共有

Penyesalan

作者: Erna Azura
last update 最終更新日: 2026-01-01 17:55:16

Pintu ruangan Presdir tertutup perlahan di belakang mama Ayara. Nicholas yang sedang membaca laporan langsung mendongak, alisnya terangkat.

“Sayang? Kamu cepat banget sampai sini.”

Nada suaranya ceria. Nafasnya padahal langsung pendek melihat ekspresi istrinya.

Mama Ayara berdiri di depan meja kerja Nicholas.

Tidak duduk.

Tidak tersenyum.

Tidak membuka percakapan dengan lembut seperti biasanya.

“Sayang,” katanya pelan.

Nicholas langsung tahu, bahaya sedang berada di level maksimum.

“Ya
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Dyandra Mulya
KAPOK Lu STEVIE... dulu REX Lu Sia²kan... Elu milih si DAVID. Ternyata Sekarang PUTUS ditengah jalan dengan Alasan DAVID Kelewat SIBUK Ngurus Perusahaan Kluarganya & Hampir Tak Ada Waktu Utk Bermesra'an. Terus? Sekarang ingin Banting Haluan ke REX lagi? Padahal Saat ini REX sdh MOVE ON & Udh NIKAH?
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Dimanja Suami Kontrakku   Ekstra Chapter

    Bandung, lima tahun kemudian.Di suatu pagi, rumah putih gading itu tidak pernah benar-benar sunyi.Bukan karena suara televisi maupun suara musik dari radio.Tapi karena dua suara laki-laki kecil yang tidak pernah sepakat soal apa pun—kecuali satu hal yaitu siapa yang paling dekat dengan Mami.“Zhai curang!”“Enggak! Abang yang duluan!”Nathan—tujuh tahun, lebih tinggi, lebih logis, merasa paling benar—berdiri dengan tangan di pinggang.Zhaisan—lima tahun, rambutnya sedikit bergelombang seperti Rex waktu kecil—menggenggam mobil mainan seolah itu senjata pembelaan.Anita berdiri di dapur dengan apron luxury berbahan satin, berusaha menahan tawa.“Stop dulu,” katanya lembut tapi tegas. “Satu-satu cerita sama Mami, ada apa sebenarnya ini?”Nathan menunjuk adiknya.“Dia bilang Mami cuma punya satu anak.”Zhaisan menggeleng cepat.“Aku cuma bilang Mami paling sayang aku.”Anita pura-pura berpikir.“Hmm… Mami punya dua anak. Dua-duanya paling disayang.”Nathan menyipitkan m

  • Dimanja Suami Kontrakku   TAMAT

    Mobil berhenti perlahan di depan rumah putih kebanggaan mereka dan kali ini dengan satu napas tambahan di dalamnya.Pintu pagar yang terbuka pelan, seperti sebelumnya—seolah rumah itu memang menyambut anggota baru yang dinanti-nanti.Rex turun lebih dulu, membuka pintu belakang dengan hati-hati berlebihan. Ani turun dari tadi dan berdiri siap, tangannya refleks menahan napas ketika melihat box bayi diangkat keluar.“Pelan ya, Pak,” katanya otomatis, suaranya nyaris berbisik.“Pelan itu default sekarang,” jawab Rex tanpa bercanda. “Aku bahkan jalan kayak di sekolah yang sedang melaksanakan ujian Nasional.”Anita turun terakhir. Langkahnya masih pendek-pendek, satu tangan menopang perut, satu lagi menggenggam tas kecil. Begitu kakinya menginjak halaman, ia berhenti sebentar.Menghirup.Udara Bandung sore itu dingin dan bersih.Dan rumah itu—kini tidak lagi terasa seperti bangunan.Ia terasa seperti tujuan.Nathan melompat turun dari mo

  • Dimanja Suami Kontrakku   Zhaisan Narain Lazuardy

    Di kamar rumah baru itu, Anita terbangun dengan rasa nyeri yang tidak lagi bisa disangkal.Bukan nyeri tajam.Lebih seperti gelombang yang datang, pergi, lalu kembali dengan jeda yang makin pendek.“Pi,” panggilnya pelan.Rex yang sejak semalam setengah terjaga langsung bangkit. Rambutnya berantakan, kausnya kusut, matanya langsung fokus.“Kenapa? Kamu sakit? Perut?”Ia sudah meraih ponsel bahkan sebelum Anita menjawab.“Kontraksi,” ucap Anita singkat. Jujur. Tenang.Kata itu—kontraksi—jatuh seperti tombol panik.Rex berdiri terlalu cepat, hampir tersandung karpet.“Oke. Oke. Kita ke rumah sakit. Sekarang. Sekarang juga.”Ia mondar-mandir, mengambil tas yang sudah disiapkan sejak dua minggu lalu—kemudian membukanya lagi, memastikan isinya, menutupnya, membuka lagi.Anita memperhatikan suaminya dengan napas teratur, meski gelombang berikutnya datang dan membuat jemarinya menggenggam seprai.“Pi,” katanya lagi, lebih pel

