Share

Memantapkan Hati

last update publish date: 2026-01-28 19:01:20

Malam itu, Kiran tidak pulang ke rumah. Dia tahu, menginjakkan kaki di sana hanya akan memberinya luka baru. Makian ibunya yang menyebutnya "anak tak tahu untung" atau tatapan dingin dari kedua kakak tirinya adalah hal terakhir yang dia butuhkan saat ini. 

Kiran akhirnya memilih menyewa kamar hotel melati paling murah di gang sempit dekat rumah sakit.

Di dalam kamar yang kecil itu, Kiran terus menatap layar ponselnya. Angka dua ratus juta seolah terukir di langit-langit, menghimpit napasnya. Gaji dari pekerjaannya sebagai staf komunikasi di luar kota memang cukup untuk hidup layak, tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan nominal sebesar itu. 

Sedangkan ayahnya? Pria itu tidak punya waktu lama. Jantungnya bisa menyerah kapan saja.

"Aku tidak punya pilihan lain," bisik Kiran pada kesunyian yang mencekam.

Pilihan itu adalah RDJ Group. Tiga huruf yang selama enam tahun ini dia hapus paksa dari hidupnya. Bagi dunia, itu adalah perusahaan raksasa. Tapi bagi Kiran, itu adalah tempat dari semua kesakitan yang ia ciptakan sendiri. 

RDJ adalah singkatan dari nama keluarga pria yang pernah menjadi pusat semestanya.

Kiran membuka tasnya, mengeluarkan map berisi ijazah dan sertifikat kerjanya. Jemarinya bergetar saat menyentuh kertas-kertas itu. Selama enam tahun, dia bekerja gila-gilaan di kota orang hanya untuk membangun dinding yang tinggi antara dirinya dan masa lalu. Dia pikir dia sudah cukup jauh berlari dari bayang-bayang Elvano Radjasa.

Namun, kenyataan pahit menyeretnya kembali.

Mengingat Elvano bukan lagi tentang kenangan manis, melainkan tentang rasa sesak yang tak kunjung hilang. Kiran tahu betul, di dunia ini, dia adalah orang terakhir yang ingin ditemui oleh pria itu. Ada alasan kenapa dia memilih menghilang dengan cara yang paling pengecut enam tahun lalu. Ada alasan kenapa dia membiarkan Elvano memandangnya sebagai wanita paling kejam yang pernah ada.

"Kalau aku ke sana, aku pasti akan bertemu dengannya," gumam Kiran. Matanya mulai terasa panas.

Ketakutan itu nyata. Bukan takut karena tidak lagi dicintai, tapi takut melihat bagaimana luka yang ia torehkan dulu mungkin telah mengubah Elvano menjadi sosok yang asing. 

Namun, bayangan ayahnya yang terbaring lemah jauh lebih mengerikan daripada egonya.

Ibunya, Widya, tidak akan peduli jika Kiran harus menjual harga dirinya di depan mantan kekasihnya sendiri. Bagi Widya dan kedua kakak tirinya, Kiran hanyalah mesin uang yang harus bertanggung jawab atas biaya rumah sakit. Mereka tidak pernah membiarkan Kiran lupa bahwa dia hanyalah anak angkat yang "beruntung" karena dipungut oleh sang ayah.

“Jangan berlagak suci. Lakukan tugasmu, atau jangan pernah panggil suamiku ayah lagi!” Ancaman ibunya sore tadi kembali terngiang, lebih tajam dari sembilu.

Kiran meremas map di tangannya hingga kertas di dalamnya sedikit lecek.

"Maafkan aku, El... aku harus muncul lagi," isaknya pelan. "Asal Ayah bisa selamat."

Esok paginya.

Kiran berdiri di depan gedung pencakar langit dengan logo RDJ yang mencolok. Gedung itu tampak angkuh, seolah sedang menertawakan keberaniannya. Jantung Kiran berdegup kencang, menghantam rongga dadanya hingga terasa sakit.

"Demi Ayah. Fokus pada uangnya, bukan orangnya," bisik Kiran berulang kali, mencoba menguatkan hatinya yang rapuh.

Dia melangkah masuk ke lobi yang luas dan mewah. Dia mengikuti instruksi Sabrina menuju aula lantai dua. Di sana, ratusan orang sudah mengantre dengan dokumen di tangan. Persaingan terlihat sangat ketat. Banyak pelamar yang datang dengan pakaian bermerek, sementara Kiran hanya mengenakan kemeja putih sederhana yang sudah dia setrika berkali-kali.

Saat tiba gilirannya di meja pendaftaran, seorang petugas pria mengambil berkasnya. Petugas itu sempat terdiam lama saat membaca nama lengkap Kiran. Dia kemudian mengetik sesuatu di komputer, lalu menatap Kiran dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kirana Calissa?" tanya petugas itu memastikan.

