FAZER LOGINSore hari.Kiran melangkah keluar dari lift yang baru saja terbuka di lobby.Dia berjalan sambil bermain ponsel, berbalas pesan dengan Elvano yang masih belum bisa pulang bersamanya.Ketika baru saja menginjakkan kaki di depan lobby, Kiran melihat panggilan masuk dari Noah.Dia menggeser tombol jawab sebelum menyentuhkan ponsel ke telinga.“Halo, ada apa?” Kiran bicara sambil mengayunkan langkah pelan.“Kamu sudah pulang, ‘kan?” “Hm … tidak perlu menjemput. Aku akan pulang naik bus. Aku juga mau mampir membeli sesuatu dulu.” Kiran berjalan sambil sesekali mengangguk ke staff yang menyapanya.“Aku sudah ada di dekat pintu keluar. Kamu mau ke mana, aku antar.”Mata Kiran membola lebar.Pandangannya langsung tertuju ke arah pintu keluar area perusahaan.Kiran mengakhiri panggilan dengan cepat.Kakinya terayun cepat menuju pintu keluar.Sesampainya di sana, Kiran menatap tak percaya Noah benar-benar menunggunya.Kiran menoleh ke kanan dan kiri sebelum menarik tangan Noah untuk segera masu
Kening Elvano berkerut dalam.Dia melepas pelukannya.Elvano memegang kedua lengan Kiran, tatapannya tak teralihkan dari wajah sang kekasih.Bola mata Kiran terlihat berkaca-kaca.“Kenapa kamu berpikir jika aku sedih?” Elvano menatap ke dalam bola mata Kiran.Elvano bisa melihat kesedihan di balik senyum yang Kiran pajang.Kiran tenang, dia tak ingin Elvano semakin bersedih.Jemari Kiran meraih dasi Elvano.Dia merapikan ikatannya, sambil berucap, “Sikapmu ini cukup memberitahu bagaimana perasaanmu sekarang.”Tatapan Kiran kembali tertuju ke wajah Elvano. “Tidak apa-apa, kamu sudah bekerja keras.”Bibir Elvano dilipat ke dalam. Dia sedikit menurunkan pandangan dari Kiran, senyumnya dia kulum rapat.Ketika kembali menatap Kiran, Elvano menunjukkan senyumnya yang manis.“Jadi, kamu mengira aku bersedih?”Kiran mengangguk-angguk pelan. “Jika tidak, lalu apa?”Elvano mengembuskan napas panjang. “Ya, tidak bisa dibilang itu juga.”Satu sudut alis Kiran tertarik ke atas. Dia menatap bingung
Kiran masuk ke dalam ruang kerja.Dia meletakkan tasnya di laci bawah, saat ponsel yang ada dalam genggamannya berdering.Satu pesan dari Elvano terpampang di layar.[Hari ini, ada rapat umum pemegang saham untuk menentukan apakah aku layak menggantikan posisi kakakku atau tidak.]Membaca pesan dari Elvano, jantung Kiran berdegup cepat.Dia ikut cemas dan panik. Takut jika usaha Elvano tak membuahkan hasil memuaskan.Meski begitu, Kiran mencoba tenang. Dia harus memberi dukungan pada Elvano.[Secepat ini sudah mengadakan rapat, itu artinya ayah dan kakakmu sangat yakin dengan kemampuanmu.][Apa pun hasilnya, kamu sudah sangat bekerja keras. Kemampuanmu tidak diragukan, jadi jangan mengkhawatirkan apa pun. Kamu akan menjadi pemimpin yang baik, di posisi mana pun yang akan kamu tempati.]Tak lupa, emoji hati dia tambahkan untuk memberi semangat pada Elvano.Di ruang kerja Arlo.Kedua sudut bibir Elvano tertarik ke atas membaca pesan dari Kiran.Perasaan cemasnya menguar setelah melihat e
Hari minggu ini.Kiran berdiri di depan rumah bersama Noah dan Surya.Mereka baru saja mengantar Kamila dan yang lain pergi untuk menyiapkan pesta penyambutan Kiran.Saat mobil yang Kamila, Raihan, dan Yessica menghilang dari pandangannya, Kiran menoleh pada Noah.“Kenapa kamu tidak ikut pulang sekarang?” Kiran menatap penasaran. Apalagi Noah sudah berada di kota ini cukup lama.Noah mengembuskan napas pelan sebelum menoleh ke sang adik. “Kamu mengusirku?”Kiran melipat bibir bawahnya ke dalam mendengar balasan Noah.“Apa hakku mengusir? Kan cuma tanya.” Setelah bicara, Kiran melangkah meninggalkan Surya dan Noah.Noah menatap Surya yang mengedikkan kedua bahu.Noah mulai terbiasa dengan sikap Kiran ini. Dia lebih menyukai Kiran yang sekarang daripada yang sebelumnya kaku dan formal padanya.Noah mengejar Kiran sampai di depan teras.“Aku sudah bilang ke Papa kalau ingin mengambil alih anak cabang perusahaan di sini. Tujuanku jelas, ‘kan? Agar aku bisa sekalian menjagamu.” Noah tersen
