MasukJantungku rasanya mau copot dan melompat keluar lewat tenggorokan saking kagetnya.
“Jangkriikkk! Kok bisa aku nginjek ranting gini. Sumpah, aku kalau ketahuan, pasti aku dipecat. Asem, gimana ini, pliss otakku ayo mikir, jangan dulu pindah dari kepala ke bawah perut!”
Namun, di tengah kepanikan itu, otak udangku tiba-tiba bekerja dengan cara yang ajaib.
Aha!
Aku menemukan ide.
Alih-alih lari terbirit-birit yang justru bakal bikin curiga, aku justru memutuskan untuk melakukan hal paling bodoh yang bisa terpikirkan oleh manusia normal.
Aku menguap lebar-lebar, "Hoooaaahhhmm...".
Lalu aku juga pura-pura menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali, tapi tujuan utamaku adalah biar rambutku kelihatan berantakan, seperti natural aja bangun tidur.
Dengan gerakan lambat yang dibuat-buat, aku berjalan menyeret kaki mendekati area mobil, seolah-olah aku tidak melihat apa pun yang terjadi di dalam sedan mewah itu.
Ekor mataku yang nakal sempat menangkap pergerakan panik dari dalam mobil.
Bayangan pria yang tadi memangku Nona Shella terlihat meluncur turun ke bawah dashboard secepat kilat, bersembunyi di balik setir kemudi seperti maling ayam yang kepergok warga. Sementara itu, pintu mobil terbuka dengan kasar.
Nona Shella keluar dengan napas yang masih memburu hebat.
"Ka-kamu! Ngapain kamu di sini?!" bentaknya dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha terdengar galak meski wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
Aku menghentikan langkah, lalu menatapnya dengan tampang paling polos sedunia. "Eh, Nona Shella? Anu, Non, saya mau cuci mobil Nyonya. Katanya tadi habis nerobos banjir, takut karatan kalau didiamkan sampai besok.”
Nona Shella tampak berusaha keras mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Namun, mata jelalatan milikku ini justru gagal fokus dan malah tertuju pada penampilannya yang sangat berantakan, tapi sangat-sangat menawan. Rambut panjangnya yang tadi rapi kini acak-acakan seperti habis dijambak-jambak manja, beberapa helai rambut basah menempel di pipi dan lehernya.
Yang paling membuatku susah menelan ludah adalah kemeja kerjanya.
Satu kancing di bagian dada atasnya terlepas, entah copot atau memang sengaja ditarik paksa saat pergulatan panas tadi, sehingga belahannya terekspos jauh lebih lebar dari biasanya.
Kulit putih mulus di area sensitif itu terlihat basah oleh keringat yang mengilap tertimpa cahaya lampu garasi, sedangkan squishynya yang padat itu masih naik-turun dengan tempo cepat.
"Cuci mobil tengah malam begini? Kamu gila apa, ya?!" sembur Nona Shella lagi, tangannya sibuk merapikan rok span-nya yang miring ke kiri.
"Lho, ini kan tugas saya, Non. Lagian saya tadi dengar suara ribut-ribut di sini, saya kira ada tikus kejepit atau kucing berantem," jawabku asal bunyi, tapi mataku masih terpaku pada titik keringat yang mengalir turun membelah lembah dadanya.
“Eh, tapi Nona kok keringetan banget? Sampai basah begitu lehernya? Nona abis jogging di garasi malam-malam kayak gini?"
Nona Shella tersentak kaget, wajahnya yang tadi merah kini semakin merah padam menahan malu. “Jogging ndiasmu, Rafli, mana ada orang jogging malam-malam begini. Udah sana pergi, jangan ganggu aku!”
Namun, dasar aku yang memang kurang peka dan sok tahu, aku malah melangkah maju mendekatinya dengan wajah khawatir yang dibuat-buat.
"Waduh, Nona, jangan-jangan AC mobilnya rusak ya? Pantesan Nona sampai buka kancing baju begitu, pasti kepanasan banget di dalam sana, ya?"
Mata Nona Shella melotot sempurna mendengar ucapanku. "Apa kamu bilang? Kepanasan?"
"Iya, Non. Kalau AC-nya mati, besok biar saya bawa ke bengkel. Bahaya lho Non, kalau kepanasan di dalam mobil tertutup, bisa kehabisan oksigen. Apalagi tadi saya lihat Nona sampai napasnya ngos-ngosan gitu kayak habis lari maraton," cerocosku panjang lebar tanpa dosa.
Padahal dalam hati, aku menahan tawa membayangkan betapa malunya Nona Shella.
"Rafli!" Teriakan Nona Shella melengking.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kananku.
"Dasar sopir bodoh, kamu itu mesum juga ternyata. Pergi, cepat! Nggak usah cuci-cuci mobil malam ini atau aku laporin Mama biar kamu dipecat!?"
Aku memegangi pipiku yang berdenyut, pura-pura kesakitan dan ketakutan. "Aduh, ampun Non! Iya, iya, saya pergi. Jangan dipecat, Non, saya cuma mau bantu benerin AC kok ditampar," keluhku sambil mundur teratur.