"Iya, Pak. Saya melamar untuk bagian Manajemen Komunikasi."

Petugas itu tidak langsung menjawab. Dia mengambil sebuah stiker merah, menempelkannya di map milik Kiran—simbol yang tidak dimiliki pelamar lain—lalu berkata, "Langsung ke Ruang 3 di ujung koridor. Kamu tidak perlu mengantre tes tertulis."

Kiran mengernyit bingung. "Tapi, yang lain harus tes dulu, kan? Kenapa saya langsung ke ruang interview?"

Petugas itu hanya menatapnya datar, tanpa ekspresi sedikit pun. "Instruksi khusus dari atasan. Silakan langsung ke sana sekarang."

Langkah kaki Kiran terasa seberat timah saat menyusuri koridor sunyi menuju Ruang 3. Tepat di depan pintu kayu jati yang tertutup rapat, dia berhenti. Jantungnya berdebar liar. Instruksi khusus?

Kiran baru saja hendak memutar kenop pintu, ketika samar-samar dia melihat kamera CCTV di atas pintu itu bergerak, lensanya seolah mengunci tepat pada wajahnya. Seolah ada seseorang, di suatu ruangan gelap, yang sedang menantikan kehadirannya.

Kiran menarik napas panjang, lalu mendorong pintu itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Istri Jungkook
pantas aja , ibu mu kek Mak lampir ,trnyata kmu hanya anak angkat
goodnovel comment avatar
lilyedy.
Kiran anak angkat pantes ibunya monster hehehe, tapi ayahnya baik y Hai bang El ketemu lagi♡
goodnovel comment avatar
~•°Putri Nurril°•~
pantesan ibu nya berasa kayak emak tiri. ternyata kiran hanya anak angkat
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dimanja Mantan Posesif   Menghindar

    Mata Elvano membola lebar.Elvano mengikis jarak di antara dia dan Noah. Dagunya sedikit terangkat, matanya menyorot tajam pada Noah. “Apa maksudmu aku tidak boleh membawa Kiran? Terserah aku mau pakai mobil apa? Tapi kamu tidak bisa mencegahku membawa Kiran.”Kiran merasakan atmosphere sekitar menjadi sedingin es. Dia menggunakan kedua tangan untuk menjauhkan Elvano dan Noah satu sama lain.Kiran kini berdiri di antara kedua pria ini, lalu dia berkata, “Noah sebenarnya hanya ingin berangkat ke pesta bersama kita.” Kiran menoleh lebih dulu ke Elvano lalu menatap sang kakak. “Tinggal bilang begitu, kenapa masalah mobil saja diperkarakan?”Elvano tersentak mendengar ucapan Kiran. Dia menatap Noah yang memalingkan muka.“Oh, kukira kamu berniat menghalangiku mengajak Kiran.” Elvano merapikan tepian jasnya. “Kamu bisa pakai mobil sendiri, aku dan Kiran pakai mobilku. Mudah bukan? Kita bertemu di tempat pesta dan masuk bertiga.”“Kenapa hal begini saja harus kamu buat rumit?” Elvano bicara

  • Dimanja Mantan Posesif   Ikut Kiran dan Elvano

    Kening Kiran berkerut dalam. Dia semakin menatap aneh pada kakaknya.“Tiba-tiba sekali kamu bertanya seperti itu. Kenapa?” Kiran menyelidik.Noah terkejut mendengar pertanyaan balik dari Kiran. Dia lalu segera menjelaskan, “Oh tidak, tadi aku melihat Farhan bertemu seorang wanita, lalu ekspresi wajahnya berubah aneh.”Kini kedua alis Kiran berkerut sampai saling bertautan. Dia diam beberapa detik, lalu akhirnya membalas pertanyaan sang kakak.“Ya, awal ketemu El lagi setelah enam tahun berpisah, aku merasa jantungku berdebar cepat.”Saat mendengar ucapan Kiran, Noah tanpa sadar menyentuh dadanya.“Karena dulu aku yang meninggalkannya, jadi aku benar-benar bersalah dan membuatku takut padanya. Hanya itu.” Kiran mengedikkan kedua bahunya pelan, lalu dia menatap kembali pada Noah.Noah buru-buru menurunkan tangan dari dada. Dia merapikan tepian jas lalu berdeham.“Oh, jadi seperti itu.” Noah mengangguk-angguk. “Pantas saja tadi Farhan bersikap aneh.”Kiran menatap Noah dengan mata menyip

