Share

Bab 2 - Mantan Gila!

Penulis: Ute Glider
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-19 11:48:16

“Apa maksudmu?” Mata Winter melebar tegang.

“Maksudku –“ Denzel beranjak, dan mendekat. Dia berdiri, memasukkan tangan ke dalam saku sambil tersenyum licik melihat bibir lalu turun ke bagian bawah tubuh itu.

Tentu saja Winter langsung meremang takut. “Singkirkan pikiran mesummu itu!” sentak gadis itu.

“Hahaha! Teriakanmu membuatku ingin cepat-cepat bermain bersama. Sangat seksi,” desis lelaki itu di akhir kalimat sambil menyipit.

“Kau menculikku,” kata Winter dingin. “Lepaskan aku. Sekarang!”

Denzel terkekeh pelan. “Ah. Nada itu. Aku merindukannya.”

“Kau tuli? Lepaskan aku!” Winter berusaha menarik tangannya yang sudah cukup pegal tersangkut di logam itu. Meski sia-sia.

“Diam di sana, atau borgolnya bisa membuat kulit halusmu terluka,” sahut Denzel menyeringai.

“Lepas!”

“Kau tidak berubah. Masih keras kepala.”

“Dan kau masih brengsek!”

Denzel tertawa kecil melihat kemarahan Winter. Seakan wanita yang tergeletak di lantai kamarnya adalah tontonan yang bisa dia mainkan.

“Kau tahu? Aku pernah berpikir kalau sebenarnya kita putus terlalu cepat. Tiga bulan berpacaran, huh! Sangat singkat, bukan?” Tidak, itu bukan kalimat penyesalan tapi semacam ejekan.

“Kita putus karena kau gila!” balas Winter tanpa ragu.

Bibir di sana masih saja menyeringai, tapi kali ini sambil melangkah lebih dekat yang refleks membuat Winter menarik posisinya ke belakang, menempel pada ranjang.

Denzel berjongkok, meraih dagu Winter sambil menatap bibir itu. “Kita putus karena kau tidak bisa dikendalikan.”

Wajah berkulit putih itu langsung berpaling sampai jemari kokoh di dagunya terlepas.

“Aku suka wanita galak sepertimu,” bisik Denzel, merayu.

Ucapan Denzel terhenti saat kaki adiknya menyentuh sepatunya.

Lelaki yang tubuhnya lebih kecil dari kakaknya sempat menatap kondisi Winter dengan rahang mengeras. Lalu menggeser pandangan ke kakaknya dengan tangannya bergerak cepat, membentuk isyarat.

“Cukup!”

Denzel mendengus. “Santai saja. Aku hanya menyapa mantan.”

Levin kini menatap borgol di pergelangan Winter, lalu menatap kakaknya dengan ekspresi tidak setuju. Mereka hanya perlu bicara, bukan diborgol begini.

Pergerakan Levin membuat dahi Winter berkerut, “Dia bisu?” pikirnya.

“Siapa kalian? Mau apa menculikku?” desak Winter tidak ingin menebak-nebak lagi alasan dia dibawa ke tempat ini.

“Siapa kami? Baik, kita berkenalan –“ Denzel mengulurkan tangan seolah berkenalan. “Aku adalah Denzel Libermon, anak ke dua dari keluarga Libermon yang sudah hidup tanpa ibu sejak kecil.”

Tak ada balasan jabatan tangan. Selain karena tangan Winter yang masih diborgol, gadis itu juga sedang terkejut mendengar nama panjang Denzel.

“Sedangkan dia, Levin, adikku. Anak terakhir dari tiga bersaudara –“

“Tunggu, siapa namamu?” Winter menyela cepat, menatap Denzel dan Levin bergantian penuh waspada.

“Libermon?” ulangnya memastikan.

Levin merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel lalu bergerak cepat untuk mengetik sesuatu. Barulah dia tunjukkan layar benda pipih itu pada Winter.

[Pergi dari negara ini bersama ibumu. Sebelum seluruh keluargamu habis. Jangan remehkan kemarahan kami. Kau tentu mengenal keluarga Libermon.]

Winter membaca tulisan itu dan dadanya seketika menegang. Jadi benar mereka Libermon?

Libermon adalah keluarga Mafia dengan kelompok bawah tanah yang kekuatannya cukup besar di Texas. Mereka bisa membunuh siapapun yang menghalangi jalan mereka.

Winter mendongak, menatap wajah Denzel yang menyeringai di depannya.

Kejutan macam apa ini, penjahat yang Winter cari adalah mantan kekasihnya sendiri? Selama ini dia hanya tau Denzel pria brengsek yang suka bersenang-senang. Tak disangka, dia bagian dari keluarga mafia berdarah dingin.

