LOGINMalam itu, Kiran tidak pulang ke rumah. Dia tahu, menginjakkan kaki di sana hanya akan memberinya luka baru. Makian ibunya yang menyebutnya "anak tak tahu untung" atau tatapan dingin dari kedua kakak tirinya adalah hal terakhir yang dia butuhkan saat ini.
Kiran akhirnya memilih menyewa kamar hotel melati paling murah di gang sempit dekat rumah sakit.
Di dalam kamar yang kecil itu, Kiran terus menatap layar ponselnya. Angka dua ratus juta seolah terukir di langit-langit, menghimpit napasnya. Gaji dari pekerjaannya sebagai staf komunikasi di luar kota memang cukup untuk hidup layak, tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan nominal sebesar itu.
Sedangkan ayahnya? Pria itu tidak punya waktu lama. Jantungnya bisa menyerah kapan saja.
"Aku tidak punya pilihan lain," bisik Kiran pada kesunyian yang mencekam.
Pilihan itu adalah RDJ Group. Tiga huruf yang selama enam tahun ini dia hapus paksa dari hidupnya. Bagi dunia, itu adalah perusahaan raksasa. Tapi bagi Kiran, itu adalah tempat dari semua kesakitan yang ia ciptakan sendiri.
RDJ adalah singkatan dari nama keluarga pria yang pernah menjadi pusat semestanya.
Kiran membuka tasnya, mengeluarkan map berisi ijazah dan sertifikat kerjanya. Jemarinya bergetar saat menyentuh kertas-kertas itu. Selama enam tahun, dia bekerja gila-gilaan di kota orang hanya untuk membangun dinding yang tinggi antara dirinya dan masa lalu. Dia pikir dia sudah cukup jauh berlari dari bayang-bayang Elvano Radjasa.
Namun, kenyataan pahit menyeretnya kembali.
Mengingat Elvano bukan lagi tentang kenangan manis, melainkan tentang rasa sesak yang tak kunjung hilang. Kiran tahu betul, di dunia ini, dia adalah orang terakhir yang ingin ditemui oleh pria itu. Ada alasan kenapa dia memilih menghilang dengan cara yang paling pengecut enam tahun lalu. Ada alasan kenapa dia membiarkan Elvano memandangnya sebagai wanita paling kejam yang pernah ada.
"Kalau aku ke sana, aku pasti akan bertemu dengannya," gumam Kiran. Matanya mulai terasa panas.
Ketakutan itu nyata. Bukan takut karena tidak lagi dicintai, tapi takut melihat bagaimana luka yang ia torehkan dulu mungkin telah mengubah Elvano menjadi sosok yang asing.
Namun, bayangan ayahnya yang terbaring lemah jauh lebih mengerikan daripada egonya.
Ibunya, Widya, tidak akan peduli jika Kiran harus menjual harga dirinya di depan mantan kekasihnya sendiri. Bagi Widya dan kedua kakak tirinya, Kiran hanyalah mesin uang yang harus bertanggung jawab atas biaya rumah sakit. Mereka tidak pernah membiarkan Kiran lupa bahwa dia hanyalah anak angkat yang "beruntung" karena dipungut oleh sang ayah.
“Jangan berlagak suci. Lakukan tugasmu, atau jangan pernah panggil suamiku ayah lagi!” Ancaman ibunya sore tadi kembali terngiang, lebih tajam dari sembilu.
Kiran meremas map di tangannya hingga kertas di dalamnya sedikit lecek.
"Maafkan aku, El... aku harus muncul lagi," isaknya pelan. "Asal Ayah bisa selamat."
Esok paginya.
Kiran berdiri di depan gedung pencakar langit dengan logo RDJ yang mencolok. Gedung itu tampak angkuh, seolah sedang menertawakan keberaniannya. Jantung Kiran berdegup kencang, menghantam rongga dadanya hingga terasa sakit.
"Demi Ayah. Fokus pada uangnya, bukan orangnya," bisik Kiran berulang kali, mencoba menguatkan hatinya yang rapuh.
Dia melangkah masuk ke lobi yang luas dan mewah. Dia mengikuti instruksi Sabrina menuju aula lantai dua. Di sana, ratusan orang sudah mengantre dengan dokumen di tangan. Persaingan terlihat sangat ketat. Banyak pelamar yang datang dengan pakaian bermerek, sementara Kiran hanya mengenakan kemeja putih sederhana yang sudah dia setrika berkali-kali.
