LOGINBukan marah, Simon justru tertawa yang membuat suasnaa jadi lebih ngeri.
“Ya, keluarga Libermon memang seharusnya memiliki keberanian seperti dirimu. Mengutarakan pendapat meski kamu bicara sampai terlihat pucat.” Simon berdiri lalu menoleh pada calon istrinya.
“Diana, setelah makan antar dia ke kamar. Pastikan acara pernikahan kita besok berjalan lancar. Aku tidak suka ada kerikil sekecil apapun itu.”
Lelaki tinggi besar itu meninggalkan makanan-makanan yang masih utuh. Dia mendekati Storm, bicara satu kata lalu keduanya pergi ke ruang kerja.
Sampai bayangan dan langkah sepatu tak lagi ada, Winter langsung bisa mengambil napas panjang. Dia buru-buru memutar posisi duduknya untuk mengarah ke ibunya sepenuhnya.
“Ma, apa yang terjadi? Kenapa mama tiba-tiba menikah dengan keluarga ini?”
“Mereka mengancammu? Mereka memaksa?”
“Tidak mungkin karena cinta kan? Mereka tidak membutuhkan orang-orang seperti kita kalau tidak ada tujuan yang menguntungkan bagi mereka.”
Deretan pertanyaan langsung Winter lontarkan dalam sedikit kepanikan.
“Ssst, jangan keras-keras.” Diana menggerakkan tangan Winter sambil melirik ke tiga pelayan yang berdiri di ujung ruangan menunggu perintah.
“Lalu ini –“ Winter meraih tangan ibunya yang terluka. “Mereka menyiksamu?” tanyanya berbisik.
Diana menggeleng. “Ini benar-benar terkena air panas.”
“Bohong. Selama bertahun-tahun mama ada di dapur toko roti kita, tak sekalipun ceroboh begini.” Mata Winter memerah, menunduk sambil meniup ke bagian luka meski sudah tertutup perban.
“Pasti sakit,” cicitnya menahan tangis.
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dia tangisi bukan sekadar melihat ibunya terluka. Dadanya terasa sesak merasakan masalah yang nampak berdesakan hanya dalam waktu singkat.
“Mama akan baik-baik saja, Winter.” Diana mengusap pipi putrinya dengan lembut.
Sejak suaminya meninggal tujuh tahun lalu, Diana dan Winter hidup berdua dengan sisa harta kekayaan yang makin menipis. Mereka sudah saling menguatkan sejak lama.
“Ayo, kita pergi, Ma. Jangan menikah dengan lelaki itu,” pinta Winter.
Diana melepas tangan putrinya, lalu menghadap ke meja. “Cepat habiskan makananmu.”
“Ma, aku merasa ini tidak beres. Ini –“ Winter bingung sekali cara mengungkapkan kegelisahannya.
“Jangan bicara lagi. Atau mama minta pengawal mengurungmu di kamar.”
Ucapan tegas ibunya membuat Winter akhirnya diam. Dia melihat ke piringnya yang semula kosong, kini Diana isi dengan daging dan sedikit nasi.
Tak lagi bicara, gadis itu mulai makan meski rasanya sulit sekali menelan. Dia harus memiliki tenaga untuk berpikir bagaimana caranya kabur dari sini membawa ibunya.
“Bagaimana Mark? Kalian sudah mencoba baju pengantinnya?”
Pertanyaan Diana tidak membuat Winter bicara. Dia masih mengunyah cepat dan meminum air putih, memaksa makanan tertelan dengan sempurna.
“Sebentar lagi kamu menikah, memiliki keluarga baru dan anak-anak yang lucu. Jadi tidak ada salahnya kalau mama juga bahagia dengan keluarga baru di sini,” ucap Diana tanpa beban.
“Ayah tirimu sangat baik, Winter. Katanya, mama cocok menjadi ibu untuk anak-anaknya. Mereka butuh kasih sayang. Simon juga butuh istri di sampingnya.”
Diana menoleh. “Jadi, tetaplah mendukung mama ya?”
Winter menulikan pendengarannya. Dia masih harus berpikir caranya kabur. Di dorongnya kursi ke belakang, lalu berdiri.
“Di mana kamarku?”
Diana mengangguk tipis. Kemudian membawa putrinya ke kamar di lantai dua. Melewati lorong yang tidak asing lagi karena tadi dia sudah melewatinya.
“Ini kamarmu.” Diana berhenti di sebuah pintu kayu dengan ukiran elegan.
Winter menalan salivanya, melirik ke pintu kamar lain yang ada di sisi kamar. Dia tadi keluar dari sana. Artinya, kamarnya bersebelahan dengan Denzel.
“Apa tidak ada kamar lain selain di lantai ini?” Winter mencoba mencari celah yang mudah untuk pergi.
“Lantai bawah saja tidak apa. Meski lebih kecil,” pintanya.
“Masuklah. Ini kamar yang ayahmu siapkan.”
