FAZER LOGINKiran mengembuskan napas kasar, tak percaya dengan apa yang didapatnya dan didengarnya. Wajahnya sedikit terangkat, matanya menyorot tajam pada Mona.
Telunjuk Mona tertuju ke wajah Kiran, sebelum berucap, “Ingat, yang setara dengan Pak Elvano itu hanya Bu Dania. Apalagi, Bu Dania adalah keponakan salah satu direktur di perusahaan ini. Tidak seperti kamu yang bukan siapa-siapa!”
![]()
![]()
![]()
![]()
Noah semakin diam mendengar ucapan Yessica.Sampai, kalimat Yessica menjawab semua pertanyaan di kepalanya.“Aku sepertinya mau flu, aku ganti baju dulu, Kak.”Noah tetap diam menatap kepergian Yessica.Satu-satunya alasan yang bisa Noah mengerti kenapa Yessica ingin menjatuhkan Kiran, karena perbedaan status mereka yang dipaksa untuk disamakan.Di sisi lain.Surya mencari Kiran karena cemas. Langkah Surya terhenti ketika melihat Kiran sedang duduk bersama Elvano.Apalagi dari sudut pandangnya sekarang, Surya melihat Elvano begitu perhatian membersihkan rambut Kiran.Senyum Surya terangkat lebar. Dia lupa dengan siapa Kiran berada sekarang.Selama Kiran bersama Elvano, maka putrinya ini akan selalu baik-baik saja.Surya mengembuskan napas pelan, sebelum dia melangkah menghampiri Elvano dan Kiran.“Ternyata kalian di sini.” Surya berdiri di dekat Kiran dan Elvano duduk.Kiran dan Elvano menoleh bersama.Ketika melihat Surya di sana, Elvano buru-buru bangun dari duduknya. “Paman, sila
Kamila dan Raihan terkejut melihat Yessica yang datang sambil menggigil kedinginan.Kamila meminta sopir untuk segera mengambilkan pakaian ganti di mobil, sebelum mendekati Yessica.“Bagaimana bisa kamu basah kuyup begini?” Kamila membersihkan kotoran yang ada di rambut Yessica.“Yessica jatuh ke danau.” Adrian yang menanggapi pertanyaan Kamila.“Apa?” Kamila terkejut sambil menatap pada Adrian. “Bagaimana bisa jatuh ke danau?”Bibir Yessica masih bergetar. Kedua tangan masih memeluk erat tubuhnya.“Tadi, aku berniat mengajak main Kiran, tapi dia tak sengaja mendorongku.” Suara Yessica sedikit lirih dan goyah.“Yang mendorongmu Kiran?” Kamila memastikan.Yessica mengangguk, tetapi setelahnya menggeleng. “Mama jangan menyalahkan Kiran.” Yessica menjeda ucapannya sejenak sebelum kembali berkata, “Dia sepertinya juga tidak sengaja.”“Tapi Kiran juga tak seharusnya mendorongmu ke danau, Yess.” Raihan ikut bicara.Di dekat Raihan dan Kamila, Surya berdiri diam mendengar apa yang Yessica ka
Kiran tersentak kala kakinya terseret ke belakang, membuat tubuhnya terhuyung hampir hilang kendali.Sadar belakangnya danau. Kiran sigap memutar tubuhnya agar menghadap ke orang yang menariknya.Saat itu kedua tangan Kiran langsung mengambil posisi mendorong kuat lengan orang yang menariknya, menggantikan dirinya yang hampir tercebur ke danau.“Akh!!” Teriakan melengking itu diikuti suara riuh air yang terhantam sesuatu yang berat.Kiran tersentak melihat siapa yang sekarang ada di dalam air. “Yessica.” Mata Kiran menyipit tak percaya. Meski saat ini dia sedang menetralkan jantungnya yang berdegup cepat.Saat itu, Elvano dan yang lain berlari menghampiri Kiran.Melihat seseorang ada di dalam air, Elvano lebih memilih segera menghampiri Kiran lebih dulu. “Kamu baik-baik saja? Kamu terluka?” Elvano mengecek tubuh Kiran dengan cepat.Sedang Adrian dan Noah kaget melihat Yessica ada di air. Noah segera mendekat, dia berjongkok di tepian lalu mengulurkan tangannya.“Gapai tanganku, Yess
