Beranda / Romansa / Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya / Bab 3 - Budak di Atas Ranjang

Share

Bab 3 - Budak di Atas Ranjang

Penulis: Ute Glider
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-19 11:51:52

Denzel condong ke depan, membisikkan kalimat yang membuat jantung Winter berdetak kencang.

“Bantu aku untuk membatalkan pernikahan ibumu.”

Menikah?

Ya, dua hari yang lalu ibunya memang sempat menghubungi kalau dia akan menikah dan meminta Winter untuk hadir. Namun, Winter merasa itu hanya candaan belaka. Ibunya tidak pernah terlalu dekat dengan pria manapun sejak ayahnya meninggal.

“Bukan urusanmu!” jawab Winter ketus.

“Oh, ini urusanku,” jawab Denzel ringan. “Karena pria itu ayahku.”

Dunia terasa berhenti sesaat bagi Winter. “Ayahmu?” Dia mengulang pelan.

“Ya .... Dan itu otomatis menjadikanmu ...” Denzel menjeda, “…calon adik iparku. Jadi kau akan bergabung di keluarga mafia yang selama ini ingin kau jebloskan ke penjara.”

“Kau bohong!”

“Sayangnya tidak.”

“Singkat saja, aku tidak ingin pernikahan mereka berlangsung,” lanjutnya mulai sedikit menunjukkan keseriusannya.

“Dan kau menculikku hanya untuk bicara seperti itu?” Winter tertawa mengejek. “Apa aku membuatmu takut, sampai mengajakku bicara dengan cara seperti ini?”

Kali ini tangan Denzel mencengkeram rahang indah itu.

“Aku ingin menjadikanmu tawanan, karena aku tau ibumu akan bersikeras menikahi ayahku supaya status hidupnya melonjak tinggi.”

Winter menggerakkan kepalanya supaya cengkeraman itu terlepas, tapi kali ini nampaknya Denzel serius memberinya peringatan. Karena bukannya diloloskan, cengkeraman itu justru makin keras.

“Dengarkan baik-baik Winter Vale. Minta ibumu membatalkan pernikahan. Lalu pergi dari negara ini tanpa pernah muncul lagi,” desisnya tajam.

“Atau,” Denzel melanjutkan, mencondongkan tubuhnya sedikit hingga wajah Winter ikut mendongak, dekat dengan wajah lelaki itu.

“Jika kamu tidak mampu mencegah mereka, jadilah budakku di atas ranjang ini, Nona Winter.”

“Kau gila!” bentak Winter.

Denzel tertawa pendek melepas cengkeramannya. “Setidaknya itu bayaran yang pas untuk hidup enak di keluarga ini.”

"Cuih!" Siapa sangka Winter dengan beraninya meludah ke lantai, tepat di depan kaki Denzel.

“Satu jengkal pun aku tidak sudi kau sentuh!” jawabnya dingin.

Wajah Denzel mengeras seketika melihat bagaimana Winter meludahinya.

“Kau—” tangannya terangkat refleks, nyaris menampar.

Levin langsung mencengkeram pergelangan kakaknya dengan kuat. Sorot matanya gelap, memperingatkan.

Denzel mendengus kesal, menarik tangannya kembali lalu berdiri membuang rasa kesalnya.

Sementara Winter di sana juga napasnya naik turun, seakan emosi Denzel langsung bisa dia rasakan dan melelahkan.

"Aku tidak main-main dengan ancamanku, Winter. Kecuali kau memang ingin menyerahkan tubuhmu pada kami."

Ketegangan di sana terpecah ketika terdengar suara ketukan di pintu.

Denzel menoleh malas. “Buka,” perintahnya pada Levin.

Levin ragu sepersekian detik, karena mereka belum selesai membuat perjanjian dengan Winter. Sampai ketukan itu kembali terdengar, barulah lelaki yang memakai jaket hitam itu berjalan ke arah pintu.

