Share

Dimanja Mantan Posesif
Dimanja Mantan Posesif
Author: Aililea (din din)

Terpaksa Pulang

last update publish date: 2026-01-28 18:59:32

“Letakkan berkasnya di meja, dan keluarlah dulu?”

Kirana Calissa bergeming dengan jantung berdegup cepat dan matanya yang membola lebar kala mendengar suara yang sama sekali tak asing baginya.

‘Tidak, bukan dia, ‘kan?’ Kepanikan menyergah hatinya.

Kedatangan Kiran kemari untuk mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji tinggi demi mendapatkan biaya operasi bypass jantung ayahnya yang tak sedikit.

Tetapi suara ini, memukul mundur tekad Kiran untuk bekerja.

Kiran menelan ludah kasar. Wajahnya memucat.

Tatapannya masih lurus tertuju ke depan, ketika wanita yang mengantarnya baru saja menyingkir dari hadapannya.

Sampai, pandangan Kiran kini terpusat pada sosok yang duduk dengan gagah di balik meja.

Pria itu adalah Elvano Radjasa. Mantan kekasih yang dia hancurkan hatinya, dan kini... adalah atasannya?

**

2 hari yang lalu.

"Akhirnya, Sang Tuan Putri ingat jalan pulang," sindir Widya dingin.

Saat pintu terbuka, bukan sambutan hangat yang dia terima. Ibunya, Widya, berdiri di samping ranjang dengan wajah kaku. Tatapannya jatuh pada pakaian kerja Kiran yang tampak kusut, dan itu adalah satu-satunya pakaian yang dia bawa karena terburu-buru mengejar penerbangan paling awal.

Kiran tak menjawab. Matanya tertuju pada sosok pria tua yang terbaring lemah di ranjang.

Ayahnya.

Pria yang dulu begitu gagah, kini tampak ringkih dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya.

"Ayah ...." bisik Kiran, suaranya bergetar.

"Jangan hanya memanggil," potong Widya, langkahnya mendekat tatapannya mengintimidasi. "Ayahmu butuh operasi bypass jantung. Biayanya dua ratus juta. Dan rumah sakit tidak akan melakukan tindakan sebelum kita membayar deposit tujuh puluh persen."

Kiran tertegun. "Dua ratus juta? Tapi, Bu ... setiap bulan aku selalu mengirim—"

"Uang itu habis untuk biaya perawatan rutinnya selama ini, Kiran! Kamu pikir obat jantung itu murah?" Widya membuang muka, suaranya sedikit merendah namun penuh penekanan. “Kalau saja kami tidak menguliahkan dan menghidupimu, keluarga kita tidak akan jatuh miskin seperti ini. Kamu berutang nyawa pada ayahmu."

Ibunya melipat kedua tangan di depan dada lalu kembali berucap kasar, seolah tidak pernah puas untuk menyalahkannya. “Ayahmu selalu mengusahakan apa pun untukmu, jadi sudah sepatutnya kalau sekarang kamu juga mengusahakan kebutuhannya.”

Kiran menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah yang selama ini dia tekan, mendadak meledak lagi. Dia mendekat ke ranjang, menyentuh tangan ayahnya yang terasa kasar dan dingin.

"Aku akan cari uangnya, Bu," ucap Kiran pelan namun tegas.

“Itu memang kewajibanmu! Jika terjadi sesuatu pada ayahmu, itu tanggung jawabmu. Ingat itu!” desis Widya. "Aku tidak mau tahu uang itu harus ada. Atau kamu akan menyesal seumur hidup." Setelahnya, Widya meninggalkan Kiran dan ayahnya begitu saja.

Kiran menatap ayahnya yang tertidur. “Yah.” Suaranya lirih dan berat memanggil nama pria yang bertahun-tahun ini memberikan peran ‘ayah’ dalam hidupnya.

“Aku pasti akan mengusahakan kesembuhan Ayah, hm ….” Suaranya semakin berat kala matanya berkaca-kaca. “Setelah sembuh, aku akan mengajak Ayah jalan-jalan, ke tempat yang selalu Ayah inginkan, oke. Jadi, bertahan, ya.” Kemudian setelah memandangi ayahnya untuk beberapa saat, Kiran menjauh dari ranjang ayahnya.

Dengan bahu merosot, dia keluar dari ruangan itu. Kiran duduk di kursi tunggu koridor yang dingin, lalu merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Dia menghubungi satu-satunya sahabat yang masih dia miliki di kota ini.

"Sab, aku butuh bantuanmu."

Di ujung telepon, Sabrina terdengar terkejut sekaligus cemas. “Ada apa? Kamu di mana?”

