Share

Bab 3

Author: Al Zena
last update publish date: 2026-02-05 22:05:42

Satu setengah tahun lalu. Aku masih ingat persis hari itu.

"Ven, lo harus bantu gue!"

Riana datang ke butikku dengan mata sembab. Wajahnya pucat, rambut kusut. Langsung ambruk di sofa ruang tunggu butik.

"Ada apa, Ri?" Aku duduk di sampingnya, mengusap punggungnya.

"Gue putus sama Rey, Ven." Isaknya pecah. "Dia mukul gue lagi. Kali ini lebih keras. Gue enggak tahan!"

Aku menariknya dalam pelukan. "Sudah, sudah. Jangan nangis. Lo bisa tinggal di rumah gue sementara."

"Tapi Ven... gue enggak punya uang. Kerjaan gue cuma model lepas. Enggak cukup buat hidup."

Saat itu Riana memang model langganan butikku. Kadang-kadang aku panggil untuk fashion show kecil-kecilan. Wajahnya cantik, badannya proporsional. Tapi di luar itu, hidupnya kacau.

"Lo mau kerja di sini?" tawarku spontan. "Butik butuh admin. Gajinya lumayan."

Mata Riana berbinar. "Sungguh, Ven? Lo mau nerima gue?"

"Tentu saja. Lo sahabat gue."

Riana memelukku erat. "Makasih, Ven! Gue enggak akan lupa kebaikan lo! Gue janji bakal kerja keras!"

Dua bulan kemudian, Armando mengeluh.

"Ven, sekretarisku keluar. Mau hamil katanya. Susah cari pengganti."

Aku berpikir sejenak. "Gimana kalau Riana? Dia kerja di butik, tapi bisa gue lepas. Lagian dia pintar, lulusan S1."

Armando mengernyit. "Riana? Yang suka ke rumah itu?"

"Iya, Mas. Dia baik, rajin. Temen aku sejak kuliah."

"Kamu yakin, Ven? Kerja di perusahaan beda sama di butik."

Aku mengangguk yakin. "Riana bisa kok, Mas. Dia cerdas. Lagian gue percaya sama dia."

Armando mengangguk pelan. "Ya udah kalau kamu yang nyaranin. Panggil aja buat interview."

Malamnya aku telepon Riana. "Ri, lo mau enggak kerja di perusahaan Mas Armando? Jadi sekretaris. Gajinya tiga kali lipat dari butik."

Hening di ujung telepon. "Sekretaris Mas Armando?" ulangnya pelan.

"Iya. Lo mau kan?"

"Mau dong, Ven! Tapi... Mas Armando setuju?"

"Iya, gue yang nyaranin. Mas Armando percaya sama gue. Pokoknya lo interview besok, ya."

"Makasih, Ven! Lo emang sahabat terbaik gue!"

Aku tersenyum waktu itu. Senang bisa membantu sahabat.

Bulan-bulan berikutnya, semuanya tampak baik-baik saja. Riana sering ke rumah. Kadang makan malam bareng. Kadang lembur bareng Armando katanya.

"Ven, Mas Armando tuh baik banget, ya?" ucap Riana suatu sore di dapur rumahku. Aku sedang memasak, ia menemani.

"Iya. Alhamdulillah dapat suami baik." Aku tersenyum.

"Gue iri sama lo, Ven. Dapat suami perhatian, mapan, enggak kasar kayak mantan gue."

"Lo juga bakal dapat jodoh baik, Ri. Sabar aja."

Riana tertawa kecil. "Iya, semoga."

Aku tidak melihat sorot matanya saat itu. Tidak menangkap nada bicaranya yang aneh.

Beberapa bulan kemudian, mulai ada perubahan kecil.

"Ven, Mas Armando minta gue lembur terus, nih. Capek banget."

"Ya udah, kalau capek istirahat. Bilang aja sama Mas Armando."

"Enggak enak, Ven. Lagian dia atasan gue."

"Ya udah kalau gitu. Tapi jaga kesehatan, ya."

Lalu sering ada pesan singkat malam-malam.

"Ven, ini Riana. Mas Armando nitip berkas, lupa gue bawa. Besok gue anter ke rumah, ya."

Atau,

"Ven, gue sama Mas Armando meeting di luar."

Atau,

"Ven, mobil Mas Armando lagi diservis. Gue anterin pulang, ya."

Semua tampak biasa. Semua tampak wajar.

Sampai suatu hari Riana datang dengan baju baru.

"Ven, lo lihat baju gue? Baru beli. Cocok, enggak?"

"Cantik, Ri. Dapat bonus, ya?"

Riana tertawa. "Iya, bisa dibilang gitu deh."

