Share

Dimanja Mantan Posesif
Dimanja Mantan Posesif
Author: Aililea (din din)

Terpaksa Pulang

last update publish date: 2026-01-28 18:59:32

"Akhirnya, Sang Tuan Putri ingat jalan pulang," sindir Widya dingin.

Saat pintu terbuka, bukan sambutan hangat yang dia terima. Ibunya, Widya, berdiri di samping ranjang dengan wajah kaku. Tatapannya jatuh pada pakaian kerja Kiran yang tampak kusut, dan itu adalah satu-satunya pakaian yang dia bawa karena terburu-buru mengejar penerbangan paling awal.

Kiran tak menjawab. Matanya tertuju pada sosok pria tua yang terbaring lemah di ranjang.

Ayahnya.

Pria yang dulu begitu gagah, kini tampak ringkih dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya.

"Ayah ...." bisik Kiran, suaranya bergetar.

"Jangan hanya memanggil," potong Widya, langkahnya mendekat tatapannya mengintimidasi. "Ayahmu butuh operasi bypass jantung. Biayanya dua ratus juta. Dan rumah sakit tidak akan melakukan tindakan sebelum kita membayar deposit tujuh puluh persen."

Kiran tertegun. "Dua ratus juta? Tapi, Bu ... setiap bulan aku selalu mengirim—"

"Uang itu habis untuk biaya perawatan rutinnya selama ini, Kiran! Kamu pikir obat jantung itu murah?" Widya membuang muka, suaranya sedikit merendah namun penuh penekanan. “Kalau saja kami tidak menguliahkan dan menghidupimu, keluarga kita tidak akan jatuh miskin seperti ini. Kamu berutang nyawa pada ayahmu."

Ibunya melipat kedua tangan di depan dada lalu kembali berucap kasar, seolah tidak pernah puas untuk menyalahkannya. “Ayahmu selalu mengusahakan apa pun untukmu, jadi sudah sepatutnya kalau sekarang kamu juga mengusahakan kebutuhannya.”

Kiran menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah yang selama ini dia tekan, mendadak meledak lagi. Dia mendekat ke ranjang, menyentuh tangan ayahnya yang terasa kasar dan dingin.

"Aku akan cari uangnya, Bu," ucap Kiran pelan namun tegas.

“Itu memang kewajibanmu! Jika terjadi sesuatu pada ayahmu, itu tanggung jawabmu. Ingat itu!” desis Widya. "Aku tidak mau tahu uang itu harus ada. Atau kamu akan menyesal seumur hidup." Setelahnya, Widya meninggalkan Kiran dan ayahnya begitu saja.

Kiran menatap ayahnya yang tertidur. “Yah.” Suaranya lirih dan berat memanggil nama pria yang bertahun-tahun ini memberikan peran ‘ayah’ dalam hidupnya.

“Aku pasti akan mengusahakan kesembuhan Ayah, hm ….” Suaranya semakin berat kala matanya berkaca-kaca. “Setelah sembuh, aku akan mengajak Ayah jalan-jalan, ke tempat yang selalu Ayah inginkan, oke. Jadi, bertahan, ya.” Kemudian setelah memandangi ayahnya untuk beberapa saat, Kiran menjauh dari ranjang ayahnya.

Dengan bahu merosot, dia keluar dari ruangan itu. Kiran duduk di kursi tunggu koridor yang dingin, lalu merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Dia menghubungi satu-satunya sahabat yang masih dia miliki di kota ini.

"Sab, aku butuh bantuanmu."

Di ujung telepon, Sabrina terdengar terkejut sekaligus cemas. “Ada apa? Kamu di mana?”

Setelahnya Kiran menjelaskan keberadaan dan situasinya saat ini pada Sabrina. Hanya Sabrina yang bisa memahami dan membantunya.

Dari ujung sana, Sabrina mendesah pelan, “Setelah enam tahun, akhirnya kamu memutuskan kembali dan tinggal lagi, Kiran.”