Nona Shella mendengus kasar, lalu buru-buru membalikkan badan dan kembali masuk ke dalam mobil, mungkin untuk memberitahu pacarnya kalau situasi sudah aman karena yang memergoki mereka cuma sopir bloon yang mengira mereka kepanasan.
Sambil berjalan kembali ke arah dapur dengan ember kosong, aku menyeringai kecil sambil mengusap pipi bekas tamparannya.
Sakit sih, tapi bayangan belahan dadanya yang basah keringat dan ekspresi pasrahnya saat mendesah tadi benar-benar tercetak permanen di otakku.
"Galak-galak begitu tapi kalau lagi main ternyata liar juga.”
Rasanya si Gatot di bawah sana masih belum mau tenang, justru semakin menegang sakit karena tidak mendapat penyaluran.
Berjalan dengan celana yang menyempit di bagian depan sungguh siksaan tersendiri.
Aku mencoba membayangkan hal-hal yang tidak jorok biar si Gatot cepat tidur lagi, seperti tagihan listrik atau muka garang penagih utang di kampung, tapi tetap saja bayangan paha putih Nona Shella yang menjepit pinggang pacarnya terus menari-nari di pelupuk mata.
Aku melewati garasi samping tempat Nona Sora tadi duduk dan dia masih ada di sana.
Setelah dirasa tidak ada lagi yang bisa kukerjakan, aku meletakkan ember di dekat pintu dapur belakang, berniat mengambil air minum dingin dari kulkas untuk mendinginkan otak dan tubuhku yang rasanya mau meledak ini.
Suasana di dapur cukup gelap, hanya diterangi lampu kecil di atas kitchen set, sedangkan hujan di luar semakin deras, disertai angin kencang yang membuat jendela kaca bergetar ngeri.
Baru saja tanganku menyentuh gagang pintu kulkas, tiba-tiba...
LHAP!
Seluruh lampu di rumah besar itu padam seketika. Suara guntur menggelegar dahsyat tepat di atas atap rumah dan membuat lantai yang kupijak terasa bergetar.
DHUAR!
DHUAR!
"Waduh, mati lampu," gumamku sambil meraba-raba dinding, berusaha mencari letak lilin atau senter yang biasanya disimpan di laci dapur.
Saat lilin sudah kunyalakan, aku ingin melangkah ke arah Sora. Namun, belum sempat aku melangkah, telingaku menangkap suara jeritan tertahan dari arah ruang tengah.
Suara perempuan, terdengar panik dan ketakutan setengah mati. "Mamaaa! Tolooong, Sora takut gelap, Mamaaa!"
Tanpa aba-aba, gadis itu melompat bangkit dari sofa secepat kilat, melingkarkan tangannya ke pinggangku seperti koala.
"Mas Rafli, jangan tinggalin Sora, Sora takuutt! Mas Rafliii!” Gadis itu terus-menerus menangis, tapi sial bagiku, dia tadi loncat dan dadanya tepat menjepit si Gatot.
"Jujur ya, Shell," aku berhenti gerak. "Ini agak seret. Kurang licin.""Seret?""Iya. Kulit ketemu kulit jadi perih lama-lama. Terus rasanya kurang ngejepit. Visualnya emang juara, tapi rasanya malah sakit, kurang pelicin.""Dasar banyak mau," gerutunya pelan. "Oke, aku kasih yang pasti enak. Awas kalau kamu komplain lagi."Shella mundur dikit, lalu natap batangku yang masih berdiri tegak. Perlahan, dia nundukin kepalanya. Rambut hitamnya jatuh nutupi sisi wajahnya. Dia buka mulut lebar-lebar, terus julurin lidahnya keluar.Tanpa aba-aba, Shella majuin wajahnya dan langsung lahap kepala Si Gatot dalam satu suapan besar."Oukh!" Aku kaget sampai punggungku melengkung ke belakang, tanganku reflek cengkeram sprei kasur.Rasanya berubah total.Dari yang tadinya kesat dan kering, sekarang jadi basah, anget, dan licin banget.Mulut Shella terasa sempit dan nyedot. Dia masukin kepala Si Gatot sampai ke tengah mulutnya, pipinya sampai kempot karena hisap kuat. Lidahnya di dalam sana langsung
Satu kancing terbuka, memperlihatkan kulit putih mulusnya.Dua kancing terbuka, memperlihatkan belahan dadanya yang menggoda.Tiga kancing terbuka, dan piyama atasan itu meluncur turun dari bahunya, menyisakan pemandangan yang membuat darahku mendidih seketika."Baring di kasur, Raf. Sekarang," perintah Shella dengan nada dominan yang baru kali ini aku dengar, dia mendorong dadaku dengan kedua tangannya yang halus.Aku menurut, membiarkan tubuhku didorong mundur hingga bagian belakang lututku menabrak tepi tempat tidur, lalu aku menjatuhkan diriku ke atas kasur busa yang berdecit pelan.Shella tidak membuang waktu, dia segera naik ke atas kasur, merangkak di antara kedua kakiku seperti kucing liar yang sedang mengincar mangsanya."Biar aku yang kendaliin semuanya malem ini, kamu cukup nikmatin aja pelayanan dari adik tiri kamu ini," bisik Shella nakal, lalu tangannya bergerak lincah menarik celana kolorku ke bawah tanpa ragu sedikit pun.Tanpa banyak bicara lagi, Shella menundukkan ke
