Share

Bab 6 - Konsekuensi

Penulis: Ute Glider
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-19 12:53:12

“B-Berhenti!” teriak Winter memperingati.

Yang ada lelaki itu justru menyeringai. Senyuman Denzel yang paling Winter benci.

“Untuk apa aku berhenti? Kamu pasti sudah bersiap kan menerima konsekuensinya kalau tidak menolak pernikahan mereka?”

Punggung Winter sampai menempel ke dinding, Denzel juga makin dekat sampai aroma parfumnya mulai terasa. Tak hanya itu, bau asap tembakau bercampur dengan alkohol sudah bisa tercium di hidung mancung gadis itu.

“Kau mabuk?”

Dari dekat wajah Denzel sudah nampak merah, pertanda mabuk berat.

“Bahagia sekali, hm?” Denzel tidak menghiraukan pertanyaan Winter.

Dia menangkup sisi kiri wajah gadis itu dengan telapak tangan kanannya. “Wajahmu terlihat segar setelah tau kalau kalian akan masuk jadi bagian keluarga konglomerat.”

“Hahaha, kau juga senang karena bisa kembali padaku. Kau senang karena mulai sekarang bisa menikmati tubuhku.”

Denzel membungkuk, ingin mencium bahu terbuka Winter.

“Kau mabuk.” Wanita yang belum berpakaian itu mendorong keras. “Kita bicara setelah kamu sadar.”

Dia berbalik untuk pergi ke walk-in closet dan memakai baju. Sialnya Denzel tidak akan meloloskan mantan kekasihnya.

“DENZEL!” teriak Winter ketika tubuhnya diangkat lalu dijatuhkan ke atas ranjang.

Cepat-cepat dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya seadanya, lalu menarik mundur ketika lelaki mabuk itu mulai melepas kancing kemejanya.

“Diam!” Denzel naik ke atas, menjepit sebagian tubuh Winter dengan lututnya.

“Jangan, Denzel. Aku tidak pernah mau pernikahan ini berlangsung.” Mata Winter sudah basah. Dia takut kalau lelaki ini benar-benar menghabisinya.

Selama bersama Mark, dia selalu bisa menjaga tubuhnya untuk tetap tersegel meski berulang kali kekasihnya meminta. Mana mungkin dia pasrah ketika ada lelaki yang bukan siapa-siapanya menjamah dengan leluasa.

“Jika kau berniat, kau sudah menolak keras sejak di meja makan tadi. Tapi tidak apa –“ Tangan Mark kini memegang kedua pergelangan tangan yang sejak tadi bergerak menolak.

“Kita bisa bermain denganmu setiap kali melihat ibumu yang memuakkan itu lewat di depanku.”

Denzel mulai menyerang leher Winter.

“Tidak, Denzel! Aku tidak mau!” Winter menangis sambil meronta.

Tubuh Denzel tiba-tiba bergerak. Bukan untuk menyerangnya, tapi seperti ingin –

“Hkkkk!”

Suara ingin muntah itu menghentikan tangisan Winter. Dia cepat-cepat mendorong tubuh itu sampai Denzel sendiri turun dari ranjang lalu mengeluarkan isi perut di atas karpet.

Winter tak peduli. Dia menutupi tubuhnya dengan handuk yang sempat terlepas lalu berlari ke walk-in closet.

***

“Sudah saya katakan, Tuan Denzel memiliki penyakit lambung. Alkohol semakin membuat keadaannya makin buruk,” ucap dokter pribadi keluarga usai memeriksa.

Levin diam menatap kakaknya yang tidur di ranjang.

“Tuan muda, tolong jaga kakak Anda lebih hati-hati lagi.” Dokter bicara dengan pelan supaya kejadian sama tidak terulang dan bertambah parah.

Setelah Levin mengangguk, dokter pun pamit pergi. Tidak lupa obat juga sudah tergeletak di meja supaya bisa diminum rutin.

Dulu ibu kandung mereka meninggal setelah berjuang melahirkan Levin di tengah pertempuran antar kelompok mafia. Di umur 5 tahun, mereka diberikan ibu baru. Bukan semakin baik keadaan ketiga anak itu, ibu tiri justru berperan sebagai iblis yang membuat Levin trauma. Juga Denzel yang menderita penyakit lambung akibat sering dihukum tidak boleh makan di dalam gudang.

Tak sekali saja menikah lagi, setelah istri sebelumnya kabur membawa uang, sang ayah masih saja menikah. Tidak ingin terulang penderitaan yang sama, Denzel yang sudah dewasa itu membunuh ibu tirinya.

Sejak itu, mereka menolak ayahnya menikah lagi. Sekarang, bagi mereka menerima ibu baru adalah sebuah petaka.

“Bagaimana keadaannya?” Suara Storm membuat lamunan Levin terhenti.

