Share

Bab 5

Author: Al Zena
last update Last Updated: 2026-02-05 22:08:30

Pagi tiba, membawa cahaya terasa yang kejam menembus tirai apartemen Aldo. Aisyah terbangun setelah tidur yang singkat dan gelisah. Peristiwa semalam terasa seperti mimpi buruk, namun rasa perih di hatinya membuktikan semuanya nyata.

Ia turun ke ruang tamu. Aldo sudah ada di sana, mengenakan setelan kasual namun tetap rapi, sambil menyesap kopi. Di atas meja, sudah tersedia sarapan yang disiapkan koki pribadinya.

“Selamat pagi,” sapa Aldo, nadanya profesional seperti biasa, seolah semalam ia tidak menyelamatkan seorang wanita yang nyaris histeris dari perselingkuhan suaminya.

“Pagi, Tuan Aldo,” jawab Aisyah, merasa canggung.

“Panggil saja Aldo. Aku akan memanggilmu Aisyah,” koreksi Aldo. “Duduklah. Kita harus bicara serius sebelum Aris berhasil memutarbalikkan fakta.”

Aisyah duduk, merasakan perutnya mual. “Aku tidak lapar.”

“Setidaknya minum kopimu,” desak Aldo. “Kau butuh energi.”

Aisyah menghela napas. “Aku sudah memutuskan. Aku ingin cerai secepatnya. Aku tidak mau sepeser pun darinya. Aku hanya ingin kebebasan.”

Aldo meletakkan cangkirnya. “Itu tidak adil, Aisyah. Dalam perceraian, apalagi dengan bukti pengkhianatan seperti ini, kau berhak atas ganti rugi dan pembagian harta yang adil. Jangan biarkan emosi menguasaimu. Aku tahu kau ingin cepat selesai, tapi kita harus bertindak dengan perhitungan.”

“Perhitungan seperti apa?” tanya Aisyah putus asa. “Dia mungkin sudah memblokir semua akses ke rekening bersama.”

“Aku sudah mengantisipasi itu,” kata Aldo tenang. “Aku sudah menghubungi pengacara terbaikku, yang juga menangani masalah hukum keluargaku. Namanya Bapak Hady. Dia akan datang ke sini dalam satu jam. Kita akan menyusun gugatan berdasarkan bukti yang kau miliki.”

Aisyah terkejut. “Kau sudah menyiapkan pengacara?”

“Tentu saja,” jawab Aldo, tanpa sedikitpun keraguan. “Aku tidak akan membiarkan Aris menginjak-injakmu. Ini bukan hanya tentang perceraian, Aisyah. Ini tentang reputasimu dan masa depan butikmu. Aris adalah manajer pemasaran. Dia tahu cara memanipulasi media dan opini publik. Kita harus bergerak cepat.”

Aisyah merasakan benang harapan mulai terajut. Ia menatap Aldo dengan penuh rasa terima kasih.

“Aldo, aku tidak tahu bagaimana membalas semua kebaikan ini,” katanya.

Aldo menggeleng. “Tidak perlu. Cukup pastikan kau kuat. Kau harus membuktikan pada Aris bahwa kau tidak hancur tanpanya.”

*

Tepat satu jam kemudian, pengacara Bapak Hady tiba. Ia seorang pria paruh baya yang tenang dan cerdas. Mereka menghabiskan waktu tiga jam di ruang kerja Aldo, mengumpulkan semua bukti: mutasi kartu kredit, laporan detektif, dan kesaksian Aisyah mengenai perselingkuhan yang direncanakan.

“Bukti ini kuat, Nyonya Aisyah,” kata Bapak Hady, menutup berkas. “Kami akan mengajukan gugatan hari ini juga. Dengan adanya bukti perselingkuhan yang jelas, kita bisa meminta pengadilan mempercepat proses perceraian dan memberikan hak penuh atas Butik Maharani.”

“Tapi bagaimana jika Aris mencoba menyerang balik? Dia pasti akan mencoba menjelek-jelekkan saya atau butik saya,” cemas Aisyah.

