Share

Malam yang Membakar Luka

Author: Senjaaaaa
last update Last Updated: 2025-10-06 10:18:50

Pikiran Nana berkecamuk, ucapan Dikta dan Maudy terus terngiang di telinganya. "Si suci yang nggak mau disentuh..."

"Kolot..." Kata-kata itu merobek egonya, membuatnya merasa hina dan bodoh. Dengan perasaan frustrasi yang memuncak, Nana memutuskan untuk pergi ke bar.

Musik dentuman keras dan aroma alkohol langsung menyambutnya saat ia memasuki bar yang remang-remang. Nana duduk di bar stool dan memesan minuman keras. Satu gelas, dua gelas, ia terus meneguknya hingga kepalanya terasa pening.

Egonya tercabik-cabik. Selama ini, ia selalu menjaga dirinya untuk Dikta, namun apa yang ia dapatkan? Pengkhianatan yang menyakitkan. Air mata mulai mengalir di pipinya, bercampur dengan sisa-sisa minuman yang tumpah.

"Sialan kau, Dikta!" Nana berteriak tiba-tiba, membuat beberapa pengunjung bar menoleh ke arahnya. "Bagaimana bisa kau mengkhianatiku? Aku yang selama ini mendukungmu, membantumu meraih semua yang kau inginkan! Kau itu nggak tahu diri!"

Nana tertawa sinis, lalu kembali meneguk minumannya. "Dikta... Dikta... Kau pikir kau siapa? Kau itu cuma benalu yang menempel padaku! Tanpa aku, kau bukan siapa-siapa!"

Semakin banyak ia minum, semakin kacau pula ucapannya. Nana mulai memaki-maki Dikta dengan kata-kata kasar dan lucu.

"Dasar Dikta nggak tahu diri! Mukanya aja pas-pasan, sok-sokan selingkuh! Nggak sadar apa kalau yang naksir aku itu antri panjang kayak ular!" Nana berteriak sambil mengacungkan jari tengahnya ke udara.

"Dan Maudy... Adik macam apa kau? Menusukku dari belakang! Dasar ular berkepala dua!" Nana tertawa terbahak-bahak, lalu menangis sesenggukan.

Beberapa pengunjung bar mulai merasa risih dengan kelakuan Nana. Seorang bartender mendekatinya dan bertanya, "Nona, apa Anda baik-baik saja? Sepertinya Anda sudah terlalu banyak minum."

Nana menatap bartender itu dengan mata sayu. "Aku? Aku baik-baik saja! Aku cuma sedang merayakan kebodohanku sendiri!" Nana kembali tertawa, lalu memesan minuman lagi.

Malam itu, Nana benar-benar larut dalam kesedihan dan amarahnya. Ia melampiaskan semua kekecewaan dan sakit hatinya dengan minum dan memaki-maki Dikta serta Maudy. Egonya hancur, namun setidaknya ia merasa sedikit lega bisa mengeluarkan semua unek-uneknya.

Di tengah hiruk pikuk bar, seorang pria dengan aura misterius duduk di sebelah Nana. Pria itu memesan minuman dengan tenang, seolah tak terpengaruh oleh kebisingan di sekitarnya.

Nana, yang sudah kehilangan kendali akibat alkohol, menoleh ke arah pria itu dengan tatapan menggoda. "Hai, tampan," sapa Nana dengan suara cadel. "Kamu sangat tampan dan tubuhmu... indah sekali."

Pria itu hanya melirik Nana sekilas, lalu kembali fokus pada minumannya. Sikapnya dingin dan acuh tak acuh.

Nana tidak menyerah. Ia bangkit dari bar stool dan mendekati pria itu. "Kenapa diam saja? Aku sedang mengajakmu bicara," kata Nana sambil menyentuh lengan pria itu.

Pria itu menepis tangan Nana dengan kasar. "Maaf, Nona, saya tidak tertarik," jawabnya dengan nada dingin dan jijik.

Nana terkejut dengan penolakan itu. "Kenapa? Kenapa kamu menolakku? Lihat aku, aku cantik, aku seksi!" Nana membusungkan dadanya, berusaha menarik perhatian pria itu.

Pria itu menatap Nana dengan tatapan merendahkan. "Seksi? Bahkan dadamu rata begitu."

Mendengar hinaan itu, Nana menyentuh kedua dadanya dengan bingung. "Kau buta ya? Aku punya dada montok seperti ini!"

Tiba-tiba, Nana kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Dengan sigap, pria itu menangkap tubuh Nana.

Dalam posisi yang canggung itu, Nana menarik wajah pria itu dan mencium bibirnya dengan kasar. Pria itu terkejut dan berusaha melepaskan diri, namun Nana terlalu kuat untuknya.