  • Dimanja Mantan Posesif   Sikap Aneh Noah

    Nandira menoleh dengan tenang setelah mendengar pertanyaan suaminya. Dia menatap Edo yang tak senang.“Kenal. Dia teman sekolahku dulu.” Nandira tak memungkiri. Berbohong pun akan Edo kulik sampai dalam dan bisa menimbulkan masalah lain. “Hanya teman?” Suara Edo masih begitu dingin.Nandira mengangguk pelan. “Satu kelas waktu SMA, setelahnya aku kuliah di luar negeri dan tak pernah bertemu dengannya.” Nandira bicara dengan nada suara yang stabil dan meyakinkan.Edo masih menatap curiga, tetapi kemudian dia berdiri menghadap ke pintu lift.Sedang Nandira mengembuskan napas pelan. Wajahnya yang tenang menyembunyikan kecemasan.**Di ruangan Noah.Noah duduk diam dengan mata menyipit. Kursinya menghadap ke samping dan jari-jari tangannya berulang mengetuk pelan meja.“Pak, apa Anda mengenal Bu Nandira? Sejak tadi, saya lihat-lihat Anda terus memperhatikan beliau?” Farhan memberanikan diri bertanya, setelah sejak tadi melihat sikap Noah yang tak seperti biasanya.Tatapan Noah tertuju pad

  • Dimanja Mantan Posesif   Klien Noah

    Noah baru saja selesai menerima panggilan. Dia kembali pergi ke meja tempat Kiran dan Yessica berada.Tetapi sesampainya di sana, Noah melihat Kiran yang duduk sendirian.“Di mana temanmu?” Noah menatap bingung. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh coffee shop tetapi tak mendapati wanita tadi di sana.Kiran diam sepersekian detik mendengar pertanyaan Noah. Dia percaya dengan ucapan Yessica jika setelah ini akan benar-benar berubah dan memastikan jika ibunya tidak akan mengganggu Kiran lagi, walau Yessica tidak mau memberitahu di mana wanita itu sekarang berada.“Oh, dia tadi tiba-tiba ada urusan penting. Jadi, buru-buru pamit pergi dan minta maaf tidak pamit denganmu dulu.” Setelah menjawab, Kiran berdiri dari duduknya. “Kita pulang sekarang?” tanyanya kemudian.Noah mengangguk. Dia meninggalkan coffee shop bersama Kiran.“Kiran, apa menurutmu suara temanmu itu mirip dengan suara Yessica?” Noah menoleh pada Kiran yang berdiri di sampingnya saat mereka turun menggunakan eskalator.Kira

  • Dimanja Mantan Posesif   Teman?

    Kiran dan Noah masuk ke toko parfum brand ternama.Di sana, Kiran memilih aroma parfum mana yang sekiranya cocok untuk dihadiahkan ke rekan bisnis sang kaka.Kiran mengambil salah satu parfum beraroma manis. Setelah mencium sendiri parfum itu. Kiran kini mendekatkan ke hidung sang kaka.“Bagaimana kalau ini? Selain manis, aromanya juga menyegarkan.” Noah mencium tester yang Kiran dekatkan ke hidungnya. Hingga dia terdiam mencium aroma itu.“Bagaimana?” Kiran memastikan.Kiran mengerutkan kening melihat Noah malah diam tak memberi tanggapan.“Noah, ada apa?” Kiran memastikan.Noah tersadar dari lamunannya. Dia menggeleng pelan.“Bungkus saja mana yang kamu rasa cocok.” Setelah bicara, Noah pergi menuju ke kasir.Sedang Kiran mengerutkan kening. Noah yang mau memberi hadiah, kenapa jadi pasrah ke Kiran?Akhirnya Kiran memilih parfum yang menurutnya sesuai, lalu memberikan ke kasir agar Noah membayarnya.Setelah dapat. Noah dan Kiran keluar dari toko.“Kamu mau minta apa?” Noah menoleh p

  • Dimanja Mantan Posesif   Diajak Pergi Lagi

    Setelah selesai makan. Aldo mengantar Kiran baru kemudian Elvano dan sekarang dia mengantar Sabrina.“Mereka berdua ini memang unik.” Suara Aldo memecah keheningan. “Bisa-bisanya mereka mengikuti kita, sampai akhirnya mobil El jadi korban.” Aldo menggeleng-geleng pelan dengan senyum begitu lepas.Sabrina tersenyum simpul. Dia menatap pada Aldo. “Bagaimana dengan mobilmu? Bemper belakang juga lecet, ‘kan?”Aldo menoleh sekilas pada Sabrina yang baru saja bicara. “Tidak apa-apa. Hanya lecet sedikit, nanti dipoles di bengkel juga selesai.”Sabrina mengangguk-angguk pelan.“Aku senang kamu sudah tidak menghindariku.” Aldo kembali bicara. Dia menatap dengan senyum penuh kelegaan ke arah Sabrina.Sabrina merasakan kecanggungan setelah mendengar ucapan Aldo.Ya, jika dia tidak salah paham, Sabrina juga mungkin tak akan menghindari Aldo.“Kita bisa tetap berteman dengan baik.” Sabrina memandang pada Aldo yang sedang fokus menyetir.Sabrina melihat raut wajah Aldo yang berubah. Kalimatnya mung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status