Sekarang aku mengerti. Bonus itu bukan dari perusahaan. Tapi dari Armando. Untuk jasanya... di ran j a n g.

Ponselku bergetar. Kembali ke masa kini. Aku masih di hotel, memandangi layar yang menampilkan foto-foto lama. Air mata mengalir tanpa kusadari.

Betapa bodohnya aku. Betapa butanya aku.

Riana bukan datang untuk minta tolong. Dia datang untuk mengambil semuanya. Suamiku, perusahaanku, butikku. Dan aku sendiri yang mengantarkannya ke pintu.

Kutatap ponsel, membuka galeri. Rekaman suara semalam, foto-foto mesra mereka, dan sekarang pesan dari orang misterius.

Aku ingat nasihat Ustadzah Aisyah: "orang baik akan berjodoh dengan orang baik, sebagaimana tertuang dalam QS. An-Nur ayat 26, yang memaknai jodoh sebagai cerminan diri dan kebaikan pasangan. Namun, ini bukanlah janji mutlak; bisa terjadi pengecualian sebagai ujian kesabaran, pendewasaan, atau jalan dakwah."

Lalu ... apa yang sedang kualami. Apakah aku cerminan ketidakbaikan suamiku? Apa salahku? Atau ini ujian dalam hidupku?

Kuhubungi tukang service AC. "Pak, jadi besok bisa pasang?"

"Bisa, Bu. Tapi Ibu di rumah?"

"Enggak, Pak. Saya lagi di luar kota. Nanti bapak bilang aja sama suami saya, disuruh service AC kamar. Saya sudah pesan sama suami."

"Siap, Bu. Aman."

Aku tersenyum tipis. CCTV kecil di dalam AC. Armando tidak akan pernah curiga. Dan aku bisa melihat semua dari sini.

Perlahan, bidak-bidak catur mulai kususun. Mereka pikir sudah menang.

Walau sedikit kawatir dan takut, tapi aku yakin pada keadilan Allah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 6

    Pagi buta, aku sudah terbangun. Kulihat ponsel, pukul 05.30. Belum ada sinar matahari, tapi jantungku sudah berdegup kencang.Hari ini hari yang menentukan.Kubuka aplikasi CCTV. Kamar masih kosong. Armando tidak tidur di kamar semalam. Mungkin di kamar tamu. Atau di mana pun bersama Riana.Kugulir rekaman semalaman. Dan di sana, pukul 02.00 dini hari, aku melihat mereka masuk ke kamar. Riana tertawa kecil, Armando memeluknya dari belakang."Besok, Sayang. Besok kita bebas," bisik Armando di telinganya.Riana menoleh, menciumnya. "Aku enggak sabar, Mas. Capek sembunyi-sembunyi.""Sebentar lagi. Setelah Venita pergi, kita nikah. Semua harta jadi milik kita."Aku mematikan video. Tidak sanggup melihat lebih lama.Ponsel bergetar. Pesan dari nomor misterius."Periksa emailmu. Ada dokumen yang harus kau lihat."Kubuka laptop dengan tangan sedikit gemetar. Siapa pun pengirim pesan ini, ia tahu banyak. Terlalu banyak.Email masuk dari alamat tidak dikenal. Lampirannya berupa scan dokumen-dok

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 5

    "Apa rencanamu selanjutnya?""Aku akan pulang besok sore. Tapi bukan aku yang akan mengendarai mobil itu." Aku menjelaskan idemu tentang boneka manekin. "Aku butuh kamu menjemputku di tempat tertentu. Setelah mobil itu masuk sungai, aku akan menghilang. Mereka akan mengira aku mati."Aldo menatapku dengan campuran takjub dan khawatir. "Kamu yakin? Ini berbahaya.""Lebih berbahaya jika aku diam saja dan membiarkan mereka membunuhku." Aku menggenggam tanganku sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil semua yang ayah-ibuku wariskan. Perusahaan, butik, semuanya."Aldo terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata, "Aku akan membantumu. Tapi setelah semua ini, kamu harus berjanji padaku.""Apa itu?""Kamu harus menjaga dirimu. Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatanmu sendiri."Aku tersenyum tipis. "Janji."Kami berbicara lebih lama, menyusun detail rencana. Aldo akan menyiapkan boneka manekin yang mirip denganku. Ia juga akan menjemputku di pertigaan sebelum tikungan sun

