Masuk
"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui.
Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore.
Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya.
Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah.
Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap.
Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat.
Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… Iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan.
Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika.
Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
"Jujur ya, Shell," aku berhenti gerak. "Ini agak seret. Kurang licin.""Seret?""Iya. Kulit ketemu kulit jadi perih lama-lama. Terus rasanya kurang ngejepit. Visualnya emang juara, tapi rasanya malah sakit, kurang pelicin.""Dasar banyak mau," gerutunya pelan. "Oke, aku kasih yang pasti enak. Awas kalau kamu komplain lagi."Shella mundur dikit, lalu natap batangku yang masih berdiri tegak. Perlahan, dia nundukin kepalanya. Rambut hitamnya jatuh nutupi sisi wajahnya. Dia buka mulut lebar-lebar, terus julurin lidahnya keluar.Tanpa aba-aba, Shella majuin wajahnya dan langsung lahap kepala Si Gatot dalam satu suapan besar."Oukh!" Aku kaget sampai punggungku melengkung ke belakang, tanganku reflek cengkeram sprei kasur.Rasanya berubah total.Dari yang tadinya kesat dan kering, sekarang jadi basah, anget, dan licin banget.Mulut Shella terasa sempit dan nyedot. Dia masukin kepala Si Gatot sampai ke tengah mulutnya, pipinya sampai kempot karena hisap kuat. Lidahnya di dalam sana langsung
Satu kancing terbuka, memperlihatkan kulit putih mulusnya.Dua kancing terbuka, memperlihatkan belahan dadanya yang menggoda.Tiga kancing terbuka, dan piyama atasan itu meluncur turun dari bahunya, menyisakan pemandangan yang membuat darahku mendidih seketika."Baring di kasur, Raf. Sekarang," perintah Shella dengan nada dominan yang baru kali ini aku dengar, dia mendorong dadaku dengan kedua tangannya yang halus.Aku menurut, membiarkan tubuhku didorong mundur hingga bagian belakang lututku menabrak tepi tempat tidur, lalu aku menjatuhkan diriku ke atas kasur busa yang berdecit pelan.Shella tidak membuang waktu, dia segera naik ke atas kasur, merangkak di antara kedua kakiku seperti kucing liar yang sedang mengincar mangsanya."Biar aku yang kendaliin semuanya malem ini, kamu cukup nikmatin aja pelayanan dari adik tiri kamu ini," bisik Shella nakal, lalu tangannya bergerak lincah menarik celana kolorku ke bawah tanpa ragu sedikit pun.Tanpa banyak bicara lagi, Shella menundukkan ke
Setelah tangisnya benar-benar reda, aku melepaskan genggaman tanganku, lalu mengubah posisi dudukku menjadi lebih santai namun serius."Sekarang, karena kamu udah ada di sini dan udah tenang, aku mau minta tolong satu hal yang sangat penting sama kamu," ucapku dengan nada suara yang berubah menjadi mode strategis. "Anggap aja ini tugas pertama kamu sebagai sekutu aku.""Tugas apa, Raf? Aku bakal lakuin apa aja asal bisa nebus rasa bersalah aku," tanya Shella antusias."Aku butuh kamu jadi mata-mata aku di dalem rumah induk," jawabku to the point. "Akses aku di rumah ini terbatas, aku nggak bisa sembarangan masuk ke ruang kerja Nyonya Alika atau ruang baca almarhum Pak Hermawan tanpa dicurigai. Tapi kamu bisa. Kamu punya akses bebas ke seluruh sudut rumah ini.""Mata-mata? Kamu mau aku cari apa?" Shella menegakkan punggungnya, siap menerima misi."Aku butuh kamu cari dokumen-dokumen penting yang mungkin disembunyiin Nyonya Alika. Cari tau di mana dia nyimpen sertifikat aset asli, cari
Pukul sembilan malam, Nyonya Alika sudah masuk ke kamarnya dengan alasan sakit kepala dan butuh istirahat total, meninggalkan ketiga putrinya di ruang tengah untuk menikmati waktu santai tanpa pengawasan ketat sang ibu negara.Aku baru saja selesai membereskan dapur kotor di belakang ketika ponselku bergetar menerima pesan singkat dari grup chat orang rumah yang isinya perintah dari Nona Claudia.[Mas Rafli, bisa bawa naik popcorn caramel, keripik kentang, sama soda dingin yang banyak? Kita lagi nonton film, Mama udah tidur. Kalau Mas Rafli mau ikut, sini aja ga apa, Kak Shella yang minta Mas Rafli ikut, kok, jadi aman aja, kita juga seneng Mas Rafli bisa join ke sini.]Aku menghela napas panjang, melepas celemek dapurku, dan segera menyiapkan nampan besar berisi pesanan para majikan muda itu. Botol-botol soda dingin yang berembun, tiga mangkuk besar popcorn yang aromanya manis, dan beberapa bungkus keripik kentang impor sudah tersusun rapi di atas nampan.Begitu aku melangkah masuk k
Shella memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang untuk menahan ledakan emosinya agar tidak memperkeruh suasana yang sudah panas. Dia sadar betul bahwa satu kata salah saja bisa membuat ibunya menggali lebih dalam, dan itu sangat berbahaya bagi misi kami."Demi Tuhan, Ma, nggak ada hubungan apa-apa. Mama jangan mulai nuduh yang enggak-enggak deh," jawab Shella dengan nada lelah yang sangat meyakinkan. "Sora cuma overthinking aja karena dia lagi capek kuliah, terus dia kaget karena aku tiba-tiba nanyain tugas dia. Dia nggak biasa diperhatiin, makanya dia curiga.""Tuh kan! Kak Shella selalu gitu! Selalu bilang aku overthinking!" potong Sora tidak terima, matanya kembali berkaca-kaca. "Aku tuh punya feeling, Ma! Aku ngerasa ada tembok gede yang misahin aku dari mereka berdua, padahal kita satu mobil!""Cukup, Sora! Hentikan omong kosong soal feeling dan tembok itu!" potong Nyonya Alika tegas, dia mengangkat tangannya untuk menghentikan perdebatan. "Mama pusing dengarnya. Masalah
Mata Shella bertemu dengan mataku di spion tengah. Aku melihat dia kehilangan kendali. Dia hendak mengatakan "saudara kita". Itu terlalu berbahaya. Sora belum siap, dan Nyonya Alika bisa menghancurkan kami jika Sora sampai bocor."Halah, sebenarnya aku itu korban curhat tukang bakso tadi, Non!" potongku cepat dengan suara lantang dan tegas, memutus kalimat fatal Shella sebelum terlambat.Sora dan Shella sama-sama menoleh kaget ke arahku."Hah? Maksudnya gimana, Mas?" tanya Sora bingung, alisnya bertaut."Iya, Non Sora. Tadi pas Nona masuk kampus, saya ngobrol sama tukang bakso di parkiran," lanjutku mengarang cerita dengan cepat, menyambungkan kisah bapak tadi sebagai alibi. "Tukang bakso itu cerita kalau hidup dia hancur karena nggak punya keluarga yang peduli. Makanya pas Non Shella saya bisikin tadi, Non Shella jadi sadar kalau kita harus baik sama semua orang, termasuk sopir. Gitu kan, Non Shella?"Shella terdiam sebentar, mencerna kode daruratku, menelan ludah, lalu mengangguk ka







