LOGINKami bahkan belum benar-benar masuk ke inti pembahasan ketika kursi di sebelahku bergeser kasar. Seseorang duduk terlalu dekat. Terlalu mempet. Bahkan kepalanya sengaja dicondongkan ke arahku. Sial. Yohanes. Aroma parfum menyengatnya langsung memenuhi ruang privat itu. Aku bisa merasakan perubahan udara di sekitarku dan yang paling terasa adalah perubahan ekspresi Andreas. Rahangan suamiku mengeras. Yohanes menyandarkan siku di sandaran sofa, seolah ia bagian dari pertemuan penting ini. “Nadira,” katanya santai namun penuh ejekan, “kamu berani ya jual mahal denganku. Kamu gak tahu siapa aku?” Aku tak menjawab. Tapi Andreas sudah berhenti bergerak sama sekali. Yohanes melirik pria di seberang kami Sean, pemilik perusahaan tekstil itu lalu tertawa kecil. “Eh, Tuan Muda Sean?” katanya sok akrab. Sean hanya menatap datar. Ia melirikku, lalu melirik Andreas. Situasi mulai terasa tidak nyaman. “Wanita ini teman kuliahku dulu,” lanjut Yohanes. “Dia...” Belum selesai.T
Di dalam mobil, ponselku bergetar tanpa henti. Satu notifikasi. Dua. Puluhan. Aku mengernyit pelan saat membuka layar. Grup kantor. Foto itu terpampang jelas aku masuk ke mobil mewah, seorang pria paruh baya membukakan pintu. Caption dari Cleo. Ternyata simpanan pria tua. Aku membaca sekali. Lalu dua kali. Ekspresiku datar. Tak ada panik. Tak ada marah. Aku malah menghela napas pendek. Malas sekali rasanya harus klarifikasi untuk sesuatu yang bahkan tak layak dijelaskan. Kupadamkan layar ponsel dan menatap ke luar jendela mobil. Biarkan saja. Orang yang hidupnya kosong memang butuh bahan gosip untuk merasa penting. Esok paginya. Andreas mengantarku seperti biasa. Mobil berhenti agak jauh dari kantor. Sebelum aku turun, ia menarik tanganku dan mengecupnya singkat. “Nanti siang kita pergi cari bahan,” katanya tenang. Aku mengangguk. “Baiklah.” Tatapannya lembut, seolah tak ada kekacauan apa pun di dunia ini. Di kantor, suasana terasa… berbeda. Bisik-bisik. Tatapan miring. Se
Aku keluar dari ruangan Andreas sambil merapikan kerah bajuku. Jantungku masih berdetak tidak beraturan. Kulirik pantulan diriku di dinding kaca leherku sedikit memerah. Bekas gigitan itu masih terasa perih, seperti pengingat kecil atas emosi yang tadi meledak lalu mereda dengan cara yang… terlalu intim. Aku menurunkan rambutku, berusaha menutupinya. Aku tidak tahu, di ujung lorong, sepasang mata sedang mengamatiku tajam. Cleo. Ia berdiri bersandar di dinding, tangannya terlipat di dada. Tatapannya menyapu gerakku dari atas ke bawah, lalu berhenti di leherku. Bibirnya melengkung sinis. Tangannya mengepal. “Dasar murahan,” desisnya pelan namun penuh racun. “Atas dasar apa, hah?” matanya menyala iri. “Aku kerja di sini lima tahun. Lima tahun!” suaranya bergetar menahan amarah. “Tapi CEO bahkan nggak pernah melihat aku.” Ia melangkah setengah langkah ke depan, berbisik dengan kebencian yang tak disembunyikan. “Awas kamu, Nadira. Aku bakal bikin kamu nggak betah
Andreas tiba ketika api sudah sepenuhnya padam. Bau hangus masih pekat di udara. Asap tipis menggantung seperti kabut kelabu, menyelimuti bangunan gudang yang separuh tubuhnya menghitam. Sebagian atap runtuh, rangka besi melengkung kepanasan, dan yang paling menusuk tumpukan kain musim semi itu tinggal abu dan sisa arang. Dirga menghampir dengan wajah tegang. “Api sudah berhasil dipadamkan. Tidak ada korban jiwa.” Andreas mengangguk, sorot matanya menyapu kerusakan. “CCTV?” Dirga menghela napas. “Dimatikan total, tuan. Sejak sebelum kejadian. Tidak ada rekaman.” Rahang Andreas mengeras. “Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semua kemungkinan. Jangan ada yang terlewat.” “Siap.” Andreas menatap gudang itu lama tenang di luar, namun di dalam kepalanya, satu simpulan mulai terbentuk.** Aku terbangun dengan tubuh masih berada dalam pelukan Andreas. Lengannya melingkari pinggangku, napasnya teratur di tengkukku. Aku terdiam sejenak, heran. Kapan dia pulang? Perlahan aku bergera
Aku tenggelam dalam pekerjaanku tanpa menyadari waktu merayap begitu cepat. Jemariku lincah di atas meja kerja, menyesuaikan detail terakhir desain, mengecek ulang potongan pola, dan memastikan setiap sampel kain tersusun rapi. Di sekelilingku, anggota tim mulai berkemas satu per satu. “Besok dilanjut lagi ya,” ujar salah satu dari mereka. Aku mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati di jalan.” Lampu kantor perlahan meredup. Suara langkah kaki menjauh. Hingga akhirnya, lantai desain itu tinggal aku dan Cleo. Aku merapikan mejaku, tak melirik sedikit pun ke arahnya. Lalu ponselku bergetar. Pesan dari rumah. Aku bergegas memasukkan barang ke tas. Aku tidak tahu… begitu pintu lift menutup di belakangku, mata Cleo berubah. Cleo berdiri. Menatap meja kerjaku dengan senyum tipis yang penuh iri. “Berani-beraninya kamu,” gumamnya pelan. Ia melangkah mendekat. Tangannya menyapu tumpukan sketsa... bruk! Kertas-kertas itu berhamburan ke lantai. Belum puas, ia meraih beberapa sampel ka
Di ruang rapat lantai desain, suasana pagi itu terasa berbeda. Manager berdiri di depan whiteboard, menatap satu per satu wajah yang duduk di hadapannya. “Untuk proyek koleksi musim semi ini,” ucapnya tegas, “kita akan membentuk tim khusus. Nadira akan menjadi lead designer.” Beberapa pasang mata langsung mengarah padaku. Ada yang antusias, ada yang datar, dan tentu saja ada yang tidak senang. “Aku butuh tiga orang untuk bagian teknis pola, dua untuk riset bahan, dan satu untuk color palette,” lanjut manager. “Kita mulai hari ini. Deadline ketat.” Aku menarik napas pelan, lalu berdiri. “Terima kasih atas kepercayaannya. Aku harap kita bisa kerja sama dengan profesional.” Mita tersenyum lebar dan mengangguk penuh semangat. Beberapa rekan lain ikut merespons positif. Cleo hanya menyilangkan tangan, bibirnya mengulum senyum tipis yang sulit diartikan. Hari itu kami langsung tenggelam dalam pekerjaan. Meja dipenuhi sketsa, swatch warna, dan katalog kain. Aku dan tim riset bahan ber