Setelahnya Kiran menjelaskan keberadaan dan situasinya saat ini pada Sabrina. Hanya Sabrina yang bisa memahami dan membantunya.

Dari ujung sana, Sabrina mendesah pelan, “Setelah enam tahun, akhirnya kamu memutuskan kembali dan tinggal lagi, Kiran.”

“Aku terpaksa.”

“Sebenarnya aku bisa membantu tapi … aku tidak yakin.”

Tubuh Kiran langsung menegak. Antusias mendengar ucapan Sabrina meskipun merasa bingung mengapa sahabatnya itu tidak yakin dengan bantuan yang akan dia berikan. “Kenapa? Kamu bisa membantuku?”

“Sebenarnya di kantorku yang sekarang sedang membuka lowongan pekerjaan. Tapi, aku benar-benar tidak yakin kamu akan melamar ke sana.”

Kening Kiran berkerut. “Kamu pindah tempat kerja? Di mana? Dan … tapi … kenapa kamu tidak yakin? Dengar, Sab, untuk saat ini di mana pun itu aku tidak peduli, yang terpenting aku bisa mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan Ayah.”

“Di RDJ, Kiran. Kamu tahu ‘kan perusahaan siapa itu?”

Mendengar nama perusahaan itu, tubuh Kiran langsung menegang.

Sabrina melanjutkan ucapannya, seolah sudah menduga reaksi Kiran. “Tapi, hanya perusahaan ini yang bisa memberikanmu gaji besar. Yang aku tahu gaji cleaning service saja sangat besar.”

Kiran menatap pintu kamar rawat ayahnya, sambil masih mendengar Sabrina berbicara, “Jika kamu yakin, datang besok untuk wawancara.”

Kepala Kiran bersandar di dinding koridor dengan mata terpejam setelah menutup panggilannya dengan Sabrina.

RDJ.

Haruskah dia ke sana?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Aililea (din din)
wkwkwkkwkw semoga ga absurd
goodnovel comment avatar
Aililea (din din)
wkwkwkkwkwkw ga bisa, orang ganteng pasti punya mantan
goodnovel comment avatar
Istri Jungkook
kukira el dlu setia padaku ,trnyata dia punya mantan ,huhuhu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dimanja Mantan Posesif   Say Godbye

    Halo, Kakak semua. Akhirnya ga terasa ya, kisah Elvano dan Kiran berakhir sampai sini. 7 bulan cerita ini menemani aku dan kalian, kini kita harus berpisah dengan cerita mereka.Tapi, jangan khawatir, aku sudah ada buku lain yang tak kalah menarik dari kisah mereka, lho. Kisah Amaya Risjad dan Dhanadoya Kusuma Wardhana, dalam cerita Pernikahan Kontrak: Diam-diam Bos Dingin Memanjakanku. Jangan lupa mampir ke kisah mereka juga ya, Kakak.Selamat tinggal pada Elvano dan Kiran. Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini. (^^) Love u all

  • Dimanja Mantan Posesif   Bonus Chapter 3~Akhir

    Tiga tahun berlalu begitu cepat. Suasana sore di halaman samping kediaman Bimantara terasa sangat sejuk dan hangat. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunan hijau, mengiringi suara gelak tawa anak-anak yang memenuhi area padang rumput mini tersebut.Kiran dan Nindy duduk santai di kursi taman kayu di bawah naungan pohon rindang. Di tangan mereka masing-masing menggenggam cangkir teh hangat, menatap lurus ke arah halaman di mana sebuah pertandingan sepak bola mini sedang berlangsung seru.Di sana, Elvano dan Noah tampak melepas atribut formal mereka. Hanya mengenakan kaus polos dan celana santai, kedua pria itu terlihat begitu telaten dan bersemangat bermain bola bersama buah hati mereka.Keanu yang kini sudah berusia empat tahun berlari kencang mengejar bola plastik warna-warni dengan kakinya yang mungil. Wajahnya yang mirip sekali dengan Elvano tampak memerah menggemaskan karena kegirangan. Sementara Danendra yang berusia tiga tahun berlari kecil di belakangan Keanu sambil berteria

  • Dimanja Mantan Posesif   Bonus Chapter 2

    Beberapa bulan kemudian.Di tengah malam yang sunyi, Nindy mendadak terbangun dari tidurnya karena merasakan perut bagian bawahnya yang tiba-tiba sakit luar biasa sampai dia merasakan sesuatu mengalir di pahanya. Saat menyibak selimut, dia melihat sprei tempat tidurnya sudah basah oleh cairan ketuban.Nindy tersentak, dia berusaha membangunkan Noah yang tidur di sampingnya.“Noah, Noah bangun.” Nindy memanggil sambil menahan kontraksi yang dialaminya. Satu tangannya memegang perutnya yang tegang. “Ada apa, hm? Kamu mau minum?” Suara Noah terdengar parau, matanya belum terbuka sempurna.“Noah, ketubanku pecah.” Suara Nindy bergetar menahan mulas yang luar biasa.Noah terlonjak kaget. Dia segera bangun dari posisi berbaring dan melihat wajah istrinya yang pucat dan merintih kesakitan.“Ketuban pecah? Kamu mau melahirkan sekarang?” tanya Noah panik setengah mati. Begitu melihat Nindy mengangguk-angguk. Noah membopong Nindy keluar dari kamar yang ada di lantai bawah, lalu segera menuju

