Share

Bab 4 - Penentu Nasib

Penulis: Ute Glider
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-19 11:53:34

“Ayo, sapa calon ayahmu,” bisik Diana.

Winter menelan ludahnya, membalas tatapan orang yang paling ditakuti di Texas.

“Selamat malam, Tuan,” sapanya mencoba mengendalikan diri.

Dan di kursi seberang, Denzel tersenyum mengejek. Di depannya saja tadi sangat berani, begitu di hadapan kepala keluarga, langsung menciut.

“Pa, aku sudah membawanya sesuai perintahmu. Tanpa lecet apapun. Aku membawanya dengan sangat lembut dan hati-hati,” ucap Denzel santai menunjuk pada Winter yang masih berdiri di depan kursinya.

Winter melirik tajam. Tanpa lecet? Lengannya saja hampir copot karena diborgol. Badan juga pegal-pegal karena dibiarkan duduk di lantai selama berjam-jam.

Simon Libermon, pria itu mengangguk memberi isyarat supaya tamunya untuk duduk. Barulah Winter menuruti.

“Kau Winter.” Suara berat itu akhirnya bisa Winter dengar.

“Anak Diana?” lanjut Simon masih dengan nada datarnya.

Winter menelan ludah. “Iya.”

Pria itu menyandarkan punggung, jarinya saling bertaut. “Kau lebih menarik dari fotomu. Nampak sehat dan segar.”

“Terimakasih,” jawab Winter datar.

Kini Simon melihat ke kursi lainnya. Semua kosong. “Di mana Levin?” tanyanya.

“Dia tidak ikut makan.” Denzel menjatuhkan punggungnya di sandaran.

Simon menaikkan satu alisnya. “Kenapa?”

“Karena jelas,” jawab Denzel tanpa ragu, “dia menolak Papa menikah lagi.”

Lelaki itu bahkan tidak takut saat dia melirik ke arah Diana. “Sejak kemarin dia bahkan tidak muncul saat wanita ini duduk di sini.”

Winter menangkap gerakan kecil itu. Diana menunduk, jarinya saling meremas di pangkuan membuat pandangan winter turun. Ketika itu dia baru melihat kulit tangan ibunya melepuh kemerahan meski sebagian sudah tertutup perban.

“Mama,” bisik Winter.

Menyadari itu, Diana langsung menutupi tangannya dan tersenyum kecil yang dipaksakan. “Tidak apa-apa. Mama tidak sengaja tersiram air panas waktu memasak.”

Ibunya tidak pernah ceroboh di dapur, Winter tau itu.

“Hubunganku dengan Diana bukan keputusan mendadak,” ucap Simon. “Semua sudah kami persiapkan dan pikirkan. Pernikahan akan dilangsungkan besok di gereja yang kami tentukan.”

Denzel seketika menyorot tajam pada Winter yang juga sedang menoleh padanya. Seolah memberi peringatan akan konsekuensi kalau Winter tidak menolak pernikahan itu.

“Kami saling mencintai,” lanjut Simon. “Dan saling membutuhkan.”

Winter mengangkat tangannya perlahan.

“Bolehkah aku bicara?” tanyanya sopan.

Simon mengangguk. “Silakan.”

“Bukankah jika dua keluarga bergabung, pernikahan ini seharusnya atas persetujuan anak-anak?” ucap Winter hati-hati.

Denzel mengangguk. “Aku setuju ucapan Winter.”

“Masuk akal.” Simon menyandarkan punggung lalu menautkan jarinya. “Aku punya tiga anak. Diana satu anak. Ambil saja suara terbanyak, itu yang jadi penentu.”

Denzel tanpa ragu mengangkat tangannya. “Aku menolak.”

“Dan Levin, jangan ditanya. Sejak awal dia sudah menolak papa menikah lagi. Jangan lupa penyebab dia bisu itu karena apa,” ujar anak kedua itu penuh peringatan pada ayahnya.

Simon menghela napas panjangnya, kini beralih pada Winter. “Dan kau?”

Semua mata kini tertuju padanya membuat tenggorokan Winter seolah mengering tiba-tiba. Dia menatap dua pasang mata pria itu bergantian. Rasanya seperti sedang ditatap oleh dua serigala lapar yang siap menyantapnya kalau sedikit saja dia bergerak.

Winter menarik napas, hendak membuka mulut. Namun –

“Aku setuju!”

Suara itu datang dari arah lain. Terdengar tenang, dalam dan berwibawa.

Seorang pria berdiri di ambang ruang makan. Posturnya tegap, setelan gelapnya rapi, wajahnya keras tak jauh beda seperti Simon.

“Pernikahan itu, aku setuju,” ulangnya sambil berjalan masuk.

