LOGIN
"Pulang sekarang, Kiran! Atau jangan harap kamu bisa melihat ayahmu untuk terakhir kalinya!"
Suara ibunya di telepon masih terngiang, menusuk-nusuk kesadaran Kiran saat dia berlari menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi. Aroma antiseptik yang dingin seolah membekukan udara di sekitarnya. Enam tahun. Dia sudah berusaha berlari sejauh mungkin, tapi satu panggilan telepon menyeretnya kembali ke kota ini. Kiran berhenti di depan pintu ruang rawat inap di bangsal penyakit dalam. Napasnya memburu, dadanya sesak bukan hanya karena lelah berlari, tapi karena rasa takut yang menghimpit. Saat pintu terbuka, bukan sambutan hangat yang dia terima. Ibunya, Widya, berdiri di samping ranjang dengan wajah kaku. Tatapannya jatuh pada pakaian kerja Kiran yang tampak kusut, dan itu adalah satu-satunya pakaian yang dia bawa karena terburu-buru mengejar penerbangan paling awal. "Akhirnya, Sang Tuan Putri ingat jalan pulang," sindir Widya dingin. Kiran tak menjawab. Matanya tertuju pada sosok pria tua yang terbaring lemah di ranjang. Ayahnya. Pria yang dulu begitu gagah, kini tampak ringkih dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya. "Ayah ...." bisik Kiran, suaranya bergetar. "Jangan hanya memanggil," potong Widya, langkahnya mendekat tatapannya mengintimidasi. "Ayahmu butuh operasi bypass jantung. Biayanya dua ratus juta. Dan rumah sakit tidak akan melakukan tindakan sebelum kita membayar deposit tujuh puluh persen." Kiran tertegun. "Dua ratus juta? Tapi, Bu ... setiap bulan aku selalu mengirim—" "Uang itu habis untuk biaya perawatan rutinnya selama ini, Kiran! Kamu pikir obat jantung itu murah?" Widya membuang muka, suaranya sedikit merendah namun penuh penekanan. “Kalau saja kami tidak menguliahkan dan menghidupimu, keluarga kita tidak akan jatuh miskin seperti ini. Kamu berutang nyawa pada ayahmu." Ibunya melipat kedua tangan di depan dada lalu kembali berucap kasar, seolah tidak pernah puas untuk menyalahkannya. “Ayahmu selalu mengusahakan apa pun untukmu, jadi sudah sepatutnya kalau sekarang kamu juga mengusahakan kebutuhannya.” Kiran menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah yang selama ini dia tekan, mendadak meledak lagi. Dia mendekat ke ranjang, menyentuh tangan ayahnya yang terasa kasar dan dingin. "Aku akan cari uangnya, Bu," ucap Kiran pelan namun tegas. “Itu memang kewajibanmu! Jika terjadi sesuatu pada ayahmu, itu tanggung jawabmu. Ingat itu!” desis Widya. "Aku tidak mau tahu uang itu harus ada. Atau kamu akan menyesal seumur hidup." Setelahnya, Widya meninggalkan Kiran dan ayahnya begitu saja. Kiran menatap ayahnya yang tertidur. “Yah.” Suaranya lirih dan berat memanggil nama pria yang bertahun-tahun ini memberikan peran ‘ayah’ dalam hidupnya. “Aku pasti akan mengusahakan kesembuhan Ayah, hm ….” Suaranya semakin berat kala matanya berkaca-kaca. “Setelah sembuh, aku akan mengajak Ayah jalan-jalan, ke tempat yang selalu Ayah inginkan, oke. Jadi, bertahan, ya.” Kemudian setelah memandangi ayahnya untuk beberapa saat, Kiran menjauh dari ranjang ayahnya. Dengan bahu merosot, dia keluar dari ruangan itu. Kiran duduk di kursi tunggu koridor yang dingin, lalu merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Dia menghubungi satu-satunya sahabat yang masih dia miliki di kota ini. "Sab, aku butuh bantuanmu." Di ujung telepon, Sabrina terdengar terkejut sekaligus cemas. “Ada apa? Kamu di mana?” Setelahnya Kiran menjelaskan keberadaan dan situasinya saat ini pada Sabrina. Hanya Sabrina yang bisa memahami dan membantunya. Dari ujung sana, Sabrina mendesah pelan, “Setelah enam tahun, akhirnya kamu