Dia melihat kakaknya yang sudah memakai jubah tidur itu mendekat untuk mengecek kondisi Denzel.

“Aku dengar dia ditemukan pingsan di kamar gadis itu.” Storm duduk di tepi ranjang untuk menyentuh dahi adiknya yang panas. Lalu menoleh pada Levin.

“Apa Winter yang melakukannya?”

“Dia pingsan karena terlalu banyak minum alkohol,” kata Levin menggunakan bahasa isyarat.

Storm diam sejenak, kembali melihat Denzel. Barulah dia beranjak dan hendak pergi, tapi Levin menahannya.

“Ada apa?” tanya Storm.

Tangan dan jemari Levin mulai bergerak. “Kenapa kamu menyetujui pernikahan papa?”

“Karena itu perlu.”

“Tidak! Kami tidak membutuhkan ibu baru!”

Storm hanya menepuk lengan adiknya dua kali lalu berbalik pergi tanpa memberi penjelasan apapun. Dia abaikan kemarahan Levin karena ada sesuatu yang lebih penting baginya.

Baru saja dia berjalan dua langkah keluar, gerakannya terhenti saat melihat Winter tengah malam begini sedang berjalan penuh waspada ke arah berlawanan.

Di lorong berlapis karpet, Winter jalan berjinjit melihat ke kanan dan kiri. Saat sudah sampai di ujung, dia buru-buru mundur lagi bersembunyi di balik dinding karena ada pengawal di area kanan.

“Penjagaan di sini ketat sekali,” gumamnya.

Kaki Winter bersiap melangkah lagi saat pengawal sudah pergi. Sialnya, kali ini ada pelayan yang lewat. Cepat-cepat gadis itu berbalik sebelum ketahuan. Namun, bukan jalan keluar yang dia dapatkan, melainkan tubuh kekar yang dia tabrak dan menghentikan pelariannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 7 - Menemukan Dua Pria di Kamar

    Pandangan Winter perlahan naik ke atas. Jelas posisi Storm lebih tinggi darinya. Ekspresi pria itu jauh dari kata senyum. Membuat suasana sangat kaku dan gelap.“M-Maaf,” ucapnya mundur lalu mengusap hidungnya yang baru menabrak dada bidang yang tidak tertutup sempurna.Ada otot menonjol di sana, mengintip di antara celah jubah tidur Storm Libermon. Hening, meski tidak bertanya apapun tapi sorot tajam lelaki itu membuat Winter jadi salah tingkah. Seperti ditatap penculik yang memergokinya.“Aku permisi.” Winter melewati Storm untuk pergi ke kamarnya lagi.“Jangan berpikiran untuk kabur.” Suara lelaki itu membuat langkahnya terhenti.“Berani keluar satu langkah dari mansion ini, satu jari ibumu akan putus. Dua langkah, dua jari. Tiga langkah –““Aku sedang mencari ponselku!” Winter buru-buru menyela dengan wajah tegangnya.Storm diam menatap sejenak, lalu iris mata hitamnya bergerak ke arah kamar Denzel. “Ada di sana.”“B-Baik!”Winter berbalik lalu berlari kecil dan masuk ke kamar man

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 6 - Konsekuensi

    “B-Berhenti!” teriak Winter memperingati.Yang ada lelaki itu justru menyeringai. Senyuman Denzel yang paling Winter benci.“Untuk apa aku berhenti? Kamu pasti sudah bersiap kan menerima konsekuensinya kalau tidak menolak pernikahan mereka?”Punggung Winter sampai menempel ke dinding, Denzel juga makin dekat sampai aroma parfumnya mulai terasa. Tak hanya itu, bau asap tembakau bercampur dengan alkohol sudah bisa tercium di hidung mancung gadis itu.“Kau mabuk?”Dari dekat wajah Denzel sudah nampak merah, pertanda mabuk berat.“Bahagia sekali, hm?” Denzel tidak menghiraukan pertanyaan Winter.Dia menangkup sisi kiri wajah gadis itu dengan telapak tangan kanannya. “Wajahmu terlihat segar setelah tau kalau kalian akan masuk jadi bagian keluarga konglomerat.”“Hahaha, kau juga senang karena bisa kembali padaku. Kau senang karena mulai sekarang bisa menikmati tubuhku.”Denzel membungkuk, ingin mencium bahu terbuka Winter.“Kau mabuk.” Wanita yang belum berpakaian itu mendorong keras. “Kita

