Se connecterDua hari di kampus berjalan lancar. Aku menjadi narasumber seperti biasa, tersenyum, bercanda, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal pikiranku berkecamuk. Setiap jeda, kutatap ponsel, berharap ada pesan baru dari nomor misterius itu.
Sore hari, setelah acara selesai, aku tidak pulang. Aku check in di hotel berbeda, bukan hotel tempat acara. Aku butuh tempat aman untuk berpikir.
Pukul tujuh malam, aku turun ke restoran hotel. Perut keroncongan, tapi nafsu makanku hilang. Aku pesan sup dan teh hangat.
Tiba-tiba, seseorang berdiri di depan mejaku.
"Venita?"
Aku menoleh. Kaget. Aldo. Adik iparku.
"Aldo? Kamu... di sini?"
Ia tersenyum, duduk tanpa permisi. "Ada meeting dengan rekan bisnis. Hotel ini milik temanku." Ia memanggil pelayan, memesan kopi. "Kamu sendiri? Bukannya ada acara di kampus?"
Aku berusaha tenang. "I-iya, udah selesai. Aku cuma... iseng, mau cari inspirasi model butik."
Aldo mengernyit. "Cari inspirasi di restoran hotel?"
"Sambil lihat orang lalu lalang. Kadang fashion inspirasi dari mana aja."
Ia menatapku lama. Terlalu lama. "Ven, kamu yakin?"
"Apa maksudmu?"
"Aku kenal kamu. Ada yang tidak beres." Ia mencondongkan badan. "Cerita."
Aku tertawa canggung. "Aldo, kamu ini. Curiga amat."
"Ven, aku adik iparmu. Kalau ada masalah, aku bisa bantu."
Aku hampir goyah. Tapi belum waktunya. "Tidak ada masalah, Aldo. Aku cuma capek."
Ia diam. Lalu mengangguk. "Baik, kalau itu katamu." Ia berdiri. "Aku ada meeting. Hati-hati, ya."
"Kamu juga."
Ia pergi. Aku menghela napas lega. Tapi di dalam lift, Aldo langsung menelepon seseorang.
"Han, tolong cek. Ada tamu atas nama Venita Maharani di hotel ini? Istri kakakku."
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. "Mas Aldo, ada. Check in sore tadi. Kamar 1208."
Aldo menghela napas. "Makasih, Han."
Ia memutuskan tidak pulang. Ia pesan kamar di lantai 13. Untuk menjaga, katanya.
---
Malam itu, aku duduk di kamar, memandangi tumpukan foto dari CCTV. Armando dan Riana. Mesra. Tertawa. Di rumahku.
Ponselku berdering. Mama mertua.
"Ven, kabar baik? Armando bilang kamu di luar kota."
"Baik, Ma. Besok lusa pulang."
"Jaga kesehatan, ya. Jangan lupa makan."
"Iya, Ma. Makasih."
Telepon selesai. Aku kembali ke foto-foto itu. Lalu pesan baru masuk. Dari nomor misterius.
"Aldo tahu kamu di hotel. Dia tidak percaya alasanmu."
Aku terkesiap. "Apa?"
Kubalas: "Kamu dari mana tahu?"
"Aku tahu semuanya. Aldo pesan kamar di lantai 13. Dia ingin menjagamu."
Aku terdiam. Aldo... menjagaku?
Pesan lagi masuk. "Jangan khawatir. Dia tidak akan menyakitimu. Dia berbeda dari kakaknya."
Aku membalas: "Siapa kamu?"
"Nanti akan kamu akan tahu. Sekarang, belum saatnya dan yang pasti aku bukan musuhmu."
Kutatap ponsel lama. Lalu kuhubungi Aldo.
"Halo?" suaranya.
"Aldo... aku tahu kamu di hotel ini."
Hening. "Ven, aku..."
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Aku cuma khawatir. Kamu aneh hari ini."
Aku menghela napas. "Aldo, aku perlu bicara. Bisa ke kamarku?"
"Sebentar."
Lima menit kemudian, ia mengetuk pintu. Aku membukanya, lalu ia masuk, dan duduk di kursi santai.
"Cerita, Ven. Apa yang sebenarnya terjadi?"
“Menurut kamu, Armando itu seperti apa?”
“Maksudmu?”
“Apa dia pernah punya pacar? Lalu ditinggalkan? Atau ... ada cerita kurang baik lainnya?” Aku menatapnya tajam seakan meminta sebuah kepastian.
Sambil bersender santai dan menatapku penuh ragu. “Aku gak begitu peduli dengannya, bukan karena saudara tiri kita tidak bisa sepaham, tapi mungkin sifat kami yang berbeda.”