Aldo, yang duduk di samping Aisyah selama sesi konsultasi, menyela. “Di sinilah aku masuk. Butik Maharani saat ini berada di bawah kontrak eksklusif dengan Royal Michell Group untuk wardrobe beberapa acara penting pemerintahan. Artinya, butikmu tidak hanya stabil secara finansial, tetapi juga memiliki kredibilitas yang kuat di mata publik. Aris tidak bisa menjatuhkanmu tanpa menjatuhkan kepentingan Royal Michell.”

Aisyah menatap Aldo, tercengang. Ia baru menyadari betapa jauh pemikiran Aldo dalam melindunginya. Kontrak yang ia tawarkan, kini ia gunakan sebagai perisai pertahanan Aisyah.

“Kau ... kau melakukan ini?” tanya Aisyah, suaranya tercekat.

Aldo mengangguk, sorot matanya tegas. “Tentu saja. Dan itu bukan hanya tentang perlindungan finansial. Aku tidak akan membiarkan Aris, atau siapapun, mencoba merusak usahamu. Butik Maharani adalah jerih payahmu. Kau harus mempertahankannya.”

Setelah Bapak Hady pergi membawa berkas gugatan, suasana di apartemen kembali tenang. Namun, Aisyah merasa ada beban besar yang terangkat dari pundaknya.

*

Saat makan siang, Aris menelepon. Aisyah awalnya enggan mengangkatnya, tetapi Aldo mendorongnya.

“Angkat. Biar dia tahu kau tidak takut,” desak Aldo.

Aisyah mengambil napas, dan mengangkat panggilan video dari Aris.

Wajah Aris di layar terlihat sangat berantakan dan marah. Ia pasti tahu Aisyah sudah mengajukan gugatan.

“Aisyah! Apa-apaan ini? Kenapa kau ajukan cerai? Kau tahu ini akan merusak reputasiku! Kau pikir aku tidak bisa melawan?” bentak Aris tanpa basa-basi.

Aisyah menatap layar, suaranya kini dingin. “Reputasimu lebih penting dari aku?. Itu kan yang kamu maksud? Sudah  tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Semua sudah jelas. Kamu dan Riana, sama saja, sama-sama menghancurkan.”

“Aku tahu kau sedang bersama Aldo!” teriak Aris cemburu. “Kau sengaja, kan? Kau sudah lama mengincarnya! Kau hanya menjadikan Riana dan aku kambing hitam!”

Tuduhan tak berdasar itu membuat darah Aisyah mendidih. Ia hampir menjawab, tapi Aldo meraih ponsel Aisyah, memindahkannya ke mode speaker, dan berbicara langsung ke Aris.

“Aku yang mengajaknya ke sini, Aris,” kata Aldo, suaranya tenang. “Aisyah adalah istri yang kau khianati. Dia berhak mendapatkan perlindungan. Dan jangan coba-coba memutarbalikkan fakta. Pengacara Aisyah sudah mengajukan gugatan dengan bukti lengkap. Jangan coba-coba mendekati Aisyah atau Butik Maharani, atau aku akan memastikan kau kehilangan jauh lebih dari sekadar pekerjaanmu.”

Hening di ujung sana. Aris terdiam, mungkin menyadari bahwa ancaman ini datang dari seseorang yang memiliki kekuatan jauh di atasnya.

“Kau akan menyesal, Aldo! Kau tidak akan bisa mengambil istriku!” ancam Aris.

Aldo hanya tersenyum dingin. “Sudah terlambat. Sekarang, jauhi Aisyah.”

Aldo mematikan panggilan itu. Aisyah menatapnya dengan kekaguman campur bingung.

“Kamu ... ? Suara  Aisyah tertahan.

“Itu sudah tugasku,” kata Aldo, mengembalikan ponsel Aisyah. “Dia akan mencoba memanipulasi, Aisyah. Tapi kau punya aku, dan kau punya hukum. Jangan takut.”

