Share

Sunyi diantara Dua Hati

Author: Senjaaaaa
last update Huling Na-update: 2025-10-09 08:13:57

Lampu tidur menyala redup, menerangi kamar Nana dengan cahaya hangat. Nana duduk bersandar di kepala ranjang, laptop di pangkuannya. Aroma lavender dari diffuser memenuhi ruangan.

Dikta masuk, senyumnya lembut. "Lagi ngapain, Sayang?" tanyanya sambil naik ke ranjang dan duduk di samping Nana.

Nana menghela napas. "Balasin email. Kak Hansen kirim update soal kerja sama sama Vaughan," jawabnya sambil menyandarkan kepala di bahu Dikta.

Dikta langsung menegakkan tubuh. "Vaughan? Itu kan perusahaan investasi gede banget? Yang di Selvara?"

Nana mengangguk. "Iya. Katanya sih, CEO-nya temen deket Hansen waktu kuliah."

Dikta terdiam sejenak, tampak berpikir. "Wah, itu peluang bagus banget, Sayang. Kalau kita bisa kerja sama sama mereka, bisa langsung naik kelas kita," ujarnya dengan nada bersemangat.

Nana mengernyitkan dahi. "Aku nggak ngerti, Dik. Lagian aku juga lagi nggak mood ngurusin bisnis. Masih trauma," jawabnya pelan.

Dikta meraih tangan Nana dan menggenggamnya erat. "Aku ngerti, Saya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Melewati Masa Kritis

    Suara itu, suaraku membuat Andreas menoleh. Wajahnya langsung memucat. “Nadira?” katanya kaget. “Kenapa kamu di sini?” Aku mendekat dengan langkah gemetar. “Apa yang aku dengar barusan… Kak Hansen?” Andreas diam. Aku mencengkeram kerah kemejanya. “Katakan apa yang terjadi!” Dia tetap diam. Tanganku gemetar, lalu... Plak! Tamparan itu mendarat di pipinya. Dia tidak melawan. “Katakan, bajingan!” teriakku. Plak! Tamparan kedua. “Nadira, tenang,” katanya akhirnya, mencoba meraih tanganku. “Kamu lagi hamil...” “Tenang?” aku menjerit. “Kamu bilang Kak Hansen ke luar negeri! Sekarang dia kritis di rumah sakit?! Apa sebenarnya ini?!” Aku menepis tangannya. Air mataku jatuh tak terbendung. Perawat itu mendekat dengan wajah cemas. “Mohon maaf, jangan membuat keributan. Pasien butuh istirahat.” Aku terisak. Andreas akhirnya memelukku erat. “Baik,” katanya pelan di dekat telingaku. “Aku akan ceritakan semuanya. Tapi kamu harus tenang.” Ia membawaku duduk. Dan

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Terungkap

    Wajah Andreas seketika berubah pucat. Tidak ada lagi ketenangan, tidak ada lagi sikap dingin. Panik murni. “Aku panggil ambulans. Jangan bergerak,” ucapnya cepat sambil meraih ponsel. “Apa aku… pendarahan?” bisikku dengan suara nyaris tak terdengar. Ketakutan menjalar ke seluruh tubuhku, lebih menyakitkan dari kram itu sendiri. Andreas kembali ke sisiku, menggenggam tanganku erat. “Tatap aku. Kamu nggak kenapa-kenapa. Dengar? Aku di sini.” Namun di balik genggaman tangannya yang kuat, aku bisa merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan... ketakutan yang luar biasa. Di dalam ambulans aku terus merintih kesakitan. Rasa nyerinya luar biasa, membuat tubuhku gemetar tak terkendali. Napasku tersengal, keringat dingin membasahi pelipisku. “Bertahanlah,” suara Andreas terdengar cemas, hampir bergetar. “Sakit… sakit banget…” Tanpa sadar kuku-kukuku menancap di punggung tangannya. Namun dia sama sekali tidak mengeluh, justru menggenggamku lebih erat. Pikiranku melayang pada

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   A-aku Berdarah!

