Share

Bab 2

Author: Al Zena
last update Last Updated: 2026-02-05 21:49:00

Di dalam lift, Aisyah melihat pantulan dirinya di cermin perunggu. Wajahnya pucat, mata sembap, tetapi ia memaksakan dirinya untuk tetap tegak. Sementara di sampingnya Bu Rara diam tanpa ekspresi, namun terlihat ketegangan yang ia sembunyikan.

Aisyah teringat percakapan terakhirnya dengan Riana, dua hari lalu.

“Aisyah, kamu kenapa? Wajahmu murung sekali.”

“Aku cuma merasa Aris semakin jauh, Ri. Dia selalu lembur, selalu ke luar kota. Nyaris tidak ada waktu santai berdua. Bahkan di akhir pekan sekalipun”

“Oh, Aisyah, jangan berpikir negatif. Aris itu suamimu. Dia bekerja keras untuk masa depan kalian. Jangan dengarkan gosip murahan. Aris hanya butuh dukungan darimu.”

Riana mengusap punggung Aisyah. “Dengar, kalau kamu butuh teman bicara, aku selalu ada. Jangan pernah merasa sendirian. Kamu sahabat terbaikku.”

Aisyah mengepalkan tangan di lift. Sialan. Riana bahkan menyuruh Aisyah untuk menjaga jarak dengan Aris agar Aris tidak merasa terganggu. “Kalian butuh waktu berdua, Syah. Jangan ganggu Aris saat dia sedang fokus kerja.”

Semua itu adalah bagian dari sandiwara. Riana bukan hanya mendukung Aisyah, tetapi mendukung Aris untuk mengkhianati Aisyah.

Ting!

Lift berhenti di lantai 12. Aisyah melangkah keluar. Lorong itu sunyi, karpet tebal meredam langkah kakinya. Kamar 1205 berada di ujung koridor.

Aisyah berjalan perlahan, setiap langkah terasa seperti batu yang diletakkan di dadanya. Ia mendengar suara tawa dari dalam kamar 1205. Suara tawa Aris. Suara tawa Riana.

Aisyah berhenti di depan pintu, memegang kartu kunci. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah ia akan meledak, berteriak, atau hanya diam membeku?

***

Sementara itu di dalam kamar, Aris dan Riana sedang menikmati hidangan yang sudah mereka pesan sambil berbincang mesra.

“Kamu yakin kita aman di sini, Sayang?” Riana bertanya, suaranya manja, terdengar sedikit gemetar.

Aris terkekeh, mencium puncak kepala Riana sekilas—sebuah tindakan yang Aris tak pernah lakukan di depan umum pada Aisyah.

“Tentu saja. Ini hotel elit. Tidak ada yang akan curiga pada manajer pemasaran yang datang dengan sekretarisnya. Mereka pikir kita sedang menegosiasikan kontrak besar,” jawab Aris enteng, mengambil kartu kunci dari resepsionis. “Lagipula, Royal Michell ini milik adikku, Aldo.”

“Ogh. Iya. Tapi, aku takut Aisyah mulai curiga,” Riana berbisik, matanya melirik ke segala arah. “Tadi dia bertanya lagi kenapa aku harus sering ikut meeting bersamamu.”

Aris menghela napas. “Aisyah? Dia terlalu sibuk dengan butiknya. Dia percaya pada kita. Percaya pada persahabatan kalian. Dia polos, Riana. Tidak akan pernah terpikir olehnya kalau kita sudah merencanakan ini sejak enam bulan lalu.”

“Aku tahu, tapi dia sahabatku, Aris. Aku merasa sedikit bersalah,” kata Riana, tapi nadanya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

“Oh, hentikan sandiwara itu. Kamu tahu kita perlu ini. Kita sudah merencanakan jalur karier baru kita, dan Aisyah hanya penghalang. Nikmati saja malam ini. Besok, aku akan kembali menjadi suami teladan, dan kamu kembali menjadi sahabat yang mendukungnya,” ujar Aris sambil merangkul pinggang Riana dengan posesif.

***

Di depan pintu kamar 1205, Aisyah menarik napas dalam-dalam. "Baiklah, Aisyah," bisiknya pada dirinya sendiri. "Waktunya mengakhiri semua sandiwara ini."

Bu Rara memasukkan kartu kunci ke lubang kunci. Lampu hijau berkedip. Ia memutar kenop pintu. Pintu kamar 1205 terbuka perlahan. Namun, wanita itu tidak masuk, ia berada di luar kamar sambil menghubungi seseorang.

