LOGINAisyah duduk membeku di sofa apartemen pribadi Aldo Michell. Apartemen itu mewah, dengan pemandangan kota yang memukau di malam hari, namun Aisyah tidak melihat apa-apa. Dunianya terasa kelabu. Ia masih bisa merasakan sentuhan dingin kartu kunci di tangannya, suara tawa Aris dan Riana, serta tatapan dingin Aldo yang mengawasinya.
Aldo telah membawanya ke sini, ke apartemen kosong ini. “Untuk malam ini, kau bisa tinggal di sini. Aman dan nyaman. Aku akan membereskan semuanya besok,” katanya dengan suara yang menenangkan namun tegas, seolah ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
Aisyah hanya mengangguk pasrah. Ia tidak punya tempat lain untuk pergi. Rumah itu, yang dulu terasa seperti surga, kini terasa seperti neraka yang dipenuhi kenangan palsu.
Aldo membawakan segelas air dan sedikit camilan. Ia duduk beberapa meter dari Aisyah, memberinya ruang. Ia tahu Aisyah sedang terguncang hebat.
“Kau tidak perlu bicara jika belum siap,” ujar Aldo, memecah keheningan yang mencekam. “Aku di sini hanya untuk memastikan kau aman.”
Aisyah menatap gelas air di tangannya. Jemarinya masih sedikit gemetar. Ia memutar gelas itu perlahan.
“Aku ... aku tidak tahu bagaimana bisa sampai seperti ini,” bisiknya. “Aku percaya padanya. Aku percaya padanya.”
Aldo menghela napas. “Aris memang pandai memanipulasi. Tapi kau bukan wanita lemah, Aisyah. Aku melihatmu tadi. Kau kuat.”
“Kuat?” Aisyah tertawa miris. “Aku merasa seperti sampah, Tuan Aldo. Dibuang oleh suami dan sahabatku sendiri.”
“Jangan pernah berpikir begitu,” tegas Aldo. “Mereka yang salah. Kau adalah korban dari pengkhianatana mereka.”
Kelembutan dalam suara Aldo sedikit meredakan ketegangan di dada Aisyah. Ia memberanikan diri menatap Aldo. Pria ini, yang dulu hanya ia kenal sebagai adik iparnya, kini terlihat seperti malaikat pelindung.
“Kenapa kau mau membantuku?” tanya Aisyah. “Kita hampir tidak saling kenal.”
Aldo menatap matanya. “Aku tahu Aris lebih baik dari siapapun. Dan aku tahu reputasi keluargaku. Aku tidak akan membiarkan dia menghancurkan wanita yang baik sepertimu. Aris telah mencoreng nama keluarga.”
Aldo berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. Kemudian, ia melanjutkan, “Besok, kita akan bicara soal gugatan cerai. Aku akan membantumu sebisa mungkin. Aku punya koneksi. Aku akan memastikan kau mendapatkan keadilan. Dan aku akan memastikan Aris dan Riana membayar perbuatan mereka.”
Aisyah merasa sedikit lega. Ada seseorang yang bisa ia andalkan.
“Terima kasih, Tuan Aldo,” ucap Aisyah tulus. “Aku ... aku bingung harus bagaimana. Aku sudah tidak ada lagi tempat mengadu.”
Aldo tersenyum tipis. Senyum yang tulus. “Tidak perlu berterima kasih. Aku punya kewajiban membantumu. Dan jangan lupa, Allah satu-satunya tempat mengadu yang tepat. Aku hanya perantara-Nya untuk menjadi tempatmu berbagi cerita”
Aldo bangkit. “Aku akan menyiapkan kamar untukmu di lantai atas. Ada kamar tamu yang sangat nyaman. Kau bisa beristirahat di sana. Jika butuh sesuatu, jangan ragu memanggilku.”
Aisyah hanya mengangguk. Ia masih belum bisa memproses semuanya. Ia telah kehilangan suaminya, sahabatnya, dan rumahnya, dalam satu malam yang mengerikan. Namun, ia juga menemukan dukungan tak terduga dari pria yang tidak pernah ia sangka.
Saat Aldo berbalik untuk menuju kamar tamu, Aisyah memberanikan diri. “Tuan Aldo?”
Aldo berhenti. “Ya?”
“Apa ... apa Tuan Aldo tahu masalahku?” tanya Aisyah, hatinya berdebar.
Aldo menoleh, menatap Aisyah lekat. Ada sedikit keraguan di matanya sebelum ia menjawab. “Aku tahu Aris bermain api. Tapi aku tidak tahu sejauh ini. Aku tidak tahu dia melibatkan Riana. Aku tidak tahu kau akan memergoki mereka malam ini. Aku hanya berharap dia tidak membuat masalah besar.”
