LOGINPandangan Winter perlahan naik ke atas. Jelas posisi Storm lebih tinggi darinya. Ekspresi pria itu jauh dari kata senyum. Membuat suasana sangat kaku dan gelap.
“M-Maaf,” ucapnya mundur lalu mengusap hidungnya yang baru menabrak dada bidang yang tidak tertutup sempurna.
Ada otot menonjol di sana, mengintip di antara celah jubah tidur Storm Libermon. Hening, meski tidak bertanya apapun tapi sorot tajam lelaki itu membuat Winter jadi salah tingkah. Seperti ditatap penculik yang memergokinya.
“Aku permisi.” Winter melewati Storm untuk pergi ke kamarnya lagi.
“Jangan berpikiran untuk kabur.” Suara lelaki itu membuat langkahnya terhenti.
“Berani keluar satu langkah dari mansion ini, satu jari ibumu akan putus. Dua langkah, dua jari. Tiga langkah –“
“Aku sedang mencari ponselku!” Winter buru-buru menyela dengan wajah tegangnya.
Storm diam menatap sejenak, lalu iris mata hitamnya bergerak ke arah kamar Denzel. “Ada di sana.”
“B-Baik!”
Winter berbalik lalu berlari kecil dan masuk ke kamar mantan gilanya itu tanpa berpikir. Yang ada di kepalanya adalah kabur dari area pandang Storm.
“Tatapannya mengerikan sekali. Seperti iblis dari dalam neraka terdalam,” gerutunya dengan napas beradu sambil menatap handle pintu yang baru dia dorong dan tertutup.
“Aura membunuhnya sangat kuat. Tidak heran dia ....”
Ucapan gadis itu menggantuk ketika berbalik dan baru sadar ada Levin sedang duduk di sofa. Lelaki yang paling menentang pernikahan ini terjadi.
Lelaki itu hanya menatap, sementara majalah di tangannya masih terbuka.
“Oh, astagaaa ... kenapa aku tidak bisa tenang satu menit saja di bangunan megah ini,” keluh Winter dalam hati.
“Storm menunjukkan kalau ponselku ada di sini,” ucapnya.
Levin menoleh ke sofa single di depannya. Ah, benar, Winter bisa melihat tas selempangnya ada di sana.
Gadis itu mendekat, lalu membuka isinya. Ada kelegaan karena isinya masih sama. Dompet, ponsel juga Lipatan kertas hasil penyelidikan keluarga Libermon tetap pada tempatnya. Jelas sekali tujuan Denzel membawanya tidak ada kaitannya dengan kasus yang dia tangani.
“Tapi kenapa Denzel memberikan uang pada Mark?” gumamnya lirih.
Sejenak Winter menoleh pada lelaki yang terbaring pucat di atas ranjang. Dia tidak penasaran sedikitpun dengan apa yang terjadi. Mati pun Winter tak peduli mengingat betapa menyeramkannya Denzel saat melemparnya ke atas ranjang tadi.
Tak ingin membayangkan lebih lama, Winter pun berbalik untuk pergi.
Eh, tunggu! Dia jadi terpikir sesuatu.
Winter berbalik cepat menatap Levin yang nampak santai membaca buku padahal jam sudah menunjukkan pukul 00.25
“Kalian ingin aku membatalkan pernikahan, kan?”
Pertanyaan itu belum menarik atensi Levin. Dia maasih membaca seakan tidak ada yang bicara dengannya.
“Aku sudah menolak tadi, tapi Tuan ....” Winter menjeda karena lupa nama ayah para lelaki ini. “Ah, intinya ayahmu mengabaikan penolakanku.”
Satu halaman buku berikut Levin buka, masih belum merespon.
“Kalau kau mau membantu, bagaimana caranya membawa aku dan ibuku kabur sebelum pernikahan berlangsung. Aku juga tidak mau jadi bagian keluarga mafia yang haus darah seperti kalian.”
