Share

Bab 5

Author: Al Zena
last update publish date: 2026-02-05 22:08:30

"Apa rencanamu selanjutnya?"

"Aku akan pulang besok sore. Tapi bukan aku yang akan mengendarai mobil itu." Aku menjelaskan idemu tentang boneka manekin. "Aku butuh kamu menjemputku di tempat tertentu. Setelah mobil itu masuk sungai, aku akan menghilang. Mereka akan mengira aku mati."

Aldo menatapku dengan campuran takjub dan khawatir. "Kamu yakin? Ini berbahaya."

"Lebih berbahaya jika aku diam saja dan membiarkan mereka membunuhku." Aku menggenggam tanganku sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil semua yang ayah-ibuku wariskan. Perusahaan, butik, semuanya."

Aldo terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata, "Aku akan membantumu. Tapi setelah semua ini, kamu harus berjanji padaku."

"Apa itu?"

"Kamu harus menjaga dirimu. Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatanmu sendiri."

Aku tersenyum tipis. "Janji."

Kami berbicara lebih lama, menyusun detail rencana. Aldo akan menyiapkan boneka manekin yang mirip denganku. Ia juga akan menjemputku di pertigaan sebelum tikungan sungai. Setelah mobil masuk sungai, aku akan bersamanya pergi ke tempat aman.

"Kamu bisa tinggal di vila keluargaku di Puncak," tawar Aldo. "Tempatnya sepi, aman. Tidak ada yang akan mencarimu di sana."

"Terima kasih, Aldo. Maaf sudah merepotkanmu"

Aldo menggeleng. "Kamu tidak merepotkan apa-apa. Justru ini kewajibanku, bukan hanya sebagai saudara, tetapi lebih dari itu. Ini sudah masuk ranah kejahatan. Aku wajib membantumu."

Ponselku bergetar. Pesan dari nomor misterius.

"Rencanamu bagus. Aku akan memastikan semuanya berjalan lancar. Ada seseorang yang akan menjemputmu di tempat yang sudah ditentukan. Percayalah padanya."

Aku menunjukkan pesan itu pada Aldo. "Kamu tahu siapa pengirim pesan ini? Dia terus chat aku dan kayaknya paham banget apa yang terjadi padaku."

Aldo membaca pesan itu, lalu menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi sepertinya dia tahu banyak tentang Armando."

"Siapa pun dia, aku berhutang banyak padanya. Dia juga yang menyadarkanku, kalau Armando selingkuh. Bahkan aku sendiri tidak pernah menyangka."

“Ogh. Ya? Jangan-jangan dia?” Wajah Aldo tampak sedikit tegang seperti menerka-nerka siapa pengirim pesan anoname itu.

“Kamu ingat seseorang, Aldo?”

“Ogh. Baru mengira-ngira saja.”

“Siapa menurutmu?”

“Nanti saja, kalau sudah saatnya, dia bilang begitu, kan?”

“Oke. Yang penting dia ada dipihakku.”

Pukul 22.00, Aldo pamit. Sebelum pergi, ia berpesan, "Jaga dirimu, Venita.”

***

Setelah Aldo pergi, aku kembali ke jendela. Memandangi lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Di salah satu rumah di antara ribuan itu, Armando dan Riana sedang tertidur pulas, bermimpi tentang hidup baru mereka tanpa diriku.

Mereka tidak tahu. Mereka tidak akan pernah tahu.

Bahwa besok, saat mereka merayakan "kematianku", aku justru akan memulai hidup baru. Hidup yang akan membuat mereka menyesal.

Kubuka aplikasi CCTV sekali lagi. Kamarku kosong. Tapi di ruang tamu, tampak dua gelas anggur dan sisa makanan. Mereka berpesta pora di rumahku.

Tanganku mengepal. "Tertawalah sekarang," bisikku. "Tertawalah selama kalian masih bisa. Karena segera, giliranku yang akan tertawa."

Aku merebahkan diri di kasur, memejamkan mata. Besok adalah hari yang menegangkan saat aku memutuskan berjuang. Aku harus istirahat.

