LOGINGugatan cerai telah resmi didaftarkan. Suasana di apartemen Aldo menjadi sedikit lebih tenang, meskipun ketegangan masih menggantung. Aisyah menghabiskan sore harinya dengan menghubungi manajer butiknya, memastikan operasional tetap berjalan normal tanpa menyinggung masalah pribadinya.
Aldo sibuk dengan panggilan dan meeting jarak jauh. Ia memisahkan dirinya di ruang kerja, memberikan Aisyah ruang privasi. Namun, setiap beberapa jam, ia akan keluar untuk memastikan Aisyah baik-baik saja.
Menjelang senja, Aisyah duduk di balkon, menikmati pemandangan kota. Aldo bergabung, membawa dua cangkir teh herbal.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Aldo, menyerahkan cangkir pada Aisyah.
Aisyah menyesap teh hangat itu. “Lega. Tapi juga ... bingung. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini.”
“Tidak ada yang bisa menolak ujian Tuhan,” kata Aldo. “Yang penting, kau sudah mengambil langkah yang benar.”
Aisyah menatap Aldo. “Aku masih memikirkan Riana. Aku mengerti jika Aris berkhianat, dia memang manipulator. Tapi Riana ... dia adalah sahabatku sejak SMA. Dia tahu semua rahasiaku. Dia tahu betapa aku mencintai Aris. Bagaimana dia bisa setega itu?”
Aldo bersandar di pagar balkon, pandangannya jauh ke arah skyline. “Manusia punya motif tersembunyi, Aisyah. Kadang, iri hati dan ambisi lebih kuat daripada loyalitas. Riana melihat Aris sebagai jalan pintas. Mungkin dia iri pada posisimu sebagai istri dan pemilik butik sukses.”
“Mungkin,” gumam Aisyah. “Dia selalu modis, selalu ingin tampil lebih. Dia bilang ingin meniru gayaku. Aku baru sadar, dia mungkin tidak ingin meniru gayaku, dia ingin mengambil hidupku.”
Aldo menoleh, menatap Aisyah dengan intensitas yang membuat Aisyah sedikit salah tingkah.
“Dia tidak akan pernah bisa mengambil hidupmu, Aisyah. Karena hidupmu adalah hasil usahamu sendiri, bukan pemberian Aris. Itu yang membedakanmu dengan Riana,” ucap Aldo penuh penekanan.
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Aisyah merasa nyaman dalam diam itu. Kenyamanan yang aneh, mengingat ia duduk bersama adik iparnya, yang sebentar lagi akan menjadi mantan adik ipar, setelah memergoki suaminya selingkuh di hotel milik pria ini.
“Aldo,” panggil Aisyah.
“Ya?”
“Kamu setuju aku bercerai dengan Aris?”
Aldo tersenyum tipis. “Karena aku mengenal Aris. Dia adalah tipe pria yang akan menyalahkan orang lain atas kesalahannya. Dia tidak layak mendapatkan wanita sepertimu. Dan sebagai adiknya, aku tahu kau terlalu berharga untuk dipertahankan dalam keluarga yang tidak menghargaimu.”
“Tapi ini akan menimbulkan konflik di keluargamu,” ujar Aisyah, merasa bersalah. “Orang tuamu pasti akan terkejut dan marah pada Aris. Dan mereka mungkin akan menyalahkanku, atau bahkan menyalahkanmu karena membantuku.”
“Biarkan saja,” jawab Aldo acuh tak acuh. “Keluarga kami sudah terbiasa dengan drama Aris. Aku sudah hidup di bawah bayang-bayang kenakalan Aris selama bertahun-tahun. Kali ini, dia melewati batas. Aku tidak peduli mereka marah. Aku akan membela apa yang benar.”
Aldo melangkah mendekat, berdiri di samping Aisyah. Jarak fisik mereka sangat dekat, hampir melanggar batas yang Aisyah coba pertahankan.
“Aisyah, aku ingin kau tahu satu hal,” kata Aldo, suaranya kini lebih lembut dan personal. “Aku tidak melakukan ini karena loyalitas pada Aris. Aku melakukan ini karena loyalitas pada kebenaran. Dan karena ... aku menghormatimu. Aku selalu menghormatimu.”
Aisyah mendongak, merasakan pipinya memanas. Rasa hormat. Kata itu terasa lebih berharga daripada kata-kata cinta palsu yang pernah ia dengar.
“Aku ... aku sangat berterima kasih,” Aisyah kesulitan mencari kata-kata yang tepat.
