Share

Bab 6 Dungeon

Author: R.yan
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-20 21:40:49

Bab 6: dungeon

Suasana di Akademi Aethelgard yang biasanya tenang mendadak pecah oleh raungan memekakkan telinga yang seolah merobek langit. Di tengah lapangan upacara, sebuah retakan dimensi berwarna hitam pekat muncul, memuntahkan hawa dingin yang mencekam Dungeon Break Rank S.

"Seluruh siswa Rank B ke bawah, evakuasi ke bunker bawah tanah! Ini bukan simulasi!" teriak instruktur kepala dengan wajah pucat.

Sesuai prosedur darurat, hanya pemilik Rank A ke atas yang diizinkan menahan gerbang dimensi rank S. Elena dan Bima, sebagai dua jenius Rank SS, otomatis memimpin pasukan elit akademi. Mereka menerjang masuk ke dalam kabut hitam portal sebelum monster-monster di dalamnya meluap ke kota.

Satu jam berlalu. Dua jam. Sampai 5 jam, Getaran gempa dari bawah tanah semakin hebat, meruntuhkan beberapa pilar megah akademi. Tidak ada tanda-tanda pasukan elit itu kembali.

"Mereka tidak kunjung keluar... Sial, firasatku buruk," gumam Raka yang berdiri di balik garis evakuasi. Matanya yang tajam menganalisis pola getaran tanah. Sebagai jenius taktis, ia tahu getaran itu bukan tanda kemenangan, melainkan tanda keputusasaan.

Raka tidak peduli lagi dengan aturan. Saat para instruktur sibuk mengatur barisan pertahanan lapis kedua, ia menyelinap masuk ke dalam pusaran portal hitam itu. Namun, baru beberapa langkah di dalam lorong gua yang lembap dan berbau belerang, sebuah tangan besar menarik jubahnya dengan kasar.

"Kak Raka! Jangan gila! Ini zona Rank S!"

Marco muncul dari balik kegelapan dengan napas tersengal-sengal. Wajah sang Berserker itu pucat pasi, namun jemarinya menggenggam kapak ganda dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih.

Raka menoleh tenang. "Marco? Kenapa kau tidak ikut evakuasi?"

"Kalau... kalau Kakak mati di dalam, siapa yang akan bertanggung jawab pada 'isi' ziraku?!" seru Marco setengah histeris, wajahnya memerah antara malu dan takut. "Aku lebih takut memakai popok penuh selamanya daripada mati dimakan monster! Aku akan melindungimu, jadi jangan berani-berani mati, Kak!"

Raka tertegun sejenak, melihat ketulusan yang dibalut rasa trauma di mata Marco. Ia mengulurkan tangan dan mengelus rambut berantakan Marco perlahan, persis seperti seorang kakak yang menenangkan adiknya.

"Anak baik. Ternyata kau sangat perhatian ya, Marco," ucap Raka lembut.

Marco terpaku. Sentuhan itu... hangat. Sangat berbeda dengan didikan ayahnya yang keras dan kaku. Mental Berserker-nya yang biasanya haus darah mendadak melunak, memberikan rasa tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Di ruang terdalam dungeon, suasananya bak neraka. Nightmare Behemoth, bos Rank S setinggi sepuluh meter dengan ratusan mata di sekujur tubuhnya, sedang mengamuk. Bima bersimbah darah dan keringat, perisai emas Excalibur-nya sudah retak seribu akibat hantaman cakar monster itu. Elena di belakangnya bersandar pada dinding gua, napasnya pendek-pendek, mana-nya benar-benar kering setelah merapal ratusan mantra es tingkat tinggi.

"Bima... aku sudah tidak kuat lagi... tongkatku tidak merespon," bisik Elena dengan bibir membiru.

"Tahan, Elena! Sedikit lagi bantuan pasti datang!" teruk Bima, meski ia tahu itu bohong.

