Beranda / Romansa / Dinikahi CEO Tampan / PERTEMUAN YANG TAK DIINGINKAN

Share

PERTEMUAN YANG TAK DIINGINKAN

Penulis: Fortuna Aldri
last update Tanggal publikasi: 2026-10-19 16:15:47

“Sepuluh juta rupiah.”

Ana menatap langit-langit rumahnya dengan tatapan kosong. Sudah hampir satu jam lamanya ia merebahkan tubuh di atas sofa yang berada di ruang tamu itu, namun pikirannya masih saja tertuju kepada kejadian yang menimpanya pagi tadi.

“Sepuluh juta rupiah setiap bulan, Ana. Kau bahkan bisa membeli banyak sekali makanan dengan uang sebanyak itu,” gumam Ana seorang diri.

Ia lalu bangkit dari posisinya dan mulai menghitung sesuatu menggunakan jari-jemarinya.

“Jika aku menghabiskan tiga puluh ribu setiap hari untuk makan, berarti dalam satu bulan hanya sembilan ratus ribu. Lalu, listrik, air, dan kebutuhan lainnya mungkin sekitar satu juta. Astaga, aku masih bisa menabung banyak sekali!”

Ana membulatkan kedua matanya setelah menyelesaikan perhitungan tersebut.

Namun, senyuman yang sempat terbit di wajahnya itu perlahan menghilang ketika ia teringat bahwa dirinya telah menolak pekerjaan tersebut.

“Sial! Kenapa aku harus mengatakan hal seperti itu kepada pria menyebalkan tersebut?”

Ana kembali merebahkan tubuhnya.

Rasanya ia ingin sekali kembali ke kantor Hamilton Otomotive Company dan mengatakan bahwa semua perkataannya tadi hanyalah sebuah lelucon.

Namun, tentu saja hal tersebut sangat memalukan.

Apalagi ia sudah mengatakan secara langsung bahwa dirinya tak ingin bekerja di bawah kepemimpinan pria itu.

“Baiklah, Anastasia. Kau harus memiliki harga diri. Jangan sampai hanya karena uang sepuluh juta rupiah kau kembali menjilat ludahmu sendiri,” gumam Ana sambil menganggukkan kepalanya.

Beberapa detik kemudian, perempuan itu kembali terdiam.

“Tapi, sepuluh juta rupiah…”

Ana menghela napas panjang.

Ia benar-benar tak bisa melupakan nominal tersebut.

Apalagi setelah beberapa bulan terakhir dirinya hanya mengandalkan tabungan yang semakin hari semakin menipis.

Sebenarnya, Ana masih bisa meminta bantuan kepada kedua orang tuanya. Namun, perempuan itu sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa setelah menyelesaikan pendidikan, ia akan berusaha untuk hidup mandiri.

Ia tak ingin terus-menerus bergantung kepada keluarganya.

Terlebih lagi, ia sudah berusia dua puluh tiga tahun.

“Astaga, kenapa mencari pekerjaan begitu sulit? Padahal aku sudah belajar mati-matian selama kuliah,” keluh Ana kembali.

Perempuan itu lalu meraih laptop yang berada di atas meja.

Ia mulai membuka beberapa situs pencarian pekerjaan dan memeriksa lowongan yang tersedia.

Namun, baru beberapa menit melakukan pencarian, Ana kembali mengernyit.

“Pengalaman kerja minimal lima tahun? Yang benar saja! Jika semua perusahaan meminta pengalaman sebanyak itu, bagaimana nasib para lulusan baru sepertiku?”

Ana menggelengkan kepalanya.

Ia lalu beralih kepada lowongan pekerjaan yang lainnya.

“Minimal tiga tahun pengalaman kerja. Menguasai lima bahasa asing. Bersedia bekerja di bawah tekanan.”

Ana terdiam sejenak.

“Apakah mereka sedang mencari pegawai atau seorang manusia super?”

Perempuan itu mendengus kesal.

Ia sebenarnya memiliki kemampuan akademik yang cukup baik. Bahkan, dirinya berhasil menyelesaikan pendidikan di Harvard University dengan hasil yang sangat memuaskan.

Namun, semua itu rupanya tak menjamin bahwa ia akan langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus.

Ana kembali menatap layar laptopnya.

“Baiklah, masih banyak perusahaan yang lainnya. Aku yakin pasti ada satu perusahaan yang mau menerimaku.”

Namun, sebelum ia kembali melanjutkan pencarian, tiba-tiba saja terdengar suara dari arah perutnya.

Kruyuk!

Ana menundukkan kepalanya.

“Astaga, kau lapar lagi?”

Ia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi.

Rupanya sejak tadi ia belum menyantap makanan apa pun setelah meninggalkan kantor Hamilton Otomotive Company.

“Baiklah, mungkin aku akan pergi ke kafetaria itu saja. Siapa tahu Gab sedang bekerja dan memberikan diskon seperti kemarin,” gumam Ana sambil tersenyum.

Ia lalu menutup laptopnya dan beranjak menuju kamar.

