เข้าสู่ระบบBab 7: playpen
Cahaya keemasan dan biru safir meledak dari tubuh Bima dan Elena saat partikel cahaya Nightmare Behemoth yang hancur terserap ke dalam inti mana mereka. Di dunia Aethelgard, mengalahkan monster Rank S bukan sekadar kemenangan, melainkan lonjakan evolusi yang masif bagi para penyihir dan ksatria. > [System Notification: Evolution Detected] > Bima (Holy Knight): Skill Unlocked - Sun's Aegis (Perisai Cahaya Tak Tertembus). > Elena (High Mage): Skill Unlocked - Blizzard Reign (Manipulasi Es Skala Besar). Namun, getaran sistem yang paling keras justru muncul di hadapan Raka. Jendela transparan berwarna merah muda muncul dengan tulisan yang berpendar terang, menutupi seluruh pandangannya. > [System Notification: Evolution Detected] > Raka (Babysitter): Skill Unlocked - Playpen Area (Taman Bermain Aman). > Deskripsi: Mengubah area sekitar menjadi zona steril radius 50 meter. Menetralkan semua benda berbahaya (senjata, jebakan, racun) dan mengubahnya menjadi benda ramah anak. Keamanan adalah prioritas utama pengasuh! Efek tambahan : regenerasi tubuh meningkat di dalam area Raka menatap puing-puing dungeon yang masih berasap dan tajam. Masih banyak sisa energi hitam yang bisa melukai Elena dan Bima yang sedang kelelahan. Tanpa ragu, ia mengangkat artefa botol susunya tinggi-tinggi. "Playpen Area!" Seketika, gelombang energi lembut berwarna pastel memancar dari artefak Raka, menyapu seluruh ruangan bawah tanah itu. Pemandangan mengerikan di dalam gua berubah secara ajaib dalam hitungan detik. Dinding batu yang tajam dan runcing tiba-tiba dilapisi busa empuk berwarna-warni dengan pola jerapah dan gajah. Lantai gua yang dingin, keras, dan berlumut berubah menjadi karpet puzzle berbahan karet yang sangat nyaman dan empuk. "Eh? Apa yang terjadi?! Kenapa tanahnya jadi membal?!" Bima berseru kaget. Ia baru saja ingin menyarungkan pedang Excalibur-nya yang agung dengan gaya pahlawan. KLING! Dalam sekejap, logam suci yang mampu membelah gunung itu berubah bentuk. Besi tajamnya menyusut dan berubah menjadi plastik kuning cerah yang bulat tumpul di ujungnya. Saat Bima mencoba mengayunkannya karena panik, tidak ada suara denting pedang, melainkan: Kicik-kicik-kicik! "PEDANGKU! EXCALIBUR-KU JADI RATTLE BAYI RAKSASA?!" Bima berteriak histeris, menatap mainan kerincing di tangannya dengan wajah hancur. "Aura sucinya ke mana?! Kenapa bunyinya lucu sekali?!" Elena pun tak luput dari "keamanan" Raka. Tongkat Staff of Eternal Frost miliknya yang elegan berubah menjadi tongkat gelembung sabun plastik berwarna pink. Setiap kali ia mencoba merapal mantra es tingkat tinggi, yang keluar justru gelembung-gelembung sabun pelangi yang beterbangan dengan indah di udara. "Raka! Kembalikan tongkatku! Aku High Mage, bukan bocah 5 tahun!" Elena merengek, meski di dalam hati ia merasa area ini sangat hangat dan rasa lelahnya hilang seketika. Marco, yang masih lemas di sudut, melihat kapak ganda raksasanya berubah menjadi bantal empuk berbentuk bintang besar. Ia memeluk bantal itu tanpa sadar, mencium aroma bedak bayi yang keluar dari serat kainnya. "Rasanya... aku ingin tidur siang di sini saja," gumamnya dengan mata sayu yang mulai terpejam. Raka berjalan santai di atas karpet empuk, merasa benar-benar memegang kendali penuh. "Di area ini, tidak ada yang boleh terluka. Senjata adalah benda tajam yang berbahaya bagi anak kecil, jadi sistem mengubahnya agar lebih... edukatif dan aman bagi kalian." Tiba-tiba, gerombolan sisa monster kecil, Shadow Imp, melompat dari kegelapan untuk menyerang Raka. Namun, begitu mereka memasuki radius Playpen Area, tubuh