Share

Bab 2

Penulis: Al Zena
last update Tanggal publikasi: 2026-02-05 21:49:00

"Sayang, kamu lagi di mana? Acaranya belum selesai, ya?"

Suara Armando di ujung telepon terdengar begitu lembut. Lembut yang dulu selalu membuatku meleleh. Sekarang? Rasanya seperti sayatan-sayatan yang menyiksa.

"Di hotel, Mas. Masih ada acara tambahan dari kampus." Aku berusaha membuat suaraku senormal mungkin. Padahal jari-jariku mencengkeram sprei hotel sampai putih.

"Ogh Ada acara lagi, ya? Semangat ya, Sayang."

"Tamu undangannya banyak, Mas. Jadi panitia minta aku nambah dua hari untuk jadi pembicara di dua kampus lain." Aku memandang bayanganku sendiri di cermin. Mataku sembab. Wajah pucat. Tapi suaraku harus tetap ceria.

"Iya, Sayang." Ada jeda sebentar. "Ehm. Aku kangen, Sayang. Cepet pulang, ya."

Kangen? Aku ingin tertawa getir. Tapi kutahan.

"Iya, Mas. Aku juga kangen." Bohong. Aku tidak kangen sama sekali. Yang ada aku ingin muntah setiap membayangkan dia dengan perempuan sun d a l itu.

"Eh, Mbok Rati ke mana, Mas? Kok enggak kedengaran suaranya?" tanyaku pura-pura.

"Ooh, aku suruh pulang kampung. Dia minta cuti, mumpung kamu sedang tidak di rumah, kan. Biar kita puas berdua dulu, sayang."

Biar kita berdua. Maksudnya biar aku dan Riana leluasa berselingkuh. Begitu maksudmu? Suara hatiku meronta ronta.

"Sayang, kamu curiga sama aku?" tiba-tiba Armando bertanya.

Jantungku berhenti sedetik. "Curiga? Curiga apa, Mas?"

Pertanyaan apa ini? Mengapa justru membuka aib sendiri. Mana ada alurnya aku curiga. Dia merasa sendiri kan?

"Yaaa... aku sendiri di rumah. Bahkan sering ke luar kota. Kamu gak curiga aku selingkuh, Kan?"

Ya Allah ... da sa r ga k pun ya o t a k!.

"Ah, Mas bisa aja." Aku tertawa kecil. Terdengar alami, mudah-mudahan. "Mas Armando itu suami paling setia sedunia. Masa iya Mas tega sama Venita?"

Armando tertawa. Lega. "Iya dong. Mas sayang sama Ven. Jangan khawatir, Sayang."

Sayang. Kata itu sekarang seperti pisau yang menusuk.

"Ya udah, Ven. Aku mau mandi dulu. Besok telpon lagi, ya."

"Iya, Mas. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Telepon berakhir. Aku menjatuhkan ponsel di kasur, lalu memeluk lutut. Air mata kembali mengalir.

Ponsel bergetar lagi. Bukan Armando. Tapi Riana.

Dasar tidak tahu malu.

"Halo, Ri?" suaraku kuusahakan tetap ramah.

"Ven! Lagi di mana lo? Kok lama banget di luar kota?" suara Riana cempreng seperti biasa. Suara yang selama ini kuanggap suara sahabat. Sekarang? Suara ular berbisa.

"Di hotel, Ri. Lagi ada acara tambahan."

"Enak banget lo, jalan-jalan terus. Gue di sini sibuk ngurusin butik lo." Riana menghela napas dramatis. "Eh, Ven, gue boleh minta tolong, enggak?"

"Apa, Ri?"

"Gue lagi butuh uang tambahan. Boleh enggak gue minjem uang muka gaji? Atau lo beli mobil gue? Gue lagi butuh banget."

Aku hampir tertawa. Perempuan ini mau mengambil alih butikku, mau menikahi suamiku, dan sekarang masih berani minta uang?

"Boleh, Ri. Nanti aku transfer." Jawabku santai. Biarkan saja. Uang itu akan kembali padaku suatu hari nanti.

"Makasih, Ven! Lo sahabat terbaik gue!" suara Riana berseri-seri.

Sahabat terbaik. Ya, tepat sekali. Sahabat terbaik yang mau menikahi suamiku.

"Eh, Ven." Riana menurunkan suara. "Gue mau cerita, tapi lo jangan marah."

"Cerita apa?"

"Gue... gue lagi dekat sama seseorang. Tapi dia udah punya istri. Gue bingung, Ven."

Aku menutup mulut. Dia benar-benar sedang menguji batas kesabaran.

"Lo kenal sama orangnya, Ven."

"O... ya?" tanyaku pura-pura.

"Iya. Tapi gue belum bisa kasih tahu sekarang. Nanti kalau udah waktunya, ya."

"Iya, Ri. Terserah lo."

