LOGINKeesokan harinya.
Kiran mematut bayangan dirinya di depan cermin. Bedak dipoles tipis, dengan pewarna bibir yang natural.
Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, Kiran kembali memiliki keinginan mempercantik dirinya.
Bukan untuk dirinya, tetapi untuk pria yang menjadi semestanya.
Jantung Nandira berdegup cepat. Napasnya tersekat di tenggorokan dengan raut panik dan takut yang tak bisa dia sembunyikan lagi.Di hadapan Nandira saat ini.Pelayan tua yang sudah bekerja lama di rumah ini, berdiri menenteng keranjang belanja dengan tatapan tertuju pada Nandira yang ada di hadapannya.“Nyonya, apa yang terjadi pada Anda? Kenapa wajah Anda lebam begini?” Suara pelayan tua ini begitu panik.Nandira tersentak. Dia langsung mengangkat telunjuk di depan bibirnya agar pelayan ini tak bicara keras.“Bibi, kumohon jangan beritahu Edo. Biarkan aku pergi.” Nandira meratap, matanya kembali basah.Pelayan wanita ini menatap miris. Dia buru-buru menarik tangan Nandira.“Maaf, Nyonya.”Nandira terkejut tangannya ditarik pelayan. “Jangan membawaku kembali ke rumah, Bi.” Nandira memelas.Pelayan tetap berjalan sambil memegang lengan Nandira. “Saya tidak akan membawa Anda kembali ke sana, Nyonya. Tapi, kalau Anda terlihat oleh penjaga Tuan Edo, Anda akan dibawa masuk lagi.”Nandira te
“Ada apa? Kenapa wajahmu tegang seperti itu?” Elvano menoleh sekilas setelah Kiran memegang ponsel Nidny.Dan, yang membuat Elvano keheranan, kenapa wajah Kiran begitu tegang.Kiran mengalihkan tatapan dari ponsel ke wajah Elvano. Dia meneguk ludah kasar, lalu berkata, “Edo sudah tahu kalau Nindy menerima file-file dari Nandira.”Elvano terkejut sampai menoleh cepat pada Kiran.“Dia bahkan mengirim pesan ancaman pada Nindy.” Kiran memperlihatkan pesan yang diterima Nindy.[Aku tahu kamu menerima file dari Nandira. Jika kamu masih ikut campur dan tidak sayang keluargamu, maka coba saja lakukan seperti yang kamu harapkan.]Jari-jari Elvano mencengkram kuat setir setelah membaca sekilas pesan yang Edo kirimkan ke Nindy.“Pria itu benar-benar gila!” Elvano menggeram.Di sampingnya, Kiran kini menoleh pada Nindy yang tampak begitu cemas.“Jika Edo sudah tahu kalau Nindy penerima file itu, bukankah tidak menutup kemungkinan nyawa Nindy juga dalam bahaya?” Kiran menebak.Kiran menatap pada E
Mata Noah menyipit mendengar penjelasan pengacaranya. Jari-jarinya dia tautkan dengan siku yang bertumpu di atas meja. Pikiran Noah menerawang jauh.Farhan menatap cemas pada Noah. Bertahun-tahun ikut atasannya ini bekerja, baru sekarang Bimantara mendapatkan masalah sebesar ini hanya karena masalah sepele?“Artinya, Pak Edo bisa menghancurkan Bimantara terlebih dahulu sebelum polisi menangkapnya?” Farhan memberanikan diri ikut angkat suara setelah sejak tadi hanya mendengarkan.“Benar. Kecuali, kita bisa mendesak pihak kepolisian untuk melakukan penangkapan secara instan atas dasar ancaman keselamatan nyawa korban, yaitu Ibu Nandira. Kita butuh kesaksian langsung dari korban untuk mempercepat prosesnya.” Ketua tim pengacara kembali menjelaskan.Noah terdiam dengan rahang mengeras. Matanya menyorot lurus tajam, memikirkan resiko yang harus dia ambil demi perusahaannya.“Apa itu artinya kita harus membantu Nona Nandira keluar dari sana dan melaporkan sendiri kasus yang menimpanya, untuk