“Aku terpaksa.”

“Sebenarnya aku bisa membantu tapi … aku tidak yakin.”

Tubuh Kiran langsung menegak. Antusias mendengar ucapan Sabrina meskipun merasa bingung mengapa sahabatnya itu tidak yakin dengan bantuan yang akan dia berikan. “Kenapa? Kamu bisa membantuku?”

“Sebenarnya di kantorku yang sekarang sedang membuka lowongan pekerjaan. Tapi, aku benar-benar tidak yakin kamu akan melamar ke sana.”

Kening Kiran berkerut. “Kamu pindah tempat kerja? Di mana? Dan … tapi … kenapa kamu tidak yakin? Dengar, Sab, untuk saat ini di mana pun itu aku tidak peduli, yang terpenting aku bisa mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan Ayah.”

“Di RDJ, Kiran. Kamu tahu ‘kan perusahaan siapa itu?”

Mendengar nama perusahaan itu, tubuh Kiran langsung menegang.

Sabrina melanjutkan ucapannya, seolah sudah menduga reaksi Kiran. “Tapi, hanya perusahaan ini yang bisa memberikanmu gaji besar. Yang aku tahu gaji cleaning service saja sangat besar.”

Kiran menatap pintu kamar rawat ayahnya, sambil masih mendengar Sabrina berbicara, “Jika kamu yakin, datang besok untuk wawancara.”

Kepala Kiran bersandar di dinding koridor dengan mata terpejam setelah menutup panggilannya dengan Sabrina.

RDJ.

Haruskah dia ke sana?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Aililea (din din)
wkwkwkkwkw semoga ga absurd
goodnovel comment avatar
Aililea (din din)
wkwkwkkwkwkw ga bisa, orang ganteng pasti punya mantan
goodnovel comment avatar
Istri Jungkook
kukira el dlu setia padaku ,trnyata dia punya mantan ,huhuhu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dimanja Mantan Posesif   Sifat Licik

    “Kiran, aku benar-benar tulus dengan apa yang aku lakukan. Apa kamu tidak bisa memaafkanku? Aku tahu jika salah, dan aku tidak bisa melihatmu bersikap dingin padaku seperti ini.”Yessica harus terus membujuk. Mendekati Kiran agar terhindar dari kecurigaan.Dia aman karena sekarang Kiran hilang ingatan, tetapi tidak tahu kapan Kiran akan kembali ingat dan membongkar, apa yang pernah dia lakukan.Kiran masih diam mendengar ucapan Yessica.Sampai akhirnya napas panjang diembuskan dari bibir Kiran.Senyum Kiran diangkat tipis.Sikap manis Yessica yang jauh berbeda dari sikap sebelumnya, membuat Kiran semakin tidak nyaman.“Tidak ada yang bersikap dingin.” Kiran kembali bicara. “Hanya saja, semua ini masih terasa canggung bagiku. Aku tidak ingat siapa kamu dan bagaimana hubungan kita dulu, jadi jangan memaksaku untuk langsung menerima semua ini.” Nada bicara Kiran penuh penekanan.Yessica mengangguk dengan senyum penuh sandiwara. “Ya, aku mengerti.”“Meski kamu belum terbiasa, tapi aku leg