  • Dimanja Suami Kontrakku   Tiga Orang Satu Arah

    Ruang pertemuan itu jauh lebih kecil dari ruang sidang pengadilan.Tidak ada palu.Tidak ada penonton.Hanya satu meja panjang, tiga kursi di satu sisi, dua kursi di sisi lain.Di balik meja, Deni dan Yuli duduk berdampingan, ditemani satu pejabat senior Dinas Sosial yang sejak awal hanya memperkenalkan diri sebagai Ibu Ratna. Tidak banyak bicara, lebih banyak mencatat.Anita duduk di kursi kiri.Rex di kanan.Nathan berada di ruang bermain kecil di samping—dipisahkan dinding kaca buram. Sesekali terdengar suara tawanya yang pelan, seperti latar yang kontras dengan ketegangan di ruangan ini.Map cokelat tebal tergeletak di hadapan Yuli.Di dalamnya terdiri dari laporan observasi rumah, laporan psikolog, catatan kunjungan mendadak, rekaman wawancara terpisah terutama tentang Anita.Yuli membuka map itu pelan.“Bu Anita,” katanya formal, suaranya datar tapi tidak dingin,“selama satu tahun enam bulan terakhir, kami melakukan observasi berkala terhadap pola pengasuhan Nathan.

  • Dimanja Suami Kontrakku   Kembali ke Rumah

    Gerbang besi yang tinggi itu terbuka perlahan.Tidak berbunyi nyaring. Tidak dramatis. Hanya bergeser pelan, seperti memberi jalan bagi sesuatu yang memang sudah seharusnya masuk.Mobil berhenti tepat di depan rumah berwarna putih gading itu—rumah dua lantai dengan halaman luas yang rumputnya begitu rapih membuat iri tetangga. Matahari sore Bandung menyelinap di sela pepohonan, cahayanya jatuh lembut di jendela-jendela besar.Rex mematikan mesin mobil.“Sampai,” katanya sederhana.Anita menelan napas.Ada gugup dan takut. Tapi lebih seperti perasaan ketika berdiri di ambang sesuatu yang selama ini hanya berani dibayangkan.Nathan sudah lebih dulu membuka pintu, melompat turun dengan dinosaurus hijau di tangan.“Mbak, ini rumah kita.” Nathan memberitahu Ani. “Wah, bagus sekali,” sahut Ani takjub, memandang rumah baru yang besar dan mewah itu. Ani lantas turun dari kursi belakang, membawa tas kain besar berisi peralatan Nathan yang sengaja ia pegang sendiri.“Ya Tuhan … lua

  • Dimanja Suami Kontrakku   Versi Utuh

    Beberapa hari kemudian, rumah kontrakan itu terasa berbeda.Bukan karena isinya sudah banyak berkurang—melainkan karena setiap sudut kini punya kenangan yang sedang dikemas, dilipat, dan dipersiapkan untuk ditinggalkan dengan baik-baik.Pagi itu Bandung diselimuti kabut tipis. Udara dingin menyusup lewat jendela yang terbuka sedikit. Kardus-kardus cokelat sudah berjajar rapi di ruang tengah, diberi label tulisan tangan Ani dengan spidol hitam besar-besar:BUKU BU ANITAMAINAN NATHANDAPURPENTING – JANGAN DIBANTINGAni berdiri di tengah ruangan, tangan di pinggang, memandangi hasil kerjanya dengan ekspresi puas tapi juga sedikit sendu.“Di rumah ini banyak suka dukanya,” gumamnya. “Sekarang akan ditinggalkan padahal banyak sekali kenangan.”Anita yang sedang duduk di sofa pun tersenyum, melipat pakaian Nathan satu per satu. Perutnya belum terlalu terlihat besar, tapi geraknya sudah lebih pelan—lebih hat

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status