"Lo enggak marah, Ven?"

"Marah kenapa?"

"Ya... karena lo kenal sama dia."

Aku menarik napas dalam. "Riana, aku percaya sama lo. Apapun keputusan lo, aku dukung. Lo sahabat aku."

Riana tertawa. Lega. "Makasih, Ven! Lo emang sahabat terbaik! Gue janji, suatu saat lo akan ngerti kenapa gue lakuin ini."

Aku tersenyum sinis. "Iya, Ri. Suatu saat aku pasti ngerti."

Telepon selesai. Aku merebahkan tubuh di kasur.

Dua orang yang paling kupercaya. Bergantian menelepon. Bergantian berbohong. Bergantian menganggapku bodoh.

Ponselku bergetar sekali lagi. Kali ini pesan singkat dari nomor tak dikenal.

"Jangan percaya mereka berdua. Armando dan Riana sedang menyusun rencana jahat untukmu. Buktinya sudah kau lihat sendiri. Kumpulkan semua bukti. Aku akan membantumu."

Aku membaca pesan itu berulang kali. Siapa pengirimnya? Kenapa dia tahu?

Ketik cepat, aku membalas: "Siapa kamu?"

Beberapa menit kemudian, balasan masuk: "Seseorang yang juga pernah dihancurkan oleh Armando. Aku tahu segalanya tentangnya. Percayalah padaku."

Aku memejamkan mata. Satu per satu misteri mulai terungkap. Armando bukan hanya penghianat, tapi juga memiliki masa lalu kelam.

Dan seseorang di luar sana, yang entah siapa, menawarkan bantuan.

Kutatap layar ponsel. Rekaman suara tadi malam, foto-foto mesra mereka, dan sekarang pesan misterius ini.

"Armando... Riana... kalian tidak tahu siapa yang kalian hadapi."

Aku bangkit. Membuka laptop. Mulai mengetik rencana.

Pertama, aku perlu orang dalam di rumah. Dan aku tahu persis siapa yang bisa membantuku.

Kuhubungi nomor tukang service AC langganan rumah. "Halo, Pak. Ibu Venita. Ada yang mau Ibu minta tolong..."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 6

    Pagi buta, aku sudah terbangun. Kulihat ponsel, pukul 05.30. Belum ada sinar matahari, tapi jantungku sudah berdegup kencang.Hari ini hari yang menentukan.Kubuka aplikasi CCTV. Kamar masih kosong. Armando tidak tidur di kamar semalam. Mungkin di kamar tamu. Atau di mana pun bersama Riana.Kugulir rekaman semalaman. Dan di sana, pukul 02.00 dini hari, aku melihat mereka masuk ke kamar. Riana tertawa kecil, Armando memeluknya dari belakang."Besok, Sayang. Besok kita bebas," bisik Armando di telinganya.Riana menoleh, menciumnya. "Aku enggak sabar, Mas. Capek sembunyi-sembunyi.""Sebentar lagi. Setelah Venita pergi, kita nikah. Semua harta jadi milik kita."Aku mematikan video. Tidak sanggup melihat lebih lama.Ponsel bergetar. Pesan dari nomor misterius."Periksa emailmu. Ada dokumen yang harus kau lihat."Kubuka laptop dengan tangan sedikit gemetar. Siapa pun pengirim pesan ini, ia tahu banyak. Terlalu banyak.Email masuk dari alamat tidak dikenal. Lampirannya berupa scan dokumen-dok

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 5

    "Apa rencanamu selanjutnya?""Aku akan pulang besok sore. Tapi bukan aku yang akan mengendarai mobil itu." Aku menjelaskan idemu tentang boneka manekin. "Aku butuh kamu menjemputku di tempat tertentu. Setelah mobil itu masuk sungai, aku akan menghilang. Mereka akan mengira aku mati."Aldo menatapku dengan campuran takjub dan khawatir. "Kamu yakin? Ini berbahaya.""Lebih berbahaya jika aku diam saja dan membiarkan mereka membunuhku." Aku menggenggam tanganku sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil semua yang ayah-ibuku wariskan. Perusahaan, butik, semuanya."Aldo terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata, "Aku akan membantumu. Tapi setelah semua ini, kamu harus berjanji padaku.""Apa itu?""Kamu harus menjaga dirimu. Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatanmu sendiri."Aku tersenyum tipis. "Janji."Kami berbicara lebih lama, menyusun detail rencana. Aldo akan menyiapkan boneka manekin yang mirip denganku. Ia juga akan menjemputku di pertigaan sebelum tikungan sun