Sang Behemoth meraung, mengangkat kedua cakar raksasanya yang diselimuti api hitam untuk serangan penghancur terakhir. Saat maut tinggal sejengkal, sebuah melodi lembut mulai mengalun di tengah kegelapan gua. Suara itu tidak kencang, namun anehnya, ia memotong raungan monster dan gemuruh reruntuhan gua.

Raka melangkah maju dari bayang-bayang, memegang botol susu artefaknya yang kini berpendar merah muda menyala.

[Skill Active: Lullaby of Peace!]

Gelombang energi yang sangat teduh, beraroma susu hangat dan bedak bayi, menyapu seluruh ruangan. Sang Nightmare Behemoth yang tadinya sedang dalam puncak amukan tiba-tiba mematung. Cakar raksasanya berhenti di udara. Ratusan mata merahnya perlahan-lahan meredup, kelopaknya memberat.

Monster itu menguap sangat lebar hingga taringnya terlihat jelas, lalu dengan gerakan lambat yang canggung, makhluk mengerikan itu meringkuk di lantai dungeon. Ia mendengkur keras, menciptakan angin sepoi-sepoi yang menenangkan.

Bima dan Elena melongo..

"Sekarang! Gunakan sisa tenaga kalian selagi 'bayi' ini bermimpi indah!" seru Raka, memecah keheningan dengan suara penuh otoritas.

Bima dan Elena tersentak. Mereka tidak menyia-nyiakan keajaiban ini.

"Holy Judgement!"

"Absolute Zero!"

Dua serangan terkuat Rank SS menghantam tepat di jantung sang Behemoth yang sedang tidur lelap tanpa pertahanan. Tubuh raksasa itu hancur menjadi partikel cahaya tanpa sempat terbangun. Dungeon mulai runtuh, tanda bahwa ancaman telah usai.

Marco, yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung Raka, langsung jatuh terduduk dengan kaki lemas.

"Kak... Kak Raka..." suara Marco bergetar hebat. "Kau benar-benar menidurkan monster Rank S itu seolah dia cuma bayi yang baru habis minum susu?"

Marco kemudian meraba bagian belakang zirahnya yang terasa sangat berat, panas, dan menggembung. Ketakutan luar biasa saat melihat Behemoth tadi ternyata memicu "kejutan" biologis yang tak tertahankan di dalam zirahnya.

"Dan... Kak... tolong segera ganti ini. Bau lavendernya sudah kalah telak sama bau yang lain... aku tidak bisa jalan kalau begini..."

Raka hanya terkekeh pelan sambil menepuk bahu Marco yang lemas. "Kerja bagus, Marco. Kau sudah jadi pengawal yang hebat hari ini". Dengan jentikan jari, popok marco selesai diganti yang baru.

Elena dan Bima menghampiri Raka dengan tatapan campur aduk antara syukur, hormat, dan sedikit ngeri.

Bersambung

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
R.yan
Dua jenius Rank SS pakai sihir tingkat tinggi sampai mana-nya kering: Monster tetep ngamuk.... Raka Rank F modal botol susu pink + Lullaby of Peace: Monsters langsung bobo nyenyak sambil ngorok. ...... ​Jangan lupa kasih Vote dan komen kalian buat bab ini ya! makasih
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 300 — Cinta Ayah (Season 1 Finale)

    Bab 300 — Cinta Ayah (Season 1 Finale)Tiga hari berlalu.Istana Aethelgard berdiri kembali. Lebih kokoh. Setiap batu yang tersusun menyimpan cerita. Keringat rakyat. Tawa anak-anak. Tangan raja yang ikut mengangkat balok.Dan di samping Momo Cafe —Sebuah bangunan baru.Dua lantai. Dinding putih bersih. Jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk. Halaman luas dengan ayunan dan bangku-bangku kayu. Taman kecil di sisi kiri — bunga-bunga yang baru ditanam oleh Elena.Di atas pintu utama, sebuah papan nama kosong menunggu diberi nama.Rakyat berkumpul. Bangsawan hadir. Anak-anak asuh Raka berdiri di barisan depan.Pita merah membentang di depan pintu utama.Lady Veronika melangkah maju, membawa gunting emas di atas bantal beludru. Senyumnya anggun — tapi matanya hangat."Raka."Dia menyerahkan gunting itu."Ini milikmu. Gedung ini ada karena kerja kerasmu — dan keputusanmu."Raka menerima gunting itu. Menatapnya sejenak.Veronika tersenyum."Ayo, gunting pitanya. Kau aka