Aisyah mengangguk pelan. Ia percaya pada Aldo.
“Mengapa Tuan tidak cerita padaku?” tanya Aisyah. “Seolah menutupi kebusukan kakakmu?”
Aldo menatap perempuan cantik itu dengan sendru. “Bukan tidak mau cerita. Tetapi aku ingin punya bukti untuk bercerita. Tapi ternyata kamu sudah melebraknya sebelum aku membuktikannya”
“Aku tidak bisa menahan diri?” Aisyah btertunduk lemah dengan tetesan air mata yang mangalir di pipi. “Sudahlah, semua sudah terlanjur. Lanjutkan apa yang menurutmu baik. Aku tidak berhak terlalu ikut campur. Aku ke atas dulu menyiapkan kamar untukmu.” Aldo segera berlalu meninggalkannya. Aisyah melihat punggung Aldo menjauh, menghilang di lorong apartemen yang sunyi. Ia masih merasa hampa, tapi ada setitik harapan kecil mulai tumbuh di hatinya. Mungkin, dari kehancuran ini, ia bisa membangun sesuatu yang lebih kuat. Sesuatu yang lebih nyata.Ia masih berstatus sebagai istri Aris Munandar, namun malam ini, ia merasa seperti telah terlepas dari ikatan itu. Ia adalah Aisyah Maharani, wanita yang baru saja kehilangan segalanya, namun menemukan dirinya sendiri di tengah badai. Dan entah kenapa, kehadiran Aldo membuatnya merasa sedikit lebih baik.
Ia tidak lagi merasa sendirian.
Gugatan cerai telah resmi didaftarkan. Suasana di apartemen Aldo menjadi sedikit lebih tenang, meskipun ketegangan masih menggantung. Aisyah menghabiskan sore harinya dengan menghubungi manajer butiknya, memastikan operasional tetap berjalan normal tanpa menyinggung masalah pribadinya.Aldo sibuk dengan panggilan dan meeting jarak jauh. Ia memisahkan dirinya di ruang kerja, memberikan Aisyah ruang privasi. Namun, setiap beberapa jam, ia akan keluar untuk memastikan Aisyah baik-baik saja.Menjelang senja, Aisyah duduk di balkon, menikmati pemandangan kota. Aldo bergabung, membawa dua cangkir teh herbal.“Bagaimana perasaanmu?” tanya Aldo, menyerahkan cangkir pada Aisyah.Aisyah menyesap teh hangat itu. “Lega. Tapi juga ... bingung. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini.”“Tidak ada yang bisa menolak ujian Tuhan,” kata Aldo. “Yang penting, kau sudah mengambil langkah yang benar.”Aisyah menatap Aldo. “Aku masih memikirkan Riana. Aku mengerti jika Aris berkhianat, dia me
Pagi tiba, membawa cahaya terasa yang kejam menembus tirai apartemen Aldo. Aisyah terbangun setelah tidur yang singkat dan gelisah. Peristiwa semalam terasa seperti mimpi buruk, namun rasa perih di hatinya membuktikan semuanya nyata.Ia turun ke ruang tamu. Aldo sudah ada di sana, mengenakan setelan kasual namun tetap rapi, sambil menyesap kopi. Di atas meja, sudah tersedia sarapan yang disiapkan koki pribadinya.“Selamat pagi,” sapa Aldo, nadanya profesional seperti biasa, seolah semalam ia tidak menyelamatkan seorang wanita yang nyaris histeris dari perselingkuhan suaminya.“Pagi, Tuan Aldo,” jawab Aisyah, merasa canggung.“Panggil saja Aldo. Aku akan memanggilmu Aisyah,” koreksi Aldo. “Duduklah. Kita harus bicara serius sebelum Aris berhasil memutarbalikkan fakta.”Aisyah duduk, merasakan perutnya mual. “Aku tidak lapar.”“Setidaknya minum kopimu,” desak Aldo. “Kau butuh energi.”Aisyah menghela napas. “Aku sudah memutuskan. Aku ingin cerai secepatnya. Aku tidak mau sepeser pun dar