Kiran melihat Nindy yang terus menatap layar ponsel yang tergeletak di atas meja kafe dengan pandangan kosong. Bahkan tangan Nindy masih terlihat gemetar.Kiran mengembuskan napas pelan, lalu tubuhnya sedikit condong ke depan. “Nindy, untuk sekarang ini kamu juga harus berpikiran tenang. Jika ada sesuatu nantinya, biar kamu juga siap menghadapi.” Kiran mencoba menenangkan.Tatapan Nindy tertuju pada Kiran. Wajahnya begitu sendu. “Bagaimana aku bisa tenang, Kiran? Edo itu orang gila. Dia tidak akan segan melakukan sesuatu pada Nandira saat sedang emosi. Dan takutnya, Edo tahu apa yang dilakukan Nandira, dan bisa saja pria itu menyakitinya.”“Tapi kita juga belum tahu pasti kondisi Nandira sekarang.” Elvano ikut angkat suara.Nindy mengembuskan napas kasar. “Tapi aku yakin Nandira sekarang ini tak baik-baik saja.” Tatapan Nindy begitu putus asa. “Apa aku ke rumahnya saja untuk memastikan kondisinya?” Ide itu tiba-tiba muncul di kepala Nindy.“Jangan, itu terlalu beresiko.” Kiran langsu
Napas Edo memburu saat dia melangkah lebar saat menaiki anak tangga menuju kamar utama. Kemarahan membakar dadanya, membuat Edo benar-benar murka. Begitu tiba di depan pintu kamar. Edo membuka kunci di knop lalu dengan satu sentakan kuat, pintu kamar terbuka lebar.Nandira tersentak mendengar suara benturan yang kuat. Tatapannya tertuju pada Edo yang berjalan cepat menghampirinya.Nandira beringsut panik di atas ranjang. Tubuhnya kembali gemetar melihat sorot mata Edo yang berkilat penuh amarah.“Kamu!!” Suara Edo menggeram.Nandira semakin panik, sebelum dia berhasil turun dari ranjang, Edo sudah lebih dulu mencengkeram lengannya dan melayangkan pukulan keras tepat di wajah Nandira.Nandira terpelanting di atas ranjang. Belum sempat dia merintih, Edo menarik kerah pakaiannya, memaksa Nandira untuk kembali tegak. “Berani-beraninya kau mengirim file-file itu ke Nindy, hah?!” teriak Edo tepat di depan wajah Nandira. Suaranya menggelegar, menggema di seluruh ruangan hingga memekakkan t
Ruangan kembali hening. Semua orang terdiam setelah mendengar cerita dari Nindy, ditambah bukti-bukti foto dan dokumen yang masih terpajang di layar laptop.Noah menyandarkan punggungnya ke sofa. Dia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, bahkan napasnya berembus kasar, dia mencoba mencerna akhir dari rahasia besar yang baru saja terungkap.“Sekarang bagaimana?” Noah akhirnya membuka suara. Dia menoleh ke arah Elvano.Elvano menatap balik Noah. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan setelah menghela napas panjang. “Pertanyaannya, kamu sendiri mau bagaimana?” Elvano membalas ucapan Noah dengan tegas. “Kalau kamu mau lepas dari Edo dan menyelamatkan perusahaan, maka kamu harus ikut campur tangan dengan masalah ini. Laporkan semua perbuatan Edo ini ke polisi pakai bukti-bukti yang ada di flashdisk itu.”Nindy menatap bergantian pada Noah dan Elvano yang baru saja bicara. Tatapan Nindy penuh harap saat tertuju pada Noah dengan mata yang masih berkaca-kaca. “Pak Elvano ben







