Masuk
"Mas, kapan kamu ceraikan istrimu?"
Suara itu membuat tubuhku membeku. Tangan yang baru saja memegang gagang pintu langsung terlepas. Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, lalu berdegup kencang seperti hendak melompat keluar.
Aku kenal suara itu. Terlalu kenal.
Riana. Sahabatku sendiri sejak kuliah. Wanita yang setiap minggu mengadu tentang pacarnya yang kasar. Yang kutampung di butikku saat ia tak punya uang. Yang kurekomendasikan jadi sekretaris suamiku.
Dan sekarang suaranya terdengar dari balik pintu kamarku.
"Sabar, sayang. Jangan terburu-buru." Suara berat itu juga tak asing. Armando. Suamiku. Laki-laki yang lima tahun lalu berjanji di hadapan penghulu dan kedua orang tuaku untuk mencintaiku sampai mati.
Kakiku terasa lemas. Aku bersandar ke dinding lorong, berusaha menenangkan napas yang memburu. Tas masih menggantung di bahu, koper kecil tergeletak di lantai. Aku seharusnya masih di luar kota untuk acara kampus. Tapi sebuah pesan anonim seminggu lalu membuatku curiga.
"Ibu Venita, suami Ibu sering makan berdua dengan sekretarisnya di restoran. Maaf, Bu. Mereka mesra sekali."
Pesan itu kuhapus. Aku percaya pada Armando. Tapi rasa curiga itu terus menggerogoti. Maka acara kampus selama 5 hari kulakukan hanya 2 hari. Sisanya kugunakan untuk pulang tanpa memberi tahu siapa pun.
Dan inilah yang kudapat.
"Tapi Mas, aku sudah enggak tahan!" suara Riana merengek manja. "Lihat perutku, Mas. Sebentar lagi tambah besar. Kalau Venita tahu, hancur semua rencana kita!"
Aku menutup mulut dengan tangan. Air mata mengalir deras tanpa bisa kubendung.
"Sabar, Sayang. Dikit lagi, semua pasti beres." Suara Armando terdengar tenang, dingin. Bukan suara suami yang kukenal selama ini. "Perusahaannya sudah atas namaku. Butiknya juga sebentar lagi aku balik nama atas namamu. Semua karyawan yang setia padanya akan kupecat."
"Terus gimana dengan Venita?"
Terdengar hening beberapa saat. Aku menajamkan pendengaran.
"Kita singkirkan."
Dua kata. Diucapkan dengan sangat santai. Seperti membicarakan sampah yang harus dibuang.
"Apa enggak ketahuan, Mas?" suara Riana bergidik senang, bukan takut.
"Sudah kusiapkan semuanya. Rem mobilnya akan kita kendorkan. Jalan ke kantornya melewati tikungan dekat sungai. Kecelakaan tunggal. Kasus ditutup. Gampang, kan?"
Duniaku runtuh.
Lima tahun pernikahan. Lima tahun kukorbankan waktu, tenaga, bahkan warisan orang tuaku untuk membangun bisnis bersamanya. Lima tahun kebersamaan dengan Mas Farhan. Aku berpikir ia mencintaiku dengan tulus.
Ternyata semua sandiwara. Aku masih belum percaya apa yang aku dengar. Kucubit lenganku sendiri. Sakit. Berarti aku tidak bermimpi.
Aku ingin membuka pintu itu. Menghadapi mereka berdua. Meludahi wajah mereka. Berteriak sekencang-kencangnya.
Tapi otakku masih bekerja. Kak Riri, pegawai setiaku di butik, pernah bilang, "Ven, kalau ada masalah, jangan pakai emosi. Pakai otak. Emosi bikin kita tidak bisa berpikir jernih. Akhirnya bertindak bo doh"
Perlahan kutarik napas dalam-dalam. Kuraih ponsel dari saku. Jari-jariku gemetar saat membuka aplikasi perekam suara. Kurentangkan tangan mendekatkan ponsel ke pintu.
"Terus kapan nikahnya, Mas?" suara Riana lagi.
"Setelah semuanya beres. Setelah Venita enggak ada. Kita nikah, semua harta jadi milik kita. Perusahaan baru sudah siap. Tinggal mindahin aset saja. Beres, Sayang?"
"Ehmmm ... gemes deh. Mas Armando, bikin makin cinta aja, iihh." Suara Riana mendecak, diikuti suara ciuman basah.
Aku muak. Tapi kurekam semua.
