LOGINBab 13: Paket
kediaman Gold Glave yang megah dan berlapis beludru merah, suasana malam itu terasa seperti ruang gawat darurat yang sangat absurd. Kael berdiri di tengah ruangan dengan posisi sedikit mengangkang, wajahnya pucat pasi bercampur merah padam. Di sekelilingnya, lima Master Penyihir bergelar Rank A dan S yang bekerja khusus untuk keluarganya sedang merapal mantra tanpa henti. Keringat sebesar biji jagung membasahi dahi para penyihir elit tersebut. "Sekali lagi! FokusBab 242: Kelahiran HeliosRuang tahta membeku.Bukan karena es Valerian. Bukan karena sihir siapa pun.Tapi karena kata-kata itu."Aku tidak—"Raja Aldric tidak melanjutkan kalimatnya.Karena Helios sudah lebih dulu bicara."Tidak apa?" Helios memiringkan kepalanya. Api hitam di sekelilingnya bergerak pelan — seperti ular yang menunggu perintah. "Tidak bohong? Tidak menyembunyikan sesuatu?""Helios—""DIAM!"FWOOOOM!!!Api hitam meledak. Pilar-pilar api menghantam sisi kiri dan kanan ruangan. Puing berjatuhan. Amanda hampir kehilangan konsentrasi — Holy Blessing berkedip lagi.Richard mengangkat perisainya — melindungi Raja dari pecahan batu.Tapi Raja Aldric tidak bergerak.Ia tetap berdiri. Menatap Helios."Kau mau tahu kenapa aku mengatakan kau bukan ayahku?"Helios mengangkat tangannya. Api hitam membentuk lingkaran di sekelilingnya."Karena aku sudah tahu semuanya.""Tentang ibuku."Amanda tersentak.Ibu Kak Helios...?Amanda hampir tidak pernah mendengar tentangnya. Yang ia tahu
Bab 241: Ruang Tahta yang Terkepung Ruang tahta Istana Aethelgard. Api hitam merambat di dinding. Di pilar. Di lantai marmer yang sudah meleleh setengahnya. Udara panas — bukan panas biasa, tapi panas yang membakar dari dalam. Fire Hell. Helios berdiri di tengah kobaran. Tenang. Seperti api itu adalah bagian dari tubuhnya. Karena memang begitu. [True Class: Fire Hell Manipulator — Rank SSS] Gelombang api hitam menyapu ruangan lagi. FWOOOOOSH!!! Richard Ironheart menancapkan perisainya. [Skill Active : Holy Sanctuary] Tiga lapis barrier pelindung dari cahaya muncul di udara — dinding pelindung di depan Raja Aldric. Api hitam menghantam perisai. KRAAANG!!! Perisai bergetar. Retak menjalar di permukaan baja. Richard menggertakkan giginya. Kakinya terdorong mundur. Api ini makin panas... Perisaiku tidak akan bertahan la
Bab 240: Cookies & ChaosSayap timur Istana Aethelgard.Marco berdiri di tengah koridor yang hancur.Pilar-pilar retak. Puing berserakan. Bekas pertarungan sebelumnya masih tercetak di dinding — lubang, retakan, goresan cakar.Tapi Marco tidak peduli.Ia mengunyah.Santai.Di tengah pertarungan.Cookies Strong Banana — hadiah dari Kak Raka yang dibawa Anna. Rasanya seperti pisang goreng yang dicampur protein shake. Aneh. Tapi enak.Dan setiap gigitan — ototnya membesar.Bukan sedikit.Bukan bertahap.Terlihat.Lengannya yang sudah besar kini membengkak — urat-urat menonjol seperti akar pohon. Bahunya melebar. Kakinya menebal.Marco menelan gigitan terakhir. Meremahkan jari-jarinya.KREK. KREK. KREK.Di depannya — bayangan raksasa Darius berdiri. Tingginya sepuluh meter. Terbuat dari kegelapan pekat. Matanya menyala ungu.Bayangan ra
Bab 239: Calamity of DragonDi atap istana.Viper tersungkur. Darah menggenang di bawahnya.Kedua belatinya tergeletak jauh dari jangkauan.Napasnya pendek. Dangkal. Setiap tarikan terasa seperti menelan pecahan kaca.Berapa rusuk yang patah?Tiga? Empat?Sudah tidak penting.Tubuhnya hancur. Shadow Bomb Lucian meledak tepat di depannya — gelombang kejutnya meremukkan tulang dan merobek otot dari dalam.Bayangan di bawah tubuhnya bergerak. Merambat naik. Perlahan menelan kakinya — dingin, seperti tenggelam dalam lumpur hitam.Lucian berdiri di atasnya. Pisau bayangan berputar di jari-jarinya. Santai. Seperti memainkan koin."Kau bertahan cukup lama untuk ukuran assassin."Viper mencoba menggerakkan tangannya. Jari-jarinya berkedut — lalu berhenti.Gelombang kejut Shadow Bomb sudah menghancurkan tubuhnya dari dalam. Otot-ototnya tidak merespons."Sial..."Lucian memiringkan kepalanya."Kata-kata terakhir?"Viper mendengus. Darah keluar dari sudut mulutnya."Belum... memikirkannya...""