“Storm?” Simon tersenyum mendengar jawaban itu.

Winter menatap pria yang sedang mendekat tanpa berkedip. Apa ini anak pertama keluarga Libermon? Pikirnya. Sangat tampan, lebih dewasa dibanding Denzel, meski aura dinginnya sangat kerasa.

“Karena Storm setuju, artinya kalian tidak bisa menolak,” ujar Simon.

Rahang Denzel mengeras. Dia melepas sendok di tangannya kasar lalu pergi dari ruangan.

Storm Libermon, anak pertama yang kini kedudukannya lebih berpengaruh di keluarga ini karena meneruskan kepemimpinan dengan sangat kuat. Seperti namanya, Storm, badai. Di mana setiap ucapannya seperti badai yang tidak bisa ditentang oleh siapapun.

Dan atmosfer itu bisa Winter rasakan.

Dia menatap pria yang dia yakini sebagai otak dari kasus-kasus pembunuhan yang sedang dia selidiki. Tidak, Winter tidak mau masuk jadi bagian orang-orang kejam ini.

“Tapi aku belum memberikan jawaban,” ucap Winter memberanikan diri.

Storm yang masih berdiri di dekat meja itu menoleh.

Ini gila! Berhadapan dengan keluarga mafia ini dalam situasi hangat saja rasanya seperti terhimpit di antara dinding-dinding berduri. Bagaimana bisa dia sangat berani menentang mereka di tengah penyelidikan kasus pembunuhan.

“Jawabanmu tidak penting,” ucap Storm datar.

“Aku tidak setuju!” Buru-buru Winter bicara sambil menekan rasa takutnya. “Aku – aku tidak ingin ibuku menikah lagi.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 7 - Menemukan Dua Pria di Kamar

    Pandangan Winter perlahan naik ke atas. Jelas posisi Storm lebih tinggi darinya. Ekspresi pria itu jauh dari kata senyum. Membuat suasana sangat kaku dan gelap.“M-Maaf,” ucapnya mundur lalu mengusap hidungnya yang baru menabrak dada bidang yang tidak tertutup sempurna.Ada otot menonjol di sana, mengintip di antara celah jubah tidur Storm Libermon. Hening, meski tidak bertanya apapun tapi sorot tajam lelaki itu membuat Winter jadi salah tingkah. Seperti ditatap penculik yang memergokinya.“Aku permisi.” Winter melewati Storm untuk pergi ke kamarnya lagi.“Jangan berpikiran untuk kabur.” Suara lelaki itu membuat langkahnya terhenti.“Berani keluar satu langkah dari mansion ini, satu jari ibumu akan putus. Dua langkah, dua jari. Tiga langkah –““Aku sedang mencari ponselku!” Winter buru-buru menyela dengan wajah tegangnya.Storm diam menatap sejenak, lalu iris mata hitamnya bergerak ke arah kamar Denzel. “Ada di sana.”“B-Baik!”Winter berbalik lalu berlari kecil dan masuk ke kamar man

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 6 - Konsekuensi

    “B-Berhenti!” teriak Winter memperingati.Yang ada lelaki itu justru menyeringai. Senyuman Denzel yang paling Winter benci.“Untuk apa aku berhenti? Kamu pasti sudah bersiap kan menerima konsekuensinya kalau tidak menolak pernikahan mereka?”Punggung Winter sampai menempel ke dinding, Denzel juga makin dekat sampai aroma parfumnya mulai terasa. Tak hanya itu, bau asap tembakau bercampur dengan alkohol sudah bisa tercium di hidung mancung gadis itu.“Kau mabuk?”Dari dekat wajah Denzel sudah nampak merah, pertanda mabuk berat.“Bahagia sekali, hm?” Denzel tidak menghiraukan pertanyaan Winter.Dia menangkup sisi kiri wajah gadis itu dengan telapak tangan kanannya. “Wajahmu terlihat segar setelah tau kalau kalian akan masuk jadi bagian keluarga konglomerat.”“Hahaha, kau juga senang karena bisa kembali padaku. Kau senang karena mulai sekarang bisa menikmati tubuhku.”Denzel membungkuk, ingin mencium bahu terbuka Winter.“Kau mabuk.” Wanita yang belum berpakaian itu mendorong keras. “Kita