“Dia baik, perhatian, tidak kasar. Makanya aku jatuh cinta dengannya.”
“Dia pandai menyenangkan wanitanya. Apalagi bila punya target yang ingin dicapai?”
“Aku makin gak ngerti. Jelaskan dengan kata-kata yang simple, Aldo. Kamu terlalu banyak teka-teki.”
“Apa kamu ada masalah dengan Armando?” Aldo balik bertanya.
“Jelaskan dulu, Aldo?”
“Seperti yang aku bilang, aku malas ikut campur urusan pribadinya. Hanya saja aku pernah dengar ada satu wanita yang ditinggalkan setelah banyak berkorban untuknya, termasuk harta.”
“Ogh.? Aldo sudah pernah menikah?”
“Tepatnya batal menikah. Sudahlah, itu masa lalu yang mungkin malah buat kamu terluka. Yang penting dia tidak menyakitimu.”
Aku pindah duduk di tepi kasur. Air mata mulai mengalir. "Kamu salah, Aldo... Armando telah membuat luka yang sangat dalam. Dia ... selingkuh. Dengan Riana."
Ia terkesiap. "Apa?"
Aku menunjukkan ponsel. Foto-foto, rekaman suara. Ia melihat, wajahnya berubah.
"Astaghfirullah... ini... ini gi la."
"Mereka juga mau bunuh aku, Aldo. Rencananya sudah matang."
Ia memegang kepalanya. "Ven... benarkah?. Aku memang tidak suka sifatnya, tapi apa dia juga tega mau merencanakan itu?"
"Kamu dengar rekaman itu, kan?."
Aldo menatapku. "Iya, Ven. Aku gak nyangka ia punya rencana gi l a itu."
"Kamu percaya padaku?"
"Aku percaya. Aku akan bantu kamu, Ven. Apa yang bisa kulakukan untukmu?"
“Aku menyuruh orang memasang cctv dengan alasan memperbaiki AC kamarku yang rusak.”
“Ide bagus. Selanjutnya?”
Pagi buta, aku sudah terbangun. Kulihat ponsel, pukul 05.30. Belum ada sinar matahari, tapi jantungku sudah berdegup kencang.Hari ini hari yang menentukan.Kubuka aplikasi CCTV. Kamar masih kosong. Armando tidak tidur di kamar semalam. Mungkin di kamar tamu. Atau di mana pun bersama Riana.Kugulir rekaman semalaman. Dan di sana, pukul 02.00 dini hari, aku melihat mereka masuk ke kamar. Riana tertawa kecil, Armando memeluknya dari belakang."Besok, Sayang. Besok kita bebas," bisik Armando di telinganya.Riana menoleh, menciumnya. "Aku enggak sabar, Mas. Capek sembunyi-sembunyi.""Sebentar lagi. Setelah Venita pergi, kita nikah. Semua harta jadi milik kita."Aku mematikan video. Tidak sanggup melihat lebih lama.Ponsel bergetar. Pesan dari nomor misterius."Periksa emailmu. Ada dokumen yang harus kau lihat."Kubuka laptop dengan tangan sedikit gemetar. Siapa pun pengirim pesan ini, ia tahu banyak. Terlalu banyak.Email masuk dari alamat tidak dikenal. Lampirannya berupa scan dokumen-dok
"Apa rencanamu selanjutnya?""Aku akan pulang besok sore. Tapi bukan aku yang akan mengendarai mobil itu." Aku menjelaskan idemu tentang boneka manekin. "Aku butuh kamu menjemputku di tempat tertentu. Setelah mobil itu masuk sungai, aku akan menghilang. Mereka akan mengira aku mati."Aldo menatapku dengan campuran takjub dan khawatir. "Kamu yakin? Ini berbahaya.""Lebih berbahaya jika aku diam saja dan membiarkan mereka membunuhku." Aku menggenggam tanganku sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil semua yang ayah-ibuku wariskan. Perusahaan, butik, semuanya."Aldo terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata, "Aku akan membantumu. Tapi setelah semua ini, kamu harus berjanji padaku.""Apa itu?""Kamu harus menjaga dirimu. Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatanmu sendiri."Aku tersenyum tipis. "Janji."Kami berbicara lebih lama, menyusun detail rencana. Aldo akan menyiapkan boneka manekin yang mirip denganku. Ia juga akan menjemputku di pertigaan sebelum tikungan sun