memutuskan kembali dan tinggal lagi, Kiran.” “Aku terpaksa.” “Sebenarnya aku bisa membantu tapi … aku tidak yakin.” Tubuh Kiran langsung menegak. Antusias mendengar ucapan Sabrina meskipun merasa bingung mengapa sahabatnya itu tidak yakin dengan bantuan yang akan dia berikan. “Kenapa? Kamu bisa membantuku?” “Sebenarnya di kantorku yang sekarang sedang membuka lowongan pekerjaan. Tapi, aku benar-benar tidak yakin kamu akan melamar ke sana.” Kening Kiran berkerut. “Kamu pindah tempat kerja? Di mana? Dan … tapi … kenapa kamu tidak yakin? Dengar, Sab, untuk saat ini di mana pun itu aku tidak peduli, yang terpenting aku bisa mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan Ayah.” “Di RDJ, Kiran. Kamu tahu ‘kan perusahaan siapa itu?” Mendengar nama perusahaan itu, tubuh Kiran langsung menegang. Sabrina melanjutkan ucapannya, seolah sudah menduga reaksi Kiran. “Tapi, hanya perusahaan ini yang bisa memberikanmu gaji besar. Yang aku tahu gaji cleaning service saja sangat besar.” Kiran menatap pintu kamar rawat ayahnya, sambil masih mendengar Sabrina berbicara, “Jika kamu yakin, datang besok untuk wawancara.” Kepala Kiran bersandar di dinding koridor dengan mata terpejam setelah menutup panggilannya dengan Sabrina. RDJ. Haruskah dia ke sana?Dahi Kiran berkerut dalam. Sejauh ingatan yang masih tersisa di kepalanya, Elvano tidak suka kopi pahit. Namun, bukankah kesukaan orang bisa berubah? Bahkan sifat dan perilaku saja bisa?Lantas, kenapa Kian begitu yakin kalau Elvano, masih sama seperti dulu?“Kenapa reaksimu begitu? Kamu tidak percaya?”Suara penuh penekanan dari Dania, menarik kesadaran Kiran kembali.Kiran menatap pada Dania yang berwajah datar. Senyum Kiran terangkat tipis di bibir ketika kepalanya menggeleng pelan.“Bukan, Bu,” sanggah Kiran cepat, takut jika membuat Dania marah. “Saya akan membuatkan kopi untuk Pak Elvano. Terima kasih.”Dania masih menatap datar pada Kiran yang melangkah menjauh darinya. Seringai tipis berhias di wajahnya.Di pantry.Kiran sudah menyalakan mesin kopi. Dia diam memandang cangkir di meja, tangannya sudah gatal ingin meraih gula dan susu di rak penyimpanan.Kian begitu meyakini kalau Elvano tidak suka kopi tanpa gula. Tetapi jawaban Dania membuat Kiran menahan diri.‘Bisa saja dia
“Kamu tuli?”Ketiga kalinya Kiran mendengar Elvano bicara, kalimat pria ini semakin pedas. Kiran menarik napas dalam-dalam sebelum diembuskan perlahan. Tubuhnya menegak, walau kedua kakinya gemetar, lemas.Sikap tenang adalah kunci keberhasilannya selama ini.Dalam sekali hela napas, Kiran mulai bicara. “Perkenalkan, saya Kirana Callisa, usia saya dua puluh delapan tahun. Saya berpengalaman di bidang komunikasi lebih dari empat tahun.” Kiran menjeda perkenalan dirinya. Suaranya hampir saja bergetar saat melihat tatapan dingin Elvano.“Terima kasih sudah memberi saya kesempatan bergabung dengan RDJ Group, saya–”“Masa percobaan tiga bulan, jika dalam tiga bulan itu kamu tidak berkompeten dan tidak memberi kontribusi nyata untuk perusahaan, maka serahkan surat pengunduran dirimu ke HRD.”Kiran tersentak. Tatapannya tertuju pada Elvano yang baru saja memotong kalimatnya begitu saja.Kiran bingung, dalam kontrak kerjanya, jelas-jelas tertulis jika masa kontraknya lima tahun dan tidak ad
