LOGINBab 6: dungeon
Suasana di Akademi Aethelgard yang biasanya tenang mendadak pecah oleh raungan memekakkan telinga yang seolah merobek langit. Di tengah lapangan upacara, sebuah retakan dimensi berwarna hitam pekat muncul, memuntahkan hawa dingin yang mencekam Dungeon Break Rank S. "Seluruh siswa Rank B ke bawah, evakuasi ke bunker bawah tanah! Ini bukan simulasi!" teriak instruktur kepala dengan wajah pucat. Sesuai prosedur darurat, hanya pemilik Rank A ke atas yang diizinkan menahan gerbang dimensi rank S. Elena dan Bima, sebagai dua jenius Rank SS, otomatis memimpin pasukan elit akademi. Mereka menerjang masuk ke dalam kabut hitam portal sebelum monster-monster di dalamnya meluap ke kota. Satu jam berlalu. Dua jam. Sampai 5 jam, Getaran gempa dari bawah tanah semakin hebat, meruntuhkan beberapa pilar megah akademi. Tidak ada tanda-tanda pasukan elit itu kembali. "Mereka tidak kunjung keluar... Sial, firasatku buruk," gumam Raka yang berdiri di balik garis evakuasi. Matanya yang tajam menganalisis pola getaran tanah. Sebagai jenius taktis, ia tahu getaran itu bukan tanda kemenangan, melainkan tanda keputusasaan. Raka tidak peduli lagi dengan aturan. Saat para instruktur sibuk mengatur barisan pertahanan lapis kedua, ia menyelinap masuk ke dalam pusaran portal hitam itu. Namun, baru beberapa langkah di dalam lorong gua yang lembap dan berbau belerang, sebuah tangan besar menarik jubahnya dengan kasar. "Kak Raka! Jangan gila! Ini zona Rank S!" Marco muncul dari balik kegelapan dengan napas tersengal-sengal. Wajah sang Berserker itu pucat pasi, namun jemarinya menggenggam kapak ganda dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih. Raka menoleh tenang. "Marco? Kenapa kau tidak ikut evakuasi?" "Kalau... kalau Kakak mati di dalam, siapa yang akan bertanggung jawab pada 'isi' ziraku?!" seru Marco setengah histeris, wajahnya memerah antara malu dan takut. "Aku lebih takut memakai popok penuh selamanya daripada mati dimakan monster! Aku akan melindungimu, jadi jangan berani-berani mati, Kak!" Raka tertegun sejenak, melihat ketulusan yang dibalut rasa trauma di mata Marco. Ia mengulurkan tangan dan mengelus rambut berantakan Marco perlahan, persis seperti seorang kakak yang menenangkan adiknya. "Anak baik. Ternyata kau sangat perhatian ya, Marco," ucap Raka lembut. Marco terpaku. Sentuhan itu... hangat. Sangat berbeda dengan didikan ayahnya yang keras dan kaku. Mental Berserker-nya yang biasanya haus darah mendadak melunak, memberikan rasa tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di ruang terdalam dungeon, suasananya bak neraka. Nightmare Behemoth, bos Rank S setinggi sepuluh meter dengan ratusan mata di sekujur tubuhnya, sedang mengamuk. Bima bersimbah darah dan keringat, perisai emas Excalibur-nya sudah retak seribu akibat hantaman cakar monster itu. Elena di belakangnya bersandar pada dinding gua, napasnya pendek-pendek, mana-nya benar-benar kering setelah merapal ratusan mantra es tingkat tinggi. "Bima... aku sudah tidak kuat lagi... tongkatku tidak merespon," bisik Elena dengan bibir membiru. "Tahan, Elena! Sedikit lagi bantuan pasti datang!" teruk Bima, meski ia tahu itu bohong. Sang Behemoth meraung, mengangkat kedua cakar raksasanya yang diselimuti api hitam untuk serangan penghancur terakhir. Saat maut tinggal sejengkal, sebuah melodi lembut mulai mengalun di tengah kegelapan gua. Suara itu tidak kencang, namun anehnya, ia memotong raungan monster dan gemuruh reruntuhan gua. Raka melangkah maju dari bayang-bayang, memegang botol susu artefaknya yang kini berpendar merah muda menyala. [Skill Active: Lullaby of Peace!] Gelombang energi yang sangat teduh, beraroma susu hangat dan bedak bayi, menyapu seluruh ruangan. Sang Nightmare Behemoth yang tadinya sedang dalam puncak amukan tiba-tiba mematung. Cakar raksasanya berhenti di udara. Ratusan mata merahnya perlahan-lahan meredup, kelopaknya memberat. Monster itu menguap sangat lebar hingga taringnya terlihat jelas, lalu dengan gerakan lambat yang canggung, makhluk mengerikan itu meringkuk di lantai dungeon. Ia mendengkur keras, menciptakan angin sepoi-sepoi yang menenangkan. Bima dan