Dua hari di kampus berjalan lancar. Aku menjadi narasumber seperti biasa, tersenyum, bercanda, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal pikiranku berkecamuk. Setiap jeda, kutatap ponsel, berharap ada pesan baru dari nomor misterius itu.Sore hari, setelah acara selesai, aku tidak pulang. Aku check in di hotel berbeda, bukan hotel tempat acara. Aku butuh tempat aman untuk berpikir.Pukul tujuh malam, aku turun ke restoran hotel. Perut keroncongan, tapi nafsu makanku hilang. Aku pesan sup dan teh hangat.Tiba-tiba, seseorang berdiri di depan mejaku."Venita?"Aku menoleh. Kaget. Aldo. Adik iparku."Aldo? Kamu... di sini?"Ia tersenyum, duduk tanpa permisi. "Ada meeting dengan rekan bisnis. Hotel ini milik temanku." Ia memanggil pelayan, memesan kopi. "Kamu sendiri? Bukannya ada acara di kampus?"Aku berusaha tenang. "I-iya, udah selesai. Aku cuma... iseng, mau cari inspirasi model butik."Aldo mengernyit. "Cari inspirasi di restoran hotel?""Sambil lihat orang lalu lalang. Kadang fashion in
Satu setengah tahun lalu. Aku masih ingat persis hari itu."Ven, lo harus bantu gue!"Riana datang ke butikku dengan mata sembab. Wajahnya pucat, rambut kusut. Langsung ambruk di sofa ruang tunggu butik."Ada apa, Ri?" Aku duduk di sampingnya, mengusap punggungnya."Gue putus sama Rey, Ven." Isaknya pecah. "Dia mukul gue lagi. Kali ini lebih keras. Gue enggak tahan!"Aku menariknya dalam pelukan. "Sudah, sudah. Jangan nangis. Lo bisa tinggal di rumah gue sementara.""Tapi Ven... gue enggak punya uang. Kerjaan gue cuma model lepas. Enggak cukup buat hidup."Saat itu Riana memang model langganan butikku. Kadang-kadang aku panggil untuk fashion show kecil-kecilan. Wajahnya cantik, badannya proporsional. Tapi di luar itu, hidupnya kacau."Lo mau kerja di sini?" tawarku spontan. "Butik butuh admin. Gajinya lumayan."Mata Riana berbinar. "Sungguh, Ven? Lo mau nerima gue?""Tentu saja. Lo sahabat gue."Riana memelukku erat. "Makasih, Ven! Gue enggak akan lupa kebaikan lo! Gue janji bakal kerj
"Sayang, kamu lagi di mana? Acaranya belum selesai, ya?"Suara Armando di ujung telepon terdengar begitu lembut. Lembut yang dulu selalu membuatku meleleh. Sekarang? Rasanya seperti sayatan-sayatan yang menyiksa."Di hotel, Mas. Masih ada acara tambahan dari kampus." Aku berusaha membuat suaraku senormal mungkin. Padahal jari-jariku mencengkeram sprei hotel sampai putih."Ogh Ada acara lagi, ya? Semangat ya, Sayang.""Tamu undangannya banyak, Mas. Jadi panitia minta aku nambah dua hari untuk jadi pembicara di dua kampus lain." Aku memandang bayanganku sendiri di cermin. Mataku sembab. Wajah pucat. Tapi suaraku harus tetap ceria."Iya, Sayang." Ada jeda sebentar. "Ehm. Aku kangen, Sayang. Cepet pulang, ya."Kangen? Aku ingin tertawa getir. Tapi kutahan."Iya, Mas. Aku juga kangen." Bohong. Aku tidak kangen sama sekali. Yang ada aku ingin muntah setiap membayangkan dia dengan perempuan sun d a l itu."Eh, Mbok Rati ke mana, Mas? Kok enggak kedengaran suaranya?" tanyaku pura-pura."Ooh, a
"Mas, kapan kamu ceraikan istrimu?"Suara itu membuat tubuhku membeku. Tangan yang baru saja memegang gagang pintu langsung terlepas. Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, lalu berdegup kencang seperti hendak melompat keluar.Aku kenal suara itu. Terlalu kenal.Riana. Sahabatku sendiri sejak kuliah. Wanita yang setiap minggu mengadu tentang pacarnya yang kasar. Yang kutampung di butikku saat ia tak punya uang. Yang kurekomendasikan jadi sekretaris suamiku.Dan sekarang suaranya terdengar dari balik pintu kamarku."Sabar, sayang. Jangan terburu-buru." Suara berat itu juga tak asing. Armando. Suamiku. Laki-laki yang lima tahun lalu berjanji di hadapan penghulu dan kedua orang tuaku untuk mencintaiku sampai mati.Kakiku terasa lemas. Aku bersandar ke dinding lorong, berusaha menenangkan napas yang memburu. Tas masih menggantung di bahu, koper kecil tergeletak di lantai. Aku seharusnya masih di luar kota untuk acara kampus. Tapi sebuah pesan anonim seminggu lalu membuatku curiga."Ibu