Langkah kaki terdengar mendekati pintu. Aku buru-buru menjauh, menyembunyikan diri di balik tirai ruang tamu. Pintu kamar terbuka. Armando keluar setengah telanjang, berjalan menuju dapur. Riana menyusul dengan daster tipis, tertawa kecil dengan manja. Dadaku bergemuruh menahan amarah yang kutahan. Air mata ini mengalir tanpa henti meski tak bersuara. Benar-benar sebuah perjuangan menahan luapan amarah yang sangat besar. Tahan. Kutahan.
Aku memejamkan mata. Sahabat. Suami. Dua orang yang kupercaya, kini bak belati menyayatku perih, sakit.
Aku bangkit perlahan, mengambil koper kecil. Sebelum keluar rumah, aku sempatkan memotret mereka berdua dari celah tirai. Armando sedang menuang minuman, Riana memeluknya dari belakang.
Satu, dua, tiga kali jepretan.
Lalu aku pergi. Meninggalkan rumah yang tiba-tiba terasa asing. Meninggalkan dua maluapa ter ku tu k yang telah menghancurkanku tanpa aku sadari.
Di dalam mobil, air mata kembali tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Tapi di tengah tangis itu, tiba-tiba kuingat pesan anonim di ponselku.
Siapa pengirimnya? Dan mengapa ia tahu?
Kulirik layar ponsel. Rekaman suara tadi tersimpan rapi. Foto-foto bukti juga ada.
Aku menatap rumah mewah yang kubenahi dengan keringatku sendiri. "Armando... Riana... kalian pikir bisa menyingkirkanku semudah itu?" bisikku lirih.
Nyaliku mulai bangkit. Mereka sudah menyusun rencana sempurna. Tapi mereka lupa satu hal.
Aku bukan Venita yang lemah. Aku adalah Venita Maharani, putri satu-satunya pemilik PT Aghnia. Aku dididik ayah untuk tidak pernah menyerah.
Perlahan kuhapus air mata. Kunyalakan mesin mobil. Bukan untuk pergi jauh, tapi untuk mencari tempat persembunyian sementara.
Karena perang baru saja dimulai.
Dan aku tidak akan kalah, tidak akan menyerah.
Pagi buta, aku sudah terbangun. Kulihat ponsel, pukul 05.30. Belum ada sinar matahari, tapi jantungku sudah berdegup kencang.Hari ini hari yang menentukan.Kubuka aplikasi CCTV. Kamar masih kosong. Armando tidak tidur di kamar semalam. Mungkin di kamar tamu. Atau di mana pun bersama Riana.Kugulir rekaman semalaman. Dan di sana, pukul 02.00 dini hari, aku melihat mereka masuk ke kamar. Riana tertawa kecil, Armando memeluknya dari belakang."Besok, Sayang. Besok kita bebas," bisik Armando di telinganya.Riana menoleh, menciumnya. "Aku enggak sabar, Mas. Capek sembunyi-sembunyi.""Sebentar lagi. Setelah Venita pergi, kita nikah. Semua harta jadi milik kita."Aku mematikan video. Tidak sanggup melihat lebih lama.Ponsel bergetar. Pesan dari nomor misterius."Periksa emailmu. Ada dokumen yang harus kau lihat."Kubuka laptop dengan tangan sedikit gemetar. Siapa pun pengirim pesan ini, ia tahu banyak. Terlalu banyak.Email masuk dari alamat tidak dikenal. Lampirannya berupa scan dokumen-dok
"Apa rencanamu selanjutnya?""Aku akan pulang besok sore. Tapi bukan aku yang akan mengendarai mobil itu." Aku menjelaskan idemu tentang boneka manekin. "Aku butuh kamu menjemputku di tempat tertentu. Setelah mobil itu masuk sungai, aku akan menghilang. Mereka akan mengira aku mati."Aldo menatapku dengan campuran takjub dan khawatir. "Kamu yakin? Ini berbahaya.""Lebih berbahaya jika aku diam saja dan membiarkan mereka membunuhku." Aku menggenggam tanganku sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil semua yang ayah-ibuku wariskan. Perusahaan, butik, semuanya."Aldo terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata, "Aku akan membantumu. Tapi setelah semua ini, kamu harus berjanji padaku.""Apa itu?""Kamu harus menjaga dirimu. Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatanmu sendiri."Aku tersenyum tipis. "Janji."Kami berbicara lebih lama, menyusun detail rencana. Aldo akan menyiapkan boneka manekin yang mirip denganku. Ia juga akan menjemputku di pertigaan sebelum tikungan sun