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 299 — Gotong Royong

    Bab 299 — Gotong Royong Pintu Momo Cafe terbuka.Cahaya pagi menyambut mereka — hangat, cerah, dan penuh suara.Raka melangkah keluar. Diikuti yang lain.Dan pemandangan di depan mereka—RAMAI.Ratusan rakyat Aethelgard bergerak di reruntuhan istana. Batu diangkat. Kayu digergaji. Tali ditarik. Dinding mulai berdiri kembali — satu per satu, dengan tangan-tangan yang penuh keringat.Tidak ada sihir. Tidak ada perintah raja.Hanya rakyat biasa — petani, pedagang, tukang kayu, pandai besi — bekerja bersama. Bahu-membahu.Seorang pria tua mengangkat balok kayu bersama pemuda yang bahkan belum cukup umur untuk masuk akademi. Dua wanita menyusun bata dengan presisi yang mengalahkan tukang bangunan profesional.Di kejauhan, beberapa anak kecil mengumpulkan batu-batu kecil. Mereka tidak cukup kuat untuk mengangkat balok, tetapi tetap ingin membantu.Seorang tukang kayu tertawa ketika seorang anak menyerahkan palu yang hampir sebesar lengannya."Terima kasih, Paman!""Jangan sampai kena kakim

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 298 — Kabar Baik

    Bab 298 — Kabar BaikRaka menatap Veronika yang baru saja duduk di kursi depan meja bar."Kabar baik apa, Lady?"Veronika tersenyum. Bukan senyum bisnis — senyum puas."Lemonade Sunlight botolan... sukses besar."Hening sejenak."Kota-kota besar di seluruh Aethelgard sudah memesan ulang tiga kali dalam sebulan. Efek peremajaan kulitnya langsung terasa — pelanggan bisa melihat hasilnya dalam hitungan hari."Veronika mengeluarkan selembar laporan dari tasnya dan meletakkannya di meja."Dan bukan hanya itu. Karena efeknya nyata, permintaan di lini kosmetik bisniku juga ikut meningkat. Logikanya sederhana — setelah tampil lebih muda, mereka ingin tampil lebih cantik."Dia mengetuk laporan itu dengan jari."Keuntungan bersih bulan ini — tiga kali lipat dari proyeksi awal."Raka melotot."Tiga kali lipat?"Veronika menatap Raka."Sesuai kesepakatan kita — hasil keuntungan dari Lemonade Sunlight akan digunakan untuk mendirikan panti asuhan."DEG.Raka terdiam.Di hadapannya — panel transpara

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 297 — Permintaan

    Bab 297 — Permintaan Raka bangkit dari kasur. Pelan. Tubuhnya masih protes — tapi kepalanya sudah jernih. Dia menatap Helios yang masih memakai popok motif kucing. Lalu Marco yang masih pakai onesie motif beruang. Raka menjentikkan jari.CTEK. FWUSH. Cahaya tipis menyelimuti keduanya — dan dalam sekejap, pakaian bangsawan mereka kembali. Jubah kerajaan Helios. Setelan resmi Marco. Amanda menatap dari belakang. "Yaah... padahal lucu." PLAK. Helios menjitak kepala Amanda. "Lucu darimana?!" Amanda memegangi kepalanya. "Aduh, kak" Helios terdiam. Wajahnya yang tadi merah karena malu perlahan melunak. Lalu menundukkan kepala. "...Terima kasih, Kak Raka." Marco juga membungkuk. Matanya berkaca-kaca — tapi dia cepat-cepat mengusapnya. "Terima kasih, sudah mengembalikan pakaian kami" Raka mengangguk. "Sam