“Aku tahu,” jawab Aldo. “Sekarang, mari kita bicara rencana Butik Maharani. Dengan adanya kontrak wardrobe dengan Royal Michell, kita perlu melakukan restructuring timmu. Kita harus profesional. Kau butuh fokus, Aisyah.”
Mereka beralih membahas bisnis. Aldo dengan cepat memberikan masukan tentang manajemen risiko dan perluasan pasar. Aisyah terkesima dengan kecerdasan dan visi Aldo. Ia bukan hanya pejabat atau pengusaha kaya, ia adalah pria yang sangat kompeten.
Malam itu, Aisyah kembali ke kamar tidurnya dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia merasa aman dan terlindungi. Di sisi lain, kehadiran Aldo telah menggoyahkan benteng emosionalnya. Ia menyadari, setiap kali Aldo berbicara tentang masa depannya, setiap kali Aldo menunjukkan perhatiannya, jantungnya merespons dengan cara yang tidak seharusnya ia rasakan terhadap mantan adik ipar.
Bagaimana aku bisa mencintai seorang pria yang baru saja menghancurkan pernikahanmu? batin Aisyah, merasa bersalah.
Namun, ia tidak bisa mengabaikan fakta: Aldo ada di sana ketika Aris meninggalkannya. Aldo yang menawarkan perlindungan. Aldo yang menawarkan kekuatan.
Aisyah mengambil ponselnya. Ada beberapa pesan dari nomor tak dikenal.
“Nomor siapa ini?” gumam Aisyah sambil mengusap layar dan membaca pesannya.Gugatan cerai telah resmi didaftarkan. Suasana di apartemen Aldo menjadi sedikit lebih tenang, meskipun ketegangan masih menggantung. Aisyah menghabiskan sore harinya dengan menghubungi manajer butiknya, memastikan operasional tetap berjalan normal tanpa menyinggung masalah pribadinya.Aldo sibuk dengan panggilan dan meeting jarak jauh. Ia memisahkan dirinya di ruang kerja, memberikan Aisyah ruang privasi. Namun, setiap beberapa jam, ia akan keluar untuk memastikan Aisyah baik-baik saja.Menjelang senja, Aisyah duduk di balkon, menikmati pemandangan kota. Aldo bergabung, membawa dua cangkir teh herbal.“Bagaimana perasaanmu?” tanya Aldo, menyerahkan cangkir pada Aisyah.Aisyah menyesap teh hangat itu. “Lega. Tapi juga ... bingung. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini.”“Tidak ada yang bisa menolak ujian Tuhan,” kata Aldo. “Yang penting, kau sudah mengambil langkah yang benar.”Aisyah menatap Aldo. “Aku masih memikirkan Riana. Aku mengerti jika Aris berkhianat, dia me
Pagi tiba, membawa cahaya terasa yang kejam menembus tirai apartemen Aldo. Aisyah terbangun setelah tidur yang singkat dan gelisah. Peristiwa semalam terasa seperti mimpi buruk, namun rasa perih di hatinya membuktikan semuanya nyata.Ia turun ke ruang tamu. Aldo sudah ada di sana, mengenakan setelan kasual namun tetap rapi, sambil menyesap kopi. Di atas meja, sudah tersedia sarapan yang disiapkan koki pribadinya.“Selamat pagi,” sapa Aldo, nadanya profesional seperti biasa, seolah semalam ia tidak menyelamatkan seorang wanita yang nyaris histeris dari perselingkuhan suaminya.“Pagi, Tuan Aldo,” jawab Aisyah, merasa canggung.“Panggil saja Aldo. Aku akan memanggilmu Aisyah,” koreksi Aldo. “Duduklah. Kita harus bicara serius sebelum Aris berhasil memutarbalikkan fakta.”Aisyah duduk, merasakan perutnya mual. “Aku tidak lapar.”“Setidaknya minum kopimu,” desak Aldo. “Kau butuh energi.”Aisyah menghela napas. “Aku sudah memutuskan. Aku ingin cerai secepatnya. Aku tidak mau sepeser pun dar
