مشاركة

Bab 6

مؤلف: Al Zena
last update تاريخ النشر: 2026-02-06 17:39:15

Pagi buta, aku sudah terbangun. Kulihat ponsel, pukul 05.30. Belum ada sinar matahari, tapi jantungku sudah berdegup kencang.

Hari ini hari yang menentukan.

Kubuka aplikasi CCTV. Kamar masih kosong. Armando tidak tidur di kamar semalam. Mungkin di kamar tamu. Atau di mana pun bersama Riana.

Kugulir rekaman semalaman. Dan di sana, pukul 02.00 dini hari, aku melihat mereka masuk ke kamar. Riana tertawa kecil, Armando memeluknya dari belakang.

"Besok, Sayang. Besok kita bebas," bisik Armando di telinganya.

Riana menoleh, menciumnya. "Aku enggak sabar, Mas. Capek sembunyi-sembunyi."

"Sebentar lagi. Setelah Venita pergi, kita nikah. Semua harta jadi milik kita."

Aku mematikan video. Tidak sanggup melihat lebih lama.

Ponsel bergetar. Pesan dari nomor misterius.

"Periksa emailmu. Ada dokumen yang harus kau lihat."

Kubuka laptop dengan tangan sedikit gemetar. Siapa pun pengirim pesan ini, ia tahu banyak. Terlalu banyak.

Email masuk dari alamat tidak dikenal. Lampirannya berupa scan dokumen-dokumen penting.

Aku membukanya satu per satu.

Dokumen pertama: Akta pendirian PT Armando Jaya Mandiri. Perusahaan baru atas nama Armando. Tertulis sebagai pendiri: Armando Michell dan Riana Putri Pertiwi.

Tanggal pendiriannya tiga bulan lalu. Tiga bulan lalu mereka sudah merencanakan ini semua.

Dokumen kedua: Surat pengalihan hak milik butik. Butik Aghnia yang kudirikan dengan jerih payah sendiri, sudah dialihkan ke atas nama Riana. Tertanda tangan Armando sebagai kuasaku. Dengan stempel palsu.

Dokumen ketiga: Laporan keuangan PT Aghnia. Semua dana perusahaan perlahan dipindah ke rekening perusahaan baru. Dalam dua bulan, perusahaan ayahku akan kosong.

Tanganku gemetar hebat. Bukan karena takut. Tapi karena marah.

Mereka tidak hanya ingin menyingkirkanku. Mereka sudah mencuri semuanya dari belakang.

Pesan baru masuk: "Itu belum semua. Mereka juga sudah menyusun rencana untuk karyawan yang setia padamu. Semua akan dipecat setelah kau 'mati'. Riri yang pertama."

Riri. Karyawan setiaku sejak butik berdiri. Wanita yang selalu ada saat aku butuh. Yang menjaga butik seperti rumahnya sendiri.

Kubalas: "Siapa kamu? Mengapa kamu tahu semua ini?"

Jawabannya: "Nanti akan kau tahu. Percayalah, aku di pihakmu. Aku juga pernah menjadi korban Armando."

Pernah menjadi korban? Maksudnya?

Kutatap layar ponsel. Ribuan pertanyaan memenuhi kepala. Tapi tidak ada waktu untuk itu sekarang.

Pukul 08.00. Waktunya bersiap.

Kuhubungi montir langganan Armando. "Halo, Pak? Ini Venita. Istinya Pak Armando."

"Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"

"Pak, tadi suami saya bilang mau service mobil saya. Tapi saya mau minta tolong lain."

"Apa itu, Bu?"

"Tolong periksa rem mobil saya. Tapi jangan beri tahu suami saya. Nanti kalau beliau tanya, bilang saja sudah diservice seperti biasa."

Hening sejenak. "Maaf, Bu. Maksudnya?"

Aku menarik napas. "Pak, saya tahu suami saya menyuruh Bapak mengendorkan rem mobil saya. Saya juga tahu alasannya. Tapi saya tidak akan menyalahkan Bapak. Saya hanya minta Bapak berpihak pada yang benar."

Hening panjang. Lalu suara montir itu lirih, "Bu... saya diperintah Pak Armando. Saya tidak tahu kalau..."

"Sekarang Bapak sudah tahu. Tolong, periksa rem mobil saya. Pastikan aman. Tapi katakan pada suami saya bahwa rem sudah dikendorkan. Bisa?"

Jeda. "Baik, Bu. Saya lakukan. Tapi saya minta maaf sebelumnya."