  • Dimanja Mantan Posesif   Bonus Chapter 1

    1 bulan kemudian.Hari pernikahan Sabrina dan Aldo tiba.Kiran dan Elvano datang berdua, sedang Keanu ditinggal di rumah bersama babysitter dan Alina.Kiran tampak anggun meski ada sedikit perubahan di tubuhnya yang kini lebih berisi pasca melahirkan. Dengan gaun yang tertutup bagian dada, tetap memancarkan kecantikannya.“Harusnya kita datang lebih awal, jadi lihat prosesi akadnya,” ucap Kiran sambil melangkah mendekat ke altar pernikahan untuk menemui Sabrina.“Kamu tadi repot pumping dan mengurus Keanu. Sabrina pasti memahami posisi kita dan alasan kenapa kita terlambat,” ucap Elvano lalu menepuk pelan punggung tangan Kiran yang memegang lengannya.Wajah Kiran tetap mengisyaratkan rasa bersalah karena tak bisa menemani Sabrina dan Aldo dari awal.Mereka sudah tiba di altar. Sabrina langsung menyambut haru kedatangan Kiran.“Akhirnya kamu datang.” Sabrina langsung memeluk Kiran.Kiran mendekap erat sahabatnya ini. “Maaf ya, Sab. Aku tidak bisa menemanimu dari awal, padahal kamu mene

  • Dimanja Mantan Posesif   Hidup Yang Sempurna

    Malam hari.Kiran baru saja keluar dari kamar mandi. Tatapan Kiran tertuju pada Elvano yang sedang memberi susu Keanu, karena ASI yang dihasilkan Kiran memang belum lancar.“Apa dia sudah tidur?” Kiran bertanya dengan nada pelan saat mendekat pada Elvano.Elvano mengangkat pandangannya. Dia memberi isyarat agar Kiran tidak berisik, tangannya masih sibuk memegang botol dot, susu di dalam botol belum habis.Kiran melipat bibirnya. Dia duduk perlahan di samping Elvano, lalu tatapannya tertuju pada Keanu yang masih menyusu dengan dot.“Biar aku pangku kalau kamu capek,” kata Kiran dengan suara pelan.Elvano menoleh pada Kiran, dia menggeleng pelan. “Tidak usah,” katanya, “Keanu sudah hampir tidur, kalau dipindah, takutnya dia bangun lagi.’Kiran tersenyum mendengar ucapan Elvano. Dia lega suaminya begitu peduli dan terus membantunya menjaga Keanu.“Tapi besok kamu harus ke kantor. Kamu butuh istirahat,” kata Kiran.“Aku bisa mengerjakan urusan kantor dari rumah.” Elvano membalas dengan san

  • Dimanja Mantan Posesif   Kabar Baik Lain

    Dada Kiran mendesir mendengar ucapan Ayudhia. Dia menganguk-angguk.“Iya, Kak. Aku akan ingat,” kata Kiran sambil mengangguk-angguk pelan di dalam pelukan.Ayudhia melepas pelukan. Tangannya mengusap pipi Kiran dengan tatapan sayang sebagai kakak yang siap melindungi adiknya, lalu dia beranjak meninggalkan Kiran untuk mengurus hal yang lainnya.Elvano duduk merapat pada Kiran. Dia menautkan jemari mereka, mata Elvano memancarkan kehangatan dan kasih sayang untuk Kiran.“Aku harap kamu tidak memendam lelahmu sendiri,” ucap Elvano dengan nada lembut. “Sekarang, kamu tidak sendiri, ada aku, ada orang tuaku, orang tuamu, keluarga kita. Kami akan bersamamu, jangan lagi memendam semua masalahmu sendirian seperti dulu.” Setelah bicara, Elvano mengecup lembut punggung tangan Kiran.Kiran mengangguk pelan, senyumnya lebar dan matanya berkaca-kaca. “Iya, aku akan memanfaatkanmu dan keluarga untuk menjagaku,” seloroh Kiran kemudian yang dia akhiri dengan tawa kecil.“Boleh,” balas Elvano, lalu d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status