MasukMenjelang malam, suara pintu utama akhirnya terdengar. Kylar pulang dengan langkah santai setelah seharian berada di kantor, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan yang sudah digulung sampai siku. Di salah satu tangannya terdapat kantong belanja yang sengaja dia bawa naik ke lantai atas, jelas untuk memenuhi pesanan sang istri.Begitu membuka pintu kamar, Kylar langsung melihat Ryn yang sedang bersandar di kepala tempat tidur. Wajahnya masih terlihat pucat, tetapi kondisinya sudah sedikit lebih tenang. Reyansh tertidur di sampingnya dengan posisi memeluk bantal, sementara Lucius duduk di ujung tempat tidur sambil membaca buku.“Kamu gimana?” tanya Kylar sambil mendekat. “Masih demam?”“Masih sedikit.”Kylar duduk di sisi tempat tidur dan menyentuh dahi Ryn dengan punggung tangannya. “Udah minum obat?”“Udah. Tadi minum paracetamol.”“Bagus.” Kylar kemudian mengangkat kantong belanja yang sejak tadi dibawanya. “Ini pesanan kamu.”Mata Ryn langsung berbinar. Dia bahkan sedikit mene
“Oh, jadi pas mereka bisik-bisik itu, mereka lagi bilang kalau mereka ambil barang jualan di kamar kamu pas kamu lagi mandi, Ann?” tanya Ryn kepada Anne yang duduk di sebelahnya di dalam mobil untuk kembali ke rumah.Setelah dari sekolah tadi, Ryn kembali ke restoran, begitu pula Kylar yang kembali ke kantor setelah mengantar anak-anak pulang.“Iya, Mbak. Dan maaf, saya nggak tahu kalau di sekolahan mereka nggak boleh jualan,” cicit Anne.“Lho, kamu nggak perlu minta maaf.” Ryn tersenyum kecil. “Kamu juga nggak tahu. Lagian kalau tahu dari awal, kamu pasti nggak akan bantu mereka.”Anne mengangguk pelan. Dia masih teringat bagaimana Lucius datang kepadanya dengan wajah serius, meminta bantuan mencari bahan, sementara Reyansh terus membuntuti kakaknya sambil menjelaskan panjang lebar tentang barang yang ingin mereka buat.“Katanya mereka mau beli kado apa? Cerita nggak sama kamu?” tanya Ryn lagi.“Mereka bilang mau beli bunga mawar merah yang banyak,” jawab Anne antusias. “Mbak kan suk
Ryn yang duduk di kursi depan langsung terdiam. Jemarinya yang semula sibuk merapikan ujung bajunya berhenti begitu saja.Ada rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi dadanya, begitu cepat sampai membuat tenggorokannya terasa tercekat.Ryn tidak menyangka sama sekali. Di tengah rasa kesal karena mereka berjualan di sekolah, ternyata di balik semua itu kedua anak kecilnya sedang berusaha melakukan sesuatu untuknya. Mereka bahkan sampai memikirkan cara mendapatkan uang sendiri hanya demi memberinya hadiah.“Kalian …” Suara Ryn terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Dia menoleh ke belakang dan tersenyum, tetapi matanya mulai berkaca-kaca. “Jualan buat beli kado Ibu?”Lucius mengangguk pelan, sedangkan Reynash ikut mengangguk dengan wajah serius.Ryn tertawa kecil di sela napasnya yang mulai bergetar. Dia buru-buru mengusap sudut matanya sebelum kedua anak itu menyadari bahwa air matanya sudah mulai jatuh. “Kenapa harus sampai cari uang sendiri? Kalian nggak perlu beliin Ibu apa-apa.”“Harus,”