Tapi sulit. Pikiran terus berputar. Rencana demi rencana. Langkah demi langkah.

Lalu teringat kata-kata ibuku dulu: "Venita, wanita itu kuat. Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang wanita yang hatinya telah dilukai."

"Maafkan aku, Bu," bisikku di kegelapan. "Maafkan aku karena harus melakukan semua ini. Tapi aku tidak punya pilihan."

Di luar, hujan mulai turun. Gemericik air menemani malam panjangku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 6

    Pagi buta, aku sudah terbangun. Kulihat ponsel, pukul 05.30. Belum ada sinar matahari, tapi jantungku sudah berdegup kencang.Hari ini hari yang menentukan.Kubuka aplikasi CCTV. Kamar masih kosong. Armando tidak tidur di kamar semalam. Mungkin di kamar tamu. Atau di mana pun bersama Riana.Kugulir rekaman semalaman. Dan di sana, pukul 02.00 dini hari, aku melihat mereka masuk ke kamar. Riana tertawa kecil, Armando memeluknya dari belakang."Besok, Sayang. Besok kita bebas," bisik Armando di telinganya.Riana menoleh, menciumnya. "Aku enggak sabar, Mas. Capek sembunyi-sembunyi.""Sebentar lagi. Setelah Venita pergi, kita nikah. Semua harta jadi milik kita."Aku mematikan video. Tidak sanggup melihat lebih lama.Ponsel bergetar. Pesan dari nomor misterius."Periksa emailmu. Ada dokumen yang harus kau lihat."Kubuka laptop dengan tangan sedikit gemetar. Siapa pun pengirim pesan ini, ia tahu banyak. Terlalu banyak.Email masuk dari alamat tidak dikenal. Lampirannya berupa scan dokumen-dok

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 5

    "Apa rencanamu selanjutnya?""Aku akan pulang besok sore. Tapi bukan aku yang akan mengendarai mobil itu." Aku menjelaskan idemu tentang boneka manekin. "Aku butuh kamu menjemputku di tempat tertentu. Setelah mobil itu masuk sungai, aku akan menghilang. Mereka akan mengira aku mati."Aldo menatapku dengan campuran takjub dan khawatir. "Kamu yakin? Ini berbahaya.""Lebih berbahaya jika aku diam saja dan membiarkan mereka membunuhku." Aku menggenggam tanganku sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil semua yang ayah-ibuku wariskan. Perusahaan, butik, semuanya."Aldo terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata, "Aku akan membantumu. Tapi setelah semua ini, kamu harus berjanji padaku.""Apa itu?""Kamu harus menjaga dirimu. Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatanmu sendiri."Aku tersenyum tipis. "Janji."Kami berbicara lebih lama, menyusun detail rencana. Aldo akan menyiapkan boneka manekin yang mirip denganku. Ia juga akan menjemputku di pertigaan sebelum tikungan sun

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 4

    Dua hari di kampus berjalan lancar. Aku menjadi narasumber seperti biasa, tersenyum, bercanda, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal pikiranku berkecamuk. Setiap jeda, kutatap ponsel, berharap ada pesan baru dari nomor misterius itu.Sore hari, setelah acara selesai, aku tidak pulang. Aku check in di hotel berbeda, bukan hotel tempat acara. Aku butuh tempat aman untuk berpikir.Pukul tujuh malam, aku turun ke restoran hotel. Perut keroncongan, tapi nafsu makanku hilang. Aku pesan sup dan teh hangat.Tiba-tiba, seseorang berdiri di depan mejaku."Venita?"Aku menoleh. Kaget. Aldo. Adik iparku."Aldo? Kamu... di sini?"Ia tersenyum, duduk tanpa permisi. "Ada meeting dengan rekan bisnis. Hotel ini milik temanku." Ia memanggil pelayan, memesan kopi. "Kamu sendiri? Bukannya ada acara di kampus?"Aku berusaha tenang. "I-iya, udah selesai. Aku cuma... iseng, mau cari inspirasi model butik."Aldo mengernyit. "Cari inspirasi di restoran hotel?""Sambil lihat orang lalu lalang. Kadang fashion in