  • Dimanja Mantan Posesif   Milikmu, Milikku

    “Aku tidak bisa.”Nada bicara Kiran pelan tetapi penuh penekanan.Kiran mau melangkah, tetapi Yessica menggenggam tangannya dengan erat.“Kiran, apa kamu masih marah padaku? Aku bersungguh-sungguh ingin memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya. Aku tidak ada maksud lain.”Kiran menatap Yessica yang memandangnya dengan penuh harap.Dilihat banyak orang seperti ini, sangat tidak nyaman untuk Kiran.Kiran menarik pelan tangan dari genggaman Yessica. “Baiklah, tapi tidak sampai larut malam.”Senyum Yessica terangkat lebar. “Baiklah, aku hanya mau mengajakmu jalan ke mall. Seperti dulu saat kita jalan berdua bersama.”Kiran belum bisa mengingat masa kecilnya sedikit pun.Tetapi sikap dan ucapan Yessica saat ini sangat meyakinkan kalau mereka memang dulu sangat dekat.Yessica mengajak Kiran ke mobil yang menunggu di depan.Sebelum masuk ke dalam mobil, tatapan Kiran tertuju pada sopir yang duduk di belakang setir.Pria paruh baya ini yang biasa mengantar Noah, Kiran bisa sedikit t

  • Dimanja Mantan Posesif   Ketahuan 'Kan?

    Bibir Kiran terlipat dalam. Dia buru-buru berdiri, lalu mengambil rantang di atas meja.Kiran melirik sejenak ke Elvano, sebelum melangkah menjauh.Saat akan melewati Aksa yang berdiri di dekat pintu, Kiran lebih dulu membungkukkan tubuhnya. “Saya permisi dulu, Pak Aksa.” Kiran melewati Aksa begitu saja. Panik dan malu bercampur menjadi satu.Sedang Aksa menatap kepergian Kiran dengan kening berkerut dalam.Begitu pintu tertutup, tatapan Aksa kini beralih pada Elvano yang baru saja bangkit dari duduknya.“Kalian ….” Aksa sengaja menjeda kalimatnya.Tatapannya penuh curiga.Dia tidak melihat jelas apa yang baru saja Elvano dan Kiran lakukan, tetapi dia melihat kepanikan di wajah Kiran.“Kami kenapa? Tidak ada salahnya mencium calon istri, tapi Papa keburu masuk ruangan.” Setelah bicara, senyum Elvano dilebarkan sempurna.Bola mata Aksa membulat lebar.Bisa-bisanya putranya ini bicara dengan sangat blak-blakkan.“Calon istri?” Nada bicara Aksa penuh penekanan. “Memangnya kamu sudah mem

  • Dimanja Mantan Posesif   Tidak Suka

    Kiran tersenyum geli mendengar pertanyaan Elvano.Dia menegakkan tubuhnya. Duduk sedikit miring menghadap Elvano.“Tidak, mereka tidak melakukan itu.” Senyum Kiran terangkat kecil. “Mereka senang bisa bertemu denganku.”“Bagaimana denganmu?” Pertanyaan Elvano mengembangkan senyum Kiran. “Aku hanya lega, tapi tidak tahu apakah itu perasaan senang dan bahagia, atau hanya menerima.” Pasti tidak mudah untuk Kiran menerima begitu saja keluarganya setelah bertahun-tahun berpisah. Elvano memahaminya.“Tidak apa-apa. Kamu berhak mengungkap perasaanmu tanpa tekanan.” Tangan Elvano terulur untuk mengusap rambut Kiran.Kiran mengangguk-angguk manja, sampai dia teringat Yessica.“Masalahnya, sekarang aku bersaudara dengan wanita sombong itu.” Kiran mengembuskan napas kasar setelah bicara. Dia tidak rela memiliki hubungan status dengan wanita yang suka berbuat semena-mena.“Wanita sombong?” Satu sudut alis Elvano tertarik ke atas. “Maksudmu wanita yang berdebat denganmu di toko tas? Siapa namany