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 5 - Masuk ke Kamar

    Bukan marah, Simon justru tertawa yang membuat suasnaa jadi lebih ngeri.“Ya, keluarga Libermon memang seharusnya memiliki keberanian seperti dirimu. Mengutarakan pendapat meski kamu bicara sampai terlihat pucat.” Simon berdiri lalu menoleh pada calon istrinya.“Diana, setelah makan antar dia ke kamar. Pastikan acara pernikahan kita besok berjalan lancar. Aku tidak suka ada kerikil sekecil apapun itu.”Lelaki tinggi besar itu meninggalkan makanan-makanan yang masih utuh. Dia mendekati Storm, bicara satu kata lalu keduanya pergi ke ruang kerja.Sampai bayangan dan langkah sepatu tak lagi ada, Winter langsung bisa mengambil napas panjang. Dia buru-buru memutar posisi duduknya untuk mengarah ke ibunya sepenuhnya.“Ma, apa yang terjadi? Kenapa mama tiba-tiba menikah dengan keluarga ini?”“Mereka mengancammu? Mereka memaksa?”“Tidak mungkin karena cinta kan? Mereka tidak membutuhkan orang-orang seperti kita kalau tidak ada tujuan yang menguntungkan bagi mereka.”Deretan pertanyaan langsung

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 4 - Penentu Nasib

    “Ayo, sapa calon ayahmu,” bisik Diana.Winter menelan ludahnya, membalas tatapan orang yang paling ditakuti di Texas.“Selamat malam, Tuan,” sapanya mencoba mengendalikan diri.Dan di kursi seberang, Denzel tersenyum mengejek. Di depannya saja tadi sangat berani, begitu di hadapan kepala keluarga, langsung menciut.“Pa, aku sudah membawanya sesuai perintahmu. Tanpa lecet apapun. Aku membawanya dengan sangat lembut dan hati-hati,” ucap Denzel santai menunjuk pada Winter yang masih berdiri di depan kursinya.Winter melirik tajam. Tanpa lecet? Lengannya saja hampir copot karena diborgol. Badan juga pegal-pegal karena dibiarkan duduk di lantai selama berjam-jam.Simon Libermon, pria itu mengangguk memberi isyarat supaya tamunya untuk duduk. Barulah Winter menuruti.“Kau Winter.” Suara berat itu akhirnya bisa Winter dengar.“Anak Diana?” lanjut Simon masih dengan nada datarnya.Winter menelan ludah. “Iya.”Pria itu menyandarkan punggung, jarinya saling bertaut. “Kau lebih menarik dari foto

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 3 - Budak di Atas Ranjang

    Denzel condong ke depan, membisikkan kalimat yang membuat jantung Winter berdetak kencang.“Bantu aku untuk membatalkan pernikahan ibumu.”Menikah?Ya, dua hari yang lalu ibunya memang sempat menghubungi kalau dia akan menikah dan meminta Winter untuk hadir. Namun, Winter merasa itu hanya candaan belaka. Ibunya tidak pernah terlalu dekat dengan pria manapun sejak ayahnya meninggal.“Bukan urusanmu!” jawab Winter ketus.“Oh, ini urusanku,” jawab Denzel ringan. “Karena pria itu ayahku.”Dunia terasa berhenti sesaat bagi Winter. “Ayahmu?” Dia mengulang pelan.“Ya .... Dan itu otomatis menjadikanmu ...” Denzel menjeda, “…calon adik iparku. Jadi kau akan bergabung di keluarga mafia yang selama ini ingin kau jebloskan ke penjara.”“Kau bohong!”“Sayangnya tidak.” “Singkat saja, aku tidak ingin pernikahan mereka berlangsung,” lanjutnya mulai sedikit menunjukkan keseriusannya.“Dan kau menculikku hanya untuk bicara seperti itu?” Winter tertawa mengejek. “Apa aku membuatmu takut, sampai menga

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 2 - Mantan Gila!

    “Apa maksudmu?” Mata Winter melebar tegang.“Maksudku –“ Denzel beranjak, dan mendekat. Dia berdiri, memasukkan tangan ke dalam saku sambil tersenyum licik melihat bibir lalu turun ke bagian bawah tubuh itu.Tentu saja Winter langsung meremang takut. “Singkirkan pikiran mesummu itu!” sentak gadis itu.“Hahaha! Teriakanmu membuatku ingin cepat-cepat bermain bersama. Sangat seksi,” desis lelaki itu di akhir kalimat sambil menyipit.“Kau menculikku,” kata Winter dingin. “Lepaskan aku. Sekarang!”Denzel terkekeh pelan. “Ah. Nada itu. Aku merindukannya.”“Kau tuli? Lepaskan aku!” Winter berusaha menarik tangannya yang sudah cukup pegal tersangkut di logam itu. Meski sia-sia.“Diam di sana, atau borgolnya bisa membuat kulit halusmu terluka,” sahut Denzel menyeringai.“Lepas!”“Kau tidak berubah. Masih keras kepala.”“Dan kau masih brengsek!”Denzel tertawa kecil melihat kemarahan Winter. Seakan wanita yang tergeletak di lantai kamarnya adalah tontonan yang bisa dia mainkan.“Kau tahu? Aku p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status