Bima.Tatapan matanya tajam dan penuh pengalaman.Ia sudah menangani banyak kasus—penculikan, perdagangan manusia, bahkan pembunuhan. Namun jarang sekali ia menemukan seseorang dengan ekspresi setenang anak laki-laki yang kini duduk di hadapannya.“Nama lengkap,” ucap Bima.“Jordan Mahesa.”“Umur.”“

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   105

    Angin malam berembus kencang di kawasan pabrik tua itu. Debu beterbangan, menciptakan kabut tipis yang membuat suasana semakin mencekam. Lampu-lampu jalan yang jarang berdiri di sekitar area industri hanya memberikan cahaya pucat, cukup untuk memperlihatkan siluet-siluet bergerak di kejauhan.Gilang masih berdiri di ambang pintu bangunan pabrik dengan napas yang belum stabil. Tangannya menggenggam erat pergelangan Tharie yang kini berdiri di sampingnya, masih gemetar setelah dibebaskan dari ikatan.Namun bukan itu yang membuat darah Gilang terasa membeku.Tatapannya terpaku pada sosok yang berdiri beberapa meter dari mereka.Orang itu memegang pistol.Asap tipis masih keluar dari moncongnya.Dan wajahnya… wajah itu begitu dikenal.“Jordan…?” suara Tharie pecah lebih dulu, lirih namun penuh ketidakpercayaan.Gilang merasakan jantungnya berdetak keras.Jordan.Siswa yang selama ini sering mendekati Tharie.Siswa yang beberapa kali membuatnya merasa tidak nyaman karena kedekatannya denga

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 104

    Dunia Gilang seperti runtuh dalam satu tarikan napas.Video itu terus berputar di kepalanya—ruangan gelap, lampu redup yang menggantung seperti saksi bisu, dan Tharie yang duduk dengan tangan terikat. Kepalanya sedikit menunduk, rambutnya menutupi sebagian wajah. Ia tidak bergerak.Tidak ada suara.Justru itu yang paling menakutkan.Sunyi.“Gilang…” suara Hanum terdengar jauh, seperti berasal dari lorong panjang yang menggema. “Apa isi videonya?”Gilang tak langsung menjawab. Tangannya masih mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.“Dia… mereka menculiknya.”Kata itu terasa asing di lidahnya.Menculik.Seolah ini bukan hidupnya.Seolah semua ini hanya adegan film buruk yang terlalu dramatis untuk jadi kenyataan.Aditya meraih ponsel dari tangannya, menatap layar dengan rahang mengeras. Intan menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca.“Kita lapor polisi,” tegas Aditya.“Tidak.” Gilang langsung memotong.Semua menoleh padanya.“Kalau kita lapor sekarang, mereka bis

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 103

    Mobil itu terus melaju menembus gelap malam, meninggalkan gudang tua dan segala misterinya. Hanya suara mesin dan napas mereka yang terdengar di dalam kabin.Tharie masih memandang Gilang.“Katakan sesuatu,” pintanya pelan.Gilang menelan ludah. “Dia tidak akan berhenti.”“Ketua yayasan?”Gilang mengangguk tipis. “Dan sekarang ini bukan lagi soal membela nama ayahku.”“Lalu soal apa?”Ia tidak langsung menjawab.Karena jawaban itu menyesakkan.Soal melindungi orang yang ia cintai.Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Gilang benar-benar merasa takut.---Malam itu juga, berita mengejutkan menyebar cepat.Gudang tua di pinggiran kota dilaporkan mengalami kebakaran kecil.Tidak besar.Tidak sampai mengundang perhatian media besar.Tapi cukup untuk “menghilangkan” sesuatu.Atau seseorang.Pagi harinya, Gilang mendapat kabar dari nomor tak dikenal lagi.Pak Surya ditemukan dalam kondisi kritis. Kecelakaan. Tragis sekali.Pesan itu tanpa tanda tangan.Namun Gilang tahu siapa y

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 102

    Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya. Tharie masih berdiri di depan Gilang ketika layar ponselnya perlahan meredup. Suara asing itu masih terngiang di kepala mereka berdua. Itu bukan keluarga Tharie. Kalimat itu seperti batu yang dilemparkan ke permukaan air tenang—menimbulkan gelombang yang tak terduga arahnya. “Siapa pun itu, jangan datang sendirian,” ujar Tharie cepat, nalurinya menolak kemungkinan buruk. Gilang menatapnya lama. Ada konflik di sana—antara keinginan melindungi dan dorongan untuk mencari kebenaran. “Kalau ini tentang ayahku…” suaranya rendah, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri, “aku tidak bisa mengabaikannya.” “Dan kalau ini jebakan?” “Aku sudah terjebak sejak lama tanpa tahu siapa yang menarik talinya.” Kalimat itu membuat dada Tharie terasa sesak. Ia tahu luka tentang ayah kandung Gilang bukan sekadar cerita masa lalu. Itu bagian dari identitasnya. Bagian yang selama ini ia simpan rapat-rapat di balik ketenangan sikapnya. “Kalau kamu te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status