mereka yang menyeramkan berubah menjadi boneka berbulu (plushie) yang mengeluarkan bunyi cit-cit saat terinjak. "Luar biasa," gumam Raka puas. "Dengan ini, aku bisa memastikan kalian semua selamat sampai ke permukaan." "Tapi harga diri kami yang terluka parah, Raka!" teriak Bima sambil terus tanpa sengaja menggoyangkan rattle Excalibur-nya yang berbunyi kicik-kicik. Raka hanya tertawa kecil. Ia menoleh ke arah mulut gua. Di sana, rombongan instruktur dan Valerius van Deimos baru saja sampai dengan senjata terhunus untuk memberikan bantuan darurat. "Karena bos monster sudah mati, sebentar lagi dungeon ini akan tertutup. Ayo cepat keluar!" perintah Raka dengan nada otoritas seorang ayah yang menyuruh anak-anaknya pulang karena sudah maghrib. Raka dengan sigap memapah Elena yang masih lemas, sementara Bima berjalan di belakang mereka dengan wajah linglung. Bima terus-menerus menggoyangkan tangannya, mencoba memicu aura suci Excalibur, tapi yang terdengar hanyalah bunyi plastik beradu. Kicik-kicik-kicik! "Bima bisakah kau berhenti memainkan benda itu," gerutu elena. Di luar gerbang dimensi, suasana sangat mencekam. Valerius van Deimos berdiri di barisan terdepan bersama para instruktur elit. Mereka sudah menyiapkan mantra penghancur skala besar, bersiap menghadapi apa pun yang keluar dari kabut hitam itu. "Siapkan posisi! Jika monster itu keluar, hantam dengan segala yang kita punya!" teriak Valerius. Tepat saat itu, kabut hitam memudar. Sosok pertama yang muncul bukanlah Nightmare Behemoth yang mengerikan, melainkan Raka yang berjalan santai sambil merangkul bahu Elena. Di belakangnya, Marco mengekor sambil memeluk bantal bintang besar, dan Bima menutup barisan dengan gaya lesu. Hening total. Seluruh pasukan akademi menurunkan senjata mereka dengan wajah melongo. "Raka?! Apa yang dilakukan Rank F itu di dalam sana?!" teriak salah satu instruktur senior. "Dan lihat itu... Elena? Bima? Kenapa kalian... kenapa kalian membawa mainan bayi?!" Valerius van Deimos melangkah maju, matanya hampir keluar dari kelopak saat melihat putranya. "Marco?! Kenapa kau ada di sana? Dan apa itu di tanganmu? Bantal bayi?!" Marco, yang melihat ayahnya, tiba-tiba teringat harga dirinya. Ia mencoba membuang bantal bintang itu. "I-ini... ini taktik pertahanan baru, Ayah! Empuk tapi mematikan!" Valerius mengabaikan igauan anaknya dan beralih ke Bima. "Bima! Kau adalah Holy Knight masa depan! Jelaskan padaku kenapa kau membawa rattle plastik yang bunyinya menyakiti telingaku?!" Bima hanya menatap hampa ke arah rattle-nya. "Pak Kepala Sekolah...ini pedang ku.. jangan tanya saya. Tanya 'babysitter' di sebelah sana," tunjuk Bima dengan dagunya ke arah Raka. Raka berdeham pelan, aura merah mudanya perlahan memudar seiring tertutupnya gerbang dungeon. Playpen area berakhir, suara POOF kecil terdengar. Bantal Marco lenyap berubah menjadi kapak, tongkat sabun Elena kembali jadi tongkat sihir, dan rattle Bima kembali menjadi pedang emas yang megah. "Maaf atas keterlambatannya, Pak Valerius," ucap Raka tenang sambil menyerahkan Elena ke tim medis. "Dungeon sudah bersih. Bos Rank S sudah 'tidur siang' selamanya. Dan mengenai anak Anda, Marco... dia sudah jadi anak baik hari ini." Valerius terdiam. Dia melihat luka-luka di tubuh Bima dan Elena yang mulai menutup karena efek relaksasi dari Playpen Area. Dia juga melihat Marco, yang biasanya sombong dan kasar, kini berdiri tegak di samping Raka dengan tatapan patuh yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Kau... kau menyelamatkan mereka?" tanya Valerius dengan suara rendah, hampir tak terdengar. "Hanya memastikan