Aisyah merasakan kehangatan yang asing. Kehangatan yang tidak pernah ia rasakan dari Aris, bahkan di masa-masa terbaik pernikahan mereka.

“Terima kasih,” bisik Aisyah, matanya berkaca-kaca. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan ikatan baru yang terjalin antara mereka, sebuah ikatan yang dimulai dari pengkhianatan terburuk dalam hidupnya.

Aisyah resmi mengajukan cerai, namun ia masih merasakah keresahan. Apakah Aisyah masih ragu atas keputusannya? Apa karena ia masih mencintai suaminya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 6

    Gugatan cerai telah resmi didaftarkan. Suasana di apartemen Aldo menjadi sedikit lebih tenang, meskipun ketegangan masih menggantung. Aisyah menghabiskan sore harinya dengan menghubungi manajer butiknya, memastikan operasional tetap berjalan normal tanpa menyinggung masalah pribadinya.Aldo sibuk dengan panggilan dan meeting jarak jauh. Ia memisahkan dirinya di ruang kerja, memberikan Aisyah ruang privasi. Namun, setiap beberapa jam, ia akan keluar untuk memastikan Aisyah baik-baik saja.Menjelang senja, Aisyah duduk di balkon, menikmati pemandangan kota. Aldo bergabung, membawa dua cangkir teh herbal.“Bagaimana perasaanmu?” tanya Aldo, menyerahkan cangkir pada Aisyah.Aisyah menyesap teh hangat itu. “Lega. Tapi juga ... bingung. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini.”“Tidak ada yang bisa menolak ujian Tuhan,” kata Aldo. “Yang penting, kau sudah mengambil langkah yang benar.”Aisyah menatap Aldo. “Aku masih memikirkan Riana. Aku mengerti jika Aris berkhianat, dia me

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 5

    Pagi tiba, membawa cahaya terasa yang kejam menembus tirai apartemen Aldo. Aisyah terbangun setelah tidur yang singkat dan gelisah. Peristiwa semalam terasa seperti mimpi buruk, namun rasa perih di hatinya membuktikan semuanya nyata.Ia turun ke ruang tamu. Aldo sudah ada di sana, mengenakan setelan kasual namun tetap rapi, sambil menyesap kopi. Di atas meja, sudah tersedia sarapan yang disiapkan koki pribadinya.“Selamat pagi,” sapa Aldo, nadanya profesional seperti biasa, seolah semalam ia tidak menyelamatkan seorang wanita yang nyaris histeris dari perselingkuhan suaminya.“Pagi, Tuan Aldo,” jawab Aisyah, merasa canggung.“Panggil saja Aldo. Aku akan memanggilmu Aisyah,” koreksi Aldo. “Duduklah. Kita harus bicara serius sebelum Aris berhasil memutarbalikkan fakta.”Aisyah duduk, merasakan perutnya mual. “Aku tidak lapar.”“Setidaknya minum kopimu,” desak Aldo. “Kau butuh energi.”Aisyah menghela napas. “Aku sudah memutuskan. Aku ingin cerai secepatnya. Aku tidak mau sepeser pun dar

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 4

    Aisyah duduk membeku di sofa apartemen pribadi Aldo Michell. Apartemen itu mewah, dengan pemandangan kota yang memukau di malam hari, namun Aisyah tidak melihat apa-apa. Dunianya terasa kelabu. Ia masih bisa merasakan sentuhan dingin kartu kunci di tangannya, suara tawa Aris dan Riana, serta tatapan dingin Aldo yang mengawasinya.Aldo telah membawanya ke sini, ke apartemen kosong ini. “Untuk malam ini, kau bisa tinggal di sini. Aman dan nyaman. Aku akan membereskan semuanya besok,” katanya dengan suara yang menenangkan namun tegas, seolah ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.Aisyah hanya mengangguk pasrah. Ia tidak punya tempat lain untuk pergi. Rumah itu, yang dulu terasa seperti surga, kini terasa seperti neraka yang dipenuhi kenangan palsu.Aldo membawakan segelas air dan sedikit camilan. Ia duduk beberapa meter dari Aisyah, memberinya ruang. Ia tahu Aisyah sedang terguncang hebat.“Kau tidak perlu bicara jika belum siap,” ujar Aldo, memecah keheningan yang mencekam. “