Noah diam.Ekspresi wajahnya tak menunjukkan keterkejutan sama sekali.Sampai, Noah mengembuskan napas kasar.“Kamu boleh tertarik. Tapi jangan harap bisa mengambil hati Kiran.” Tatapan Noah kini tertuju pada Kiran yang bersama Elvano.“Tahta di hatinya hanya bisa diduduki olehnya.” Dagu Noah kini terarah ke arah Elvano.Senyum Adrian terangkat getir. Sebelum dia menghela napas kasar. “Aku tahu.”Kening Noah berkerut dalam. Dia menoleh pada Adrian yang baru saja bicara.“Aku bilang punya ketertarikan. Tapi aku sadar, aku juga tidak bisa memilikinya.” Sorot mata Adrian berubah sendu meski bibirnya tertarik kecil.Tangan Noah menepuk-nepuk pundak Adrian. “Benar, lupakan saja ingin mengambil hati Kiran.”“Aku sebagai kakaknya saja, tidak berani mengusik hubungan mereka, apalagi kamu?” Noah menatap serius pada Adrian. “Kecuali kamu ingin Kiran sangat membencimu.”Adrian tersenyum tipis. “Bagaimana lagi?”“Walau aku adalah tunangannya, jauh sebelum ada Elvano Radjasa. Tapi sepertinya meman
Kiran berjalan-jalan di tepian sungai yang membelah bagian utara dan selatan area wisata ini.Sepanjang melihat-lihat, senyum manis terus berhias di bibirnya.Di belakangnya. Noah dan Elvano berjalan bersama. Keduanya tampak bersaing, tetapi sebenarnya sedang sama-sama melindungi Kiran.“Kiran tidak bisa berenang, kamu malah mengajaknya berwisata di wahana air. Kolam renang dan sungai di sini hanya akan menjadi pemandangan sia-sia.” Elvano membuka suara setelah sejak tadi diam.“Kiran bukan tidak bisa berenang. Sepertinya trauma yang dialaminya masih membekas di perasaannya, meski dia hilang ingatan.”Elvano menghentikan langkah mendengar balasan dari Noah.“Apa maksudmu?” Kening Elvano berkerut dalam saat menatap pada Noah.Noah ikut menghentikan gerakan kakinya. Dia menoleh pada Elvano yang sudah menatapnya.Noah lebih dulu memandang ke Kiran yang sedang berjongkok memperhatikan bunga di tepi sungai. Sebelum kembali menatap pada Elvano.“Saat kecil, kami pernah pergi ke tempat ini.
Mata Elvano menyorot tak suka. Atmosphere di tempat ini berubah dingin.Kiran yang terkejut, perlahan menoleh pada Elvano.Sejak awal Elvano tidak menyukai keberadaan Adrian, sekarang mereka bertemu lagi di sini.“Adrian.” Noah menatap heran. “Kamu mengundangnya?” tanya Noah saat menatap pada Yessica.Yessica mengangguk-angguk cepat. “Ya, aku pikir, lebih banyak orang, lebih bagus. Apalagi, aku dengar kalau Adrian juga ternyata dulu atasan Kiran, jadi pasti mereka juga dekat, ‘kan?” Tatapan Yessica tertuju pada Kiran setelah bicara.Sedang Adrian menatap pada Elvano, dia menerima tatapan tajam dari pria yang dicintai oleh Kiran ini.“Kalian kenapa hanya berdiri? Karena Adrian sudah datang, kita duduk dan makan dulu. Setelahnya kalian bisa main sepuasnya.” Suara Raihan mengalihkan tatapan semua orang.Kiran menyentuh lengan Elvano. Kepalanya mengangguk pelan saat Elvano menoleh padanya.Mereka semua akhirnya bergabung bersama yang lain.Makanan yang dihidangkan di meja, semua terasa
Jemari Kiran menarik nota yang tertempel di luar plastik. Namanya dan divisi tempatnya berada, tertera di sana. “Mungkinkah Sabrina yang kirim?” Tadi, saat menghubunginya, suara Sabrina panik karena mencemaskan dirinya. Ah, benar. Pasti dari Sabrina. Kiran menatap serius ke layar ponsel kala me
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta
Cengkraman jemari Widya semakin menguat di lengan Kiran. Bahkan otot-otot leher Widya tertarik sampai menyembul di bawah kulit. “Kamu berani membantah! Kamu pikir, nyawa ayahmu tidak lebih berharga dari kalungmu itu?” Mata Widya menajam, dia melepas lengan Kiran sambil mendorong kuat tubuh Kiran.
Sore hari. Kiran baru saja selesai merapikan berkas di meja, ketika ponsel di atas meja berdering. Matanya melirik pada layar ponsel. Pesan dari Widya terpampang di layar. [Pulang lebih awal dan jaga ayahmu, jangan banyak alasan!] Napas dari mulut Kiran berembus pelan. Jempolnya segera bergerak