Keesokan harinya. Kedua kalinya Kiran menginjakkan kaki di RDJ Group, kali ini dia datang sebagai salah satu karyawan perusahaan besar ini. Kiran mengembuskan napas panjang. “Baik, Kiran. Kamu bisa melakukannya.” Senyum Kiran terangkat sempurna, menutupi kecemasan yang sedang dirasakannya. Kiran lebih dulu melapor ke bagian HRD. Setelah mendapat kontrak kerja dan arahan dari pihak HRD, Kiran langsung naik ke lantai sepuluh, ruang divisi pemasaran berada. Begitu tiba di divisi pemasaran. Kiran menghentikan langkah sejenak, matanya menelisik ke seluruh ruangan, para staff di sini mulai sibuk dengan pekerjaan mereka. “Kamu mencari siapa? Ada yang bisa kubantu?” Suara dari belakang punggungnya, membuat Kiran memutar tumit dengan cepat. Kini, Kiran berhadapan dengan wanita berpenampilan anggun. Dari ujung rambut hingga kaki, wanita ini benar-benar tampak sempurna. Kiran melihat lanyard berwarna sama dengan miliknya menggantung di leher wanita ini, lalu dia membaca posisi
Waktu seperti berhenti.Elvano Radjasa, ada di hadapannya. Jas abu-abu arang yang melekat sempurna di tubuh tegapnya seolah menegaskan bahwa pria ini bukan lagi pemuda yang dulu pernah berjanji akan memberikan dunianya pada Kiran.Kini, dialah sang pemilik dunia itu.Kiran merasa paru-parunya kosong secara paksa ketika melihat sorot mata pria itu padanya.Sorot mata itu masih setajam dulu, namun kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya telah menguap, digantikan dengan sorot mata dingin yang begitu tebal.Kiran sudah menyiapkan dirinya untuk menyapa pria itu, sebuah sapaan lemah yang mungkin akan terdengar konyol.Namun, sebelum sempat bibirnya terbuka, Elvano melewatinya begitu saja.Aroma parfum woody dan citrus yang maskulin, aroma yang masih sama setelah enam tahun, menyapu indra penciuman Kiran, meninggalkan rasa perih di sudut hatinya.Kiran membalikkan tubuh perlahan, menatap punggung tegap yang menghilang perlahan. Senyum getir tersungging di bibirnya yang pucat.** Setel
Kiran akhirnya melakukan sesi interview bersama dua pelamar lainnya. Meski suasana aula begitu menegangkan, tetapi Kiran bisa bernapas lega setelah mampu menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan bergantian oleh ketiga pewawancara.Sampai tatapan salah satu pewawancara wanita tertuju pada Kiran lagi, sebelum bibirnya kembali melontarkan pertanyaan, suara dering ponselnya yang ada di atas meja, mengalihkan perhatiannya.Nama yang terpampang di layar, membuat wanita berpakaian blouse putih itu, bergegas menjawab panggilan itu.Dia sedikit memiringkan kepala ke arah samping ketika ponsel menyentuh telinganya.“Halo, selamat pagi, Pak.” Suaranya begitu lirih.Wanita itu diam mendengarkan suara dari seberang panggilan. Kepalanya mengangguk-angguk pelan, bersamaan dengan ekor mata yang melirik ke arah berkas di meja.“Baik, Pak ….”“Saya mengerti ….” “Baik.” Panggilan itu berakhir.Kiran duduk dengan tenang menunggu pewawancara yang menjeda sesi interview. Kiran kembali melebarkan se
Kiran melangkahkan kaki di sepanjang koridor hotel yang tidak jauh dari rumah sakit, tempat yang akan ditinggalinya sementara ini. Selain untuk mempermudah dirinya menemui sang ayah, Kiran juga ingin menghindari keributan. Kehadiran Kiran tak pernah diharapkan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat, terasa begitu dingin bagi Kiran setiap kali kakinya berpijak di sana. Kiran hanyalah anak angkat di keluarganya. Ibunya tak pernah sedikit pun menyayanginya, begitu juga dengan kedua kakaknya yang tak pernah peduli pada Kiran. Kiran hanya berguna ketika dia bisa menghasilkan uang. Kiran harus menyenangkan ibu dan kedua saudaranya, baru saat itulah dia akan dipandang. Walaupun sebenarnya Kiran tetap tidak akan dianggap, dan ibunya tetap akan mengeluarkan kata-kata tajam untuk Kiran. Lagipula Kiran masih memiliki cukup uang untuk menyewa kamar hotel dalam beberapa hari ke depan. Lebih baik merogoh kocek sedikit lebih banyak daripada pergi ke rumah itu. Karena untuk saat ini