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 3

    Aisyah berjalan cepat menyusuri koridor lantai 12, air mata membasahi pipinya tanpa ia sadari. Ia tidak ingin melihat ke belakang, tidak ingin mendengar tangisan Riana atau teriakan panik Aris. Ia hanya ingin keluar dari tempat beracun ini.Saat ia berbelok di tikungan, menuju lift, ia menabrak seseorang yang membuatnya terjatuh. Seharusnya ia merasakan sakit karena terjatuh, namun badannya serasa ringan seakan melayang tanpa beban seperti beratnya beban yang ia pikirkan. Lalu di mana Aisyah terjatuh? Mengapa justru rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya?Sosok pria itu tinggi dan gagah, mengenakan setelan jas abu-abu mahal yang membuatnya tampak sangat berwibawa.Ia adalah Aldo Michell.Aldo, yang baru selesai rapat penting di lantai itu, langsung menangkap tubuh Aisyah yang nyaris terjatuh. Ia spontan mengangkat tubuh ringan Aisyah agar tidak jatuh.“Aisyah?” Suara Aldo dalam dan tegas, namun kali ini terdengar khawatir.Aisyah mendongak di atas kedua tangan Aldo. Matanya y

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 2

    Di dalam lift, Aisyah melihat pantulan dirinya di cermin perunggu. Wajahnya pucat, mata sembap, tetapi ia memaksakan dirinya untuk tetap tegak. Sementara di sampingnya Bu Rara diam tanpa ekspresi, namun terlihat ketegangan yang ia sembunyikan.Aisyah teringat percakapan terakhirnya dengan Riana, dua hari lalu.“Aisyah, kamu kenapa? Wajahmu murung sekali.”“Aku cuma merasa Aris semakin jauh, Ri. Dia selalu lembur, selalu ke luar kota. Nyaris tidak ada waktu santai berdua. Bahkan di akhir pekan sekalipun”“Oh, Aisyah, jangan berpikir negatif. Aris itu suamimu. Dia bekerja keras untuk masa depan kalian. Jangan dengarkan gosip murahan. Aris hanya butuh dukungan darimu.”Riana mengusap punggung Aisyah. “Dengar, kalau kamu butuh teman bicara, aku selalu ada. Jangan pernah merasa sendirian. Kamu sahabat terbaikku.”Aisyah mengepalkan tangan di lift. Sialan. Riana bahkan menyuruh Aisyah untuk menjaga jarak dengan Aris agar Aris tidak merasa terganggu. “Kalian butuh waktu berdua, Syah. Jangan

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 1

    “Mas Aris? Riana? Sedang apa mereka di resepsionis?” Aisyah bergumam pelan, perasaannya diliputi kejanggalan atas apa yang baru saja ia lihat.“Benarkah itu Mas Aris?” Ia berusaha memanggil suami dan sahabatnya itu. Namun, sebelum satu pun suara keluar dari tenggorokannya, sebuah panggilan menghentikannya.“Aisyah, tunggu sebentar!” Suara Tante Amira memecah keheningan.Langkah Aisyah terhenti. Meski raut wajahnya tetap terkendali, gejolak di dalam dadanya sulit disembunyikan. Siluet yang tadi terlihat di resepsionis hotel masih melekat kuat dalam ingatannya—Aris dan Riana.“Ada apa, Tante?” tanyanya kemudian, berusaha menjaga suaranya tetap stabil."Kamu masih ingat kan desain yang aku bilang kemarin? Aku ingin melihat beberapa contoh." Tante Amira mempercepat langkah, mencoba mengejar Aisyah yang tampak kaku.“Ya, desain yang floral, bukan?” Aisyah berusaha berkata santai, meski pikirannya melayang jauh. Riana dan Aris. Apa yang mereka lakukan di sini?“Betul sekali! Oh, dan aku ing

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status