Share

Bab 3

Author: Al Zena
last update Last Updated: 2026-02-05 22:05:42

Aisyah berjalan cepat menyusuri koridor lantai 12, air mata membasahi pipinya tanpa ia sadari. Ia tidak ingin melihat ke belakang, tidak ingin mendengar tangisan Riana atau teriakan panik Aris. Ia hanya ingin keluar dari tempat beracun ini.

Saat ia berbelok di tikungan, menuju lift, ia menabrak seseorang yang membuatnya terjatuh. Seharusnya ia merasakan sakit karena terjatuh, namun badannya serasa ringan seakan melayang tanpa beban seperti beratnya beban yang ia pikirkan.

 Lalu di mana Aisyah terjatuh? Mengapa justru rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya?

Sosok pria itu tinggi dan gagah, mengenakan setelan jas abu-abu mahal yang membuatnya tampak sangat berwibawa.

Ia adalah Aldo Michell.

Aldo, yang baru selesai rapat penting di lantai itu, langsung menangkap tubuh  Aisyah yang nyaris terjatuh. Ia spontan mengangkat tubuh ringan Aisyah agar tidak jatuh.

“Aisyah?” Suara Aldo dalam dan tegas, namun kali ini terdengar khawatir.

Aisyah mendongak di atas kedua tangan Aldo. Matanya yang merah bertemu pandangan mata Aldo yang tajam dan sedikit terkejut.

“Tuan Aldo,” bisik Aisyah, suaranya serak. Ia mencoba melepaskan diri, tapi tubunya terasa lemah seperti tak punya tenaga.

Aldo memperhatikan keadaan Aisyah—pakaiannya yang rapi kini kusut, riasannya sedikit luntur, dan matanya yang sembab merah. Kemudian, matanya beralih ke arah pintu kamar 1205 yang masih sedikit terbuka, tempat Aris baru saja keluar dengan ekspresi liar di wajahnya.

Aris melihat Aisyah dalam gendongan adiknya sendiri, Aldo. Ekspresi paniknya semakin menjadi-jadi.

“Aldo! Jangan turunkan istriku!” teriak Aris, berlari mendekat.

Aldo segera menurunkan pelan tubuh Aisyah dan berbalik, menghalangi jalan Aris. Wajahnya kini berubah dingin, memancarkan aura yang menakutkan, aura yang jarang ia tunjukkan pada keluarga.

“Aku tidak bermaksud apa-apa, Aris. Aku menangkapknya agar tidak jatuh ke lantai dan sakit,” jawab Aldo datar. Matanya kini menyapu Aris dari ujung kaki hingga ujung kepala—Aris terlihat berantakan, dan di belakangnya, Riana terlihat mengintip dengan ekspresi bersalah.

Aldo tidak perlu bertanya. Ia adalah pengamat yang tajam. Suasana, tangisan Aisyah, dan wajah panik Aris serta Riana sudah menjadi bukti yang cukup.

“Apa yang terjadi di sini, Aris?” tanya Aldo, nada suaranya dipenuhi kekecewaan.

Aris gugup. “Ini ... ini masalah keluarga. Kau tidak perlu ikut campur, Aldo. Pergi saja.”

“Masalah keluarga?” Aldo mengernyit. “Kau membawa masalah keluarga ke hotelku, ke lantai rapat pentingku, dan kau membuat Aisyah menangis seperti ini. Aku melihat kekacauan di kamarmu. Aku dengar teriakannya. Sebagai pemilik tempat ini, dan sebagai ... adikmu, aku wajib tahu.”

Riana maju sedikit, mencoba menyergah dengan suara bergetar. “Tuan Aldo, ini hanya salah paham. Kami sedang membicarakan…”

“Diam, Riana,” potong Aldo tanpa basa-basi. Tatapan dinginnya membuat Riana mundur ketakutan. “Aku sedang bicara dengan Aris.”

Aris mencoba menarik lengan Aisyah. “Sayang, ayo kita pulang. Kita selesaikan di rumah.”

Aisyah menarik lengannya keras. “Tidak ada lagi ‘Sayang’. Tidak ada lagi rumah. Kita cerai, Aris. Kamu dengar itu?”

Pernyataan Aisyah itu membuat Aris terhuyung mundur. Ia menatap Aldo dengan marah, seolah menyalahkan kehadiran adiknya.

“Ini semua salahmu, Aldo! Kalau kau tidak muncul di sini, Aisyah tidak akan bertindak gegabah!” Aris mulai menyalahkan.