Aisyah melangkah masuk, membiarkan kartu kunci jatuh dari tangannya. Suara benturan kartu di karpet tebal itu terdengar seperti lonceng kemaAisya

Di dalam kamar, Aris Munandar dan Riana Anjarwati sedang duduk di sofa beludru, diapit meja kopi yang dipenuhi sisa-sisa makanan ringan dan sebotol wine yang nyaris kosong.

Riana tertawa, menyandarkan kepalanya ke dada Aris, sementara Aris membelai rambutnya. Mereka berdua terkejut. Tawa mereka langsung terputus di udara.

Wajah Aris, yang sedetik sebelumnya dipenuhi kelembutan, langsung berubah menjadi pucat pasi. Ia mendorong Riana menjauh dengan gerakan kaku. Riana, yang terkejut, menoleh dan melihat Aisyah berdiri di ambang pintu.

Ruangan itu hening total, hanya terdengar suara pendingin udara yang berdesir.

“Aisyah ... ,” Aris tergagap, berusaha bangkit. “Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu bisa masuk?”

Aisyah tidak menjawab. Ia hanya menatap Riana. Riana, yang selama ini selalu tampil sempurna, kini terlihat berantakan. Wajahnya yang biasa ramah dan mendukung, kini dipenuhi rasa panik dan bersalah.

Aisyah berjalan mendekat, tatapannya dingin. Ia menunjuk Riana. “Kamu. Kamu bilang kamu ada di rumah sakit, menjenguk ibumu.”

Riana mencoba membela diri. “Aisyah, aku bisa jelaskan. Ini ... ini bukan seperti yang kamu pikirkan!”

“Bukan seperti yang kupikirkan?” Aisyah tertawa sinis. Tawa itu terdengar memuakkan bahkan di telinganya sendiri. 

Aris menyela, mencoba mengendalikan situasi. “Dengar, Sayang, ini ada salah paham besar. Ini murni urusan pekerjaan. Riana hanya membantuku menyelesaikan berkas yang sangat rahasia. Kami lelah, jadi kami memutuskan untuk ...”

“Menginap bersama?” Aisyah memotongnya tajam. “Membahas berkas sambil berpelukan di sofa? Berkas apa yang mengharuskan kamu tidur dengan sahabatku sendiri?”

Riana menunduk, air mata mulai menggenang di matanya. Ia sudah tidak bisa berpikir logis lagi. “Aisyah, maafkan aku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku ... aku mencintai Aris.”

Kalimat itu, yang diucapkan dengan nada penyesalan palsu, justru memicu kemarahan Aisyah. Aisyah mengangkat tangannya, menampar wajah Riana sekuat tenaga.

PLAK!

Suara tamparan itu memenuhi kamar. Wajah Riana memerah, matanya terbelalak karena terkejut.

“Berani-beraninya kamu mengucapkan itu di depanku!” teriak Aisyah, suaranya bergetar. “Kamu tahu aku mencintainya. Kamu tahu aku mempercayaimu. Kamu makan di rumahku, kamu tertawa bersamaku, kamu bilang kamu adalah sahabatku! Ternyata kamu ... .” Aisyah tak mampu meneruskan kalimatnya. Suaranya terasa tercekat di tenggorokan karena gejolak amarah yang membara.

Aris bangkit, mencoba menahan Aisyah. “Aisyah! Cukup! Jangan kasar!”

“Kasar?” Aisyah menoleh ke arah Aris, tatapannya tajam seperti pisau. “Kamu menyebutku kasar? Kamu yang menghancurkan semua yang kita miliki. Kamu pikir aku tidak pernah curiga. Kamu ... salah!”

Aisyah mundur selangkah, menggelengkan kepala. Ia menatap Aris dan Riana. Mereka berdua terdiam, panik. Sandiwara mereka telah berakhir.

“Selamat,” kata Aisyah, suaranya kini kembali tenang, namun mengandung racun. “Kalian berhasil menghancurkan hidupku. Sekarang, kalian berdua, dengarkan baik-baik. Aku tidak akan membuang waktu sedetik pun lagi untuk kalian.”

Aisyah berjalan menuju pintu, lalu berbalik.

“Riana, persahabatan kita selesai. Aris, pernikahan kita selesai. Aku akan mengajukan gugatan cerai besok pagi. Dan aku pastikan, kamu akan menyesal telah menipuku, bahkan jika itu harus membuatku kehilangan segalanya.”

