MasukKalau aku mau bikin cerita tentang nikah kontrak lagi, ada yang mau baca nggak? Kemungkinan dari keluarga Ashwara juga :)
“Nekat banget sih bumil satu ini,” komentar Ryn begitu membuka pintu dan mendapati Lala berdiri di depannya dengan koper kecil di satu tangan serta mata yang masih sembab.Untung saja semua pekerjaannya di Surabaya sudah selesai lebih cepat, sehingga dia bisa langsung kembali ke hotel untuk menyambut sahabatnya yang nekat menyusul dari Jakarta.“Udah, masuk dulu. Jangan berdiri di luar.” Tanpa menunggu protes, Ryn mengambil alih koper kecil yang dibawa Lala dan menarik perempuan itu masuk ke dalam kamar suite. Namun, Lala tidak seperti biasanya. Wajahnya murung, bahunya turun, bahkan langkahnya pun terasa berat. Wajar saja. Baru semalam dia mengetahui suaminya berada di hotel bersama perempuan lain dan merengkuh perempuan itu seolah keduanya memang pasangan.Begitu masuk ke dalam kamar, Lala langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ryn meletakkan koper di dekat dinding sebelum ikut duduk di samping sahabatnya dan menatap wajah Lala dengan hati-hati.“Ci,” panggil Lala sambil mengembusk
“Ann, kita balik lagi aja deh ke kamar. Boleh minta tolong nggak beliin Spikoe? Online aja,” pinta Ryn tiba-tiba sambil berbalik dan kembali masuk ke dalam lift yang pintunya kebetulan baru terbuka.Anne yang sempat mengernyit heran tetap mengikuti atasannya tanpa banyak bertanya. Tadi Ryn terlihat begitu bersemangat ingin keluar, tapi baru beberapa menit berada di lobi, perempuan itu mendadak berubah pikiran.Anne tidak tahu apa yang dilihat Ryn, tetapi dia memilih tidak ikut campur. Mungkin atasannya memang sedang lelah atau merasa tidak enak badan.“Iya, Mbak. Nanti saya pesankan online,” jawab Anne. “Tapi Mbak nggak apa-apa, ‘kan? Kalau memang mual atau pusing, kita ke rumah sakit aja.”“Nggak kok, Ann. Aku baik-baik aja,” ucap Ryn sambil tersenyum kecil untuk menenangkan gadis itu, meskipun pikirannya masih tertinggal di lobi. Dia bahkan tidak yakin apakah pria tadi sempat melihatnya atau tidak. “Cuma tiba-tiba males keluar aja.”Lift berhenti tidak lama kemudian. Anne mengikuti
[Mas udah pulang kerja belum? Aku mau video call.] Kylar baru saja selesai mandi ketika melihat pesan dari istrinya. Rambutnya masih basah dan tubuh bagian atasnya belum tertutup apa pun, sementara handuk hanya melilit sebatas pinggang. Sekilas pandangannya jatuh pada waktu pengiriman pesan tersebut, lalu dia langsung mengernyit ketika menyadari Ryn sudah mengirimkannya sepuluh menit lalu. “Pasti marah nih,” tebak Kylar sambil terkekeh kecil. Tanpa repot-repot mengenakan pakaian lebih dulu, Kylar langsung duduk di tepi ranjang dan menekan tombol panggilan. Begitu layar tersambung, Kylar langsung tersenyum. “Sayang, ma–” Ucapannya terhenti. Senyumnya ikut menghilang ketika melihat mata Ryn sembap dan hidungnya sedikit memerah. “Kenapa? Ada apa?” Kylar langsung duduk tegak. “Ada masalah di cabang? Kamu sakit? Kamu kenapa? Anne di mana? Kenapa nangis gitu?” Pertanyaan-pertanyaan itu keluar beruntun karena rasa khawatir langsung menyerangnya. Namun, alih-alih menjawab dengan sesuatu