Levin akhirnya mengangkat pandangan, walau tidak menjawab. Tidak ada pula tatapan tersinggung dari kalimat terakhir yang Winter ucapkan.
“Atur saja, kalian yang paham kondisi di mansion ini. Aku hanya ingin kalian membantuku. Tenang, aku ada dipihak kalian berdua, sama-sama menolak orang tua kita bersatu.” Tau kalau Levin tidak mungkin bicara, Winter pun mengakhiri obrolan satu arah itu lalu pergi.
***
Pagi hari, saat udara masih dingin semua sudah bersiap pergi ke Swiss. Bahkan Denzel yang semalam demam pun harus beranjak dan lebih dulu masuk ke mobil duduk di kursi dekat supir.
Winter berdiri di tangga teras bersama ibunya. Dia melirik ke Levin saat mereka berpapasan, seolah memberikan isyarat.
“Aku satu mobil sama Mama,” kata Winter ketika Simon baru keluar dari dalam.
Pria itu menoleh. Tatapannya sempat menilai. “Pengawalan tetap sama.”
“Tidak masalah,” jawab Winter.
Beberapa detik hening, lalu Simon mengangguk pendek. “Baik.”
Winter masuk ke kursi belakang, satu mobil dengan Denzel sedangkan ibunya di samping. Tak menunggu lama, mobil bergerak keluar gerbang bersama yang lain.
“Kenapa, Winter?” tanya Diana melihat putrinya lebih sering melihat kanan kiri dan belakang dengan waspada.
“Tidak, aku hanya sedikit tegang.” Winter tersenyum menenangkan. Padahal dia memang sedang sedikit gugup melihat kalau mobilnya ada di posisi tengah. Masih ada dua di depan, dua di belakang.
Denzel melihat jam tangannya, lalu melirik ke spion tengah di mana tatapan dia dan Winter sempat bersitubruk.
Tak lama, tepat di tikungan depan terdengar suara benturan keras. Dua mobil tampak saling menghantam di persimpangan. Asap tipis mengepul dan seketika kondisi jalanan jadi kacau.
Kondisi itu membuat rombongan mobil mafia itu melambat dan berhenti.
Sopir mengumpat pelan. “Jalan tertutup,” ucapnya pada supir dan pengawal lain melalui earpiece.
Denzel membuka sedikit jendela, pura-pura mengamati. Sementara di kaca spion, Winter melihat mobil belakang mulai menjaga jarak, mencoba membaca situasi.
Meski Levin tidak mengatakan apapun soal rencana mereka, tapi dari kondisi ini dia sudah tau kalau kecelakaan di depan adalah sebagian dari rencana.
Winter menatap ibunya ketika supir sedang sibuk komunikasi dengan yang lain.
“Mama, ikut aku.” Dia menggenggam tangan ibunya.
“Ada apa?” Suara Diana mulai panik.
“Sekarang.”
Winter membuka pintu sebelum sopir sempat bereaksi. Udara luar lebih panas dari dalam mobil. Dia menarik tangan ibunya keluar lalu berlari.
“Nyonya!” teriak supir.
Denzel cepat membuka pintunya juga. “Aku cek depan,” katanya lantang seolah dia ikut panik dan mengejar.
Dalam satu detik perhatian terpecah.
Winter terus menarik ibunya menjauh dari barisan mobil, menyusuri sisi jalan, lalu berbelok tajam ke gang sempit di antara dua bangunan tua.
“Winter! Kita mau ke mana?” Napas ibunya mulai memburu.
“Aku tidak mau mama menikah! Percaya aku, kita harus kabur!”
Diana tidak menyusahkan. Dia terus mengikuti pergerakan putrinya meski tenaganya tidak sekuat itu. Sedangkan dari belakang mulai terdengar langkah-langkah yang mengejar.
“Ayo, Ibu. Sedikit lagi.”
Winter berbelok menuju ujung jalan. Dia sering melewati jalan-jalan kecil saat memburu sesuatu. Ya, persis seperti ini.