Setelah beberapa saat, Nana melepaskan ciumannya. "Kau ini pria bukan sih?" tanya Nana dengan nada mengejek. "Atau jangan-jangan kau impotensi ya?"

Pria itu terdiam sejenak, lalu menatap Nana dengan tatapan tajam. "Jangan pernah berkata seperti itu pada seorang pria, Nona," ucapnya dengan suara berat.

Tanpa diduga, pria itu langsung mengangkat tubuh Nana dan memangku nya. Nana terkejut dan berusaha memberontak, namun pria itu terlalu kuat untuknya. Dengan langkah cepat, pria itu membawa Nana menuju sebuah kamar di belakang bar.

"Hei! Mau dibawa kemana aku?" teriak Nana panik. Namun, pria itu tidak menjawab dan terus melangkah.

Di dalam kamar, pria itu menurunkan Nana ke tempat tidur dengan kasar. Nana berusaha bangkit dan melarikan diri, namun pria itu menahannya.

"Kau mau apa?" tanya Nana dengan nada ketakutan.

Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Nana dan berbisik, "Aku akan menunjukkan padamu, apa yang bisa dilakukan oleh pria impoten."

Di sisa kesadarannya, Nana menyesali kata-kata yang terlontar pada pria asing itu. Ia mencoba meminta maaf, namun pria itu menolak mentah-mentah.

"Terlambat, Nona," desis pria itu dengan nada dingin. "Kau sembarangan menciumku dan menuduhku impoten. Sekarang, kita buktikan tuduhanmu itu."

Tiba-tiba, bayangan pengkhianatan Dikta dan Maudy kembali menghantui pikirannya. Nana tersenyum kecut. "Baiklah, tunjukkan saja kemampuanmu. Aku tidak takut," tantangnya.

Pria itu menyeringai, seringai predator yang siap menerkam mangsanya. "Jangan menyesal," bisiknya.

"Untuk apa menyesal? Jangan buang waktuku!" balas Nana dengan nada menantang.

Pria itu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Nana perlahan. Awalnya ragu, Nana membalas ciuman itu. Semakin lama, ciuman itu semakin dalam dan menuntut, melupakan segala kesedihan dan kekecewaan yang baru saja dialaminya.

Setelah beberapa saat, pria itu menghentikan ciumannya dan menatap Nana dengan tatapan menyelidik.

"Apa kamu masih perawan?" Suara itu berat, menusuk indra pendengaran Nana yang tengah terbuai dalam ciuman.

Nana mendecih, senyum sinis terukir di bibirnya. "Kau yang belum mengenal sentuhan wanita, kurasa," desisnya, matanya menantang pria asing di hadapannya.

Pria itu menyipitkan mata, jemarinya yang kasar mengusap lembut lekuk wajah Nana. "Meragukan kemampuanku, Nona?" bisiknya, nada suaranya rendah dan mengancam.

"Ciumanmu saja kaku, tak membangkitkan bara asmara," ejek Nana, menusuk tepat di egonya.

"Kau yakin berani berkata demikian?" tantang pria itu, matanya berkilat penuh nafsu.

"Terlalu banyak bicara!" balas Nana, hatinya berdebar menantang bahaya.

Pria itu menyeringai, seringai predator yang siap menerkam mangsanya. "Kau akan memohon ampun, Nona. Ingatlah itu," ancamnya, suaranya berbisik di telinga Nana.

"Cih... buktikan saja!" Nana menarik leher pria itu, bibirnya menyambar bibir sang pria dalam ciuman yang membara. Ciuman yang awalnya lembut, kini berubah menjadi tarian liar penuh gairah. Nana membalikkan keadaan, kini ia berada di atas tubuh pria itu, menindihnya dengan sensual. "Aku pemimpin permainan ini," bisiknya lirih, menggigit daun telinga pria itu dengan nakal.

Pria itu menegang, sensasi yang memabukkan menjalar ke seluruh tubuhnya. "Gadis nakal," desahnya, menikmati setiap sentuhan Nana.

"Ah..." Lenguhan keduanya menggema di ruangan itu, menyatu dalam irama nafsu yang membara. "Seperti itu..." desah sang pria, menikmati setiap detik permainan ini.

Nana tersenyum menatap pria di bawahnya. Jemarinya yang lentik menyentuh dada bidang pria itu, perlahan membuka kancing kemejanya satu per satu dengan bibirnya. Pria itu tersenyum puas saat Nana melepaskan sabuknya, membebaskan hasrat yang terpendam.