"Tidak perlu minta maaf. Bapak hanya menjalankan perintah. Tugas saya hanya memastikan kebenaran."

Telepon berakhir. Aku menghela napas lega. Satu langkah sudah aman.

Pukul 10.00. Aldo mengirim pesan: "Boneka sudah siap. Nanti aku jemput di pertigaan sebelum tikungan. Jam 4 sore. Hati-hati."

Aku membalas: "Terima kasih, Aldo."

Pukul 12.00. Aku check out dari hotel. Berkendara perlahan menuju rumah. Sepanjang jalan, aku melafalkan doa yang diajarkan ibu dulu.

"Ya Allah, jika ini jalan terbaik, permudahkanlah. Jika tidak, berikanlah petunjuk."

Pukul 13.00. Aku tiba di rumah. Armando menyambut dengan senyum lebarnya.

"Ven! Akhirnya pulang!" Ia merangkulku erat. Wangi parfumnya bercampur parfum lain. Parfum Riana. Aku mengenalnya.

Aku diam membeku dalam rangkulannya. Ingin rasanya mendorongnya jauh-jauh. Tapi kutahan.

"Aku kangen, Mas." Suaraku keluar datar.

Armando melepas rangkulan, menatapku. "Kamu kenapa? Kok pucat?"

"Capek, Mas. Perjalanan panjang." Aku melepas sepatu, berjalan menuju kamar. "Aku mau istirahat dulu."

"Ven, nanti sore kita makan malam, ya. Ajak Riana juga. Biar sekalian makan bareng."

Aku berhenti melangkah. Menatapnya. "Riana? Kenapa?"

"Ya... biar akrab. Lagian dia kan sahabat kamu. Sekalian kita ngobrol-ngobrol."

Aku tersenyum tipis. Senyum yang paling palsu sepanjang sejarah. "Iya, Mas. Nanti kita lihat."

Aku masuk kamar. Menutup pintu. Lalu menguncinya.

Kudengar Armando memanggil dari luar, "Ven, kok dikunci?"

"Aku mau ganti baju dulu, Mas."

Aku merebahkan diri di ranjang yang tadi malam dinodai mereka. Jijik. Tapi ini harus kulakukan.

Ponsel bergetar. Pesan dari nomor misterius.

"Montir sudah melapor pada Armando. Rem mobilmu aman. Armando puas. Rencana mereka tetap jalan."

Aku membalas: "Terima kasih. Tapi aku masih penasaran, siapa kamu?"

Jawabannya: "Malam ini, setelah semua terjadi, kau akan tahu. Aku akan menjemputmu. Percayalah."

Aku memejamkan mata. Siapa pun dia, ia seperti malaikat penjaga yang tiba-tiba muncul.

Pukul 16.30. Aku berpamitan pada Armando.

"Mas, aku mau ke butik sebentar. Ambil beberapa barang."

"Ven, nanti dulu. Jam 5 kan kamu pulang?"

"Iya, Mas. Tapi aku mau ambil dulu. Sekalian lihat-lihat."

Armando mengangguk. "Hati-hati, ya. Jangan ngebut."

Aku tersenyum. "Iya, Mas."

Kutatap wajahnya untuk terakhir kalinya. Wajah yang selama ini kukenal sebagai suami. Sekarang hanya orang asing.

Aku melaju perlahan. Di pertigaan sebelum tikungan, Aldo sudah menunggu dengan mobilnya.

Kuparkir mobil di tempat aman. Kukeluarkan boneka manekin dari bagasi mobil Aldo. Mirip sekali. Wajahnya, rambutnya, bahkan bajunya sama dengan yang kupakai.

Kutata boneka itu di kursi kemudi. Kuberi tas dan ponselku di sampingnya. Kukancing sabuk pengaman.

Lalu kuhidupkan mobil, setir kuluruskan ke arah sungai. Transmisi manual kupasukkan ke gigi satu. Lalu kutorpedo mobil itu dengan mobil Aldo dari belakang.

Mobil melaju kencang menuruni bukit. Menghantam pembatas jembatan. Jatuh ke sungai.

Kami menunggu beberapa saat. Boneka itu terapung.

Aldo menarikku. "Ayo, Ven. Cepat. Nanti ada yang lihat."

Aku menurut. Masuk ke mobil Aldo. Kami melaju menjauh.

Dari kejauhan, kudengar suara orang berteriak. "Tolong! Ada mobil jatuh ke sungai!"

Aku menutup mata. Astaghfirrullah ... Ya Allah. Maafkan kebohongan ini.