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 5 - Masuk ke Kamar

    Bukan marah, Simon justru tertawa yang membuat suasnaa jadi lebih ngeri.“Ya, keluarga Libermon memang seharusnya memiliki keberanian seperti dirimu. Mengutarakan pendapat meski kamu bicara sampai terlihat pucat.” Simon berdiri lalu menoleh pada calon istrinya.“Diana, setelah makan antar dia ke kamar. Pastikan acara pernikahan kita besok berjalan lancar. Aku tidak suka ada kerikil sekecil apapun itu.”Lelaki tinggi besar itu meninggalkan makanan-makanan yang masih utuh. Dia mendekati Storm, bicara satu kata lalu keduanya pergi ke ruang kerja.Sampai bayangan dan langkah sepatu tak lagi ada, Winter langsung bisa mengambil napas panjang. Dia buru-buru memutar posisi duduknya untuk mengarah ke ibunya sepenuhnya.“Ma, apa yang terjadi? Kenapa mama tiba-tiba menikah dengan keluarga ini?”“Mereka mengancammu? Mereka memaksa?”“Tidak mungkin karena cinta kan? Mereka tidak membutuhkan orang-orang seperti kita kalau tidak ada tujuan yang menguntungkan bagi mereka.”Deretan pertanyaan langsung

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 4 - Penentu Nasib

    “Ayo, sapa calon ayahmu,” bisik Diana.Winter menelan ludahnya, membalas tatapan orang yang paling ditakuti di Texas.“Selamat malam, Tuan,” sapanya mencoba mengendalikan diri.Dan di kursi seberang, Denzel tersenyum mengejek. Di depannya saja tadi sangat berani, begitu di hadapan kepala keluarga, langsung menciut.“Pa, aku sudah membawanya sesuai perintahmu. Tanpa lecet apapun. Aku membawanya dengan sangat lembut dan hati-hati,” ucap Denzel santai menunjuk pada Winter yang masih berdiri di depan kursinya.Winter melirik tajam. Tanpa lecet? Lengannya saja hampir copot karena diborgol. Badan juga pegal-pegal karena dibiarkan duduk di lantai selama berjam-jam.Simon Libermon, pria itu mengangguk memberi isyarat supaya tamunya untuk duduk. Barulah Winter menuruti.“Kau Winter.” Suara berat itu akhirnya bisa Winter dengar.“Anak Diana?” lanjut Simon masih dengan nada datarnya.Winter menelan ludah. “Iya.”Pria itu menyandarkan punggung, jarinya saling bertaut. “Kau lebih menarik dari foto

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 3 - Budak di Atas Ranjang

    Denzel condong ke depan, membisikkan kalimat yang membuat jantung Winter berdetak kencang.“Bantu aku untuk membatalkan pernikahan ibumu.”Menikah?Ya, dua hari yang lalu ibunya memang sempat menghubungi kalau dia akan menikah dan meminta Winter untuk hadir. Namun, Winter merasa itu hanya candaan belaka. Ibunya tidak pernah terlalu dekat dengan pria manapun sejak ayahnya meninggal.“Bukan urusanmu!” jawab Winter ketus.“Oh, ini urusanku,” jawab Denzel ringan. “Karena pria itu ayahku.”Dunia terasa berhenti sesaat bagi Winter. “Ayahmu?” Dia mengulang pelan.“Ya .... Dan itu otomatis menjadikanmu ...” Denzel menjeda, “…calon adik iparku. Jadi kau akan bergabung di keluarga mafia yang selama ini ingin kau jebloskan ke penjara.”“Kau bohong!”“Sayangnya tidak.” “Singkat saja, aku tidak ingin pernikahan mereka berlangsung,” lanjutnya mulai sedikit menunjukkan keseriusannya.“Dan kau menculikku hanya untuk bicara seperti itu?” Winter tertawa mengejek. “Apa aku membuatmu takut, sampai menga

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 2 - Mantan Gila!

    “Apa maksudmu?” Mata Winter melebar tegang.“Maksudku –“ Denzel beranjak, dan mendekat. Dia berdiri, memasukkan tangan ke dalam saku sambil tersenyum licik melihat bibir lalu turun ke bagian bawah tubuh itu.Tentu saja Winter langsung meremang takut. “Singkirkan pikiran mesummu itu!” sentak gadis itu.“Hahaha! Teriakanmu membuatku ingin cepat-cepat bermain bersama. Sangat seksi,” desis lelaki itu di akhir kalimat sambil menyipit.“Kau menculikku,” kata Winter dingin. “Lepaskan aku. Sekarang!”Denzel terkekeh pelan. “Ah. Nada itu. Aku merindukannya.”“Kau tuli? Lepaskan aku!” Winter berusaha menarik tangannya yang sudah cukup pegal tersangkut di logam itu. Meski sia-sia.“Diam di sana, atau borgolnya bisa membuat kulit halusmu terluka,” sahut Denzel menyeringai.“Lepas!”“Kau tidak berubah. Masih keras kepala.”“Dan kau masih brengsek!”Denzel tertawa kecil melihat kemarahan Winter. Seakan wanita yang tergeletak di lantai kamarnya adalah tontonan yang bisa dia mainkan.“Kau tahu? Aku p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status