Aldo menatap kakaknya dengan tatapan menghakimi yang jarang ia tunjukkan. “Tindakanmu yang gegabah, Aris, bukan tindakan Aisyah. Aku sudah memperingatkanmu untuk menjaga kehormatanmu dan nama keluarga. Tapi kau memilih jalan ini.”

Aldo menoleh ke Aisyah. Meskipun ia adalah ipar Aisyah, ia selalu menaruh rasa hormat yang tinggi pada wanita itu. Aisyah adalah wanita cerdas dan gigih, terlalu baik untuk pengkhianatan murahan seperti ini.

“Aisyah,” panggil Aldo lembut. “Kau tidak perlu tinggal di sini lagi. Atau kembali ke rumah itu. Mari ikut aku.”

Tanpa menunggu persetujuan Aris, Aldo meletakkan tangan di punggung Aisyah, memberikan sedikit dorongan yang penuh perlindungan, dan memimpin Aisyah menjauhi koridor hotel yang penuh dosa itu.

Aris hanya bisa melihat kepergian mereka dengan wajah marah dan frustrasi yang bercampur aduk. Ia menyadari, saat itu juga, bahwa ia baru saja kehilangan jauh lebih dari sekadar istrinya.

Apa yang akan dilakukan Aris? Apakah ia bisa meyakinkan Aisyah kembali?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 6

    Gugatan cerai telah resmi didaftarkan. Suasana di apartemen Aldo menjadi sedikit lebih tenang, meskipun ketegangan masih menggantung. Aisyah menghabiskan sore harinya dengan menghubungi manajer butiknya, memastikan operasional tetap berjalan normal tanpa menyinggung masalah pribadinya.Aldo sibuk dengan panggilan dan meeting jarak jauh. Ia memisahkan dirinya di ruang kerja, memberikan Aisyah ruang privasi. Namun, setiap beberapa jam, ia akan keluar untuk memastikan Aisyah baik-baik saja.Menjelang senja, Aisyah duduk di balkon, menikmati pemandangan kota. Aldo bergabung, membawa dua cangkir teh herbal.“Bagaimana perasaanmu?” tanya Aldo, menyerahkan cangkir pada Aisyah.Aisyah menyesap teh hangat itu. “Lega. Tapi juga ... bingung. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini.”“Tidak ada yang bisa menolak ujian Tuhan,” kata Aldo. “Yang penting, kau sudah mengambil langkah yang benar.”Aisyah menatap Aldo. “Aku masih memikirkan Riana. Aku mengerti jika Aris berkhianat, dia me

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 5

    Pagi tiba, membawa cahaya terasa yang kejam menembus tirai apartemen Aldo. Aisyah terbangun setelah tidur yang singkat dan gelisah. Peristiwa semalam terasa seperti mimpi buruk, namun rasa perih di hatinya membuktikan semuanya nyata.Ia turun ke ruang tamu. Aldo sudah ada di sana, mengenakan setelan kasual namun tetap rapi, sambil menyesap kopi. Di atas meja, sudah tersedia sarapan yang disiapkan koki pribadinya.“Selamat pagi,” sapa Aldo, nadanya profesional seperti biasa, seolah semalam ia tidak menyelamatkan seorang wanita yang nyaris histeris dari perselingkuhan suaminya.“Pagi, Tuan Aldo,” jawab Aisyah, merasa canggung.“Panggil saja Aldo. Aku akan memanggilmu Aisyah,” koreksi Aldo. “Duduklah. Kita harus bicara serius sebelum Aris berhasil memutarbalikkan fakta.”Aisyah duduk, merasakan perutnya mual. “Aku tidak lapar.”“Setidaknya minum kopimu,” desak Aldo. “Kau butuh energi.”Aisyah menghela napas. “Aku sudah memutuskan. Aku ingin cerai secepatnya. Aku tidak mau sepeser pun dar