Tapi ini satu-satunya cara.

Ponsel Aldo berdering. Ia melihat layar, lalu berkata, "Itu Armando."

"Angkat. Bilang kamu tidak tahu apa-apa."

Aldo mengangkat telepon. "Halo, Mas?"

"Aldo! Lo di mana? Venita! Mobilnya jatuh ke sungai!" suara Armando panik. Pura-pura panik.

"Apa? Ya Allah... Mas, aku di luar kota. Gimana bisa?"

"Gue enggak tahu! Tolong cari! Gue takut dia..."

"Aku coba cari, Mas. Tahan dulu."

Telepon berakhir. Aldo menatapku. "Dia pura-pura panik."

Aku tersenyum getir. "Biarkan dia panik. Besok dia akan tenang. Lusa dia akan menikah. Sebulan lagi dia akan lupa aku pernah ada."

"Ven..."

"Aldo, antar aku ke tempat aman. Dan tolong, jangan beri tahu siapa pun. Setelah ini, Venita sudah mati."

Aldo mengangguk. Mobil melaju kencang meninggalkan kota.

Meninggalkan hidup lamaku.

Meninggalkan Armando dan Riana dengan kemenangan palsu mereka.

Di ponselku, pesan dari nomor misterius masuk.

"Selamat datang di kehidupan baru, Venita. Perjalananmu baru saja dimulai."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 6

    Pagi buta, aku sudah terbangun. Kulihat ponsel, pukul 05.30. Belum ada sinar matahari, tapi jantungku sudah berdegup kencang.Hari ini hari yang menentukan.Kubuka aplikasi CCTV. Kamar masih kosong. Armando tidak tidur di kamar semalam. Mungkin di kamar tamu. Atau di mana pun bersama Riana.Kugulir rekaman semalaman. Dan di sana, pukul 02.00 dini hari, aku melihat mereka masuk ke kamar. Riana tertawa kecil, Armando memeluknya dari belakang."Besok, Sayang. Besok kita bebas," bisik Armando di telinganya.Riana menoleh, menciumnya. "Aku enggak sabar, Mas. Capek sembunyi-sembunyi.""Sebentar lagi. Setelah Venita pergi, kita nikah. Semua harta jadi milik kita."Aku mematikan video. Tidak sanggup melihat lebih lama.Ponsel bergetar. Pesan dari nomor misterius."Periksa emailmu. Ada dokumen yang harus kau lihat."Kubuka laptop dengan tangan sedikit gemetar. Siapa pun pengirim pesan ini, ia tahu banyak. Terlalu banyak.Email masuk dari alamat tidak dikenal. Lampirannya berupa scan dokumen-dok

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 5

    "Apa rencanamu selanjutnya?""Aku akan pulang besok sore. Tapi bukan aku yang akan mengendarai mobil itu." Aku menjelaskan idemu tentang boneka manekin. "Aku butuh kamu menjemputku di tempat tertentu. Setelah mobil itu masuk sungai, aku akan menghilang. Mereka akan mengira aku mati."Aldo menatapku dengan campuran takjub dan khawatir. "Kamu yakin? Ini berbahaya.""Lebih berbahaya jika aku diam saja dan membiarkan mereka membunuhku." Aku menggenggam tanganku sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil semua yang ayah-ibuku wariskan. Perusahaan, butik, semuanya."Aldo terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata, "Aku akan membantumu. Tapi setelah semua ini, kamu harus berjanji padaku.""Apa itu?""Kamu harus menjaga dirimu. Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatanmu sendiri."Aku tersenyum tipis. "Janji."Kami berbicara lebih lama, menyusun detail rencana. Aldo akan menyiapkan boneka manekin yang mirip denganku. Ia juga akan menjemputku di pertigaan sebelum tikungan sun

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 4

    Dua hari di kampus berjalan lancar. Aku menjadi narasumber seperti biasa, tersenyum, bercanda, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal pikiranku berkecamuk. Setiap jeda, kutatap ponsel, berharap ada pesan baru dari nomor misterius itu.Sore hari, setelah acara selesai, aku tidak pulang. Aku check in di hotel berbeda, bukan hotel tempat acara. Aku butuh tempat aman untuk berpikir.Pukul tujuh malam, aku turun ke restoran hotel. Perut keroncongan, tapi nafsu makanku hilang. Aku pesan sup dan teh hangat.Tiba-tiba, seseorang berdiri di depan mejaku."Venita?"Aku menoleh. Kaget. Aldo. Adik iparku."Aldo? Kamu... di sini?"Ia tersenyum, duduk tanpa permisi. "Ada meeting dengan rekan bisnis. Hotel ini milik temanku." Ia memanggil pelayan, memesan kopi. "Kamu sendiri? Bukannya ada acara di kampus?"Aku berusaha tenang. "I-iya, udah selesai. Aku cuma... iseng, mau cari inspirasi model butik."Aldo mengernyit. "Cari inspirasi di restoran hotel?""Sambil lihat orang lalu lalang. Kadang fashion in