Seorang laki-laki paruh baya berdiri tegak di sana. Rambutnya disisir rapi ke belakang mengenakan setelan rompi pelayan pria dan membungkuk tipis penuh hormat.

“Maaf, Tuan Besar sudah menunggu di ruangan untuk makan malam,” ucapnya tenang. “Mohon segera turun.”

Makan malam?

Winter melihat ke kanan kiri mencari jam dinding. Sekarang jarum ada di angka tujuh kurang. Sedangkan saat pingsan itu jam sepuluh malam.

“Aku pingsan terlalu lama,” gumamnya lirih. Pantas saja badannya terasa sakit semua dan juga lapar.

Levin menatap Winter sejenak, lalu memberi isyarat pada Denzel, “Urus dia. Aku tidak sudi makan bersama mereka.”

Setelahnya Levin pergi tanpa ada niatan untuk bergabung makan malam sebagai bentuk protes ayahnya menikah lagi.

Denzel mengamati punggung adiknya sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian pada Winter.

“Sepertinya kau masih dibutuhkan hidup-hidup,” katanya ringan.

Dia berjongkok, tangannya meraih borgol di pergelangan tangan Winter lalu memasukkan kuncinya untuk membuka.

Sempat Denzel mencondongkan tubuhnya mendekat, menghidu parfum lembut yang menguar dari kulit leher mantan kekasihnya itu.

“Harus kuakui,” bisiknya nyaris menyentuh kulit Winter, “aku langsung terpesona dengan aroma tubuhmu.”

Wajah mesum Denzel refleks membuat Winter bersiap ingin meludahi lagi. Dia muak!

Belum sempat ludah itu keluar, tangan Denzel sudah mencengkeram leher Winter. “Jangan ulangi itu. Aku sedang menahan diri untuk tidak menjatukanmu ke atas ranjang!”

Winter menatapnya dengan berani. Meski sebenarnya dia sedang menahan napas supaya ketakutannya tidak terlihat.

“Lepaskan,” desisnya dengan jantung berdebar kencang.

Beberapa detik hening hanya terisi dua pasang mata yang saling melawan.

Sampai terdengar suara deheman kepala pelayan yang masih di luar pintu yang terbuka, membuat Denzel akhirnya melepaskan cengkeramannya.

“Rapikan dirimu. Kita turun. Tidak perlu mandi, kau tetap cantik dan wangi.”

Winter berdiri dengan sedikit terhuyung. Kakinya pegal, kepalanya pusing, tapi situasi menegangkan di mansion ini lebih mendominasi.

Dia merapikan pakaiannya dengan tangan gemetar yang dipaksa tenang. Ditegakkan punggung itu lalu menyisir rambut dengan jari, menutup rasa takut dengan sisa harga diri.

Dari kamar luas milik Denzel, Winter mengikuti langkah lelaki itu menyusuri lorong yang sepi dan tertata begitu elegan.

Mereka menuruni tangga lebar berlapis karpet gelap di mansion kediaman keluarga Libermon. Begitu sampai di ruang makan, langkahnya terhenti.

Ibunya, Diana sudah duduk di sana. Mengenakan gaun mahal berwarna merah tua. Wanita itu langsung berdiri dan menerbitkan senyuman cerah. Seakan ingin menunjukkan kalau dia bahagia di samping kepala mafia itu.

“Winter.”

Dia sempat memeluk, lalu menarik putrinya untuk duduk di sampingnya.

Winter tidak sempat menjawab apapun. Dia sudah kikuk melihat siapa pria yang duduk di kursi paling ujung dengan aura yang menekan, membuat atmosfer ruangan terasa berat.

Rambut lelaki di sana mulai memutih, rahangnya kencang, tubuhnya tegap meski sedang duduk. Setelan jasnya hitam sempurna dengan mata tajam, dingin, dan kini sedang menatap Winter tanpa kedip.