Keadaan kembali berbalik, pria itu menindih Nana, mengikat kedua tangannya dengan sabuk, mengangkatnya ke atas hingga Nana tak mampu melawan. Bibirnya melumat bibir Nana dengan penuh gairah, lalu turun ke leher jenjangnya. "Ah..." Lenguhan Nana terdengar menggema, memecah keheningan malam.

"Memohonlah!" perintah sang pria, suaranya serak karena nafsu.

"Ssttt... ah... aku mohon! Aku tak tahan..." desah Nana, tubuhnya bergetar hebat.

Pria itu tersenyum puas. "Kau tak akan melupakan malam ini, Nona. Nikmatilah," bisiknya, sebelum kembali menyesap setiap inci tubuh Nana.

Lenguhan dan erangan terus terdengar, keduanya terhanyut dalam lautan nafsu yang tak bertepi. Mereka dimabuk cinta semalam, melupakan segala logika dan akal sehat.

"Sial... nikmat sekali," desah Nana lirih, merasakan sentuhan pria itu semakin dalam, membakar setiap inci tubuhnya.

Keringat membasahi kedua tubuh yang kini telah menyatu dalam tarian terlarang. Di luar, hujan lebat mengguyur bumi, namun di dalam ruangan itu, panas membara menggerogoti keduanya, melenyapkan akal sehat.

"Siapa namamu?" tanya pria itu di tengah permainan, suaranya serak dan bergetar.

"Nana... aku Nana... ah," jawab Nana dengan napas tersengal, kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Nana, nama yang lembut, namun gairahmu membara," bisik pria itu, matanya menatap Nana dengan penuh minat.

Nana tersenyum sinis, merasakan kenikmatan surga dunia yang diberikan pria itu. "Kenapa?" tantangnya, bibirnya bergetar menahan desahan.

Pria itu menjawab, "Liar... kau gadis yang begitu liar, seperti api yang membakar."

Nana mengalungkan tangannya di leher pria itu, matanya menantang. "Kau suka?" bisiknya, suaranya menggoda dan penuh hasrat.

Pria itu meraih bibir Nana kembali, menciumnya dengan penuh gairah. "Kau membuatku terkesan, Nona. Kau tak akan terlupakan," desahnya di sela ciuman.

Keduanya semakin dimabuk oleh cinta sesaat yang membara. "Memohon lah, sayang," bisik pria itu, suaranya penuh dominasi.

"Aku mohon... lebih cepat... yeah... ah!" desah Nana, tubuhnya bergetar hebat dalam puncak kenikmatan.

Malam itu pun Nana terlelap di pelukan sang pria asing bersama sisa-sisa dosa yang baru mereka ciptakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Satu Bathtub Dengan Andreas

    Aku baru sampai dari kantor. Tubuhku lengket oleh keringat dan kelelahan. Andreas tidak menjemput. Kesalku menumpuk. Kalau saja tahu dia akan seenaknya begini, lebih baik tadi aku bawa mobil sendiri. Aku menurunkan tubuh ke dalam bathtub. Air hangat merendamku. Aroma terapi memenuhi udara, perlahan meredakan penat. Aku memejamkan mata, mencoba tenang. Lalu aku merasakan sentuhan hangat di wajahku. Aku membuka mata. Andreas duduk di sisi bathtub, menatapku. Refleks aku menutupi tubuhku dengan tangan, meski air dan busa sudah menutupinya. “Hei! Kamu ngapain?” tanyaku panik. Andreas berdiri dan melangkah ke belakangku. Kehadirannya terasa dekat. Terlalu dekat. “Bagaimana kalau aku bantu kamu mandi?” ucapnya singkat. “Dasar cabul,” balasku cepat. Ia tidak membantah. Hanya menatapku sejenak tatapan yan

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Jalur yang Salah

    “Enggak ngapa-ngapain?” “Iya,” jawab Andreas datar. “Tentu saja. Aku bukan orang yang suka memanfaatkan orang yang nggak sadar.” Ia melangkah satu langkah mendekat. “Aku lebih suka kalau kamu memberikannya dengan sadar.” Tubuh Andreas condong ke arahku. Wajahnya semakin dekat. Aku bisa merasakan hangat napasnya menyentuh kulitku. Aku segera mendorong dadanya dengan ujung telunjuk. “Apasih?” kataku gugup. “Lagian aku lagi hamil muda, tahu. Nggak boleh gituan.” Andreas terkekeh pelan. “Gituan apa?” Ia mencondongkan wajahnya sedikit. “Gini?” Bibirnya menyentuh bibirku singkat. Sialnya, aku tidak menolak. Aku justru memejamkan mata dan membalas ciumannya. Kepalaku kosong. Semua nasihat dokter, semua rasa takut, mendadak menguap. Saat ciuman itu mulai kehila

