Se connecterBab 73: Dede Ian
Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kamar utama Raka di Menara Timur, menjatuhkan berkas cahaya hangat tepat di atas sebuah keranjang bayi kayu berukuran raksasa. Dari dalam keranjang tersebut, sesosok pemuda berusia 20 tahun dengan wajah luar biasa tampan nan klimis perlahan membuka matanya. Rambut peraknya sedikit berantakan di atas bantal beludru. "Hoammm... Mmph... Ngghh..." Ia menguap panjang, namun suaranya terdengar sangat teredam dBab 232: Cahaya dan KegelapanHalaman belakang Istana Aethelgard.Gareth memutar Dark Blade.Aura gelap mengalir di sepanjang bilahnya."Kau tahu, Tuan Muda...""Ayahmu juga pernah berdiri di hadapanku seperti ini."Kael menggenggam Aegis of the Sun.Perisai emas itu bersinar redup."Dan dia masih hidup."Gareth menyeringai."Karena aku membiarkannya."Kael mengangkat tangan kanannya.Cahaya berkumpul.Membentuk pedang.[Light Sword!]"Kali ini aku yang tidak akan membiarkanmu."---WHOOSH!Gareth melesat duluan.Dark Blade menebas horizontal.[Dark Crescent!]Gelombang sabit hitam meluncur ke arah Kael.Kael mengangkat Aegis of the Sun.BOOOOM!Gelombang gelap menghantam perisai.Kael terseret mundur.Kakinya membuat garis di tanah.Tapi ia tetap berdiri."Perisai itu..."Gareth menyipitkan mata."Artefak kelas atas."Kael menurunkan perisai."Artefak yang memilihku saat awakening.""Sama seperti Excalibur memilih Bima."Ia melesat maju.[Light Speed!]Tubuhnya berubah menjadi cahaya
Bab 231: Bayangan Melawan BayanganDi atas atap Istana Aethelgard.Angin malam berhembus.Viper berdiri di ujung atap.Dua Poison Dagger di tangannya.Di sisi lain—Lucian muncul dari bayangan.Belati bayangan berputar di jarinya."Sudah lama sekali, Viper."Viper memutar belatinya."Tidak cukup lama."Lucian tersenyum."Kau tahu, dulu aku mengagumimu.""Assassin terbaik dari Shadow Guild."Ia memiringkan kepalanya."Tapi sekarang kau jadi pelayan babysitter itu."Viper tidak bereaksi."Kau terlalu banyak bicara."WHOOSH!Viper menghilang.[Absolute Stealth!]Lucian menyipitkan mata.Keheningan.Tidak ada suara langkah.Tidak ada aura.Tidak ada keberadaan."Menghilangkan seluruh keberadaan, huh?"Lucian mengangkat tangannya."Tapi aku tidak perlu melihatmu."[Shadow Bind!]SHING! SHING! SHING!Rantai bayangan melesat ke segala arah.Menutupi seluruh atap.CLANG!Satu rantai mengenai sesuatu.Viper muncul kembali.Poison Dagger-nya menahan rantai bayangan.Lucian menyeringai."Ketemu.
Bab 230: Api NerakaLullaby tiba-tiba terdiam.Matanya membelalak.Tubuhnya bergetar."Ah..."Tangannya mencengkeram kepalanya.Raka langsung menoleh."Kak Lulla?"Lullaby tidak menjawab.Pandangan matanya kosong.Sebuah vision kembali muncul.Dalam bayangan itu—Kael terjatuh.Bima terhempas.Elena berlutut di atas tanah.Marco tidak bergerak.Viper tersungkur di antara bayangan.Kelima anak itu...kalah.Lullaby tersentak."AAAAH!"Tubuhnya hampir jatuh.Raka segera menangkapnya."Kak Lulla!"Napas Lullaby tersengal.Wajahnya pucat."Raka..."Ia menggenggam pakaian Raka."Anak-anak..."Raka membeku."Kau mendapatkan vision lagi?"Lullaby mengangguk.Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Raka.Berbisik.Beberapa detik.Mata Raka langsung melotot."...Apa?"Ia menatap Lullaby.Kemudian melihat ke arah pintu."Kalau begitu..."Raka langsung berbalik."Duke Valerian!"Valerian menoleh."Buka portal.""Untuk siapa?""Anna, Lullaby, Putri Amanda, dan Yang Mulia."Valerian mengerutka