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 3

    Satu setengah tahun lalu. Aku masih ingat persis hari itu."Ven, lo harus bantu gue!"Riana datang ke butikku dengan mata sembab. Wajahnya pucat, rambut kusut. Langsung ambruk di sofa ruang tunggu butik."Ada apa, Ri?" Aku duduk di sampingnya, mengusap punggungnya."Gue putus sama Rey, Ven." Isaknya pecah. "Dia mukul gue lagi. Kali ini lebih keras. Gue enggak tahan!"Aku menariknya dalam pelukan. "Sudah, sudah. Jangan nangis. Lo bisa tinggal di rumah gue sementara.""Tapi Ven... gue enggak punya uang. Kerjaan gue cuma model lepas. Enggak cukup buat hidup."Saat itu Riana memang model langganan butikku. Kadang-kadang aku panggil untuk fashion show kecil-kecilan. Wajahnya cantik, badannya proporsional. Tapi di luar itu, hidupnya kacau."Lo mau kerja di sini?" tawarku spontan. "Butik butuh admin. Gajinya lumayan."Mata Riana berbinar. "Sungguh, Ven? Lo mau nerima gue?""Tentu saja. Lo sahabat gue."Riana memelukku erat. "Makasih, Ven! Gue enggak akan lupa kebaikan lo! Gue janji bakal kerj

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 2

    "Sayang, kamu lagi di mana? Acaranya belum selesai, ya?"Suara Armando di ujung telepon terdengar begitu lembut. Lembut yang dulu selalu membuatku meleleh. Sekarang? Rasanya seperti sayatan-sayatan yang menyiksa."Di hotel, Mas. Masih ada acara tambahan dari kampus." Aku berusaha membuat suaraku senormal mungkin. Padahal jari-jariku mencengkeram sprei hotel sampai putih."Ogh Ada acara lagi, ya? Semangat ya, Sayang.""Tamu undangannya banyak, Mas. Jadi panitia minta aku nambah dua hari untuk jadi pembicara di dua kampus lain." Aku memandang bayanganku sendiri di cermin. Mataku sembab. Wajah pucat. Tapi suaraku harus tetap ceria."Iya, Sayang." Ada jeda sebentar. "Ehm. Aku kangen, Sayang. Cepet pulang, ya."Kangen? Aku ingin tertawa getir. Tapi kutahan."Iya, Mas. Aku juga kangen." Bohong. Aku tidak kangen sama sekali. Yang ada aku ingin muntah setiap membayangkan dia dengan perempuan sun d a l itu."Eh, Mbok Rati ke mana, Mas? Kok enggak kedengaran suaranya?" tanyaku pura-pura."Ooh, a

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 1

    "Mas, kapan kamu ceraikan istrimu?"Suara itu membuat tubuhku membeku. Tangan yang baru saja memegang gagang pintu langsung terlepas. Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, lalu berdegup kencang seperti hendak melompat keluar.Aku kenal suara itu. Terlalu kenal.Riana. Sahabatku sendiri sejak kuliah. Wanita yang setiap minggu mengadu tentang pacarnya yang kasar. Yang kutampung di butikku saat ia tak punya uang. Yang kurekomendasikan jadi sekretaris suamiku.Dan sekarang suaranya terdengar dari balik pintu kamarku."Sabar, sayang. Jangan terburu-buru." Suara berat itu juga tak asing. Armando. Suamiku. Laki-laki yang lima tahun lalu berjanji di hadapan penghulu dan kedua orang tuaku untuk mencintaiku sampai mati.Kakiku terasa lemas. Aku bersandar ke dinding lorong, berusaha menenangkan napas yang memburu. Tas masih menggantung di bahu, koper kecil tergeletak di lantai. Aku seharusnya masih di luar kota untuk acara kampus. Tapi sebuah pesan anonim seminggu lalu membuatku curiga."Ibu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status