Tidak ada senyum, hanya menatap seolah sedang menilai barang yang akan dia beli.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 7 - Menemukan Dua Pria di Kamar

    Pandangan Winter perlahan naik ke atas. Jelas posisi Storm lebih tinggi darinya. Ekspresi pria itu jauh dari kata senyum. Membuat suasana sangat kaku dan gelap.“M-Maaf,” ucapnya mundur lalu mengusap hidungnya yang baru menabrak dada bidang yang tidak tertutup sempurna.Ada otot menonjol di sana, mengintip di antara celah jubah tidur Storm Libermon. Hening, meski tidak bertanya apapun tapi sorot tajam lelaki itu membuat Winter jadi salah tingkah. Seperti ditatap penculik yang memergokinya.“Aku permisi.” Winter melewati Storm untuk pergi ke kamarnya lagi.“Jangan berpikiran untuk kabur.” Suara lelaki itu membuat langkahnya terhenti.“Berani keluar satu langkah dari mansion ini, satu jari ibumu akan putus. Dua langkah, dua jari. Tiga langkah –““Aku sedang mencari ponselku!” Winter buru-buru menyela dengan wajah tegangnya.Storm diam menatap sejenak, lalu iris mata hitamnya bergerak ke arah kamar Denzel. “Ada di sana.”“B-Baik!”Winter berbalik lalu berlari kecil dan masuk ke kamar man

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 6 - Konsekuensi

    “B-Berhenti!” teriak Winter memperingati.Yang ada lelaki itu justru menyeringai. Senyuman Denzel yang paling Winter benci.“Untuk apa aku berhenti? Kamu pasti sudah bersiap kan menerima konsekuensinya kalau tidak menolak pernikahan mereka?”Punggung Winter sampai menempel ke dinding, Denzel juga makin dekat sampai aroma parfumnya mulai terasa. Tak hanya itu, bau asap tembakau bercampur dengan alkohol sudah bisa tercium di hidung mancung gadis itu.“Kau mabuk?”Dari dekat wajah Denzel sudah nampak merah, pertanda mabuk berat.“Bahagia sekali, hm?” Denzel tidak menghiraukan pertanyaan Winter.Dia menangkup sisi kiri wajah gadis itu dengan telapak tangan kanannya. “Wajahmu terlihat segar setelah tau kalau kalian akan masuk jadi bagian keluarga konglomerat.”“Hahaha, kau juga senang karena bisa kembali padaku. Kau senang karena mulai sekarang bisa menikmati tubuhku.”Denzel membungkuk, ingin mencium bahu terbuka Winter.“Kau mabuk.” Wanita yang belum berpakaian itu mendorong keras. “Kita

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 5 - Masuk ke Kamar

    Bukan marah, Simon justru tertawa yang membuat suasnaa jadi lebih ngeri.“Ya, keluarga Libermon memang seharusnya memiliki keberanian seperti dirimu. Mengutarakan pendapat meski kamu bicara sampai terlihat pucat.” Simon berdiri lalu menoleh pada calon istrinya.“Diana, setelah makan antar dia ke kamar. Pastikan acara pernikahan kita besok berjalan lancar. Aku tidak suka ada kerikil sekecil apapun itu.”Lelaki tinggi besar itu meninggalkan makanan-makanan yang masih utuh. Dia mendekati Storm, bicara satu kata lalu keduanya pergi ke ruang kerja.Sampai bayangan dan langkah sepatu tak lagi ada, Winter langsung bisa mengambil napas panjang. Dia buru-buru memutar posisi duduknya untuk mengarah ke ibunya sepenuhnya.“Ma, apa yang terjadi? Kenapa mama tiba-tiba menikah dengan keluarga ini?”“Mereka mengancammu? Mereka memaksa?”“Tidak mungkin karena cinta kan? Mereka tidak membutuhkan orang-orang seperti kita kalau tidak ada tujuan yang menguntungkan bagi mereka.”Deretan pertanyaan langsung

