LOGINBab 74: Mandi
Viper, Mantis, dan Crow mendarat dengan posisi berlutut yang sangat presisi di sekeliling keranjang bayi tersebut. Mantan Trio Assassin legendaris itu menatap "adik bungsu" baru mereka dengan tatapan mata yang sangat profesional, seolah mereka sedang menghadapi misi pembunuhan tingkat tinggi. "Siap, Ayah. Tugas memandikan untuk Dede Keenam akan kami laksanakan dengan baik," ucap Viper datar. Tangannya dengan cekatan mulai menyiapkan handuk kecil bermotif lumba-lumba dBab 298 — Kabar BaikRaka menatap Veronika yang baru saja duduk di kursi depan meja bar."Kabar baik apa, Lady?"Veronika tersenyum. Bukan senyum bisnis — senyum puas."Lemonade Sunlight botolan... sukses besar."Hening sejenak."Kota-kota besar di seluruh Aethelgard sudah memesan ulang tiga kali dalam sebulan. Efek peremajaan kulitnya langsung terasa — pelanggan bisa melihat hasilnya dalam hitungan hari."Veronika mengeluarkan selembar laporan dari tasnya dan meletakkannya di meja."Dan bukan hanya itu. Karena efeknya nyata, permintaan di lini kosmetik bisniku juga ikut meningkat. Logikanya sederhana — setelah tampil lebih muda, mereka ingin tampil lebih cantik."Dia mengetuk laporan itu dengan jari."Keuntungan bersih bulan ini — tiga kali lipat dari proyeksi awal."Raka melotot."Tiga kali lipat?"Veronika menatap Raka."Sesuai kesepakatan kita — hasil keuntungan dari Lemonade Sunlight akan digunakan untuk mendirikan panti asuhan."DEG.Raka terdiam.Di hadapannya — panel transpara
Bab 297 — Permintaan Raka bangkit dari kasur. Pelan. Tubuhnya masih protes — tapi kepalanya sudah jernih. Dia menatap Helios yang masih memakai popok motif kucing. Lalu Marco yang masih pakai onesie motif beruang. Raka menjentikkan jari.CTEK. FWUSH. Cahaya tipis menyelimuti keduanya — dan dalam sekejap, pakaian bangsawan mereka kembali. Jubah kerajaan Helios. Setelan resmi Marco. Amanda menatap dari belakang. "Yaah... padahal lucu." PLAK. Helios menjitak kepala Amanda. "Lucu darimana?!" Amanda memegangi kepalanya. "Aduh, kak" Helios terdiam. Wajahnya yang tadi merah karena malu perlahan melunak. Lalu menundukkan kepala. "...Terima kasih, Kak Raka." Marco juga membungkuk. Matanya berkaca-kaca — tapi dia cepat-cepat mengusapnya. "Terima kasih, sudah mengembalikan pakaian kami" Raka mengangguk. "Sam
Bab 296 — RumahGelap.Hangat.Raka berdiri di tempat yang tidak ia kenali — tapi TERASA familiar.Padang rumput luas. Langit senja. Angin sepoi yang membawa aroma masakan rumah.Dan di depannya — dua orang.Wanita berambut panjang. Senyumnya lembut. Tangan yang dulu selalu mengelus kepalanya.Pria bertubuh tegap. Wajah tegas, tapi mata yang hangat.Ibu. Ayah."...Ibu? Ayah?"Ibunya tersenyum."Kamu sudah besar, Raka."Ayahnya mengangguk. Bangga."Kami melihat semuanya."Raka merasakan matanya panas."Aku... aku cuma babysitter—""Kamu menjaga mereka." Ibunya mendekat. Tangannya menyentuh pipi Raka — hangat. Nyata. "Itu lebih dari cukup."Ayahnya menepuk bahunya."Pulang, Raka. Mereka menunggumu."Raka ingin mengatakan sesuatu. Banyak hal yang selama ini tidak sempat ia ucapkan.Tapi suaranya tidak keluar.
