LOGINUcapan ibu tadi malam membuat aku tak bisa tidur semalaman, ditambah lagi, aku juga kepikiran soal kondisi Dara, meskipun Mas Adnan sudah memberitahuku kalau dia baik-baik saja, namun tetap saja aku belum juga tenang.
Hari ini Dokter Imam sudah menegaskan kalau aku harus kembali menjalani perawatan barang beberapa hari lagi, namun ketidak sabaran ku untuk segera pulang membuat aku akhirnya memutuskan untuk kabur.Mas Adnan yang tau kalau aku belum bisa pulang tidak datang ke rumah sakit dan hal itu sangat menguntungkan ku, karena jika dia tau rencanaku sudah pasti Mas Adnan melarangnya.Beruntungnya, Mas Adnan sudah sempat membawakan aku baju ganti, jadi aku langsung mengganti baju rumah sakit dan memakai baju tersebut lalu keluar dari kamar secara diam-diam. Namun ternyata ramainya orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit membuatku leluasa untuk keluar tanpa ada yang curiga.Sepanjang perjalanan aku terus menatap keadaan kota yang ku rasa memang sudah berubah, aku bahkan belum mengerti dan masih ragu kenapa bisa aku koma selama itu padahal nyatanya ku rasa kondisiku baik-baik saja.Ckiiit ...!Taksi yang ku tumpangi tiba-tiba berhenti. Rem yang diinjak secara mendadak membuatku terhuyung sampai keningku terbentur kursi depan. Aku langsung protes pada pak supir, namun terlihat sebuah mobil yang menghalangi jalan kami membuatku mengernyitkan dahi."Inara, buka!" seru seseorang seraya mengetuk kaca di sebelahku.Aku segera membuka pintu dan menatap jengkel pada seorang pria yang kini sedang melipat kedua tangannya di dada seraya menggelengkan kepalanya."Pindahkan mobilmu, aku mau lewat!" titahku ketus."Dokter Imam bilang kamu belum boleh pulang. Kenapa ada di sini, hah?" tanyanya seraya mengangkat sebelah alisnya."Aku ini sudah sehat, aku ingin pulang. Kalian gak ada hak buat nahan aku di sana," sahutku seraya memalingkan wajah."Kami bukan bermaksud menahan. Hanya saja, menurut pemeriksaan, kamu memang masih butuh perawatan. Tapi, jika kamu memang mau pulang, bukan berarti harus kabur seperti ini juga," jelasnya.Mas Feri meraih tangan kananku, sedangkan dengan cepat aku menepisnya seraya memberikan tatapan garang padanya."Inara, aku hanya ingin melihat bekas jarum infus di tanganmu. Kamu mencopotnya sendiri, aku khawatir akan menimbulkan pendarahan dari bekas tusukannya," jelasnya membuatku sedikit malu. Pasalnya, kupikir dia berniat yang lain."Aku bisa mengatasinya sendiri. Kamu gak usah so peduli!" ketusku seraya memalingkan wajah.Tanganku memang sempat mengeluarkan banyak darah saat tadi aku mencopot infus dengan sembarangan. Bekas darah yang berceceran di lantai kamar juga yang mungkin jadi penyebab Feri dapat menyusul ku sampai sini. Dia pasti sudah bisa menebak kalau aku kabur dari rumah sakit."Jika kamu tetap ingin pulang, ayo! Biar aku antar," ucap Feri seraya berjalan menuju mobilnya."Tidak usah! Aku naik taksi saja," tolakku seraya kembali membuka pintu taksi."Inara, aku mengantarmu karena Adnan. Tolong jangan tolak niat baikku," ucapnya seraya menyodorkan uang pada supir taksi dan menyuruhnya agar membiarkan aku turun di sini.Dengan kesal, akhirnya akupun membiarkan taksi tersebut pergi dan segera masuk ke dalam mobilnya. Ini adalah kali pertama kami duduk satu mobil berdua setelah kami putus beberapa tahun yang lalu. Sepanjang perjalanan, tak ada yang aku maupun Mas Feri bicarakan. Kami hanya diam, aku sibuk dengan pikiranku sendiri sedang dia juga nampaknya fokus mengemudi.Setelah sampai di depan rumahku, aku sama sekali tak melihat ada yang berubah dengan halaman juga teras depan. Taman bunga yang ku buat di halaman rumah nampak masih indah dan terawat, begitupun dengan teras rumah, tak ada satupun benda yang bergeser dari tempatnya.Aku hanya bisa tersenyum seraya menghembuskan nafas lega, itu tandanya ucapan ibu di rumah sakit tidaklah benar. Di rumah ini pasti belum ada pengganti diriku, karena jika memang sudah ada, aku tak yakin kalau selera kita akan sama.Dengan antusias, aku segera melangkah lebih jauh lagi, namun saat tersadar Mas Feri mengikutiku dari belakang aku menghentikan langkahku dan menoleh padanya. Sialnya, sepertinya