Elena melongo.. "Sekarang! Gunakan sisa tenaga kalian selagi 'bayi' ini bermimpi indah!" seru Raka, memecah keheningan dengan suara penuh otoritas. Bima dan Elena tersentak. Mereka tidak menyia-nyiakan keajaiban ini. "Holy Judgement!" "Absolute Zero!" Dua serangan terkuat Rank SS menghantam tepat di jantung sang Behemoth yang sedang tidur lelap tanpa pertahanan. Tubuh raksasa itu hancur menjadi partikel cahaya tanpa sempat terbangun. Dungeon mulai runtuh, tanda bahwa ancaman telah usai. Marco, yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung Raka, langsung jatuh terduduk dengan kaki lemas. "Kak... Kak Raka..." suara Marco bergetar hebat. "Kau benar-benar menidurkan monster Rank S itu seolah dia cuma bayi yang baru habis minum susu?" Marco kemudian meraba bagian belakang zirahnya yang terasa sangat berat, panas, dan menggembung. Ketakutan luar biasa saat melihat Behemoth tadi ternyata memicu "kejutan" biologis yang tak tertahankan di dalam zirahnya. "Dan... Kak... tolong segera ganti ini. Bau lavendernya sudah kalah telak sama bau yang lain... aku tidak bisa jalan kalau begini..." Raka hanya terkekeh pelan sambil menepuk bahu Marco yang lemas. "Kerja bagus, Marco. Kau sudah jadi pengawal yang hebat hari ini". Dengan jentikan jari, popok marco selesai diganti yang baru. Elena dan Bima menghampiri Raka dengan tatapan campur aduk antara syukur, hormat, dan sedikit ngeri. BersambungBab 230: Api NerakaLullaby tiba-tiba terdiam.Matanya membelalak.Tubuhnya bergetar."Ah..."Tangannya mencengkeram kepalanya.Raka langsung menoleh."Kak Lulla?"Lullaby tidak menjawab.Pandangan matanya kosong.Sebuah vision kembali muncul.Dalam bayangan itu—Kael terjatuh.Bima terhempas.Elena berlutut di atas tanah.Marco tidak bergerak.Viper tersungkur di antara bayangan.Kelima anak itu...kalah.Lullaby tersentak."AAAAH!"Tubuhnya hampir jatuh.Raka segera menangkapnya."Kak Lulla!"Napas Lullaby tersengal.Wajahnya pucat."Raka..."Ia menggenggam pakaian Raka."Anak-anak..."Raka membeku."Kau mendapatkan vision lagi?"Lullaby mengangguk.Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Raka.Berbisik.Beberapa detik.Mata Raka langsung melotot."...Apa?"Ia menatap Lullaby.Kemudian melihat ke arah pintu."Kalau begitu..."Raka langsung berbalik."Duke Valerian!"Valerian menoleh."Buka portal.""Untuk siapa?""Anna, Lullaby, Putri Amanda, dan Yang Mulia."Valerian mengerutka
Bab 229: Sang Pangeran PengkhianatRaka kembali menuju aula utama.Di sampingnya berjalan Leonidas sambil membawa Phoenix Bow.Levi kembali bersembunyi di dalam kantong Raka.Sementara Nox bertengger di atas bahu Raka dengan wajah sedikit kesal."Kenapa aku harus ikut?"Raka meliriknya."Karena kalau kau menghilang lagi, aku tidak tahu harus mencarimu di mana."Nox mendengus."Aku tadi cuma ke toilet."Levi muncul sedikit dari kantong."Karena kebanyakan makan.""Diam!"Raka menghela napas.Namun sebelum mereka sampai—BOOOOOOM!Ledakan terdengar dari arah aula.Leonidas langsung menggenggam Phoenix Bow."Apa itu?"Raka mempercepat langkah.Mereka akhirnya sampai di aula utama.Namun pemandangan di sana sudah jauh berbeda.Ratusan bayangan yang sebelumnya memenuhi ruangan kini telah lenyap.Lantai dipenuhi serpihan es.Beberapa bagian dinding masih tertutup lapisan es dari serangan Seraphina.Di tengah aula—Valerian menurunkan tangannya.Napasnya sedikit berat."Gelombang pertama sud
Bab 228: Lima Lawan LimaDi halaman belakang Istana Aethelgard, kedua kubu saling berhadapan.Lima melawan lima.Gareth menggenggam Dark Blade."Kalian pikir dengan menambah jumlah bisa mengubah keadaan?"Bima tersenyum tipis.Bima mengangkat Excalibur."Kita lihat saja."Tiba-tiba—WHOOSH!Lucian menghilang ke dalam bayangan.Bayangan hitam melesat menuju Kael.Namun sebelum mencapainya—SHING!Sebuah belati melesat dan memotong bayangan tersebut.Lucian berhenti.Viper berdiri di depan Kael dengan dua belati di tangannya.Matanya menatap Lucian tajam."Lawanmu bukan dia."Lucian perlahan muncul dari bayangan.Ia tersenyum."Oh?""Akhirnya kau menunjukkan diri lagi."Viper memutar salah satu belatinya."Kau terlalu banyak bicara, Lucian."WHOOSH!Lucian menghilang.Viper langsung bergerak.WHOOSH!Keduanya menghilang hampir bersamaan.CLANG!Belati Viper beradu dengan pisau bayangan Lucian.Viper menyerang dari samping.[Shadow Slash]SLASH!Lucian menunduk.Serangan berikutnya datan