“Kenapa lagi sih anak-anak?” tanya Ryn begitu masuk ke mobil Kylar.Kylar sudah duduk di balik kemudi, sementara Ryn menutup pintu di sampingnya dan segera memasang sabuk pengaman.“Miss minta kita datang ke sekolah,” jawab Kylar sambil menyalakan mesin. “Katanya ada sesuatu yang perlu dibicarakan soal Lucius dan Rey.”“Masalah?”“Belum tahu. Miss cuma bilang mereka perlu dijelaskan langsung.”Ryn menghela napas. Sebenarnya, dia tidak terlalu heran jika sekolah menghubungi mereka. Sejak anak-anak mulai masuk sekolah, dia dan Kylar sudah beberapa kali menerima kabar tentang Reynash yang terlalu aktif, terlalu penasaran, atau melakukan sesuatu yang menurutnya menarik tetapi menurut gurunya cukup merepotkan.Namun, kali ini nama Lucius ikut disebut, dan itu membuat Ryn sedikit mengernyit.“Tumben nama Lucius disebut-sebut.”“Makanya kita lihat dulu.” Kylar meliriknya sekilas. “Tenang. Mudah-mudahan nggak ada apa-apa.”Setelah memastikan Ryn sudah memasang sabuk pengaman, Kylar menancapkan
“Ann, kamu ke restoran pakai taksi online aja, ya? Aku mau antar anak-anak ke sekolah dulu,” beri tahu Ryn begitu melihat Anne sudah bersiap di ruang keluarga.Anne mengangguk. “Iya, Mbak.”Reynash yang sejak tadi menggenggam tangan Kylar tiba-tiba melepaskan tangannya dan berlari kecil menghampiri Anne. Di saat yang hampir bersamaan, Lucius yang sedang duduk di sofa ikut turun dan berjalan mendekat. Keduanya langsung mengapit Anne dari dua sisi.“Tante Anne, sini,” pinta Reynash sambil menarik tangan Anne pelan.Anne menurut dan berjongkok agar posisi mereka sejajar.Begitu Anne sudah cukup dekat, kedua bocah itu bergantian membisikkan sesuatu kepadanya.Reynash tampak paling bersemangat menjelaskan, sementara Lucius sesekali menambahkan informasi dengan wajah tenang seperti sedang menyampaikan laporan penting.Anne beberapa kali mengangguk, kemudian ekspresinya perlahan berubah antara kaget dan geli ketika akhirnya memahami apa yang sebenarnya mereka rencanakan. Di belakang mereka,
“Ryn Laverna Ashwara, aku tanya, kamu umur berapa sekarang?”Kylar bertanya dengan suara yang terdengar tenang, tetapi justru ketenangan itulah yang membuat Ryn tahu bahwa suaminya sedang benar-benar kesal.Mereka sudah berada di kamar utama, sementara Lucius dan Reynash menunggu di bawah bersama pengasuh. Begitu pintu kamar tertutup, Kylar berdiri di dekat ujung tempat tidur dengan kedua tangan terlipat di dada, menatap istrinya yang sejak tadi tampak berusaha menahan senyum.Ryn mengembuskan napas. “Memangnya kalau udah tua nggak boleh main game? Aku itu cuma nemenin Rey. Daripada dia mabar sama orang lain?”“Bukan soal kamu main game atau nggak.” Kylar menggeleng. “Yang aku persoalkan itu kenapa kamu ikut-ikutan ngajarin dia kalau setiap kali menginginkan sesuatu, tinggal pakai kartu kredit Ayah.”“Aku nggak ngajarin begitu.”“Terus apa namanya?”Ryn membuka mulut, tetapi tidak langsung menjawab. Dia sendiri tahu argumennya terdengar kurang meyakinkan setelah ketahuan membeli Robux
“Aku nggak mau membatalkan perjodohan ini!”Suara seorang perempuan terdengar memecah sunyi di rooftop. Ryn Laverna yang baru saja berniat keluar dari ruang makan yang berada di sana langsung membeku. Refleks dia merapat ke dinding, sementara jantungnya berdegup kencang.“Aku nggak minta pendapatmu
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kes
Menikah minggu depan?!Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.Pun, Ry