dia selalu bisa menebak pikiranku."Kamu yakin ingin melarangku mampir? Aku mampir untuk Adnan, sahabatku," ucapnya seraya tersenyum.Mendengar itu aku hanya bisa mendengkus kesal seraya kembali meneruskan langkahku. Namun pemandangan di depan mataku begitu membutku terkejut.Kulihat Mas Adnan keluar dari rumah diikuti oleh Karin yang sedang menggendong Dara, Karin mencium tangan Mas Adnan dan yang paling mengejutkan Mas Adnan balas mencium kening Karin lalu disusul pada pipi Dara.Adegan romantis yang biasa dilakukan sepasang suami istri saat suaminya akan bekerja itu sungguh menyayat hatiku. Mereka nampak sekali seperti sebuah keluarga yang berbahagia.Seketika raut wajah Mas Adnan berubah saat ia menyadari ada aku yang sedang memperhatikannya, sedangkan bersamaan dengan itu mataku langsung memanas hingga membuat pandanganku kabur karen air mata yang sudah meronta untuk mengalir."I-inara, sayang ... k-kamu ..."Mas Adnan nampak begitu gugup hingga ia bahkan tak dapat berkata-kata dan melanjutkan ucapannya. Aku langsung melangkah meski kedua kaki terasa kehilangan tulangnya. Ku hampiri pria yang kurang lebih sudah tiga tahun menjadi suamiku itu dengan air mata yang terus mengalir. Sungguh, saat ini aku sangat membutuhkan penjelasan darinya meskipun kutau itu akan sangat menyakitkan."Katakan, siapa sebenarnya Karin?" tanyaku tanpa memalingkan pandanganku dari kedua matanya. Saat ini aku sungguh tak ingin dibohongi dengan alasan apapun juga.Mas Adnan hanya diam seribu bahasa, bibirnya tertutup rapat sedang kedua tangannya langsung menggenggam erat kedua bahuku. Ia mencoba untuk memelukku namun aku menolaknya. Karena saat ini bukan pelukan yang aku butuhkan melainkan sebuah penjelasan dan kejujuran."Karin, siapa suamimu? Mana mungkin, kamu menyalami majikanmu dan membiarkan ia mencium keningmu jika suamimu bukan suamiku, iya 'kan?" tanyaku dengan bergetar menahan emosi.Wanita itu hanya diam seraya menunduk, sesekali kulihat ia melirik pada Mas Adnan."Sudah kepergok mesra, apa kamu belum mengerti juga, Inara? Aku yakin, kamu tidak sebodoh itu," ucap ibu seraya keluar dari rumah.Ia menatap sinis ke arahku lalu tersenyum penuh arti sedangkan aku yang sudah tak sanggup lagi menerima kenyataan pahit ini langsung berjingklak meninggalkan mereka bertiga.
Setelah mendengar apa yang Selvia tuduhkan, sepertinya itu hanya sebuah kesalahpahaman karena mungkin semasa hidupnya Karin mengadukan sesuatu yang tidak-tidak padanya. Tapi, meski begitu, aku perlu meluruskan semuanya. Aku tak ingin hidupku terus dibayang-bayangi oleh Karin ataupun Selvia.Untungnya, Selvia tidak terlalu keras kepala, ia mau mendengarkan apa yang hendak kujelaskan tentang masalalu Karin dan Mas Adnan. Beruntungnya saja aku kenal Lila dan sempat mendengar ceritanya. Kuharap, dengan keterangan dari Lila dan bukti nyata itu Selvia bisa percaya bahwa tidak sepenuhnya yang Karin ceritakan itu selalu benar.Tak membuang waktu terlalu banyak, akupun segera mengajak Selvia untuk bertemu Lila sekalian kami makan siang bareng. Aku menghubungi Lila untuk bertemu di restoran terdekat dari toko Mas Adnan.Pertemuan dimulai, aku menceritakan kesalahpahaman Selvia, kemudian meminta Lila untuk kembali menceritakan Karin saat berada di keluarga mereka."Maaf, ya mbak. Tapi, sejak ken
Namun keterkejutan diwajahnya tak berlangsung lama. Selvia tersenyum sinis padaku. Ia melipat kedua tangannya didada seraya membuang muka."Kebetulan kamu sudah mendengar semuanya. Biar sekalian saja kamu tau, semoga kamu lebih kuat dari apa yang Adnan khawatirkan, ya!" ucapnya dengan nada mengejek.Mas Adnan menatapku dengan penuh ke khawatiran. Mungkin ia sedang mengkhawatirkan kondisiku, atau justru ia sedang mengkhawatirkan aku akan kembali salah paham padanya. Aku hanya bisa membalas tatapannya dengan senyum hangat, semoga hal itu membuatnya mengerti bahwa aku akan baik-baik saja.Aku kembali mengalihkan pandanganku pada Selvia. Dengan tenang aku bertanya padanya, "Kenapa kamu mau menuntut kami?" Aku sedikit menarik bahunya agar ia menatapku."Cih, tentu saja karena aku yakin Karin sengaja kalian singkirkan!" sahutnya dengan tatapan tajam."Ini semua kecelakaan. Kami gak sekejam itu!" tekanku.Mas Adnan menarikku untuk duduk, beberapa kali ia mengusap-usap bahuku, ia juga menyuru