Bab 295 — Terlambat Derap kaki. Ratusan. Berat. Teratur. Debu terangkat dari jalur utama menuju medan perang — barisan demi barisan prajurit berlapis armor, membawa pedang, tombak, perisai. Di barisan depan — dua orang. Frans. Informan guild. Pedang terhunus. Wajah tegang. Matanya menyipit menatap langit yang masih gelap oleh sisa-sisa aura kegelapan. Dan di sebelahnya — Roland. Ketua Guild Petualang. Pria tua yang bahunya selebar lemari, membawa kapak raksasa di punggungnya. "PERCEPAT LANGKAH!" Roland berteriak ke belakang. "RAJA IBLIS TIDAK AKAN MENUNGGU KITA—" Mereka tiba di medan perang. Lalu berhenti. ... Tidak ada pertarungan. Tidak ada kegelapan yang membara. Tidak ada Raja Iblis. Yang ada — tanah gosong. Bekas lingkaran segel. Kawah-kawah bekas ledakan. Dan sekelompok orang yang duduk kelelahan di antara reruntuhan. Frans menur
Bab 294 — Bedong Raja Iblis merasakan sesuatu. Bukan rasa sakit — dia sudah terbiasa dengan itu. Bukan kemarahan — itu sudah menjadi bagian dirinya. Ini berbeda. Tekanan. Lingkaran segel di tanah bersinar makin terang. Emas dan hitam berputar — MENYATU. Mantra kuno bergema makin keras. Raja Iblis menatap Helios dan alter ego Valerian di belakang Raka. Matanya melebar. Segel suci...?! "TIDAK." Bayangan kegelapan BERGERAK — bukan menyerang. KABUR. Tubuh tanpa wujudnya melesat ke udara — menjadi asap hitam yang menyebar ke segala arah. Cepat. Putus asa. Raka menatap. Dia mau lari. "Tidak boleh, moo." Raka mengangkat tangan. [HADIAH SPIN 2 — Kelulusan Helios] Kartu as terakhir. "Aktifkan."[Bedong] Layar status berkedip. Tipe: Skill Aktif Efek: Mengikat target dengan kain
Bab 293 — Moo Alter ego Valerian menatap Helios. "Kau tahu mantra segelnya?" Helios mengangguk. Wajahnya tampak serius. "Aku membacanya di buku sihir Aldhelm. Hafal setiap baris." "Bagus." Alter ego mengetuk pelipisnya. "Aku tidak perlu membuang waktu untuk mengajarimu.""Segel ini memiliki syarat paling tinggi." "Dua penyihir. Dua Sage-level. Satu mantra." Helios menatap Raka. "Tapi untuk menyegel — kami butuh waktu. Seseorang harus MENAHAN Raja Iblis selama prosesnya." Semua menoleh ke Raka. Raka yang babak belur. Raka yang HP-nya kritis. Raka yang baru saja menghabiskan tiga Borrow Skill sekaligus. "Serahkan padaku." Marco menganga. "Kak Raka GILA?! Kau bahkan tidak bisa—" "Aku masih punya satu kartu as." Raka mengangkat tangan. Layar status muncul. [HADIAH SPIN 1 — Kelulusan Bima] Skill: Refresh Skill Efek:
Bab 7: playpen Cahaya keemasan dan biru safir meledak dari tubuh Bima dan Elena saat partikel cahaya Nightmare Behemoth yang hancur terserap ke dalam inti mana mereka. Di dunia Aethelgard, mengalahkan monster Rank S bukan sekadar kemenangan, melainkan lonjakan evolusi yang masif bagi para pe
Bab 6: dungeonSuasana di Akademi Aethelgard yang biasanya tenang mendadak pecah oleh raungan memekakkan telinga yang seolah merobek langit. Di tengah lapangan upacara, sebuah retakan dimensi berwarna hitam pekat muncul, memuntahkan hawa dingin yang mencekam Dungeon Break Rank S."Se
Bab 5: Anak AsuhSore itu, Raka duduk di bangku taman akademi yang tenang, membuka antarmuka sistem miliknya yang selama ini ia abaikan karena dianggap sampah. Namun, ada yang berbeda kali ini. Sebuah jendela transparan berkedip di depan matanya.> [System Update: Management List]> A
Bab 4: Negosiasi di Ruang MenaraPintu kayu jati raksasa dengan ukiran naga itu tertutup rapat, namun tidak cukup tebal untuk menghalangi pendengaran tajam dua siswa Rank SS yang menempelkan telinga mereka di luar."Bisa dengar sesuatu?" bisik Bima, tangannya masih gemetar memegang gagang