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Antara Marah dan Malu

    Itu adalah rasa takut Anda sendiri.” Ruangan hening. “Apakah saya gila, Dok?” tanyaku akhirnya. Dr. Melita menggeleng. “Tidak. Anda hanya kelelahan secara mental. Dan Anda butuh waktu untuk memisahkan mimpi dari kenyataan.” Ia tersenyum tipis. “Dan satu hal penting selama Anda masih bisa mempertanyakan mimpi itu, Anda masih sepenuhnya waras.” Tanganku mengepal perlahan. Namun entah kenapa… rasa takut itu belum sepenuhnya pergi. Dr. Melita kembali membuka catatannya. “Nadira, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi mimpi-mimpi itu,” katanya tenang. Ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat. “Pertama, jangan melawan mimpi itu.” Aku mengernyit. “Maksudnya?” “Semakin Anda takut dan berusaha menghindarinya, otak justru menganggap mimpi itu sebagai ancaman nyata,” jelasnya. “Akhirnya mimpi itu terus berulang, bahkan semakin detail.” Aku mengangguk pelan. “Kedua,” lanjutnya, “Anda perlu membedakan waktu sadar dan waktu tidur. Sebelum tidur, laku

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Bertemu Psikiater

    Ya, kenapa aku bisa nggak kepikiran sampai sana? Semua itu cuma mimpi. Kenapa aku harus setakut ini? Catalina menatapku lalu mendengus kecil. “Aku kira kamu harus ke dokter jiwa, deh,” katanya sambil meledek. Aku hampir membalas ketika pintu kamar terbuka. Andreas masuk membawa keranjang buah. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Catalina melirikku, lalu berdiri. “Aku pulang dulu, ya.” Ia mendekat dan berbisik di telingaku sambil melirik Andreas yang sedang menaruh buah di nakas. “Kamu belum cerita soal dia.” Aku hanya menatapnya kesal. Catalina lalu sedikit membungkuk ke arah Andreas. “Tuan Andreas, aku permisi dulu.” Andreas hanya mengangguk singkat. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Setelah Catalina pergi, Andreas duduk di sisi ranjang. “Kamu mau makan buah?” tanyanya. “Mau,” jawabku. “Kamu mau apa?” “Apel.” Ia bangkit, mengambil satu apel, lalu mengupasnya dengan tenang. Setelah selesai, apel itu diserahkan padaku tanpa kata-kata tambahan. Tak lam

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Mulai Sadar

    Aku membuka mata. Aroma obat-obatan langsung menyusup ke hidungku. Tenggorokanku terasa kering, kepalaku masih berat. Samar-samar, aku mendengar percakapan dua orang yang suaranya sangat kukenal. “Sumpah, aku nggak tahu,” suara Catalina terdengar panik. “Aku datang, aku bicara, dia bengong lalu natap aku aneh, kayak ketakutan. Habis itu dia pingsan.” “Apa yang kamu katakan?” suara Andreas terdengar datar, tapi ada tekanan di sana. “Aku cuma nanya apa dia serius mau menikah sama Dikta. Itu pertanyaan biasa. Sebelumnya aku juga sering nanya hal yang sama.” Aku memejamkan mata lagi. Jelas aku yang berlebihan. Terlalu larut dalam mimpi. Terlalu takut pada sesuatu yang bahkan belum tentu nyata. Tak lama kemudian, suara pintu terbuka. Langkah kaki yang kukenal mendekat. Aku tidak membuka mata, pura-pura masih tertidur. Aroma itu. Aku tahu. Andreas. Ia duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam tanganku, hangat. Lalu bibirnya menyentuh punggung tanganku dengan lemb

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Bertemu Catalina

    Aku baru saja menyelesaikan rapat ketika Bayu masuk dengan wajah ragu. “Bu Nadira, ada tamu.” “Siapa?” tanyaku tanpa menoleh. “Keluarga Dikta,” ucap Bayu pelan, seperti takut salah bicara. Tanganku langsung menggebrak meja. Suaranya keras, membuat Bayu terperangah dan refleks menegakkan badan. “Di mana mereka?” tanyaku dingin. “Menunggu di lobi.” Aku berdiri dan langsung melangkah keluar. Bayu mengikutiku dari belakang. Begitu sampai di lobi, dua manusia tua itu sudah berdiri dengan dagu terangkat, seolah merekalah yang punya kuasa di gedung ini. “Nadira,” kata perempuan tua itu sinis. “Mentang-mentang sudah jadi CEO, kamu memperlakukan keluarga calon suamimu begini?” Aku menatap mereka tanpa ekspresi. Ayah Dikta ikut bicara. “

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status