Bab 227: Telur Raja Phoenix Leonidas masih menggenggam Phoenix Bow. "Phoenix adalah lambang Kerajaan Solaris." Raka menatapnya. "Solaris?" Leonidas mengangguk. "Sejak zaman dahulu, keluarga kerajaan Solaris memiliki hubungan dengan Phoenix." "Tak hanya aku." "Para keturunan raja juga memiliki familiar dari jenis Phoenix." Nox memperhatikan Leonidas. "Kalau begitu..." "Apa kau mengenal Ignia?" Ekspresi Leonidas berubah. "Ignia..." Ia menatap Phoenix Bow di tangannya. "Raja Phoenix." "Dia terakhir terlihat sekitar dua puluh tahun yang lalu." Raka mengerutkan kening. "Dua puluh tahun?" Levi tiba-tiba muncul dari kantong Raka. "Kalau begitu waktunya cocok." Leonidas menoleh. "Maksudmu?" Levi menguap. "Saat House Nightfall diserang..." "Kami empat Calamity masih bertemu." Leonidas terdiam. "...Kami?" Levi menunjuk dirinya sendiri. "Ya." "Nox, aku, Ignia, dan Fen..." Leonidas perlahan menggaruk kepalanya. "Ehm..." Ia menatap Raka. "Aku tidak salah dengar, k
Bab 226: Api PhoenixRatusan bayangan Darius masih memenuhi Istana Aethelgard.Namun di tengah kekacauan itu, Raka tetap berdiri tenang.Cahaya merah muda dari [Playpen Area] terus menyelimuti tubuhnya."Semua bangsawan!"Raka mengangkat tangannya."Jangan panik!"Cahaya merah muda tiba-tiba meluas.WHOOOOOOM!Area perlindungan membesar.Melewati aula.Melewati lorong.Bahkan sampai ke halaman istana.Para bangsawan yang sebelumnya ketakutan kini menyadari sesuatu.Senjata para bayangan yang memasuki area tersebut berubah menjadi mainan.TING!Pedang berubah menjadi boneka kayu.Tombak berubah menjadi tongkat mainan.Busur berubah menjadi mainan berbentuk kelinci.Seorang bangsawan wanita melihat tombak di tangannya berubah menjadi tongkat mainan berpita merah muda."...Ini bercanda?"Seorang bangsawan menatap boneka kayu di tangannya."...Sebenarnya class orang ini apa?"Raka tidak menjawab.Ia justru menoleh kepada Veronika."Veronika.""Hm?""Kita harus keluar dari sini."Raka meng
Bab 225: Bayangan dan BintangKael berdiri di hadapan Gareth.Cahaya keemasan masih menyelimuti tubuhnya.Di belakangnya, Alaric berlutut sambil menopang tubuh dengan Heaven Splitter.Gareth mengangkat Dark Sword.Alaric segera memperingatkan putranya."Kael...""Hati-hati.""Pedang hitamnya berbahaya."Kael melirik ayahnya."Aku akan berhati-hati."Gareth menyeringai."Bagus.""Karena aku juga tidak akan menahan diri."Namun sebelum Kael kembali menyerang—Ia menoleh ke belakang."Di mana Crow?"Alaric mengerutkan kening."Crow?"Kael melihat ke arah lain.Di kejauhan, Mantis dan Crow masih berhadapan dengan Shade, Fang, dan Raven.Ketiga mantan assassin itu bergerak tanpa kesadaran.Mata mereka masih gelap.Selene mengendalikan tubuh mereka seperti boneka."Serang!"Shade langsung melemparkan pisaunya.Fang menyusul dengan—[Shuriken Strike!]SHING! SHING! SHING!Pul
Bab 7: playpen Cahaya keemasan dan biru safir meledak dari tubuh Bima dan Elena saat partikel cahaya Nightmare Behemoth yang hancur terserap ke dalam inti mana mereka. Di dunia Aethelgard, mengalahkan monster Rank S bukan sekadar kemenangan, melainkan lonjakan evolusi yang masif bagi para pe
Bab 5: Anak AsuhSore itu, Raka duduk di bangku taman akademi yang tenang, membuka antarmuka sistem miliknya yang selama ini ia abaikan karena dianggap sampah. Namun, ada yang berbeda kali ini. Sebuah jendela transparan berkedip di depan matanya.> [System Update: Management List]> A
Bab 4: Negosiasi di Ruang MenaraPintu kayu jati raksasa dengan ukiran naga itu tertutup rapat, namun tidak cukup tebal untuk menghalangi pendengaran tajam dua siswa Rank SS yang menempelkan telinga mereka di luar."Bisa dengar sesuatu?" bisik Bima, tangannya masih gemetar memegang gagang
Bab 3 Aura Sepanjang lorong menuju Menara Utama, Ratusan murid Akademi Aethelgard yang tadi berada di aula kini berkerumun. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap mata Raka Nightfall secara langsung. Pemuda berusia 20 tahun itu berjalan dengan langkah santai, posturnya tegap dan tenang