“Jadi dugaanku benar, kallian menculikku karena berkas itu, kan?” Winter langsung bisa menebak.

Dia melanjutkan dengan wajah yang makin menegang. “Kalian ingin aku menghentikan penyelidikan? Jangan harap aku bisa kalian suap seperti tikus-tikus kantor itu! Aku lebih baik mati daripada tunduk dengan kalian!”

Denzel justru terkekeh, suara tawa yang penuh dengan penghinaan.

“Tikus? Kau pikir aku repot-repot membawamu ke sini karena urusan sepele di kantor kejaksaan itu?”

Satu alis Denzel terangkat. “Mengurus tikus seperti atasanmu, apalagi kau yang bahkan tidak diperhitungkan dalam rencanaku, aku bisa melakukannya hanya dengan satu jentikan jari.”

Dia menjentikkan jarinya di depan wajah Winter. “Aku bahkan bisa membumihanguskan markas kalian saat ini juga jika aku mau.”

Winter tertegun. “Lalu kenapa aku di sini?”

Denzel menatap mata Winter dengan tajam, sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya. “Karena ada satu hal yang tidak bisa kulakukan sendirian. Aku butuh bantuanmu.”

“Bantuan apa?” tanya Winter bingung, merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih gila sedang terjadi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 7 - Menemukan Dua Pria di Kamar

    Pandangan Winter perlahan naik ke atas. Jelas posisi Storm lebih tinggi darinya. Ekspresi pria itu jauh dari kata senyum. Membuat suasana sangat kaku dan gelap.“M-Maaf,” ucapnya mundur lalu mengusap hidungnya yang baru menabrak dada bidang yang tidak tertutup sempurna.Ada otot menonjol di sana, mengintip di antara celah jubah tidur Storm Libermon. Hening, meski tidak bertanya apapun tapi sorot tajam lelaki itu membuat Winter jadi salah tingkah. Seperti ditatap penculik yang memergokinya.“Aku permisi.” Winter melewati Storm untuk pergi ke kamarnya lagi.“Jangan berpikiran untuk kabur.” Suara lelaki itu membuat langkahnya terhenti.“Berani keluar satu langkah dari mansion ini, satu jari ibumu akan putus. Dua langkah, dua jari. Tiga langkah –““Aku sedang mencari ponselku!” Winter buru-buru menyela dengan wajah tegangnya.Storm diam menatap sejenak, lalu iris mata hitamnya bergerak ke arah kamar Denzel. “Ada di sana.”“B-Baik!”Winter berbalik lalu berlari kecil dan masuk ke kamar man

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 6 - Konsekuensi

    “B-Berhenti!” teriak Winter memperingati.Yang ada lelaki itu justru menyeringai. Senyuman Denzel yang paling Winter benci.“Untuk apa aku berhenti? Kamu pasti sudah bersiap kan menerima konsekuensinya kalau tidak menolak pernikahan mereka?”Punggung Winter sampai menempel ke dinding, Denzel juga makin dekat sampai aroma parfumnya mulai terasa. Tak hanya itu, bau asap tembakau bercampur dengan alkohol sudah bisa tercium di hidung mancung gadis itu.“Kau mabuk?”Dari dekat wajah Denzel sudah nampak merah, pertanda mabuk berat.“Bahagia sekali, hm?” Denzel tidak menghiraukan pertanyaan Winter.Dia menangkup sisi kiri wajah gadis itu dengan telapak tangan kanannya. “Wajahmu terlihat segar setelah tau kalau kalian akan masuk jadi bagian keluarga konglomerat.”“Hahaha, kau juga senang karena bisa kembali padaku. Kau senang karena mulai sekarang bisa menikmati tubuhku.”Denzel membungkuk, ingin mencium bahu terbuka Winter.“Kau mabuk.” Wanita yang belum berpakaian itu mendorong keras. “Kita

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 5 - Masuk ke Kamar

    Bukan marah, Simon justru tertawa yang membuat suasnaa jadi lebih ngeri.“Ya, keluarga Libermon memang seharusnya memiliki keberanian seperti dirimu. Mengutarakan pendapat meski kamu bicara sampai terlihat pucat.” Simon berdiri lalu menoleh pada calon istrinya.“Diana, setelah makan antar dia ke kamar. Pastikan acara pernikahan kita besok berjalan lancar. Aku tidak suka ada kerikil sekecil apapun itu.”Lelaki tinggi besar itu meninggalkan makanan-makanan yang masih utuh. Dia mendekati Storm, bicara satu kata lalu keduanya pergi ke ruang kerja.Sampai bayangan dan langkah sepatu tak lagi ada, Winter langsung bisa mengambil napas panjang. Dia buru-buru memutar posisi duduknya untuk mengarah ke ibunya sepenuhnya.“Ma, apa yang terjadi? Kenapa mama tiba-tiba menikah dengan keluarga ini?”“Mereka mengancammu? Mereka memaksa?”“Tidak mungkin karena cinta kan? Mereka tidak membutuhkan orang-orang seperti kita kalau tidak ada tujuan yang menguntungkan bagi mereka.”Deretan pertanyaan langsung