Melihat ekspresi Alina, Aksa malah menggoda.“Ternyata, anak kesayanganmu belum cerita masalah ini kepadamu?” Aksa terus memperhatikan wajah sang istri.Alina sewot. “Dia ‘kan sibuk, wajar kalau belum sempat cerita.”Meskipun kesal karena dia belum diberitahu, tetapi Alina juga senang mendengarnya.“Itu kabar bagus. Kapan El siap mau melamar Kiran, aku akan menyiapkan semuanya.” Alina melebarkan senyum setelah beberapa saat sempat kesal. “Soal itu, El juga belum memberitahu kapan pastinya, hanya baru bilang kalau ingin melamar.” Alina menghela napas pelan. Tiba-tiba saja dia teringat pada putra pertamanya.“Jangan sampai seperti kakaknya, menikah tanpa pesta apalagi lamaran. Aku jadi tidak bisa pamer ke orang-orang.” Alina bernapas kasar lagi. “Yang penting sudah ada niatan dan El juga tidak seperti kita atau kakaknya, menikah dadakan sampai sanak saudara saja tidak tahu.”Setelah bicara, Alina melangkah meninggalkan suaminya begitu saja.Sedang Aksa tak bisa berkata-kata mendengar u
Kiran kebingungan karena sikap Elvano.Dia ditarik begitu saja sampai tidak bisa minta izin pada Alina.“El, kamu langsung mengajakku begini, apa tidak masalah?” Kiran meragu.Elvano menghentikan langkah.Masih menggenggam telapak tangan Kiran, Elvano menatap pada kekasihnya ini.“Tidak masalah, Mama juga tidak akan marah.” Elvano menjawab dengan santai. “Sekarang, ayo duduk di sana,” ajaknya kemudian.Kiran masih tidak enak hati.Elvano mudah bilang tidak masalah, sedangkan Kiran tamu di sana, rasanya tak sopan pergi begitu saja tanpa izin.Mereka duduk di gazebo yang ada di taman samping rumah.Elvano menatap tak sabar ke kotak yang Kiran bawa.“Kamu masak apa saja?” Elvano tak mengalihkan pandangan dari kotak itu.Kiran lebih dulu mengeluarkan rantang dari dalam kotak, ada juga tempat buah potong dan camilan.“Di rumahmu pasti banyak buah dan camilan, tapi aku merasa perlu membawanya juga.” Kiran sudah menyusun barang bawaannya di lantai gazebo.Pandangan Elvano tertuju pada Kiran.
Dania tersentak. Tatapannya tertuju pada tangan Kiran yang sekarang berpindah memegang tali tas. Mata Dania menyipit, dia yakin tadi melihat Kiran menggenggam tangan Elvano.Telapak tangan Dania mengepal erat. Namun, dia bersikap biasa ketika memandang pada Elvano.“Selamat siang, Pak.” Dania sedik
Jemari Kiran menyapu cepat air mata yang ada di wajahnya. Tangannya memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas, sebelum dia berdiri. Tatapan Kiran tertuju pada Elvano yang kini juga berdiri berhadapan dengannya. Senyum Kiran paksakan terpajang di wajahnya yang merah dan basah, dia mencoba be
Wajah Kiran memucat melihat kepanikan sang ayah. Jangan sampai ayahnya syok dan sakit lagi kalau tahu dia menggadaikan kalung itu demi biaya operasi ayahnya.“Tidak, Yah. Tidak aku jual, kok. Tapi, memang tidak aku pakai karena takut hilang karena kalung itu sangat berharga.” Senyum Kiran begitu kak
Keheningan menyelimuti, bahkan permintaan sederhana Elvano juga tak mampu Kiran penuhi.“Apa kamu pikir, setelah semua yang terjadi di antara kita, di masa lalu, apa kamu kira kehidupan kita sekarang akan bisa tenang? Akan seperti sebelum kita bertemu?” Nada suara Elvano rendah tetapi penuh penekan







