LOGINDone 4 bab buat hari ini, Kakak. Jangan lupa cuap-cuapnya, ya. wkwkwkwkw makasih :)
Di tempat Noah.Noah ada di ruang kerjanya sejak kembali dari mengantar Kiran ke bandara.Noah memandang ponselnya, bertanya-tanya kenapa Kiran tidak mengabarinya jika sudah landing.Bukankah seharusnya Kiran sudah tiba sejak tiga jam lalu?“Tahan Noah, kalau kamu yang menghubunginya dulu, takutnya Kiran kesal.” Noah mencoba menahan diri.Jari-jarinya gatal ingin menekan tombol panggil pada nomor Kiran, tetapi untungnya Noah masih bisa menahannya.Memasukkan ponsel ke saku kemeja, Noah bangkit dari duduknya untuk pergi ke kamar.Sebelum kakinya melangkah, terdengar suara dering ponsel Noah.Noah kembali mengeluarkan ponselnya, nama Farhan terpampang di layar.“Bagaimana?” Noah langsung bicara begitu menjawab panggilan Farhan.“Saya sudah menyelidiki meski belum mendapat semua yang Anda inginkan. Tapi, sepertinya Anda harus tahu ini, Pak.”Kening Noah berkerut dalam. “Apa?”“Yessica memang tidak pernah berbuat hal-hal yang aneh, hanya saja beberapa orang yang aku temui, seperti takut sa
“Bunganya cantik, kupu-kupunya cantik.”Mata bulat kecil itu mengamati bunga di tepi sungai. Bibir mungilnya tersenyum memandang kupu-kupu berdatangan di sana.“Yessica pasti suka lihat ini.”Dia siap bangkit dari posisi jongkoknya, tetapi sebelum bisa berhenti sempurna, tiba-tiba tubuhnya ada yang mendorong.Dia jatuh ke dalam air.Riak air bergema beriringan dengan suara teriakannya yang berbalut ketakutan.“Noah, Noah,” teriaknya panik.Dalam kepanikannya, dia melihat wajah yang tak asing, berdiri di tepian sungai tanpa melakukan apa pun untuk menolongnya.“Noah, tolong!” Kiran bangun dengan cepat.Kiran baru sadar terduduk di atas ranjang, di dalam kamarnya.Keringat bermanik di wajahnya. Napasnya terengah seperti baru saja berlari berkilo-kilo meter.“Kiran, akhirnya kamu bangun.” Surya menatap panik pada Kiran.Dada Kiran naik turun tak beraturan. Wajahnya sangat pucat.Dia yakin tadi tenggelam di sungai, tetapi ternyata dia ada di kamarnya.Apa Kiran bermimpi?“Ada apa? Kamu mi
Kiran dan Surya akhirnya kembali ke rumah.Rumah sederhana ini, ternyata tetap menjadi ternyaman untuk Kiran.Tetapi ada yang lebih nyaman, yang harus dia tinggalkan demi melindungi ayahnya.Kiran teringat rumah lama mereka.Kiran menoleh pada Surya yang baru saja keluar dari kamarnya setelah meletakkan koper mereka.“Apa kamu sudah lapar? Mau Ayah masakin?” Surya menatap pada Kiran yang hanya berdiri diam.Senyum Kiran terangkat pelan.“Yah, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Ayah.”Kening Surya berkerut samar. “Ya, tentu.”Surya mengangguk-angguk.Kiran meminta ayahnya duduk lebih dulu.Setelah memastikan satu sama lain duduk dengan nyaman, Kiran siap bicara.“Aku mau membahas soal rumah lama kita.” Kiran bicara dengan sangat hati-hati.Punggung Surya menegak. Dia menatap Kiran yang terlihat serius.“Kenapa tiba-tiba membahas soal rumah itu lagi? Kalau sudah hilang, ya sudah biarkan saja. Anggap saja memang belum rezeki kita.”Bibir Kiran dilipat mendengar ucapan sang ayah.