Dan sesuai narasi yang biasa dia lakukan. Saat mereka sampai di ujung gang, ada beberapa taksi yang memang sering ada di sana.
“Pergi ke utara!” ucap Winter terburu sambil membuka mobil cepat.
“Ayo, Ma, cepat!” dessaknya.
Pandangan Winter perlahan naik ke atas. Jelas posisi Storm lebih tinggi darinya. Ekspresi pria itu jauh dari kata senyum. Membuat suasana sangat kaku dan gelap.“M-Maaf,” ucapnya mundur lalu mengusap hidungnya yang baru menabrak dada bidang yang tidak tertutup sempurna.Ada otot menonjol di sana, mengintip di antara celah jubah tidur Storm Libermon. Hening, meski tidak bertanya apapun tapi sorot tajam lelaki itu membuat Winter jadi salah tingkah. Seperti ditatap penculik yang memergokinya.“Aku permisi.” Winter melewati Storm untuk pergi ke kamarnya lagi.“Jangan berpikiran untuk kabur.” Suara lelaki itu membuat langkahnya terhenti.“Berani keluar satu langkah dari mansion ini, satu jari ibumu akan putus. Dua langkah, dua jari. Tiga langkah –““Aku sedang mencari ponselku!” Winter buru-buru menyela dengan wajah tegangnya.Storm diam menatap sejenak, lalu iris mata hitamnya bergerak ke arah kamar Denzel. “Ada di sana.”“B-Baik!”Winter berbalik lalu berlari kecil dan masuk ke kamar man
“B-Berhenti!” teriak Winter memperingati.Yang ada lelaki itu justru menyeringai. Senyuman Denzel yang paling Winter benci.“Untuk apa aku berhenti? Kamu pasti sudah bersiap kan menerima konsekuensinya kalau tidak menolak pernikahan mereka?”Punggung Winter sampai menempel ke dinding, Denzel juga makin dekat sampai aroma parfumnya mulai terasa. Tak hanya itu, bau asap tembakau bercampur dengan alkohol sudah bisa tercium di hidung mancung gadis itu.“Kau mabuk?”Dari dekat wajah Denzel sudah nampak merah, pertanda mabuk berat.“Bahagia sekali, hm?” Denzel tidak menghiraukan pertanyaan Winter.Dia menangkup sisi kiri wajah gadis itu dengan telapak tangan kanannya. “Wajahmu terlihat segar setelah tau kalau kalian akan masuk jadi bagian keluarga konglomerat.”“Hahaha, kau juga senang karena bisa kembali padaku. Kau senang karena mulai sekarang bisa menikmati tubuhku.”Denzel membungkuk, ingin mencium bahu terbuka Winter.“Kau mabuk.” Wanita yang belum berpakaian itu mendorong keras. “Kita
Bukan marah, Simon justru tertawa yang membuat suasnaa jadi lebih ngeri.“Ya, keluarga Libermon memang seharusnya memiliki keberanian seperti dirimu. Mengutarakan pendapat meski kamu bicara sampai terlihat pucat.” Simon berdiri lalu menoleh pada calon istrinya.“Diana, setelah makan antar dia ke kamar. Pastikan acara pernikahan kita besok berjalan lancar. Aku tidak suka ada kerikil sekecil apapun itu.”Lelaki tinggi besar itu meninggalkan makanan-makanan yang masih utuh. Dia mendekati Storm, bicara satu kata lalu keduanya pergi ke ruang kerja.Sampai bayangan dan langkah sepatu tak lagi ada, Winter langsung bisa mengambil napas panjang. Dia buru-buru memutar posisi duduknya untuk mengarah ke ibunya sepenuhnya.“Ma, apa yang terjadi? Kenapa mama tiba-tiba menikah dengan keluarga ini?”“Mereka mengancammu? Mereka memaksa?”“Tidak mungkin karena cinta kan? Mereka tidak membutuhkan orang-orang seperti kita kalau tidak ada tujuan yang menguntungkan bagi mereka.”Deretan pertanyaan langsung