Bab 238: Kelulusan BimaRaka menatap Bima yang terbaring."Sepertinya ada yang butuh ganti popok."Ctek.[Instant Diaper Change]Lalu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.Botol susu.Mordred mengernyit."Apa—"Raka mengabaikannya. Membuka tutup botol.Cairan di dalamnya berwarna putih keemasan. Aroma manis menguar — hangat, seperti pagi hari di padang rumput.[Susu Madu Pisang Spesial Raka] [Bahan: Susu Momo + Madu Hachi + Strong Banana] [Efek: Pemulihan Mana Penuh | Regenerasi Tubuh | Pemulihan Stamina | Peningkatan Kekuatan]Raka mendekatkan botol ke mulut Bima."Buka mulutmu.""K-Kak... aku bukan bayi—""Buka."Bima tidak bisa bergerak.Tangannya mati rasa. Kakinya hancur. Tulang rusuknya retak.Ia cuma bisa pasrah.Raka memiringkan botol.Bima minum.Mordred menatap pemandangan di depannya.Pria asing.Menyusui ksatria naga.Dengan botol susu.Di tengah medan perang.Urat di pelipis Mordred berkedut."Apa...""...yang kau lakukan...""...di hadapanku?"Suaranya rendah. Berbahaya.
Bab 237: Bala BantuanBima jatuh.Excalibur masih tergenggam — tapi jari-jarinya sudah mati rasa.Kesadarannya memudar."Kak Raka...""Tolong...""Aku belum cukup kuat..."Di tengah gelapnya — sebuah suara."Bima..."Hangat. Familiar."Waktunya ganti popok."Mata Bima langsung membelalak."KAK RAKAAAAAAA?!"SPLASH!!!Tubuh Bima mendarat di atas kubah air raksasa yang muncul dari bawah.Lembut. Hangat. Menyerap seluruh benturan.Kubah air perlahan turun — membaringkan Bima di tanah dengan hati-hati.Raka berdiri di sampingnya. Tangan kiri di saku. Wajahnya datar."Kau berantakan."Bima terbatuk. "K-Kak... kenapa di sini..."Raka menatapnya datar."Menurutmu?"WHOOOOOOOM!!!Mordred menukik dari langit. Abyss Sword teracung — mengarah langsung ke Raka."Penghalang baru?"
Bab 5: Anak AsuhSore itu, Raka duduk di bangku taman akademi yang tenang, membuka antarmuka sistem miliknya yang selama ini ia abaikan karena dianggap sampah. Namun, ada yang berbeda kali ini. Sebuah jendela transparan berkedip di depan matanya.> [System Update: Management List]> A
Bab 4: Negosiasi di Ruang MenaraPintu kayu jati raksasa dengan ukiran naga itu tertutup rapat, namun tidak cukup tebal untuk menghalangi pendengaran tajam dua siswa Rank SS yang menempelkan telinga mereka di luar."Bisa dengar sesuatu?" bisik Bima, tangannya masih gemetar memegang gagang
Bab 3 Aura Sepanjang lorong menuju Menara Utama, Ratusan murid Akademi Aethelgard yang tadi berada di aula kini berkerumun. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap mata Raka Nightfall secara langsung. Pemuda berusia 20 tahun itu berjalan dengan langkah santai, posturnya tegap dan tenang
Bab 6: dungeonSuasana di Akademi Aethelgard yang biasanya tenang mendadak pecah oleh raungan memekakkan telinga yang seolah merobek langit. Di tengah lapangan upacara, sebuah retakan dimensi berwarna hitam pekat muncul, memuntahkan hawa dingin yang mencekam Dungeon Break Rank S."Se