  • Dimanja Mantan Posesif   Makan Berdua

    Kiran menatap Elvano yang masih berdiri.“El, kenapa masih tidak duduk.” Kiran menarik tangan Elvano, membawa sang kekasih duduk di dekatnya.Setelahnya Kiran mengambil rantang dari atas piring. Kini dia memegang satu rantang di tangan kiri, lalu tangan kanan memegang sendok.Mendapati Kiran tak menyodorkan sendok untuknya, mata Elvano menelisik ke meja, mencari-cari benda itu.“Mana sendokku?” Elvano kembali menatap pada Kiran, dia tak menemukan sendok selain yang ada di tangan Kiran.Senyum Kiran melebar. Kiran mengangkat sendok yang sudah berisi suapan makanan.“Untuk apa sendok lain? Aku yang akan menyuapimu hari ini.”Elvano menatap tak percaya, tetapi juga senang mendapat perhatian dari Kiran.“Buka mulutmu.” Satu suapan siap dimasukkan ke dalam mulu Elvano.Elvano membuka mulut. Dia menerima suapan dari Kiran.Tak hanya sekali, beberapa kali Kiran menyuapkan makanan ke mulut Elvano.“Kamu tidak makan?” Permukaan jempol Elvano menyentuh bibirnya yang terkena sisa makanan. Tatapa

  • Dimanja Mantan Posesif   Bertemu Kekasih

    Kiran menatap bingung.Kelopak matanya mengedip beberapa kali.“Melakukan apa, Bibi?”“Ini pun masih tanya.” Alina menepuk-nepuk pelan punggung Kiran. “Tentu saja, membujuk El. Minta dia tetap memikirkan istirahat dan makan yang teratur.”Bibir Kiran terlipat, kepalanya mengangguk-angguk pelan.“Bibi tenang saja, aku pasti akan menasihatinya untuk tetap menjaga kesehatan.” Ucapan melegakan dari Kiran, membuat Alina bernapas panjang.“Ayahnya keras karena memikirkan kakaknya yang memiliki banyak beban tanggung jawab, karena itu El juga ditekan agar segera menguasai. Bibi hanya berharap setidaknya El memikirkan kesehatannya juga.”Kiran mengangguk-angguk lagi. “Bibi jangan cemas, aku akan menasihatinya.”Setelah bicara cukup lama.Alina pamit pulang.Kiran berdiri di dekat pintu.Dia diam cukup lama, sampai tatapannya tertuju ke rantang yang Alina berikan.Jika yang Alina katakan benar, berarti selama dua hari ini Elvano benar-benar penuh tekanan. Tetapi kenapa Elvano tidak bercerita p

  • Dimanja Mantan Posesif   Digoda Klien

    Kiran berusaha kembali menarik tangannya, tetapi pria ini tak melepas. “Kamu sangat manis.” Ucapan Robby membuat wajah Kiran semakin memucat. “Pak Elvano sudah mabuk, bagaimana kalau menemaniku sebentar?” Seluruh tubuh Kiran merinding ketika Robby mengusap punggung tangannya. Tangannya dia tarik

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Dimanja Mantan Posesif   Persaingan

    Suasana mendadak tegang. Apalagi saat Kiran melihat Dania menatap tajam padanya. “Bukan seperti itu maksud saya, Bu. Saya hanya–” “Aku tahu, mungkin kamu sulit percaya pada orang lain, apalagi posisimu sekarang bisa dibilang lebih tinggi dari staff lain di divisi pemasaran.” Dania memotong ucapan

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Dimanja Mantan Posesif   Menggantikan Posisi

    Sore hari. Dania bergegas berdiri dari kursi lalu menghampiri Elvano yang baru saja keluar dari ruang kerja. “Anda mau bertemu klien sekarang, Pak? Kalau begitu, saya akan bersiap-siap menemani Anda.” Dania bicara dengan penuh semangat. Senyumnya begitu lebar ketika menatap pada Elvano yang berd

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Dimanja Mantan Posesif   Anak El?

    Elvano memasukkan kembali ponsel ke saku jas bagian dalam. Dia menoleh pada Kiran yang ada di belakangnya. “Pergilah ke toko kue, belikan kue strawberry dan kirim ke alamat yang nanti kukirimkan.” Kesadaran Kiran kembali tertarik setelah mendengar suara Elvano. Dia baru menyadari kalau Elvano m

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status