mereka tidak telat jam tidur, Pak," jawab Raka santai sambil mengedipkan mata. Di saat para guru masih bingung antara ingin memuji atau menghukum, Bima tiba-tiba mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Mulai hari ini, siapa pun yang menghina Raka sebagai Rank F, akan berhadapan dengan pedangku! Karena hanya dia yang bisa membuat monster Rank S mendengkur seperti kucing!" Elena mengangguk setuju, meskipun wajahnya memerah karena malu teringat gelembung sabun tadi. Sementara Marco? Dia diam-diam meraba bagian belakang zirahnya, memastikan popok "rahasia"-nya masih terpasang dengan nyaman. BersambungBab 300 — Cinta Ayah (Season 1 Finale)Tiga hari berlalu.Istana Aethelgard berdiri kembali. Lebih kokoh. Setiap batu yang tersusun menyimpan cerita. Keringat rakyat. Tawa anak-anak. Tangan raja yang ikut mengangkat balok.Dan di samping Momo Cafe —Sebuah bangunan baru.Dua lantai. Dinding putih bersih. Jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk. Halaman luas dengan ayunan dan bangku-bangku kayu. Taman kecil di sisi kiri — bunga-bunga yang baru ditanam oleh Elena.Di atas pintu utama, sebuah papan nama kosong menunggu diberi nama.Rakyat berkumpul. Bangsawan hadir. Anak-anak asuh Raka berdiri di barisan depan.Pita merah membentang di depan pintu utama.Lady Veronika melangkah maju, membawa gunting emas di atas bantal beludru. Senyumnya anggun — tapi matanya hangat."Raka."Dia menyerahkan gunting itu."Ini milikmu. Gedung ini ada karena kerja kerasmu — dan keputusanmu."Raka menerima gunting itu. Menatapnya sejenak.Veronika tersenyum."Ayo, gunting pitanya. Kau aka
Bab 299 — Gotong Royong Pintu Momo Cafe terbuka.Cahaya pagi menyambut mereka — hangat, cerah, dan penuh suara.Raka melangkah keluar. Diikuti yang lain.Dan pemandangan di depan mereka—RAMAI.Ratusan rakyat Aethelgard bergerak di reruntuhan istana. Batu diangkat. Kayu digergaji. Tali ditarik. Dinding mulai berdiri kembali — satu per satu, dengan tangan-tangan yang penuh keringat.Tidak ada sihir. Tidak ada perintah raja.Hanya rakyat biasa — petani, pedagang, tukang kayu, pandai besi — bekerja bersama. Bahu-membahu.Seorang pria tua mengangkat balok kayu bersama pemuda yang bahkan belum cukup umur untuk masuk akademi. Dua wanita menyusun bata dengan presisi yang mengalahkan tukang bangunan profesional.Di kejauhan, beberapa anak kecil mengumpulkan batu-batu kecil. Mereka tidak cukup kuat untuk mengangkat balok, tetapi tetap ingin membantu.Seorang tukang kayu tertawa ketika seorang anak menyerahkan palu yang hampir sebesar lengannya."Terima kasih, Paman!""Jangan sampai kena kakim
Bab 298 — Kabar BaikRaka menatap Veronika yang baru saja duduk di kursi depan meja bar."Kabar baik apa, Lady?"Veronika tersenyum. Bukan senyum bisnis — senyum puas."Lemonade Sunlight botolan... sukses besar."Hening sejenak."Kota-kota besar di seluruh Aethelgard sudah memesan ulang tiga kali dalam sebulan. Efek peremajaan kulitnya langsung terasa — pelanggan bisa melihat hasilnya dalam hitungan hari."Veronika mengeluarkan selembar laporan dari tasnya dan meletakkannya di meja."Dan bukan hanya itu. Karena efeknya nyata, permintaan di lini kosmetik bisniku juga ikut meningkat. Logikanya sederhana — setelah tampil lebih muda, mereka ingin tampil lebih cantik."Dia mengetuk laporan itu dengan jari."Keuntungan bersih bulan ini — tiga kali lipat dari proyeksi awal."Raka melotot."Tiga kali lipat?"Veronika menatap Raka."Sesuai kesepakatan kita — hasil keuntungan dari Lemonade Sunlight akan digunakan untuk mendirikan panti asuhan."DEG.Raka terdiam.Di hadapannya — panel transpara