Aisyah duduk membeku di sofa apartemen pribadi Aldo Michell. Apartemen itu mewah, dengan pemandangan kota yang memukau di malam hari, namun Aisyah tidak melihat apa-apa. Dunianya terasa kelabu. Ia masih bisa merasakan sentuhan dingin kartu kunci di tangannya, suara tawa Aris dan Riana, serta tatapan dingin Aldo yang mengawasinya.Aldo telah membawanya ke sini, ke apartemen kosong ini. “Untuk malam ini, kau bisa tinggal di sini. Aman dan nyaman. Aku akan membereskan semuanya besok,” katanya dengan suara yang menenangkan namun tegas, seolah ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.Aisyah hanya mengangguk pasrah. Ia tidak punya tempat lain untuk pergi. Rumah itu, yang dulu terasa seperti surga, kini terasa seperti neraka yang dipenuhi kenangan palsu.Aldo membawakan segelas air dan sedikit camilan. Ia duduk beberapa meter dari Aisyah, memberinya ruang. Ia tahu Aisyah sedang terguncang hebat.“Kau tidak perlu bicara jika belum siap,” ujar Aldo, memecah keheningan yang mencekam. “
Aisyah berjalan cepat menyusuri koridor lantai 12, air mata membasahi pipinya tanpa ia sadari. Ia tidak ingin melihat ke belakang, tidak ingin mendengar tangisan Riana atau teriakan panik Aris. Ia hanya ingin keluar dari tempat beracun ini.Saat ia berbelok di tikungan, menuju lift, ia menabrak seseorang yang membuatnya terjatuh. Seharusnya ia merasakan sakit karena terjatuh, namun badannya serasa ringan seakan melayang tanpa beban seperti beratnya beban yang ia pikirkan. Lalu di mana Aisyah terjatuh? Mengapa justru rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya?Sosok pria itu tinggi dan gagah, mengenakan setelan jas abu-abu mahal yang membuatnya tampak sangat berwibawa.Ia adalah Aldo Michell.Aldo, yang baru selesai rapat penting di lantai itu, langsung menangkap tubuh Aisyah yang nyaris terjatuh. Ia spontan mengangkat tubuh ringan Aisyah agar tidak jatuh.“Aisyah?” Suara Aldo dalam dan tegas, namun kali ini terdengar khawatir.Aisyah mendongak di atas kedua tangan Aldo. Matanya y
Di dalam lift, Aisyah melihat pantulan dirinya di cermin perunggu. Wajahnya pucat, mata sembap, tetapi ia memaksakan dirinya untuk tetap tegak. Sementara di sampingnya Bu Rara diam tanpa ekspresi, namun terlihat ketegangan yang ia sembunyikan.Aisyah teringat percakapan terakhirnya dengan Riana, dua hari lalu.“Aisyah, kamu kenapa? Wajahmu murung sekali.”“Aku cuma merasa Aris semakin jauh, Ri. Dia selalu lembur, selalu ke luar kota. Nyaris tidak ada waktu santai berdua. Bahkan di akhir pekan sekalipun”“Oh, Aisyah, jangan berpikir negatif. Aris itu suamimu. Dia bekerja keras untuk masa depan kalian. Jangan dengarkan gosip murahan. Aris hanya butuh dukungan darimu.”Riana mengusap punggung Aisyah. “Dengar, kalau kamu butuh teman bicara, aku selalu ada. Jangan pernah merasa sendirian. Kamu sahabat terbaikku.”Aisyah mengepalkan tangan di lift. Sialan. Riana bahkan menyuruh Aisyah untuk menjaga jarak dengan Aris agar Aris tidak merasa terganggu. “Kalian butuh waktu berdua, Syah. Jangan
“Mas Aris? Riana? Sedang apa mereka di resepsionis?” Aisyah bergumam pelan, perasaannya diliputi kejanggalan atas apa yang baru saja ia lihat.“Benarkah itu Mas Aris?” Ia berusaha memanggil suami dan sahabatnya itu. Namun, sebelum satu pun suara keluar dari tenggorokannya, sebuah panggilan menghentikannya.“Aisyah, tunggu sebentar!” Suara Tante Amira memecah keheningan.Langkah Aisyah terhenti. Meski raut wajahnya tetap terkendali, gejolak di dalam dadanya sulit disembunyikan. Siluet yang tadi terlihat di resepsionis hotel masih melekat kuat dalam ingatannya—Aris dan Riana.“Ada apa, Tante?” tanyanya kemudian, berusaha menjaga suaranya tetap stabil."Kamu masih ingat kan desain yang aku bilang kemarin? Aku ingin melihat beberapa contoh." Tante Amira mempercepat langkah, mencoba mengejar Aisyah yang tampak kaku.“Ya, desain yang floral, bukan?” Aisyah berusaha berkata santai, meski pikirannya melayang jauh. Riana dan Aris. Apa yang mereka lakukan di sini?“Betul sekali! Oh, dan aku ing