Diana tetap membuka pintu kamar Winter lalu masuk lebih dulu. Gadis itu pun menarik napas panjang lalu membuangnya. Barulah dia ikut melangkah masuk.
Nuansa kamar ini tentu jauh berbeda dengan kamar milik Denzel. Simon seperti sudah menyiapkan dengan baik akan kedatangan Winter. Seolah semua sudah benar-benar terukur.
Warna favorit, model-model tas yang disukai, ukuran sepatu, ukuran baju hingga isi meja rias. Semua pas dan sesuai.
“Kau suka? Mulai sekarang, kamu tidak perlu susah-susah bekerja di lembaga itu. Kamu bisa melakukan banyak hal tanpa bingung soal uang,” ucap Diana.
“Aku suka pekerjaanku,” jawab Winter mendekati rak buku lalu pelan menelurusi meja yang ada. Seakan dia sedang menilai sesuatu.
Sebagai detektif, tetap saja dia merasa pernikahan ini cukup janggal.
“Ah, baiklah. Terserah kamu saja. Sekarang bersihkan badanmu, lalu tidur. Besok pagi kita berangkat ke Swiss untuk melangsungkan pernikahan di sana.”
Winter menoleh cepat. “Swiss? Sejauh itu?”
“Ya? Simon ingin menikah di sana. Bukankah itu bagus?” Diana tersenyum. “Mama pergi, kalau ada apa-apa bisa panggil pelayan.”
Wanita paruh baya itu benar keluar lalu menutup pintu. Sedangkan Winter masih berpikir di tempat.
“Mereka bukan lagi pasangan muda yang harus melangsungkan pernikahan di tempat yang jauh. Kecuali ada maksud tertentu,” gumamnya.
“Hahhh!” Winter membuang napasnya kasar.
Wanita itu kemudian pergi ke kamar mandi. Dia harus mandi supaya lebih segar dan bisa berpikir jernih.
Tidak lama dia di sana. Membersihkan badannya di bawah shower yang dingin lalu mengeringkan. Dia pikir di kamar hanya sendiri jadi hanya memakai handuk yang dia kunci di dadanya, lalu keluar sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil.
“Sudah selesai?”
Suara bariton itu mengejutkan Winter.
“K-Kamu mau apa?” Buru-buru gadis itu menutup dadanya dengan handuk kecil sambil berjalan mundur.
Perlahan, lelaki yang memasukkan tangan ke saku celana itu mulai mendekat membuat Winter makin waspada dan takut.
Pandangan Winter perlahan naik ke atas. Jelas posisi Storm lebih tinggi darinya. Ekspresi pria itu jauh dari kata senyum. Membuat suasana sangat kaku dan gelap.“M-Maaf,” ucapnya mundur lalu mengusap hidungnya yang baru menabrak dada bidang yang tidak tertutup sempurna.Ada otot menonjol di sana, mengintip di antara celah jubah tidur Storm Libermon. Hening, meski tidak bertanya apapun tapi sorot tajam lelaki itu membuat Winter jadi salah tingkah. Seperti ditatap penculik yang memergokinya.“Aku permisi.” Winter melewati Storm untuk pergi ke kamarnya lagi.“Jangan berpikiran untuk kabur.” Suara lelaki itu membuat langkahnya terhenti.“Berani keluar satu langkah dari mansion ini, satu jari ibumu akan putus. Dua langkah, dua jari. Tiga langkah –““Aku sedang mencari ponselku!” Winter buru-buru menyela dengan wajah tegangnya.Storm diam menatap sejenak, lalu iris mata hitamnya bergerak ke arah kamar Denzel. “Ada di sana.”“B-Baik!”Winter berbalik lalu berlari kecil dan masuk ke kamar man
“B-Berhenti!” teriak Winter memperingati.Yang ada lelaki itu justru menyeringai. Senyuman Denzel yang paling Winter benci.“Untuk apa aku berhenti? Kamu pasti sudah bersiap kan menerima konsekuensinya kalau tidak menolak pernikahan mereka?”Punggung Winter sampai menempel ke dinding, Denzel juga makin dekat sampai aroma parfumnya mulai terasa. Tak hanya itu, bau asap tembakau bercampur dengan alkohol sudah bisa tercium di hidung mancung gadis itu.“Kau mabuk?”Dari dekat wajah Denzel sudah nampak merah, pertanda mabuk berat.“Bahagia sekali, hm?” Denzel tidak menghiraukan pertanyaan Winter.Dia menangkup sisi kiri wajah gadis itu dengan telapak tangan kanannya. “Wajahmu terlihat segar setelah tau kalau kalian akan masuk jadi bagian keluarga konglomerat.”“Hahaha, kau juga senang karena bisa kembali padaku. Kau senang karena mulai sekarang bisa menikmati tubuhku.”Denzel membungkuk, ingin mencium bahu terbuka Winter.“Kau mabuk.” Wanita yang belum berpakaian itu mendorong keras. “Kita