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 296 — Rumah

    Bab 296 — RumahGelap.Hangat.Raka berdiri di tempat yang tidak ia kenali — tapi TERASA familiar.Padang rumput luas. Langit senja. Angin sepoi yang membawa aroma masakan rumah.Dan di depannya — dua orang.Wanita berambut panjang. Senyumnya lembut. Tangan yang dulu selalu mengelus kepalanya.Pria bertubuh tegap. Wajah tegas, tapi mata yang hangat.Ibu. Ayah."...Ibu? Ayah?"Ibunya tersenyum."Kamu sudah besar, Raka."Ayahnya mengangguk. Bangga."Kami melihat semuanya."Raka merasakan matanya panas."Aku... aku cuma babysitter—""Kamu menjaga mereka." Ibunya mendekat. Tangannya menyentuh pipi Raka — hangat. Nyata. "Itu lebih dari cukup."Ayahnya menepuk bahunya."Pulang, Raka. Mereka menunggumu."Raka ingin mengatakan sesuatu. Banyak hal yang selama ini tidak sempat ia ucapkan.Tapi suaranya tidak keluar.

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 295 — Terlambat

    Bab 295 — Terlambat Derap kaki. Ratusan. Berat. Teratur. Debu terangkat dari jalur utama menuju medan perang — barisan demi barisan prajurit berlapis armor, membawa pedang, tombak, perisai. Di barisan depan — dua orang. Frans. Informan guild. Pedang terhunus. Wajah tegang. Matanya menyipit menatap langit yang masih gelap oleh sisa-sisa aura kegelapan. Dan di sebelahnya — Roland. Ketua Guild Petualang. Pria tua yang bahunya selebar lemari, membawa kapak raksasa di punggungnya. "PERCEPAT LANGKAH!" Roland berteriak ke belakang. "RAJA IBLIS TIDAK AKAN MENUNGGU KITA—" Mereka tiba di medan perang. Lalu berhenti. ... Tidak ada pertarungan. Tidak ada kegelapan yang membara. Tidak ada Raja Iblis. Yang ada — tanah gosong. Bekas lingkaran segel. Kawah-kawah bekas ledakan. Dan sekelompok orang yang duduk kelelahan di antara reruntuhan. Frans menur

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   bab 11 Bangsawan

    Bab 11: Bangsawan Di sudut gelap kandang kuda akademi yang berbau jerami dan tanah basah, Kael mengerang frustrasi. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol ekstrem, memancarkan aura emas kemerahan khas ksatria Rank A yang sedang memusatkan seluruh energinya. Tangannya mencengkeram erat ujung pop

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   bab 10 berontak

    Bab 10: berontak Halaman belakang akademi kini menjadi sangat bersih, bahkan hampir mengkilap. Belasan senior dari tim elit Golden Griffon baru saja melesat pergi secepat kilat setelah meletakkan sapu mereka. Mereka meninggalkan debu yang mengepul dan aroma ketakutan yang pekat; seolah-olah mereka

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   bab 9 disiplin

    Bab 9: disiplin Sambil lanjut menyapu dedaunan kering yang berguguran di halaman belakang akademi, Raka merasakan saku celananya bergetar hebat. Ia merogoh botol susu artefaknya yang kini berpendar merah muda lembut. Jendela sistem muncul secara otomatis, memuntahkan rentetan notifikasi yang mem

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 8 Keadilan

    Bab 8: keadilanDebu pertempuran telah mengendap, namun atmosfer di Aula Utama Akademi Aethelgard justru memuncak hingga ke titik didih. Di tengah ruangan yang megah itu, Raka berdiri dengan tenang meskipun kedua tangannya terborgol sihir penekan mana yang berpendar ungu gelap. Di sampingnya,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status