Bab 297 — Permintaan Raka bangkit dari kasur. Pelan. Tubuhnya masih protes — tapi kepalanya sudah jernih. Dia menatap Helios yang masih memakai popok motif kucing. Lalu Marco yang masih pakai onesie motif beruang. Raka menjentikkan jari.CTEK. FWUSH. Cahaya tipis menyelimuti keduanya — dan dalam sekejap, pakaian bangsawan mereka kembali. Jubah kerajaan Helios. Setelan resmi Marco. Amanda menatap dari belakang. "Yaah... padahal lucu." PLAK. Helios menjitak kepala Amanda. "Lucu darimana?!" Amanda memegangi kepalanya. "Aduh, kak" Helios terdiam. Wajahnya yang tadi merah karena malu perlahan melunak. Lalu menundukkan kepala. "...Terima kasih, Kak Raka." Marco juga membungkuk. Matanya berkaca-kaca — tapi dia cepat-cepat mengusapnya. "Terima kasih, sudah mengembalikan pakaian kami" Raka mengangguk. "Sam
Bab 296 — RumahGelap.Hangat.Raka berdiri di tempat yang tidak ia kenali — tapi TERASA familiar.Padang rumput luas. Langit senja. Angin sepoi yang membawa aroma masakan rumah.Dan di depannya — dua orang.Wanita berambut panjang. Senyumnya lembut. Tangan yang dulu selalu mengelus kepalanya.Pria bertubuh tegap. Wajah tegas, tapi mata yang hangat.Ibu. Ayah."...Ibu? Ayah?"Ibunya tersenyum."Kamu sudah besar, Raka."Ayahnya mengangguk. Bangga."Kami melihat semuanya."Raka merasakan matanya panas."Aku... aku cuma babysitter—""Kamu menjaga mereka." Ibunya mendekat. Tangannya menyentuh pipi Raka — hangat. Nyata. "Itu lebih dari cukup."Ayahnya menepuk bahunya."Pulang, Raka. Mereka menunggumu."Raka ingin mengatakan sesuatu. Banyak hal yang selama ini tidak sempat ia ucapkan.Tapi suaranya tidak keluar.
Bab 295 — Terlambat Derap kaki. Ratusan. Berat. Teratur. Debu terangkat dari jalur utama menuju medan perang — barisan demi barisan prajurit berlapis armor, membawa pedang, tombak, perisai. Di barisan depan — dua orang. Frans. Informan guild. Pedang terhunus. Wajah tegang. Matanya menyipit menatap langit yang masih gelap oleh sisa-sisa aura kegelapan. Dan di sebelahnya — Roland. Ketua Guild Petualang. Pria tua yang bahunya selebar lemari, membawa kapak raksasa di punggungnya. "PERCEPAT LANGKAH!" Roland berteriak ke belakang. "RAJA IBLIS TIDAK AKAN MENUNGGU KITA—" Mereka tiba di medan perang. Lalu berhenti. ... Tidak ada pertarungan. Tidak ada kegelapan yang membara. Tidak ada Raja Iblis. Yang ada — tanah gosong. Bekas lingkaran segel. Kawah-kawah bekas ledakan. Dan sekelompok orang yang duduk kelelahan di antara reruntuhan. Frans menur
Bab 10: berontak Halaman belakang akademi kini menjadi sangat bersih, bahkan hampir mengkilap. Belasan senior dari tim elit Golden Griffon baru saja melesat pergi secepat kilat setelah meletakkan sapu mereka. Mereka meninggalkan debu yang mengepul dan aroma ketakutan yang pekat; seolah-olah mereka
Bab 9: disiplin Sambil lanjut menyapu dedaunan kering yang berguguran di halaman belakang akademi, Raka merasakan saku celananya bergetar hebat. Ia merogoh botol susu artefaknya yang kini berpendar merah muda lembut. Jendela sistem muncul secara otomatis, memuntahkan rentetan notifikasi yang mem
Bab 8: keadilanDebu pertempuran telah mengendap, namun atmosfer di Aula Utama Akademi Aethelgard justru memuncak hingga ke titik didih. Di tengah ruangan yang megah itu, Raka berdiri dengan tenang meskipun kedua tangannya terborgol sihir penekan mana yang berpendar ungu gelap. Di sampingnya,
Bab 6: dungeonSuasana di Akademi Aethelgard yang biasanya tenang mendadak pecah oleh raungan memekakkan telinga yang seolah merobek langit. Di tengah lapangan upacara, sebuah retakan dimensi berwarna hitam pekat muncul, memuntahkan hawa dingin yang mencekam Dungeon Break Rank S."Se