Setelah tangisnya benar-benar reda, aku melepaskan genggaman tanganku, lalu mengubah posisi dudukku menjadi lebih santai namun serius."Sekarang, karena kamu udah ada di sini dan udah tenang, aku mau minta tolong satu hal yang sangat penting sama kamu," ucapku dengan nada suara yang berubah menjadi mode strategis. "Anggap aja ini tugas pertama kamu sebagai sekutu aku.""Tugas apa, Raf? Aku bakal lakuin apa aja asal bisa nebus rasa bersalah aku," tanya Shella antusias."Aku butuh kamu jadi mata-mata aku di dalem rumah induk," jawabku to the point. "Akses aku di rumah ini terbatas, aku nggak bisa sembarangan masuk ke ruang kerja Nyonya Alika atau ruang baca almarhum Pak Hermawan tanpa dicurigai. Tapi kamu bisa. Kamu punya akses bebas ke seluruh sudut rumah ini.""Mata-mata? Kamu mau aku cari apa?" Shella menegakkan punggungnya, siap menerima misi."Aku butuh kamu cari dokumen-dokumen penting yang mungkin disembunyiin Nyonya Alika. Cari tau di mana dia nyimpen sertifikat aset asli, cari
Pukul sembilan malam, Nyonya Alika sudah masuk ke kamarnya dengan alasan sakit kepala dan butuh istirahat total, meninggalkan ketiga putrinya di ruang tengah untuk menikmati waktu santai tanpa pengawasan ketat sang ibu negara.Aku baru saja selesai membereskan dapur kotor di belakang ketika ponselku bergetar menerima pesan singkat dari grup chat orang rumah yang isinya perintah dari Nona Claudia.[Mas Rafli, bisa bawa naik popcorn caramel, keripik kentang, sama soda dingin yang banyak? Kita lagi nonton film, Mama udah tidur. Kalau Mas Rafli mau ikut, sini aja ga apa, Kak Shella yang minta Mas Rafli ikut, kok, jadi aman aja, kita juga seneng Mas Rafli bisa join ke sini.]Aku menghela napas panjang, melepas celemek dapurku, dan segera menyiapkan nampan besar berisi pesanan para majikan muda itu. Botol-botol soda dingin yang berembun, tiga mangkuk besar popcorn yang aromanya manis, dan beberapa bungkus keripik kentang impor sudah tersusun rapi di atas nampan.Begitu aku melangkah masuk k
Shella memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang untuk menahan ledakan emosinya agar tidak memperkeruh suasana yang sudah panas. Dia sadar betul bahwa satu kata salah saja bisa membuat ibunya menggali lebih dalam, dan itu sangat berbahaya bagi misi kami."Demi Tuhan, Ma, nggak ada hubungan apa-apa. Mama jangan mulai nuduh yang enggak-enggak deh," jawab Shella dengan nada lelah yang sangat meyakinkan. "Sora cuma overthinking aja karena dia lagi capek kuliah, terus dia kaget karena aku tiba-tiba nanyain tugas dia. Dia nggak biasa diperhatiin, makanya dia curiga.""Tuh kan! Kak Shella selalu gitu! Selalu bilang aku overthinking!" potong Sora tidak terima, matanya kembali berkaca-kaca. "Aku tuh punya feeling, Ma! Aku ngerasa ada tembok gede yang misahin aku dari mereka berdua, padahal kita satu mobil!""Cukup, Sora! Hentikan omong kosong soal feeling dan tembok itu!" potong Nyonya Alika tegas, dia mengangkat tangannya untuk menghentikan perdebatan. "Mama pusing dengarnya. Masalah
Mata Shella bertemu dengan mataku di spion tengah. Aku melihat dia kehilangan kendali. Dia hendak mengatakan "saudara kita". Itu terlalu berbahaya. Sora belum siap, dan Nyonya Alika bisa menghancurkan kami jika Sora sampai bocor."Halah, sebenarnya aku itu korban curhat tukang bakso tadi, Non!" potongku cepat dengan suara lantang dan tegas, memutus kalimat fatal Shella sebelum terlambat.Sora dan Shella sama-sama menoleh kaget ke arahku."Hah? Maksudnya gimana, Mas?" tanya Sora bingung, alisnya bertaut."Iya, Non Sora. Tadi pas Nona masuk kampus, saya ngobrol sama tukang bakso di parkiran," lanjutku mengarang cerita dengan cepat, menyambungkan kisah bapak tadi sebagai alibi. "Tukang bakso itu cerita kalau hidup dia hancur karena nggak punya keluarga yang peduli. Makanya pas Non Shella saya bisikin tadi, Non Shella jadi sadar kalau kita harus baik sama semua orang, termasuk sopir. Gitu kan, Non Shella?"Shella terdiam sebentar, mencerna kode daruratku, menelan ludah, lalu mengangguk ka