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 3

    Satu setengah tahun lalu. Aku masih ingat persis hari itu."Ven, lo harus bantu gue!"Riana datang ke butikku dengan mata sembab. Wajahnya pucat, rambut kusut. Langsung ambruk di sofa ruang tunggu butik."Ada apa, Ri?" Aku duduk di sampingnya, mengusap punggungnya."Gue putus sama Rey, Ven." Isaknya pecah. "Dia mukul gue lagi. Kali ini lebih keras. Gue enggak tahan!"Aku menariknya dalam pelukan. "Sudah, sudah. Jangan nangis. Lo bisa tinggal di rumah gue sementara.""Tapi Ven... gue enggak punya uang. Kerjaan gue cuma model lepas. Enggak cukup buat hidup."Saat itu Riana memang model langganan butikku. Kadang-kadang aku panggil untuk fashion show kecil-kecilan. Wajahnya cantik, badannya proporsional. Tapi di luar itu, hidupnya kacau."Lo mau kerja di sini?" tawarku spontan. "Butik butuh admin. Gajinya lumayan."Mata Riana berbinar. "Sungguh, Ven? Lo mau nerima gue?""Tentu saja. Lo sahabat gue."Riana memelukku erat. "Makasih, Ven! Gue enggak akan lupa kebaikan lo! Gue janji bakal kerj

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 2

    "Sayang, kamu lagi di mana? Acaranya belum selesai, ya?"Suara Armando di ujung telepon terdengar begitu lembut. Lembut yang dulu selalu membuatku meleleh. Sekarang? Rasanya seperti sayatan-sayatan yang menyiksa."Di hotel, Mas. Masih ada acara tambahan dari kampus." Aku berusaha membuat suaraku senormal mungkin. Padahal jari-jariku mencengkeram sprei hotel sampai putih."Ogh Ada acara lagi, ya? Semangat ya, Sayang.""Tamu undangannya banyak, Mas. Jadi panitia minta aku nambah dua hari untuk jadi pembicara di dua kampus lain." Aku memandang bayanganku sendiri di cermin. Mataku sembab. Wajah pucat. Tapi suaraku harus tetap ceria."Iya, Sayang." Ada jeda sebentar. "Ehm. Aku kangen, Sayang. Cepet pulang, ya."Kangen? Aku ingin tertawa getir. Tapi kutahan."Iya, Mas. Aku juga kangen." Bohong. Aku tidak kangen sama sekali. Yang ada aku ingin muntah setiap membayangkan dia dengan perempuan sun d a l itu."Eh, Mbok Rati ke mana, Mas? Kok enggak kedengaran suaranya?" tanyaku pura-pura."Ooh, a

  • Dikhianati Suami dan Sahabatku   Bab 1

    "Mas, kapan kamu ceraikan istrimu?"Suara itu membuat tubuhku membeku. Tangan yang baru saja memegang gagang pintu langsung terlepas. Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, lalu berdegup kencang seperti hendak melompat keluar.Aku kenal suara itu. Terlalu kenal.Riana. Sahabatku sendiri sejak kuliah. Wanita yang setiap minggu mengadu tentang pacarnya yang kasar. Yang kutampung di butikku saat ia tak punya uang. Yang kurekomendasikan jadi sekretaris suamiku.Dan sekarang suaranya terdengar dari balik pintu kamarku."Sabar, sayang. Jangan terburu-buru." Suara berat itu juga tak asing. Armando. Suamiku. Laki-laki yang lima tahun lalu berjanji di hadapan penghulu dan kedua orang tuaku untuk mencintaiku sampai mati.Kakiku terasa lemas. Aku bersandar ke dinding lorong, berusaha menenangkan napas yang memburu. Tas masih menggantung di bahu, koper kecil tergeletak di lantai. Aku seharusnya masih di luar kota untuk acara kampus. Tapi sebuah pesan anonim seminggu lalu membuatku curiga."Ibu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status