Dua hari di kampus berjalan lancar. Aku menjadi narasumber seperti biasa, tersenyum, bercanda, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal pikiranku berkecamuk. Setiap jeda, kutatap ponsel, berharap ada pesan baru dari nomor misterius itu.Sore hari, setelah acara selesai, aku tidak pulang. Aku check in di hotel berbeda, bukan hotel tempat acara. Aku butuh tempat aman untuk berpikir.Pukul tujuh malam, aku turun ke restoran hotel. Perut keroncongan, tapi nafsu makanku hilang. Aku pesan sup dan teh hangat.Tiba-tiba, seseorang berdiri di depan mejaku."Venita?"Aku menoleh. Kaget. Aldo. Adik iparku."Aldo? Kamu... di sini?"Ia tersenyum, duduk tanpa permisi. "Ada meeting dengan rekan bisnis. Hotel ini milik temanku." Ia memanggil pelayan, memesan kopi. "Kamu sendiri? Bukannya ada acara di kampus?"Aku berusaha tenang. "I-iya, udah selesai. Aku cuma... iseng, mau cari inspirasi model butik."Aldo mengernyit. "Cari inspirasi di restoran hotel?""Sambil lihat orang lalu lalang. Kadang fashion in
Satu setengah tahun lalu. Aku masih ingat persis hari itu."Ven, lo harus bantu gue!"Riana datang ke butikku dengan mata sembab. Wajahnya pucat, rambut kusut. Langsung ambruk di sofa ruang tunggu butik."Ada apa, Ri?" Aku duduk di sampingnya, mengusap punggungnya."Gue putus sama Rey, Ven." Isaknya pecah. "Dia mukul gue lagi. Kali ini lebih keras. Gue enggak tahan!"Aku menariknya dalam pelukan. "Sudah, sudah. Jangan nangis. Lo bisa tinggal di rumah gue sementara.""Tapi Ven... gue enggak punya uang. Kerjaan gue cuma model lepas. Enggak cukup buat hidup."Saat itu Riana memang model langganan butikku. Kadang-kadang aku panggil untuk fashion show kecil-kecilan. Wajahnya cantik, badannya proporsional. Tapi di luar itu, hidupnya kacau."Lo mau kerja di sini?" tawarku spontan. "Butik butuh admin. Gajinya lumayan."Mata Riana berbinar. "Sungguh, Ven? Lo mau nerima gue?""Tentu saja. Lo sahabat gue."Riana memelukku erat. "Makasih, Ven! Gue enggak akan lupa kebaikan lo! Gue janji bakal kerj
"Sayang, kamu lagi di mana? Acaranya belum selesai, ya?"Suara Armando di ujung telepon terdengar begitu lembut. Lembut yang dulu selalu membuatku meleleh. Sekarang? Rasanya seperti sayatan-sayatan yang menyiksa."Di hotel, Mas. Masih ada acara tambahan dari kampus." Aku berusaha membuat suaraku senormal mungkin. Padahal jari-jariku mencengkeram sprei hotel sampai putih."Ogh Ada acara lagi, ya? Semangat ya, Sayang.""Tamu undangannya banyak, Mas. Jadi panitia minta aku nambah dua hari untuk jadi pembicara di dua kampus lain." Aku memandang bayanganku sendiri di cermin. Mataku sembab. Wajah pucat. Tapi suaraku harus tetap ceria."Iya, Sayang." Ada jeda sebentar. "Ehm. Aku kangen, Sayang. Cepet pulang, ya."Kangen? Aku ingin tertawa getir. Tapi kutahan."Iya, Mas. Aku juga kangen." Bohong. Aku tidak kangen sama sekali. Yang ada aku ingin muntah setiap membayangkan dia dengan perempuan sun d a l itu."Eh, Mbok Rati ke mana, Mas? Kok enggak kedengaran suaranya?" tanyaku pura-pura."Ooh, a
"Mas, kapan kamu ceraikan istrimu?"Suara itu membuat tubuhku membeku. Tangan yang baru saja memegang gagang pintu langsung terlepas. Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, lalu berdegup kencang seperti hendak melompat keluar.Aku kenal suara itu. Terlalu kenal.Riana. Sahabatku sendiri sejak kuliah. Wanita yang setiap minggu mengadu tentang pacarnya yang kasar. Yang kutampung di butikku saat ia tak punya uang. Yang kurekomendasikan jadi sekretaris suamiku.Dan sekarang suaranya terdengar dari balik pintu kamarku."Sabar, sayang. Jangan terburu-buru." Suara berat itu juga tak asing. Armando. Suamiku. Laki-laki yang lima tahun lalu berjanji di hadapan penghulu dan kedua orang tuaku untuk mencintaiku sampai mati.Kakiku terasa lemas. Aku bersandar ke dinding lorong, berusaha menenangkan napas yang memburu. Tas masih menggantung di bahu, koper kecil tergeletak di lantai. Aku seharusnya masih di luar kota untuk acara kampus. Tapi sebuah pesan anonim seminggu lalu membuatku curiga."Ibu