“Vitamin kamu udah aku masukin ke koper. Ingat, selama di sana jangan kecapekan,” pesan Kylar kepada istrinya yang sedang memulaskan makeup di depan meja rias.Hari ini adalah jadwal Ryn pergi ke Surabaya untuk memantau salah satu cabang restoran. Untungnya, kondisi kaki Anne sudah jauh membaik dan gadis itu bisa ikut mendampingi, jadi Ryn tidak perlu mengurus semuanya seorang diri seperti beberapa hari terakhir. Setidaknya, itu membuat Kylar sedikit lebih tenang melepas istrinya pergi.“Makasih, Mas. Iya, aku nggak bakal kecapekan,” jawab Ryn sambil merapikan bagian bawah matanya. Dia melirik pantulan suaminya melalui cermin. “Kalau Mas mau berangkat ke kantor sekarang juga nggak apa-apa, kok.”Seharusnya Kylar sudah berangkat sejak beberapa waktu lalu. Namun, pagi itu dia sengaja menggeser jadwalnya. Walaupun tidak bisa mengantar Ryn sampai ke bandara karena masih ada urusan yang tidak dapat ditinggalkan, setidaknya dia ingin memastikan istrinya berangkat dengan aman terlebih dahulu
Anne berdiri beberapa langkah dari ruang baca sambil menutup wajah dengan kedua tangan.Entah sejak kapan gadis itu berada di sana, tetapi dari cara jemarinya membuka sedikit celah untuk mengintip keadaan, jelas dia sama sekali tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah memergoki Kylar menggendong Ryn keluar dengan wajah keduanya yang terlalu mudah dibaca.“Maaf. Saya nggak maksud ... em ... Aduh, gimana sih?” Anne menurunkan tangannya sebentar, tampak semakin panik karena kalimat yang keluar dari mulutnya justru membuat suasana semakin canggung.Kylar yang masih menggendong istrinya dengan santai seolah tidak ada hal memalukan yang baru saja terjadi, justru tersenyum tipis. “Maaf ya, Ann. Kami lagi buru-buru.”“Mas!” Ryn langsung memukul bahu suaminya, wajahnya seketika memerah. “Kamu ngomong apa sih?”“Apa?” Kylar menoleh santai. “Memangnya salah? Kita memang lagi buru-buru.”Anne semakin panik mendengarnya. “Saya nggak dengar apa-apa, Mas! Maksud saya, saya juga nggak lihat apa-
“Iya aku salah,” akui Kylar.Ryn bergeser lebih dekat sebelum meraih tangan suaminya dan menggenggamnya. “Lain kali jangan gitu lagi.”Kylar menatap tangan mereka yang saling bertaut. “Gimana?”“Kalau kecewa, bilang kecewa. Kalau sedih, bilang sedih.” Ryn menatapnya serius. “Aku mungkin ikut sedih, iya. Tapi setidaknya aku tahu kita lagi sedih karena hal yang sama. Bukan malah duduk sendiri-sendiri sambil mikir yang aneh-aneh.”Kylar terdiam sebentar, seolah kalimat itu benar-benar mengenai sesuatu dalam dirinya. Setelah itu, dia mengangkat tangan Ryn dan mengecup punggungnya pelan. “Oke. Tapi kamu juga sama. Kalau ada yang bikin kamu takut, jangan langsung bikin kesimpulan sendiri.”Ryn langsung tahu pembicaraan mereka mulai mengarah ke pertengkaran pagi tadi. Dia sedikit mengalihkan pandangan.“Termasuk soal nikah lagi itu,” lanjut Kylar.Wajah Ryn kembali menegang. “Aku cuma–”“Aku tahu.” Kylar memotongnya dengan lembut. “Setelah semalam Nenek sama Oma ngomong begitu, terus pagi-pa
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kes
Menikah minggu depan?!Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.Pun, Ry
“Aku nggak mau membatalkan perjodohan ini!”Suara seorang perempuan terdengar memecah sunyi di rooftop. Ryn Laverna yang baru saja berniat keluar dari ruang makan yang berada di sana langsung membeku. Refleks dia merapat ke dinding, sementara jantungnya berdegup kencang.“Aku nggak minta pendapatmu