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 4

    Aisyah duduk membeku di sofa apartemen pribadi Aldo Michell. Apartemen itu mewah, dengan pemandangan kota yang memukau di malam hari, namun Aisyah tidak melihat apa-apa. Dunianya terasa kelabu. Ia masih bisa merasakan sentuhan dingin kartu kunci di tangannya, suara tawa Aris dan Riana, serta tatapan dingin Aldo yang mengawasinya.Aldo telah membawanya ke sini, ke apartemen kosong ini. “Untuk malam ini, kau bisa tinggal di sini. Aman dan nyaman. Aku akan membereskan semuanya besok,” katanya dengan suara yang menenangkan namun tegas, seolah ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.Aisyah hanya mengangguk pasrah. Ia tidak punya tempat lain untuk pergi. Rumah itu, yang dulu terasa seperti surga, kini terasa seperti neraka yang dipenuhi kenangan palsu.Aldo membawakan segelas air dan sedikit camilan. Ia duduk beberapa meter dari Aisyah, memberinya ruang. Ia tahu Aisyah sedang terguncang hebat.“Kau tidak perlu bicara jika belum siap,” ujar Aldo, memecah keheningan yang mencekam. “

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 3

    Aisyah berjalan cepat menyusuri koridor lantai 12, air mata membasahi pipinya tanpa ia sadari. Ia tidak ingin melihat ke belakang, tidak ingin mendengar tangisan Riana atau teriakan panik Aris. Ia hanya ingin keluar dari tempat beracun ini.Saat ia berbelok di tikungan, menuju lift, ia menabrak seseorang yang membuatnya terjatuh. Seharusnya ia merasakan sakit karena terjatuh, namun badannya serasa ringan seakan melayang tanpa beban seperti beratnya beban yang ia pikirkan. Lalu di mana Aisyah terjatuh? Mengapa justru rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya?Sosok pria itu tinggi dan gagah, mengenakan setelan jas abu-abu mahal yang membuatnya tampak sangat berwibawa.Ia adalah Aldo Michell.Aldo, yang baru selesai rapat penting di lantai itu, langsung menangkap tubuh Aisyah yang nyaris terjatuh. Ia spontan mengangkat tubuh ringan Aisyah agar tidak jatuh.“Aisyah?” Suara Aldo dalam dan tegas, namun kali ini terdengar khawatir.Aisyah mendongak di atas kedua tangan Aldo. Matanya y

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 2

    Di dalam lift, Aisyah melihat pantulan dirinya di cermin perunggu. Wajahnya pucat, mata sembap, tetapi ia memaksakan dirinya untuk tetap tegak. Sementara di sampingnya Bu Rara diam tanpa ekspresi, namun terlihat ketegangan yang ia sembunyikan.Aisyah teringat percakapan terakhirnya dengan Riana, dua hari lalu.“Aisyah, kamu kenapa? Wajahmu murung sekali.”“Aku cuma merasa Aris semakin jauh, Ri. Dia selalu lembur, selalu ke luar kota. Nyaris tidak ada waktu santai berdua. Bahkan di akhir pekan sekalipun”“Oh, Aisyah, jangan berpikir negatif. Aris itu suamimu. Dia bekerja keras untuk masa depan kalian. Jangan dengarkan gosip murahan. Aris hanya butuh dukungan darimu.”Riana mengusap punggung Aisyah. “Dengar, kalau kamu butuh teman bicara, aku selalu ada. Jangan pernah merasa sendirian. Kamu sahabat terbaikku.”Aisyah mengepalkan tangan di lift. Sialan. Riana bahkan menyuruh Aisyah untuk menjaga jarak dengan Aris agar Aris tidak merasa terganggu. “Kalian butuh waktu berdua, Syah. Jangan

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 1

    “Mas Aris? Riana? Sedang apa mereka di resepsionis?” Aisyah bergumam pelan, perasaannya diliputi kejanggalan atas apa yang baru saja ia lihat.“Benarkah itu Mas Aris?” Ia berusaha memanggil suami dan sahabatnya itu. Namun, sebelum satu pun suara keluar dari tenggorokannya, sebuah panggilan menghentikannya.“Aisyah, tunggu sebentar!” Suara Tante Amira memecah keheningan.Langkah Aisyah terhenti. Meski raut wajahnya tetap terkendali, gejolak di dalam dadanya sulit disembunyikan. Siluet yang tadi terlihat di resepsionis hotel masih melekat kuat dalam ingatannya—Aris dan Riana.“Ada apa, Tante?” tanyanya kemudian, berusaha menjaga suaranya tetap stabil."Kamu masih ingat kan desain yang aku bilang kemarin? Aku ingin melihat beberapa contoh." Tante Amira mempercepat langkah, mencoba mengejar Aisyah yang tampak kaku.“Ya, desain yang floral, bukan?” Aisyah berusaha berkata santai, meski pikirannya melayang jauh. Riana dan Aris. Apa yang mereka lakukan di sini?“Betul sekali! Oh, dan aku ing

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status