Saat memasuki ruang makan, aroma lezat yang menggugah selera langsung memenuhi udara, membuat perutku keroncongan dengan keras. Bau masakan yang harum dan menggoda membuatku tak sabar untuk mencicipi hidangan yang telah disiapkan. Aku sangat terkesan dengan kemampuan memasak ibu yang ternyata sangat handal.Selama menjadi istri Mas Adnan, aku yang selalu bertanggung jawab atas urusan dapur dan rumah. Namun, hari ini aku merasa sedang di ratukan oleh ibu karena ibu telah melakukan semua pekerjaan rumah. Tak hanya makanan yang lezat dan tersaji dengan rapi, rumah pun nampak sudah bersih dan tertata, serta pakaian kotor nampak sedang dicuci dalam mesin cuci.Kuhampiri ibu yang sedang menata piring di atas meja, dan kupegang tangannya hingga ia menghentikan aktivitasnya. "Ibu, kenapa ibu melakukan semuanya sendiri?" tanyaku pelan, sambil memandang ibu dengan penuh haru dan rasa terima kasih.Ibu tersenyum seraya menggenggam tanganku, "Gak papa, selama kamu jadi istrinya Adnan, ibu gak pe
Aku sedikit terkejut saat sinar mentari yang menyilaukan menembus tirai-tirai di kamarku, membangunkan ku dari tidur lelap. Dengan cepat aku segera bangkit, mengikat rambutku secara asal, benang-benang rambut kusut tergerai di wajahku. Aroma lezat masakan sudah tercium oleh hidungku, sepertinya ibu sudah mulai sibuk di dapur. Aku menggeser tubuhku untuk turun dari tempat tidur, namun belum sempat kakiku menyentuh lantai, tangan Mas Adnan dengan lembut menarikku kembali hingga aku berbaring di sampingnya, wajahnya yang tampan tersenyum manis menghiasi pagi itu. "Belum boleh pergi, masih pagi," bisikannya, membuatku tersenyum dan merasa hangat di hati."Gak enak mas, kayanya ibu udah sibuk di dapur," sahutku, mencoba melepaskan diri dari pelukannya. Namun, Mas Adnan mengeratkan pelukannya, ia menyusupkan wajahnya di ceruk leherku, membuatku merasa merinding dengan jantung berdebar kencang.Ibu bisa masak sendiri, yang penting kamu istirahat dulu," gumamnya, napas hangatnya mengenai ku
Dara menangis seraya memegang nisan yang bertuliskan nama Karin. Aku dan Mas Adnan ikut berjongkok di sampingnya dan mencoba untuk tetap menenangkan Dara."Dala mau bilang sesuatu. Tapi kalau mama di dalam, kedengelan gak, ya?" gumamnya nampak bingung."Gak papa sayang, bilang aja. Insyaallah mama denger kok. Jangan lupa, doain mama juga ya, biar mama bisa masuk surga," ucap Mas Adnan lembut.Dara mengangguk seraya menyeka air matanya. Ia kemudian membenarkan posisi jongkoknya agar lebih dekat lagi dengan nisan Karin. Ia bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya seolah ia ingin berbisik pada nisan tersebut."Mama, Dala udah ambil keputusan, Dala gak mau ninggalin bunda. Dala mau tinggal sama ayah dan bunda aja. Bukan Dala gak sayang mama, tapi... Kak Lila bilang yang lahilin Dala itu bunda, dan katanya lahilin itu sakiiiit banget, Dala jadi kasian sama bunda," ucap Dara terbata-bata.Aku lagi-lagi terkejut dengan kata-kata Dara barusan. Entah apa sebabnya dia sampai bicara seperti itu."K
"Ayah, mama mana?" tanya Dara, suara kecilnya memecah kesunyian."Uhukk!" Aku dan Mas Adnan yang sedang menikmati makanan langsung terbatuk serentak, saling menatap dengan rasa tidak enak. Kami tahu saatnya Dara harus tahu, tapi aku masih bingung memilih kata-kata yang tepat."Sayang, sebenarnya mama ada di suatu tempat... mungkin Dara tidak bisa bertemu lagi dengan mama," Mas Adnan akhirnya berbicara, suaranya lembut dan hati-hati."Dimana yah? Jauh, ya?" tanya Dara polos, mata besarnya penuh rasa ingin tahu.Aku dan Mas Adnan tersenyum getir, lalu aku mengusap rambut Dara dengan lembut. "Iya, sayang. Mama ada di surga," jawabku, mencoba menjelaskan dengan kata-kata yang sederhana."Mama pelgi kok gak bilang dulu sama Dala? Mama malah ya sama Dala?" gumam Dara, raut kecewanya terlihat jelas di wajahnya yang kecil. Aku merasa sakit hati melihatnya, kupeluk erat tubuhnya dan mencium pucuk kepalanya beberapa kali."Tapi Dara gak usah sedih. Ada ayah dan bunda yang akan selalu jagain D