Bukan marah, Simon justru tertawa yang membuat suasnaa jadi lebih ngeri.“Ya, keluarga Libermon memang seharusnya memiliki keberanian seperti dirimu. Mengutarakan pendapat meski kamu bicara sampai terlihat pucat.” Simon berdiri lalu menoleh pada calon istrinya.“Diana, setelah makan antar dia ke kamar. Pastikan acara pernikahan kita besok berjalan lancar. Aku tidak suka ada kerikil sekecil apapun itu.”Lelaki tinggi besar itu meninggalkan makanan-makanan yang masih utuh. Dia mendekati Storm, bicara satu kata lalu keduanya pergi ke ruang kerja.Sampai bayangan dan langkah sepatu tak lagi ada, Winter langsung bisa mengambil napas panjang. Dia buru-buru memutar posisi duduknya untuk mengarah ke ibunya sepenuhnya.“Ma, apa yang terjadi? Kenapa mama tiba-tiba menikah dengan keluarga ini?”“Mereka mengancammu? Mereka memaksa?”“Tidak mungkin karena cinta kan? Mereka tidak membutuhkan orang-orang seperti kita kalau tidak ada tujuan yang menguntungkan bagi mereka.”Deretan pertanyaan langsung
“Ayo, sapa calon ayahmu,” bisik Diana.Winter menelan ludahnya, membalas tatapan orang yang paling ditakuti di Texas.“Selamat malam, Tuan,” sapanya mencoba mengendalikan diri.Dan di kursi seberang, Denzel tersenyum mengejek. Di depannya saja tadi sangat berani, begitu di hadapan kepala keluarga, langsung menciut.“Pa, aku sudah membawanya sesuai perintahmu. Tanpa lecet apapun. Aku membawanya dengan sangat lembut dan hati-hati,” ucap Denzel santai menunjuk pada Winter yang masih berdiri di depan kursinya.Winter melirik tajam. Tanpa lecet? Lengannya saja hampir copot karena diborgol. Badan juga pegal-pegal karena dibiarkan duduk di lantai selama berjam-jam.Simon Libermon, pria itu mengangguk memberi isyarat supaya tamunya untuk duduk. Barulah Winter menuruti.“Kau Winter.” Suara berat itu akhirnya bisa Winter dengar.“Anak Diana?” lanjut Simon masih dengan nada datarnya.Winter menelan ludah. “Iya.”Pria itu menyandarkan punggung, jarinya saling bertaut. “Kau lebih menarik dari foto
Denzel condong ke depan, membisikkan kalimat yang membuat jantung Winter berdetak kencang.“Bantu aku untuk membatalkan pernikahan ibumu.”Menikah?Ya, dua hari yang lalu ibunya memang sempat menghubungi kalau dia akan menikah dan meminta Winter untuk hadir. Namun, Winter merasa itu hanya candaan belaka. Ibunya tidak pernah terlalu dekat dengan pria manapun sejak ayahnya meninggal.“Bukan urusanmu!” jawab Winter ketus.“Oh, ini urusanku,” jawab Denzel ringan. “Karena pria itu ayahku.”Dunia terasa berhenti sesaat bagi Winter. “Ayahmu?” Dia mengulang pelan.“Ya .... Dan itu otomatis menjadikanmu ...” Denzel menjeda, “…calon adik iparku. Jadi kau akan bergabung di keluarga mafia yang selama ini ingin kau jebloskan ke penjara.”“Kau bohong!”“Sayangnya tidak.” “Singkat saja, aku tidak ingin pernikahan mereka berlangsung,” lanjutnya mulai sedikit menunjukkan keseriusannya.“Dan kau menculikku hanya untuk bicara seperti itu?” Winter tertawa mengejek. “Apa aku membuatmu takut, sampai menga
“Apa maksudmu?” Mata Winter melebar tegang.“Maksudku –“ Denzel beranjak, dan mendekat. Dia berdiri, memasukkan tangan ke dalam saku sambil tersenyum licik melihat bibir lalu turun ke bagian bawah tubuh itu.Tentu saja Winter langsung meremang takut. “Singkirkan pikiran mesummu itu!” sentak gadis itu.“Hahaha! Teriakanmu membuatku ingin cepat-cepat bermain bersama. Sangat seksi,” desis lelaki itu di akhir kalimat sambil menyipit.“Kau menculikku,” kata Winter dingin. “Lepaskan aku. Sekarang!”Denzel terkekeh pelan. “Ah. Nada itu. Aku merindukannya.”“Kau tuli? Lepaskan aku!” Winter berusaha menarik tangannya yang sudah cukup pegal tersangkut di logam itu. Meski sia-sia.“Diam di sana, atau borgolnya bisa membuat kulit halusmu terluka,” sahut Denzel menyeringai.“Lepas!”“Kau tidak berubah. Masih keras kepala.”“Dan kau masih brengsek!”Denzel tertawa kecil melihat kemarahan Winter. Seakan wanita yang tergeletak di lantai kamarnya adalah tontonan yang bisa dia mainkan.“Kau tahu? Aku p