    Saat kami melangkah keluar dari restoran, semua terjadi begitu cepat. Entah dari mana, Maudy tiba-tiba muncul dan langsung mendorongku. “Aa...!” Aku memekik kaget. Tubuhku hampir terjungkal kalau saja Andreas tidak sigap menangkapku dan menarikku ke dalam pelukannya. Tangannya refleks melindungi perutku. Napasku tersengal. Bayi ini… pikiranku langsung kacau. “Hey, Maudy! Kamu gila, ya?!” bentakku marah. Maudy menatapku dengan mata merah dan napas berbau alkohol. “Kamu yang gila! Kakak macam apa ninggalin aku begitu aja?!” “Dasar nggak tahu malu,” balasku tajam. Dia tertawa sinis. “Kebanyakan omong. Aku butuh uang.” Aku langsung menggeleng. “Mimpi.” Namun Andreas justru melangkah maju. Dari saku jasnya, ia mengeluarkan kartu hitam dan menyodorkannya ke arah Maudy. “Di dalamnya ada sepuluh juta. Ambil. Dan jangan ganggu Nadira lagi.” Aku menoleh cepat. “Andreas...” “Nggak apa-apa,” katanya singkat, tanpa menatapku. Maudy merebut kartu itu, lalu mencibir. “Cuma se

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Memilih Menu Untuk Pesta

    Aku sedang makan mi instan saat Andreas datang. Langkahnya terhenti begitu melihat mangkuk di hadapanku. Alisnya langsung berkerut. Tanpa aba-aba, dia mengambil mangkuk mi itu dari tanganku, lalu meletakkannya jauh. Sebagai gantinya, dia mendorong sepotong roti dan segelas susu ke hadapanku. “Kamu lagi hamil,” ucapnya tegas. Aku mendengus. “Aku baru makan dua suap.” “Lain kali satu suap pun nggak boleh,” balasnya dingin, tanpa nada bercanda. Aku memutar bola mata. “So perhatian banget.” Tiba-tiba Andreas menggeser kursiku hingga tubuhku menghadap langsung ke arahnya. Dia setengah berjongkok, wajahnya kini sejajar dengan wajahku. Jarak kami terlalu dekat. Tatapannya tajam, menusuk. “Aku beneran perhatian,” katanya rendah. Aku menelan ludah. Kata-kata itu membuatku kehilangan suara. Aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di kulitku. Aneh, padahal kami sudah tidur bersama, akan menikah, bahkan punya anak. Tapi setiap kali dia sedekat ini, jantungku tetap

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Mimpi Buruk Lagi

    Aku keluar dari kamar dan mendapati Andreas sedang bergelut dengan laptopnya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik, rahangnya mengeras, sorot matanya serius. Entah mengapa pria itu selalu terlihat sibuk, seolah beban dunia bertumpu di pundaknya seorang diri. Aku duduk di sebelahnya sambil mendengus pelan. “Ada apa?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Aku mulai khawatir sama Kak Hansen,” ucapku akhirnya. Andreas berhenti mengetik. Ia menoleh, menyipitkan mata. “Kenapa tiba-tiba?” Aku menggeleng. “Aku nggak tahu. Cuma… pirasat. Rasanya nggak enak. Kayak ada sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak paham.” Belum sempat Andreas menjawab, ponselnya berdering. Ia mengangkat panggilan itu. Aku tak bisa mendengar jelas suara di seberang, tapi cukup melihat perubahan di wajahnya tegang, lalu panik. Ia langsung bangkit, menyambar jaket, dan memasukkan ponsel ke saku celananya. “Aku pergi dulu,” katanya singkat. “Kemana?” tanyaku. “Ini sudah larut.” “Ad

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Satu Bathtub Dengan Andreas

    Aku baru sampai dari kantor. Tubuhku lengket oleh keringat dan kelelahan. Andreas tidak menjemput. Kesalku menumpuk. Kalau saja tahu dia akan seenaknya begini, lebih baik tadi aku bawa mobil sendiri. Aku menurunkan tubuh ke dalam bathtub. Air hangat merendamku. Aroma terapi memenuhi udara, perlahan meredakan penat. Aku memejamkan mata, mencoba tenang. Lalu aku merasakan sentuhan hangat di wajahku. Aku membuka mata. Andreas duduk di sisi bathtub, menatapku. Refleks aku menutupi tubuhku dengan tangan, meski air dan busa sudah menutupinya. “Hei! Kamu ngapain?” tanyaku panik. Andreas berdiri dan melangkah ke belakangku. Kehadirannya terasa dekat. Terlalu dekat. “Bagaimana kalau aku bantu kamu mandi?” ucapnya singkat. “Dasar cabul,” balasku cepat. Ia tidak membantah. Hanya menatapku sejenak tatapan yan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status