Suara resleting yang perlahan turun terdengar sangat jelas di ruangan luas tersebut.“Denzel, berhenti,” lirih Winter lemah.Tangannya juga lemah untuk menahan lagi, tapi sekali lagi. Dia takut Storm benar-benar melukai ibunya.“Hanya sebentar,” sahut Denzel dengan mata yang bergerak turun, seiring dengan kain gaun yang mulai melonggar lalu melorot dari bahu.Seketika pula udara dingin ruangan menyentuh kulit Winter dan membuat tubuhnya merinding. Tangannya refleks menahan bagian depan gaun supaya tidak jatuh seluruhnya.Setelah resleting itu dia turunkan, Denzel mundur satu langkah. Seolah tugasnya sudah selesai.Winter, gaunnya setengah melorot dari bahu, kainnya terkumpul di lengannya. Dia menatap satu per satu pria di ruangan itu dengan napas yang tidak stabil.“Puas?” Suaranya gemetar.Pipi putihnya itu juga mulai memerah. Bukan karena malu, melainkan karena amarah yang hampir meledak.Tak ada jawaban.Storm masih berdiri beberapa langkah di depannya, menatap Winter dari ujung kep
Terakhir Diperbarui : 2026-03-10 Baca selengkapnya