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 4 - Penentu Nasib

    “Ayo, sapa calon ayahmu,” bisik Diana.Winter menelan ludahnya, membalas tatapan orang yang paling ditakuti di Texas.“Selamat malam, Tuan,” sapanya mencoba mengendalikan diri.Dan di kursi seberang, Denzel tersenyum mengejek. Di depannya saja tadi sangat berani, begitu di hadapan kepala keluarga, langsung menciut.“Pa, aku sudah membawanya sesuai perintahmu. Tanpa lecet apapun. Aku membawanya dengan sangat lembut dan hati-hati,” ucap Denzel santai menunjuk pada Winter yang masih berdiri di depan kursinya.Winter melirik tajam. Tanpa lecet? Lengannya saja hampir copot karena diborgol. Badan juga pegal-pegal karena dibiarkan duduk di lantai selama berjam-jam.Simon Libermon, pria itu mengangguk memberi isyarat supaya tamunya untuk duduk. Barulah Winter menuruti.“Kau Winter.” Suara berat itu akhirnya bisa Winter dengar.“Anak Diana?” lanjut Simon masih dengan nada datarnya.Winter menelan ludah. “Iya.”Pria itu menyandarkan punggung, jarinya saling bertaut. “Kau lebih menarik dari foto

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 3 - Budak di Atas Ranjang

    Denzel condong ke depan, membisikkan kalimat yang membuat jantung Winter berdetak kencang.“Bantu aku untuk membatalkan pernikahan ibumu.”Menikah?Ya, dua hari yang lalu ibunya memang sempat menghubungi kalau dia akan menikah dan meminta Winter untuk hadir. Namun, Winter merasa itu hanya candaan belaka. Ibunya tidak pernah terlalu dekat dengan pria manapun sejak ayahnya meninggal.“Bukan urusanmu!” jawab Winter ketus.“Oh, ini urusanku,” jawab Denzel ringan. “Karena pria itu ayahku.”Dunia terasa berhenti sesaat bagi Winter. “Ayahmu?” Dia mengulang pelan.“Ya .... Dan itu otomatis menjadikanmu ...” Denzel menjeda, “…calon adik iparku. Jadi kau akan bergabung di keluarga mafia yang selama ini ingin kau jebloskan ke penjara.”“Kau bohong!”“Sayangnya tidak.” “Singkat saja, aku tidak ingin pernikahan mereka berlangsung,” lanjutnya mulai sedikit menunjukkan keseriusannya.“Dan kau menculikku hanya untuk bicara seperti itu?” Winter tertawa mengejek. “Apa aku membuatmu takut, sampai menga

  • Dimanja Tiga Kakak Tiri Berbahaya   Bab 2 - Mantan Gila!

    “Apa maksudmu?” Mata Winter melebar tegang.“Maksudku –“ Denzel beranjak, dan mendekat. Dia berdiri, memasukkan tangan ke dalam saku sambil tersenyum licik melihat bibir lalu turun ke bagian bawah tubuh itu.Tentu saja Winter langsung meremang takut. “Singkirkan pikiran mesummu itu!” sentak gadis itu.“Hahaha! Teriakanmu membuatku ingin cepat-cepat bermain bersama. Sangat seksi,” desis lelaki itu di akhir kalimat sambil menyipit.“Kau menculikku,” kata Winter dingin. “Lepaskan aku. Sekarang!”Denzel terkekeh pelan. “Ah. Nada itu. Aku merindukannya.”“Kau tuli? Lepaskan aku!” Winter berusaha menarik tangannya yang sudah cukup pegal tersangkut di logam itu. Meski sia-sia.“Diam di sana, atau borgolnya bisa membuat kulit halusmu terluka,” sahut Denzel menyeringai.“Lepas!”“Kau tidak berubah. Masih keras kepala.”“Dan kau masih brengsek!”Denzel tertawa kecil melihat kemarahan Winter. Seakan wanita yang tergeletak di lantai kamarnya adalah tontonan yang bisa dia mainkan.“Kau tahu? Aku p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status