Malam hari.Elvano dan Kiran duduk di Coffee Shop yang ada di samping hotel.Keduanya pergi ke sana setelah makan malam.“Aku kira, keluargamu akan menahanmu dan tetap memintamu pergi besok.” Setelah bicara, Elvano menyesap kopi miliknya.“Meskipun menahan, aku juga akan tetap pergi.” Kiran membalas santai.Elvano menahan tawanya.“Baiklah, baiklah, aku percaya kamu bisa melakukan itu.”Senyum Kiran terangkat kecil mendengar ucapan Elvano.“Tapi aku masih ada yang mengganjal.” Kiran mengaduk kopinya. Tatapannya lantas tertuju pada Elvano lagi.“Apa?” Elvano menatap penasaran pada Kiran.“Soal Yessica. Aku masih penasaran, apakah aku dan dia dulu benar-benar berhubungan baik? Tidak seperti saat bertemu Noah, aku bisa melihat kasih sayang dari tatapan Noah. Sedang Yessica, entah kenapa aku merasa dia sangat membenciku, setiap kali menatapku, walau ada senyum di wajahnya.” Kiran bicara sambil membayangkan bagaimana Yessica tersenyum dan bicara padanya.Meski semua sikap Yessica tampak ba
Noah terdiam karena ucapan Kiran.Dia melihat keseriusan dari sorot mata sang adik. Apa Kiran sudah ingat sesuatu?“Apa kamu sedikit ingat soal masa lalumu?” Noah memastikan.Akan sangat membahagiakan baginya jika Kiran ingat.“Tidak.” Kiran membalas cepat. “Hanya saja, sesekali kamu mendengar rumor di luaran sana.” Kiran bicara dengan sangat tegas. “Hal yang benar, tidak selalu benar.”“Mungkin benar.” Noah menjeda ucapannya. “Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan Yessica, begitu juga Papa dan Mama.” Satu sudut alis Kiran tertarik ke atas mendengar ucapan Noah.“Setelah kepergianmu, kami hanya berpikir harus menjaga Yessica dengan baik, karena bagaimanapun dia adalah pilihanmu.”Kiran mengembuskan napas kasar. Masih tak percaya jika mengingat dia memilih Yessica.“Aku tidak mau bicara banyak lagi.” Kiran ingin mengakhiri percakapan ini. “Aku akan ke hotel bersama Ayah dan besok pagi, kami akan pergi menggunakan penerbangan pertama.” Kiran bicara dengan tegas.Noah tidak bisa me
Yessica tersentak.Dia melihat tatapan mengintimidasi dari Kiran. Sorot mata Kiran benar-benar berbeda.“Aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu maksud? Untuk apa aku menargetkanmu? Kiran, aku tahu jika salah. Jadi tolong jangan salah paham, aku hanya ingin menggodamu.”Wajah Kiran sangat datar.Menggoda? Sampai harus menarik Kiran ke arah Danau?“Orang lain mungkin akan percaya padamu. Tapi tidak denganku.” Suara Kiran tegas dan dalam. Yessica terdiam mendengar ucapan Kiran.“Dan, satu lagi. Jangan kamu pikir, aku tidak tahu semua kelakuanmu. Sayangnya aku tidak ingin ikut campur, jadi kamu juga seharusnya tahu batasanmu.”Yessica tersentak mendengar kalimat yang Kiran lontarkan.Tahu? Tahu kelakuan apa? Apakah Kiran sudah ingat masa kecilnya?Bola mata Yessica membulat sempurna.Tak jauh dari Kiran.Surya dan Elvano berdiri mengawasi, keduanya menatap waspada, takut jika Kiran dan Yessica bertengkar.Sampai mereka melihat Kiran membalikkan tubuh. Tatapan Kiran kini tertuju pada Su
Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu
Jemari Kiran menarik nota yang tertempel di luar plastik. Namanya dan divisi tempatnya berada, tertera di sana. “Mungkinkah Sabrina yang kirim?” Tadi, saat menghubunginya, suara Sabrina panik karena mencemaskan dirinya. Ah, benar. Pasti dari Sabrina. Kiran menatap serius ke layar ponsel kala me
Sore hari. Kiran melangkah meninggalkan RDJ menuju halte bus terdekat, sampai langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang menghadang jalannya. “Kenapa Kak Yoga di sini?” Kiran menatap waspada karena kemunculan Yoga. Tangan Yoga terulur cepat mencengkram kuat lengan Kiran. “Kemarin kamu tidak me
Saat jam makan siang. Dania masuk ke ruang kerja pamannya. Langkah pelannya terarah pasti menuju meja sang paman. “Paman, bagaimana hasil rapatnya tadi?” Dania langsung mengambil posisi duduk setelah bertanya. Malik menatap pada Dania, napasnya berembus pelan sebelum dia menjawab, “Elvano melindu