Bab 229: Sang Pangeran PengkhianatRaka kembali menuju aula utama.Di sampingnya berjalan Leonidas sambil membawa Phoenix Bow.Levi kembali bersembunyi di dalam kantong Raka.Sementara Nox bertengger di atas bahu Raka dengan wajah sedikit kesal."Kenapa aku harus ikut?"Raka meliriknya."Karena kalau kau menghilang lagi, aku tidak tahu harus mencarimu di mana."Nox mendengus."Aku tadi cuma ke toilet."Levi muncul sedikit dari kantong."Karena kebanyakan makan.""Diam!"Raka menghela napas.Namun sebelum mereka sampai—BOOOOOOM!Ledakan terdengar dari arah aula.Leonidas langsung menggenggam Phoenix Bow."Apa itu?"Raka mempercepat langkah.Mereka akhirnya sampai di aula utama.Namun pemandangan di sana sudah jauh berbeda.Ratusan bayangan yang sebelumnya memenuhi ruangan kini telah lenyap.Lantai dipenuhi serpihan es.Beberapa bagian dinding masih tertutup lapisan es dari serangan Seraphina.Di tengah aula—Valerian menurunkan tangannya.Napasnya sedikit berat."Gelombang pertama sud
Bab 228: Lima Lawan LimaDi halaman belakang Istana Aethelgard, kedua kubu saling berhadapan.Lima melawan lima.Gareth menggenggam Dark Blade."Kalian pikir dengan menambah jumlah bisa mengubah keadaan?"Bima tersenyum tipis.Bima mengangkat Excalibur."Kita lihat saja."Tiba-tiba—WHOOSH!Lucian menghilang ke dalam bayangan.Bayangan hitam melesat menuju Kael.Namun sebelum mencapainya—SHING!Sebuah belati melesat dan memotong bayangan tersebut.Lucian berhenti.Viper berdiri di depan Kael dengan dua belati di tangannya.Matanya menatap Lucian tajam."Lawanmu bukan dia."Lucian perlahan muncul dari bayangan.Ia tersenyum."Oh?""Akhirnya kau menunjukkan diri lagi."Viper memutar salah satu belatinya."Kau terlalu banyak bicara, Lucian."WHOOSH!Lucian menghilang.Viper langsung bergerak.WHOOSH!Keduanya menghilang hampir bersamaan.CLANG!Belati Viper beradu dengan pisau bayangan Lucian.Viper menyerang dari samping.[Shadow Slash]SLASH!Lucian menunduk.Serangan berikutnya datan
Bab 227: Telur Raja Phoenix Leonidas masih menggenggam Phoenix Bow. "Phoenix adalah lambang Kerajaan Solaris." Raka menatapnya. "Solaris?" Leonidas mengangguk. "Sejak zaman dahulu, keluarga kerajaan Solaris memiliki hubungan dengan Phoenix." "Tak hanya aku." "Para keturunan raja juga memiliki familiar dari jenis Phoenix." Nox memperhatikan Leonidas. "Kalau begitu..." "Apa kau mengenal Ignia?" Ekspresi Leonidas berubah. "Ignia..." Ia menatap Phoenix Bow di tangannya. "Raja Phoenix." "Dia terakhir terlihat sekitar dua puluh tahun yang lalu." Raka mengerutkan kening. "Dua puluh tahun?" Levi tiba-tiba muncul dari kantong Raka. "Kalau begitu waktunya cocok." Leonidas menoleh. "Maksudmu?" Levi menguap. "Saat House Nightfall diserang..." "Kami empat Calamity masih bertemu." Leonidas terdiam. "...Kami?" Levi menunjuk dirinya sendiri. "Ya." "Nox, aku, Ignia, dan Fen..." Leonidas perlahan menggaruk kepalanya. "Ehm..." Ia menatap Raka. "Aku tidak salah dengar, k
Bab 11: Bangsawan Di sudut gelap kandang kuda akademi yang berbau jerami dan tanah basah, Kael mengerang frustrasi. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol ekstrem, memancarkan aura emas kemerahan khas ksatria Rank A yang sedang memusatkan seluruh energinya. Tangannya mencengkeram erat ujung pop
Bab 10: berontak Halaman belakang akademi kini menjadi sangat bersih, bahkan hampir mengkilap. Belasan senior dari tim elit Golden Griffon baru saja melesat pergi secepat kilat setelah meletakkan sapu mereka. Mereka meninggalkan debu yang mengepul dan aroma ketakutan yang pekat; seolah-olah mereka
Bab 78: Harga Sultan Di tengah himpitan tekanan aura emas [Royal Dragon Pressure] yang membuat paving blok pelataran arena retak halus, Raka Nightfall tetap berdiri tegak. Dengan celemek beruang kesayangannya yang berkibar pelan, ia justru melipat kedua lengannya dengan santai, memancarkan
Bab 64: Resonansi Sang Naga "Di sudut kiri, Cahaya Aethelgard, BIMA IRONHEART! Dan di sudut kanan, Matahari Solaris, PRINCE LEONIDAS!" suara penyiar menggelegar ke seluruh penjuru stadion. Sorak-sorai penonton kembali pecah, Jika pada pertandingan Elena melawan Seraphina tribun dikuas