Aisyah duduk membeku di sofa apartemen pribadi Aldo Michell. Apartemen itu mewah, dengan pemandangan kota yang memukau di malam hari, namun Aisyah tidak melihat apa-apa. Dunianya terasa kelabu. Ia masih bisa merasakan sentuhan dingin kartu kunci di tangannya, suara tawa Aris dan Riana, serta tatapan dingin Aldo yang mengawasinya.Aldo telah membawanya ke sini, ke apartemen kosong ini. “Untuk malam ini, kau bisa tinggal di sini. Aman dan nyaman. Aku akan membereskan semuanya besok,” katanya dengan suara yang menenangkan namun tegas, seolah ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.Aisyah hanya mengangguk pasrah. Ia tidak punya tempat lain untuk pergi. Rumah itu, yang dulu terasa seperti surga, kini terasa seperti neraka yang dipenuhi kenangan palsu.Aldo membawakan segelas air dan sedikit camilan. Ia duduk beberapa meter dari Aisyah, memberinya ruang. Ia tahu Aisyah sedang terguncang hebat.“Kau tidak perlu bicara jika belum siap,” ujar Aldo, memecah keheningan yang mencekam. “
Aisyah berjalan cepat menyusuri koridor lantai 12, air mata membasahi pipinya tanpa ia sadari. Ia tidak ingin melihat ke belakang, tidak ingin mendengar tangisan Riana atau teriakan panik Aris. Ia hanya ingin keluar dari tempat beracun ini.Saat ia berbelok di tikungan, menuju lift, ia menabrak seseorang yang membuatnya terjatuh. Seharusnya ia merasakan sakit karena terjatuh, namun badannya serasa ringan seakan melayang tanpa beban seperti beratnya beban yang ia pikirkan. Lalu di mana Aisyah terjatuh? Mengapa justru rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya?Sosok pria itu tinggi dan gagah, mengenakan setelan jas abu-abu mahal yang membuatnya tampak sangat berwibawa.Ia adalah Aldo Michell.Aldo, yang baru selesai rapat penting di lantai itu, langsung menangkap tubuh Aisyah yang nyaris terjatuh. Ia spontan mengangkat tubuh ringan Aisyah agar tidak jatuh.“Aisyah?” Suara Aldo dalam dan tegas, namun kali ini terdengar khawatir.Aisyah mendongak di atas kedua tangan Aldo. Matanya y
Di dalam lift, Aisyah melihat pantulan dirinya di cermin perunggu. Wajahnya pucat, mata sembap, tetapi ia memaksakan dirinya untuk tetap tegak. Sementara di sampingnya Bu Rara diam tanpa ekspresi, namun terlihat ketegangan yang ia sembunyikan.Aisyah teringat percakapan terakhirnya dengan Riana, dua hari lalu.“Aisyah, kamu kenapa? Wajahmu murung sekali.”“Aku cuma merasa Aris semakin jauh, Ri. Dia selalu lembur, selalu ke luar kota. Nyaris tidak ada waktu santai berdua. Bahkan di akhir pekan sekalipun”“Oh, Aisyah, jangan berpikir negatif. Aris itu suamimu. Dia bekerja keras untuk masa depan kalian. Jangan dengarkan gosip murahan. Aris hanya butuh dukungan darimu.”Riana mengusap punggung Aisyah. “Dengar, kalau kamu butuh teman bicara, aku selalu ada. Jangan pernah merasa sendirian. Kamu sahabat terbaikku.”Aisyah mengepalkan tangan di lift. Sialan. Riana bahkan menyuruh Aisyah untuk menjaga jarak dengan Aris agar Aris tidak merasa terganggu. “Kalian butuh waktu berdua, Syah. Jangan
“Mas Aris? Riana? Sedang apa mereka di resepsionis?” Aisyah bergumam pelan, perasaannya diliputi kejanggalan atas apa yang baru saja ia lihat.“Benarkah itu Mas Aris?” Ia berusaha memanggil suami dan sahabatnya itu. Namun, sebelum satu pun suara keluar dari tenggorokannya, sebuah panggilan menghentikannya.“Aisyah, tunggu sebentar!” Suara Tante Amira memecah keheningan.Langkah Aisyah terhenti. Meski raut wajahnya tetap terkendali, gejolak di dalam dadanya sulit disembunyikan. Siluet yang tadi terlihat di resepsionis hotel masih melekat kuat dalam ingatannya—Aris dan Riana.“Ada apa, Tante?” tanyanya kemudian, berusaha menjaga suaranya tetap stabil."Kamu masih ingat kan desain yang aku bilang kemarin? Aku ingin melihat beberapa contoh." Tante Amira mempercepat langkah, mencoba mengejar Aisyah yang tampak kaku.“Ya, desain yang floral, bukan?” Aisyah berusaha berkata santai, meski pikirannya melayang jauh. Riana dan Aris. Apa yang mereka lakukan di sini?“Betul sekali! Oh, dan aku ing