“Ayo, sapa calon ayahmu,” bisik Diana.Winter menelan ludahnya, membalas tatapan orang yang paling ditakuti di Texas.“Selamat malam, Tuan,” sapanya mencoba mengendalikan diri.Dan di kursi seberang, Denzel tersenyum mengejek. Di depannya saja tadi sangat berani, begitu di hadapan kepala keluarga, langsung menciut.“Pa, aku sudah membawanya sesuai perintahmu. Tanpa lecet apapun. Aku membawanya dengan sangat lembut dan hati-hati,” ucap Denzel santai menunjuk pada Winter yang masih berdiri di depan kursinya.Winter melirik tajam. Tanpa lecet? Lengannya saja hampir copot karena diborgol. Badan juga pegal-pegal karena dibiarkan duduk di lantai selama berjam-jam.Simon Libermon, pria itu mengangguk memberi isyarat supaya tamunya untuk duduk. Barulah Winter menuruti.“Kau Winter.” Suara berat itu akhirnya bisa Winter dengar.“Anak Diana?” lanjut Simon masih dengan nada datarnya.Winter menelan ludah. “Iya.”Pria itu menyandarkan punggung, jarinya saling bertaut. “Kau lebih menarik dari foto
Denzel condong ke depan, membisikkan kalimat yang membuat jantung Winter berdetak kencang.“Bantu aku untuk membatalkan pernikahan ibumu.”Menikah?Ya, dua hari yang lalu ibunya memang sempat menghubungi kalau dia akan menikah dan meminta Winter untuk hadir. Namun, Winter merasa itu hanya candaan belaka. Ibunya tidak pernah terlalu dekat dengan pria manapun sejak ayahnya meninggal.“Bukan urusanmu!” jawab Winter ketus.“Oh, ini urusanku,” jawab Denzel ringan. “Karena pria itu ayahku.”Dunia terasa berhenti sesaat bagi Winter. “Ayahmu?” Dia mengulang pelan.“Ya .... Dan itu otomatis menjadikanmu ...” Denzel menjeda, “…calon adik iparku. Jadi kau akan bergabung di keluarga mafia yang selama ini ingin kau jebloskan ke penjara.”“Kau bohong!”“Sayangnya tidak.” “Singkat saja, aku tidak ingin pernikahan mereka berlangsung,” lanjutnya mulai sedikit menunjukkan keseriusannya.“Dan kau menculikku hanya untuk bicara seperti itu?” Winter tertawa mengejek. “Apa aku membuatmu takut, sampai menga
“Apa maksudmu?” Mata Winter melebar tegang.“Maksudku –“ Denzel beranjak, dan mendekat. Dia berdiri, memasukkan tangan ke dalam saku sambil tersenyum licik melihat bibir lalu turun ke bagian bawah tubuh itu.Tentu saja Winter langsung meremang takut. “Singkirkan pikiran mesummu itu!” sentak gadis itu.“Hahaha! Teriakanmu membuatku ingin cepat-cepat bermain bersama. Sangat seksi,” desis lelaki itu di akhir kalimat sambil menyipit.“Kau menculikku,” kata Winter dingin. “Lepaskan aku. Sekarang!”Denzel terkekeh pelan. “Ah. Nada itu. Aku merindukannya.”“Kau tuli? Lepaskan aku!” Winter berusaha menarik tangannya yang sudah cukup pegal tersangkut di logam itu. Meski sia-sia.“Diam di sana, atau borgolnya bisa membuat kulit halusmu terluka,” sahut Denzel menyeringai.“Lepas!”“Kau tidak berubah. Masih keras kepala.”“Dan kau masih brengsek!”Denzel tertawa kecil melihat kemarahan Winter. Seakan wanita yang tergeletak di lantai kamarnya adalah tontonan yang bisa dia mainkan.“Kau tahu? Aku p