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 4

    Dua hari di kampus berjalan lancar. Aku menjadi narasumber seperti biasa, tersenyum, bercanda, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal pikiranku berkecamuk. Setiap jeda, kutatap ponsel, berharap ada pesan baru dari nomor misterius itu.Sore hari, setelah acara selesai, aku tidak pulang. Aku check in di hotel berbeda, bukan hotel tempat acara. Aku butuh tempat aman untuk berpikir.Pukul tujuh malam, aku turun ke restoran hotel. Perut keroncongan, tapi nafsu makanku hilang. Aku pesan sup dan teh hangat.Tiba-tiba, seseorang berdiri di depan mejaku."Venita?"Aku menoleh. Kaget. Aldo. Adik iparku."Aldo? Kamu... di sini?"Ia tersenyum, duduk tanpa permisi. "Ada meeting dengan rekan bisnis. Hotel ini milik temanku." Ia memanggil pelayan, memesan kopi. "Kamu sendiri? Bukannya ada acara di kampus?"Aku berusaha tenang. "I-iya, udah selesai. Aku cuma... iseng, mau cari inspirasi model butik."Aldo mengernyit. "Cari inspirasi di restoran hotel?""Sambil lihat orang lalu lalang. Kadang fashion in

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 3

    Satu setengah tahun lalu. Aku masih ingat persis hari itu."Ven, lo harus bantu gue!"Riana datang ke butikku dengan mata sembab. Wajahnya pucat, rambut kusut. Langsung ambruk di sofa ruang tunggu butik."Ada apa, Ri?" Aku duduk di sampingnya, mengusap punggungnya."Gue putus sama Rey, Ven." Isaknya pecah. "Dia mukul gue lagi. Kali ini lebih keras. Gue enggak tahan!"Aku menariknya dalam pelukan. "Sudah, sudah. Jangan nangis. Lo bisa tinggal di rumah gue sementara.""Tapi Ven... gue enggak punya uang. Kerjaan gue cuma model lepas. Enggak cukup buat hidup."Saat itu Riana memang model langganan butikku. Kadang-kadang aku panggil untuk fashion show kecil-kecilan. Wajahnya cantik, badannya proporsional. Tapi di luar itu, hidupnya kacau."Lo mau kerja di sini?" tawarku spontan. "Butik butuh admin. Gajinya lumayan."Mata Riana berbinar. "Sungguh, Ven? Lo mau nerima gue?""Tentu saja. Lo sahabat gue."Riana memelukku erat. "Makasih, Ven! Gue enggak akan lupa kebaikan lo! Gue janji bakal kerj

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 2

    "Sayang, kamu lagi di mana? Acaranya belum selesai, ya?"Suara Armando di ujung telepon terdengar begitu lembut. Lembut yang dulu selalu membuatku meleleh. Sekarang? Rasanya seperti sayatan-sayatan yang menyiksa."Di hotel, Mas. Masih ada acara tambahan dari kampus." Aku berusaha membuat suaraku senormal mungkin. Padahal jari-jariku mencengkeram sprei hotel sampai putih."Ogh Ada acara lagi, ya? Semangat ya, Sayang.""Tamu undangannya banyak, Mas. Jadi panitia minta aku nambah dua hari untuk jadi pembicara di dua kampus lain." Aku memandang bayanganku sendiri di cermin. Mataku sembab. Wajah pucat. Tapi suaraku harus tetap ceria."Iya, Sayang." Ada jeda sebentar. "Ehm. Aku kangen, Sayang. Cepet pulang, ya."Kangen? Aku ingin tertawa getir. Tapi kutahan."Iya, Mas. Aku juga kangen." Bohong. Aku tidak kangen sama sekali. Yang ada aku ingin muntah setiap membayangkan dia dengan perempuan sun d a l itu."Eh, Mbok Rati ke mana, Mas? Kok enggak kedengaran suaranya?" tanyaku pura-pura."Ooh, a

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 1

    "Mas, kapan kamu ceraikan istrimu?"Suara itu membuat tubuhku membeku. Tangan yang baru saja memegang gagang pintu langsung terlepas. Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, lalu berdegup kencang seperti hendak melompat keluar.Aku kenal suara itu. Terlalu kenal.Riana. Sahabatku sendiri sejak kuliah. Wanita yang setiap minggu mengadu tentang pacarnya yang kasar. Yang kutampung di butikku saat ia tak punya uang. Yang kurekomendasikan jadi sekretaris suamiku.Dan sekarang suaranya terdengar dari balik pintu kamarku."Sabar, sayang. Jangan terburu-buru." Suara berat itu juga tak asing. Armando. Suamiku. Laki-laki yang lima tahun lalu berjanji di hadapan penghulu dan kedua orang tuaku untuk mencintaiku sampai mati.Kakiku terasa lemas. Aku bersandar ke dinding lorong, berusaha menenangkan napas yang memburu. Tas masih menggantung di bahu, koper kecil tergeletak di lantai. Aku seharusnya masih di luar kota untuk acara kampus. Tapi sebuah pesan anonim seminggu lalu membuatku curiga."Ibu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status