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 4 - Penentu Nasib

    “Ayo, sapa calon ayahmu,” bisik Diana.Winter menelan ludahnya, membalas tatapan orang yang paling ditakuti di Texas.“Selamat malam, Tuan,” sapanya mencoba mengendalikan diri.Dan di kursi seberang, Denzel tersenyum mengejek. Di depannya saja tadi sangat berani, begitu di hadapan kepala keluarga, langsung menciut.“Pa, aku sudah membawanya sesuai perintahmu. Tanpa lecet apapun. Aku membawanya dengan sangat lembut dan hati-hati,” ucap Denzel santai menunjuk pada Winter yang masih berdiri di depan kursinya.Winter melirik tajam. Tanpa lecet? Lengannya saja hampir copot karena diborgol. Badan juga pegal-pegal karena dibiarkan duduk di lantai selama berjam-jam.Simon Libermon, pria itu mengangguk memberi isyarat supaya tamunya untuk duduk. Barulah Winter menuruti.“Kau Winter.” Suara berat itu akhirnya bisa Winter dengar.“Anak Diana?” lanjut Simon masih dengan nada datarnya.Winter menelan ludah. “Iya.”Pria itu menyandarkan punggung, jarinya saling bertaut. “Kau lebih menarik dari foto

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 3 - Budak di Atas Ranjang

    Denzel condong ke depan, membisikkan kalimat yang membuat jantung Winter berdetak kencang.“Bantu aku untuk membatalkan pernikahan ibumu.”Menikah?Ya, dua hari yang lalu ibunya memang sempat menghubungi kalau dia akan menikah dan meminta Winter untuk hadir. Namun, Winter merasa itu hanya candaan belaka. Ibunya tidak pernah terlalu dekat dengan pria manapun sejak ayahnya meninggal.“Bukan urusanmu!” jawab Winter ketus.“Oh, ini urusanku,” jawab Denzel ringan. “Karena pria itu ayahku.”Dunia terasa berhenti sesaat bagi Winter. “Ayahmu?” Dia mengulang pelan.“Ya .... Dan itu otomatis menjadikanmu ...” Denzel menjeda, “…calon adik iparku. Jadi kau akan bergabung di keluarga mafia yang selama ini ingin kau jebloskan ke penjara.”“Kau bohong!”“Sayangnya tidak.” “Singkat saja, aku tidak ingin pernikahan mereka berlangsung,” lanjutnya mulai sedikit menunjukkan keseriusannya.“Dan kau menculikku hanya untuk bicara seperti itu?” Winter tertawa mengejek. “Apa aku membuatmu takut, sampai menga

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 2 - Mantan Gila!

    “Apa maksudmu?” Mata Winter melebar tegang.“Maksudku –“ Denzel beranjak, dan mendekat. Dia berdiri, memasukkan tangan ke dalam saku sambil tersenyum licik melihat bibir lalu turun ke bagian bawah tubuh itu.Tentu saja Winter langsung meremang takut. “Singkirkan pikiran mesummu itu!” sentak gadis itu.“Hahaha! Teriakanmu membuatku ingin cepat-cepat bermain bersama. Sangat seksi,” desis lelaki itu di akhir kalimat sambil menyipit.“Kau menculikku,” kata Winter dingin. “Lepaskan aku. Sekarang!”Denzel terkekeh pelan. “Ah. Nada itu. Aku merindukannya.”“Kau tuli? Lepaskan aku!” Winter berusaha menarik tangannya yang sudah cukup pegal tersangkut di logam itu. Meski sia-sia.“Diam di sana, atau borgolnya bisa membuat kulit halusmu terluka,” sahut Denzel menyeringai.“Lepas!”“Kau tidak berubah. Masih keras kepala.”“Dan kau masih brengsek!”Denzel tertawa kecil melihat kemarahan Winter. Seakan wanita yang tergeletak di lantai kamarnya adalah tontonan yang bisa dia mainkan.“Kau tahu? Aku p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status