Saat tiba gilirannya di meja pendaftaran, seorang petugas pria mengambil berkasnya. Petugas itu sempat terdiam lama saat membaca nama lengkap Kiran. Dia kemudian mengetik sesuatu di komputer, lalu menatap Kiran dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kirana Calissa?" tanya petugas itu memastikan.
"Iya, Pak. Saya melamar untuk bagian Manajemen Komunikasi."
Petugas itu tidak langsung menjawab. Dia mengambil sebuah stiker merah, menempelkannya di map milik Kiran—simbol yang tidak dimiliki pelamar lain—lalu berkata, "Langsung ke Ruang 3 di ujung koridor. Kamu tidak perlu mengantre tes tertulis."
Kiran mengernyit bingung. "Tapi, yang lain harus tes dulu, kan? Kenapa saya langsung ke ruang interview?"
Petugas itu hanya menatapnya datar, tanpa ekspresi sedikit pun. "Instruksi khusus dari atasan. Silakan langsung ke sana sekarang."
Langkah kaki Kiran terasa seberat timah saat menyusuri koridor sunyi menuju Ruang 3. Tepat di depan pintu kayu jati yang tertutup rapat, dia berhenti. Jantungnya berdebar liar. Instruksi khusus?
Kiran baru saja hendak memutar kenop pintu, ketika samar-samar dia melihat kamera CCTV di atas pintu itu bergerak, lensanya seolah mengunci tepat pada wajahnya. Seolah ada seseorang, di suatu ruangan gelap, yang sedang menantikan kehadirannya.
Kiran menarik napas panjang, lalu mendorong pintu itu.
Halo, Kakak semua. Akhirnya ga terasa ya, kisah Elvano dan Kiran berakhir sampai sini. 7 bulan cerita ini menemani aku dan kalian, kini kita harus berpisah dengan cerita mereka.Tapi, jangan khawatir, aku sudah ada buku lain yang tak kalah menarik dari kisah mereka, lho. Kisah Amaya Risjad dan Dhanadoya Kusuma Wardhana, dalam cerita Pernikahan Kontrak: Diam-diam Bos Dingin Memanjakanku. Jangan lupa mampir ke kisah mereka juga ya, Kakak.Selamat tinggal pada Elvano dan Kiran. Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini. (^^) Love u all
Tiga tahun berlalu begitu cepat. Suasana sore di halaman samping kediaman Bimantara terasa sangat sejuk dan hangat. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunan hijau, mengiringi suara gelak tawa anak-anak yang memenuhi area padang rumput mini tersebut.Kiran dan Nindy duduk santai di kursi taman kayu di bawah naungan pohon rindang. Di tangan mereka masing-masing menggenggam cangkir teh hangat, menatap lurus ke arah halaman di mana sebuah pertandingan sepak bola mini sedang berlangsung seru.Di sana, Elvano dan Noah tampak melepas atribut formal mereka. Hanya mengenakan kaus polos dan celana santai, kedua pria itu terlihat begitu telaten dan bersemangat bermain bola bersama buah hati mereka.Keanu yang kini sudah berusia empat tahun berlari kencang mengejar bola plastik warna-warni dengan kakinya yang mungil. Wajahnya yang mirip sekali dengan Elvano tampak memerah menggemaskan karena kegirangan. Sementara Danendra yang berusia tiga tahun berlari kecil di belakangan Keanu sambil berteria
Beberapa bulan kemudian.Di tengah malam yang sunyi, Nindy mendadak terbangun dari tidurnya karena merasakan perut bagian bawahnya yang tiba-tiba sakit luar biasa sampai dia merasakan sesuatu mengalir di pahanya. Saat menyibak selimut, dia melihat sprei tempat tidurnya sudah basah oleh cairan ketuban.Nindy tersentak, dia berusaha membangunkan Noah yang tidur di sampingnya.“Noah, Noah bangun.” Nindy memanggil sambil menahan kontraksi yang dialaminya. Satu tangannya memegang perutnya yang tegang. “Ada apa, hm? Kamu mau minum?” Suara Noah terdengar parau, matanya belum terbuka sempurna.“Noah, ketubanku pecah.” Suara Nindy bergetar menahan mulas yang luar biasa.Noah terlonjak kaget. Dia segera bangun dari posisi berbaring dan melihat wajah istrinya yang pucat dan merintih kesakitan.“Ketuban pecah? Kamu mau melahirkan sekarang?” tanya Noah panik setengah mati. Begitu melihat Nindy mengangguk-angguk. Noah membopong Nindy keluar dari kamar yang ada di lantai bawah, lalu segera menuju