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 4

    Dua hari di kampus berjalan lancar. Aku menjadi narasumber seperti biasa, tersenyum, bercanda, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal pikiranku berkecamuk. Setiap jeda, kutatap ponsel, berharap ada pesan baru dari nomor misterius itu.Sore hari, setelah acara selesai, aku tidak pulang. Aku check in di hotel berbeda, bukan hotel tempat acara. Aku butuh tempat aman untuk berpikir.Pukul tujuh malam, aku turun ke restoran hotel. Perut keroncongan, tapi nafsu makanku hilang. Aku pesan sup dan teh hangat.Tiba-tiba, seseorang berdiri di depan mejaku."Venita?"Aku menoleh. Kaget. Aldo. Adik iparku."Aldo? Kamu... di sini?"Ia tersenyum, duduk tanpa permisi. "Ada meeting dengan rekan bisnis. Hotel ini milik temanku." Ia memanggil pelayan, memesan kopi. "Kamu sendiri? Bukannya ada acara di kampus?"Aku berusaha tenang. "I-iya, udah selesai. Aku cuma... iseng, mau cari inspirasi model butik."Aldo mengernyit. "Cari inspirasi di restoran hotel?""Sambil lihat orang lalu lalang. Kadang fashion in

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 3

    Satu setengah tahun lalu. Aku masih ingat persis hari itu."Ven, lo harus bantu gue!"Riana datang ke butikku dengan mata sembab. Wajahnya pucat, rambut kusut. Langsung ambruk di sofa ruang tunggu butik."Ada apa, Ri?" Aku duduk di sampingnya, mengusap punggungnya."Gue putus sama Rey, Ven." Isaknya pecah. "Dia mukul gue lagi. Kali ini lebih keras. Gue enggak tahan!"Aku menariknya dalam pelukan. "Sudah, sudah. Jangan nangis. Lo bisa tinggal di rumah gue sementara.""Tapi Ven... gue enggak punya uang. Kerjaan gue cuma model lepas. Enggak cukup buat hidup."Saat itu Riana memang model langganan butikku. Kadang-kadang aku panggil untuk fashion show kecil-kecilan. Wajahnya cantik, badannya proporsional. Tapi di luar itu, hidupnya kacau."Lo mau kerja di sini?" tawarku spontan. "Butik butuh admin. Gajinya lumayan."Mata Riana berbinar. "Sungguh, Ven? Lo mau nerima gue?""Tentu saja. Lo sahabat gue."Riana memelukku erat. "Makasih, Ven! Gue enggak akan lupa kebaikan lo! Gue janji bakal kerj

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 2

    "Sayang, kamu lagi di mana? Acaranya belum selesai, ya?"Suara Armando di ujung telepon terdengar begitu lembut. Lembut yang dulu selalu membuatku meleleh. Sekarang? Rasanya seperti sayatan-sayatan yang menyiksa."Di hotel, Mas. Masih ada acara tambahan dari kampus." Aku berusaha membuat suaraku senormal mungkin. Padahal jari-jariku mencengkeram sprei hotel sampai putih."Ogh Ada acara lagi, ya? Semangat ya, Sayang.""Tamu undangannya banyak, Mas. Jadi panitia minta aku nambah dua hari untuk jadi pembicara di dua kampus lain." Aku memandang bayanganku sendiri di cermin. Mataku sembab. Wajah pucat. Tapi suaraku harus tetap ceria."Iya, Sayang." Ada jeda sebentar. "Ehm. Aku kangen, Sayang. Cepet pulang, ya."Kangen? Aku ingin tertawa getir. Tapi kutahan."Iya, Mas. Aku juga kangen." Bohong. Aku tidak kangen sama sekali. Yang ada aku ingin muntah setiap membayangkan dia dengan perempuan sun d a l itu."Eh, Mbok Rati ke mana, Mas? Kok enggak kedengaran suaranya?" tanyaku pura-pura."Ooh, a

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 1

    "Mas, kapan kamu ceraikan istrimu?"Suara itu membuat tubuhku membeku. Tangan yang baru saja memegang gagang pintu langsung terlepas. Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, lalu berdegup kencang seperti hendak melompat keluar.Aku kenal suara itu. Terlalu kenal.Riana. Sahabatku sendiri sejak kuliah. Wanita yang setiap minggu mengadu tentang pacarnya yang kasar. Yang kutampung di butikku saat ia tak punya uang. Yang kurekomendasikan jadi sekretaris suamiku.Dan sekarang suaranya terdengar dari balik pintu kamarku."Sabar, sayang. Jangan terburu-buru." Suara berat itu juga tak asing. Armando. Suamiku. Laki-laki yang lima tahun lalu berjanji di hadapan penghulu dan kedua orang tuaku untuk mencintaiku sampai mati.Kakiku terasa lemas. Aku bersandar ke dinding lorong, berusaha menenangkan napas yang memburu. Tas masih menggantung di bahu, koper kecil tergeletak di lantai. Aku seharusnya masih di luar kota untuk acara kampus. Tapi sebuah pesan anonim seminggu lalu membuatku curiga."Ibu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status