Aris mencoba meraih Aisyah, “Aisyah, tunggu! Jangan gegabah! Kita bisa bicarakan ini!”

Aisyah mengabaikannya, menarik napas dalam-dalam, dan keluar dari kamar 1205. Ia menutup pintu di belakangnya. Di balik pintu, ia bisa mendengar Aris berteriak dan Riana menangis.

Aisyah berdiri di koridor yang sunyi, merasakan air matanya mengalir. Tiga tahun perjalanan rumah tangganya harus kandas. Sahabat yang ia percaya justru menjadi duri yang menusuknya sekarang.

Aisyah berjalan cepat menyusuri koridor lantai 12, air mata membasahi pipinya tanpa ia sadari. Ia tidak ingin melihat ke belakang, tidak ingin mendengar tangisan Riana atau teriakan panik Aris. Ia hanya ingin keluar dari tempat beracun ini.

Saat ia berbelok di tikungan, menuju lift, ia menabrak seseorang yang membuatnya terjatuh. Seharusnya ia merasakan sakit karena terjatuh, namun badannya serasa ringan seakan melayang tanpa beban seperti beratnya beban yang ia pikirkan.

 Lalu di mana Aisyah terjatuh? Mengapa justru rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 6

    Gugatan cerai telah resmi didaftarkan. Suasana di apartemen Aldo menjadi sedikit lebih tenang, meskipun ketegangan masih menggantung. Aisyah menghabiskan sore harinya dengan menghubungi manajer butiknya, memastikan operasional tetap berjalan normal tanpa menyinggung masalah pribadinya.Aldo sibuk dengan panggilan dan meeting jarak jauh. Ia memisahkan dirinya di ruang kerja, memberikan Aisyah ruang privasi. Namun, setiap beberapa jam, ia akan keluar untuk memastikan Aisyah baik-baik saja.Menjelang senja, Aisyah duduk di balkon, menikmati pemandangan kota. Aldo bergabung, membawa dua cangkir teh herbal.“Bagaimana perasaanmu?” tanya Aldo, menyerahkan cangkir pada Aisyah.Aisyah menyesap teh hangat itu. “Lega. Tapi juga ... bingung. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini.”“Tidak ada yang bisa menolak ujian Tuhan,” kata Aldo. “Yang penting, kau sudah mengambil langkah yang benar.”Aisyah menatap Aldo. “Aku masih memikirkan Riana. Aku mengerti jika Aris berkhianat, dia me

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 5

    Pagi tiba, membawa cahaya terasa yang kejam menembus tirai apartemen Aldo. Aisyah terbangun setelah tidur yang singkat dan gelisah. Peristiwa semalam terasa seperti mimpi buruk, namun rasa perih di hatinya membuktikan semuanya nyata.Ia turun ke ruang tamu. Aldo sudah ada di sana, mengenakan setelan kasual namun tetap rapi, sambil menyesap kopi. Di atas meja, sudah tersedia sarapan yang disiapkan koki pribadinya.“Selamat pagi,” sapa Aldo, nadanya profesional seperti biasa, seolah semalam ia tidak menyelamatkan seorang wanita yang nyaris histeris dari perselingkuhan suaminya.“Pagi, Tuan Aldo,” jawab Aisyah, merasa canggung.“Panggil saja Aldo. Aku akan memanggilmu Aisyah,” koreksi Aldo. “Duduklah. Kita harus bicara serius sebelum Aris berhasil memutarbalikkan fakta.”Aisyah duduk, merasakan perutnya mual. “Aku tidak lapar.”“Setidaknya minum kopimu,” desak Aldo. “Kau butuh energi.”Aisyah menghela napas. “Aku sudah memutuskan. Aku ingin cerai secepatnya. Aku tidak mau sepeser pun dar