1 bulan kemudian.Hari pernikahan Sabrina dan Aldo tiba.Kiran dan Elvano datang berdua, sedang Keanu ditinggal di rumah bersama babysitter dan Alina.Kiran tampak anggun meski ada sedikit perubahan di tubuhnya yang kini lebih berisi pasca melahirkan. Dengan gaun yang tertutup bagian dada, tetap memancarkan kecantikannya.“Harusnya kita datang lebih awal, jadi lihat prosesi akadnya,” ucap Kiran sambil melangkah mendekat ke altar pernikahan untuk menemui Sabrina.“Kamu tadi repot pumping dan mengurus Keanu. Sabrina pasti memahami posisi kita dan alasan kenapa kita terlambat,” ucap Elvano lalu menepuk pelan punggung tangan Kiran yang memegang lengannya.Wajah Kiran tetap mengisyaratkan rasa bersalah karena tak bisa menemani Sabrina dan Aldo dari awal.Mereka sudah tiba di altar. Sabrina langsung menyambut haru kedatangan Kiran.“Akhirnya kamu datang.” Sabrina langsung memeluk Kiran.Kiran mendekap erat sahabatnya ini. “Maaf ya, Sab. Aku tidak bisa menemanimu dari awal, padahal kamu mene
Malam hari.Kiran baru saja keluar dari kamar mandi. Tatapan Kiran tertuju pada Elvano yang sedang memberi susu Keanu, karena ASI yang dihasilkan Kiran memang belum lancar.“Apa dia sudah tidur?” Kiran bertanya dengan nada pelan saat mendekat pada Elvano.Elvano mengangkat pandangannya. Dia memberi isyarat agar Kiran tidak berisik, tangannya masih sibuk memegang botol dot, susu di dalam botol belum habis.Kiran melipat bibirnya. Dia duduk perlahan di samping Elvano, lalu tatapannya tertuju pada Keanu yang masih menyusu dengan dot.“Biar aku pangku kalau kamu capek,” kata Kiran dengan suara pelan.Elvano menoleh pada Kiran, dia menggeleng pelan. “Tidak usah,” katanya, “Keanu sudah hampir tidur, kalau dipindah, takutnya dia bangun lagi.’Kiran tersenyum mendengar ucapan Elvano. Dia lega suaminya begitu peduli dan terus membantunya menjaga Keanu.“Tapi besok kamu harus ke kantor. Kamu butuh istirahat,” kata Kiran.“Aku bisa mengerjakan urusan kantor dari rumah.” Elvano membalas dengan san
Dada Kiran mendesir mendengar ucapan Ayudhia. Dia menganguk-angguk.“Iya, Kak. Aku akan ingat,” kata Kiran sambil mengangguk-angguk pelan di dalam pelukan.Ayudhia melepas pelukan. Tangannya mengusap pipi Kiran dengan tatapan sayang sebagai kakak yang siap melindungi adiknya, lalu dia beranjak meninggalkan Kiran untuk mengurus hal yang lainnya.Elvano duduk merapat pada Kiran. Dia menautkan jemari mereka, mata Elvano memancarkan kehangatan dan kasih sayang untuk Kiran.“Aku harap kamu tidak memendam lelahmu sendiri,” ucap Elvano dengan nada lembut. “Sekarang, kamu tidak sendiri, ada aku, ada orang tuaku, orang tuamu, keluarga kita. Kami akan bersamamu, jangan lagi memendam semua masalahmu sendirian seperti dulu.” Setelah bicara, Elvano mengecup lembut punggung tangan Kiran.Kiran mengangguk pelan, senyumnya lebar dan matanya berkaca-kaca. “Iya, aku akan memanfaatkanmu dan keluarga untuk menjagaku,” seloroh Kiran kemudian yang dia akhiri dengan tawa kecil.“Boleh,” balas Elvano, lalu d