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 4

    Aisyah duduk membeku di sofa apartemen pribadi Aldo Michell. Apartemen itu mewah, dengan pemandangan kota yang memukau di malam hari, namun Aisyah tidak melihat apa-apa. Dunianya terasa kelabu. Ia masih bisa merasakan sentuhan dingin kartu kunci di tangannya, suara tawa Aris dan Riana, serta tatapan dingin Aldo yang mengawasinya.Aldo telah membawanya ke sini, ke apartemen kosong ini. “Untuk malam ini, kau bisa tinggal di sini. Aman dan nyaman. Aku akan membereskan semuanya besok,” katanya dengan suara yang menenangkan namun tegas, seolah ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.Aisyah hanya mengangguk pasrah. Ia tidak punya tempat lain untuk pergi. Rumah itu, yang dulu terasa seperti surga, kini terasa seperti neraka yang dipenuhi kenangan palsu.Aldo membawakan segelas air dan sedikit camilan. Ia duduk beberapa meter dari Aisyah, memberinya ruang. Ia tahu Aisyah sedang terguncang hebat.“Kau tidak perlu bicara jika belum siap,” ujar Aldo, memecah keheningan yang mencekam. “

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 3

    Aisyah berjalan cepat menyusuri koridor lantai 12, air mata membasahi pipinya tanpa ia sadari. Ia tidak ingin melihat ke belakang, tidak ingin mendengar tangisan Riana atau teriakan panik Aris. Ia hanya ingin keluar dari tempat beracun ini.Saat ia berbelok di tikungan, menuju lift, ia menabrak seseorang yang membuatnya terjatuh. Seharusnya ia merasakan sakit karena terjatuh, namun badannya serasa ringan seakan melayang tanpa beban seperti beratnya beban yang ia pikirkan. Lalu di mana Aisyah terjatuh? Mengapa justru rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya?Sosok pria itu tinggi dan gagah, mengenakan setelan jas abu-abu mahal yang membuatnya tampak sangat berwibawa.Ia adalah Aldo Michell.Aldo, yang baru selesai rapat penting di lantai itu, langsung menangkap tubuh Aisyah yang nyaris terjatuh. Ia spontan mengangkat tubuh ringan Aisyah agar tidak jatuh.“Aisyah?” Suara Aldo dalam dan tegas, namun kali ini terdengar khawatir.Aisyah mendongak di atas kedua tangan Aldo. Matanya y

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 2

    Di dalam lift, Aisyah melihat pantulan dirinya di cermin perunggu. Wajahnya pucat, mata sembap, tetapi ia memaksakan dirinya untuk tetap tegak. Sementara di sampingnya Bu Rara diam tanpa ekspresi, namun terlihat ketegangan yang ia sembunyikan.Aisyah teringat percakapan terakhirnya dengan Riana, dua hari lalu.“Aisyah, kamu kenapa? Wajahmu murung sekali.”“Aku cuma merasa Aris semakin jauh, Ri. Dia selalu lembur, selalu ke luar kota. Nyaris tidak ada waktu santai berdua. Bahkan di akhir pekan sekalipun”“Oh, Aisyah, jangan berpikir negatif. Aris itu suamimu. Dia bekerja keras untuk masa depan kalian. Jangan dengarkan gosip murahan. Aris hanya butuh dukungan darimu.”Riana mengusap punggung Aisyah. “Dengar, kalau kamu butuh teman bicara, aku selalu ada. Jangan pernah merasa sendirian. Kamu sahabat terbaikku.”Aisyah mengepalkan tangan di lift. Sialan. Riana bahkan menyuruh Aisyah untuk menjaga jarak dengan Aris agar Aris tidak merasa terganggu. “Kalian butuh waktu berdua, Syah. Jangan

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 1

    “Mas Aris? Riana? Sedang apa mereka di resepsionis?” Aisyah bergumam pelan, perasaannya diliputi kejanggalan atas apa yang baru saja ia lihat.“Benarkah itu Mas Aris?” Ia berusaha memanggil suami dan sahabatnya itu. Namun, sebelum satu pun suara keluar dari tenggorokannya, sebuah panggilan menghentikannya.“Aisyah, tunggu sebentar!” Suara Tante Amira memecah keheningan.Langkah Aisyah terhenti. Meski raut wajahnya tetap terkendali, gejolak di dalam dadanya sulit disembunyikan. Siluet yang tadi terlihat di resepsionis hotel masih melekat kuat dalam ingatannya—Aris dan Riana.“Ada apa, Tante?” tanyanya kemudian, berusaha menjaga suaranya tetap stabil."Kamu masih ingat kan desain yang aku bilang kemarin? Aku ingin melihat beberapa contoh." Tante Amira mempercepat langkah, mencoba mengejar Aisyah yang tampak kaku.“Ya, desain yang floral, bukan?” Aisyah berusaha berkata santai, meski pikirannya melayang jauh. Riana dan Aris. Apa yang mereka lakukan di sini?“Betul sekali! Oh, dan aku ing

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status