Tak perlu waktu lama, Ana sudah kembali mengenakan pakaian santainya. Sebuah kaus putih dan celana panjang berwarna hitam menjadi pilihannya kali ini.

Rambut cokelatnya ia ikat secara asal, sementara kacamata minus yang selalu digunakannya kembali bertengger di hidung mancungnya.

“Tak perlu berdandan. Lagi pula aku hanya ingin membeli makanan,” gumam Ana sambil memeriksa penampilannya melalui cermin.

Setelah memastikan semuanya sudah siap, ia segera mengambil dompet dan ponselnya.

“Semoga saja ada diskon besar-besaran lagi hari ini.”

“Jadi, kau benar-benar tak ingin menghubunginya kembali?”

David menatap ke arah kakak sulungnya itu dengan pandangan heran.

Sejak tadi Nath masih berada di kafetaria tempat dirinya bekerja. Padahal, pria tersebut sebelumnya sudah mengatakan hendak kembali pulang setelah menyelesaikan sarapannya.

Namun, entah mengapa Nath justru kembali duduk dan memesan secangkir kopi.

“Aku tak memiliki alasan untuk menghubunginya,” jawab Nath sambil memeriksa beberapa pesan yang masuk ke dalam ponselnya.

David terkekeh.

“Kalau begitu, kenapa kau masih membicarakannya?”

Nath mendongakkan kepalanya.

“Siapa yang membicarakannya?”

“Kau sendiri. Sejak tadi kau terus mengatakan bahwa kandidat yang kau terima justru menolak pekerjaan itu.”

“Itu karena aku merasa heran.”

“Heran karena apa?”

Nath menghela napas panjang.

“Ia memiliki kualifikasi yang sangat baik. Bahkan, aku sudah memeriksa semua berkasnya secara langsung. Namun, perempuan itu justru menolak pekerjaan yang sudah diterimanya.”

David mengangguk perlahan.

“Mungkin ia mendapatkan tawaran yang lebih baik.”

“Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

Nath terdiam sejenak.

Ia sendiri tak mengetahui alasan mengapa begitu yakin dengan jawabannya barusan.

David yang melihat hal tersebut justru tersenyum geli.

“Astaga, Nath. Jangan mengatakan bahwa kau mulai tertarik kepada kandidat itu.”

“Jangan berbicara sembarangan.”

“Aku hanya bercanda.”

David kembali merapikan beberapa barang yang berada di meja kasir.

Sementara itu, Nath masih sibuk memikirkan kejadian pagi tadi.

Ia teringat dengan wajah Ana yang terlihat begitu kesal ketika mengatakan ingin mengundurkan diri.

Padahal, sebelumnya perempuan itu terlihat sangat bersemangat untuk mengikuti sesi wawancara.

Nath bahkan masih mengingat bagaimana Ana dengan percaya dirinya mengatakan bahwa ia akan memukul kepala atasannya jika pria tersebut bertindak menyebalkan.

Memikirkan hal itu membuat Nath tersenyum kecil.

“David.”

“Hm?”

“Menurutmu, apakah aku terlihat seperti seorang pria yang menyebalkan?”

David memberhentikan kegiatannya.

Ia lalu menatap ke arah Nath dengan pandangan tak percaya.

Beberapa detik kemudian, pria itu justru tertawa cukup keras.

“Astaga! Kau benar-benar menanyakan hal itu kepadaku?”

“Jawab saja.”

“Tentu saja!”

Nath menatap tajam ke arah adiknya.

David kembali terkekeh.

“Kau memang menyebalkan, Nath. Bahkan sejak kecil kau selalu mengatur semua hal yang kulakukan.”

“Itu karena kau selalu membuat masalah.”

“Dan sekarang kau mulai mengatur kehidupan orang lain juga rupanya.”

Nath menghela napas panjang.

Sepertinya bertanya kepada David merupakan sebuah kesalahan besar.

“Sudahlah, aku akan kembali sekarang.”

Namun, belum sempat Nath bangkit dari posisinya, tiba-tiba saja terdengar suara seorang perempuan dari arah pintu masuk.

“Gab!”

David seketika menoleh.

Sementara itu, Nath justru membulatkan kedua matanya ketika melihat sosok perempuan yang baru saja memasuki kafetaria tersebut.

Anastasia Ville.

Perempuan yang sejak tadi menjadi bahan pembicaraannya bersama David itu kini berdiri tepat di hadapan meja kasir.

“Astaga, kebetulan sekali kau sedang bekerja!” ujar Ana dengan sangat senang.

David tersenyum ramah.

“Selamat pagi, Ana. Mau memesan sesuatu?”

“Tentu saja. Tapi, sebelum itu aku ingin bertanya sesuatu.”

“Apa?”

Ana mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah meja kasir.

“Apakah hari ini ada diskon seperti kemarin?”

David terkekeh mendengarnya.

“Sayangnya tidak ada.”

Wajah Ana seketika berubah murung.

“Ah, padahal aku sudah berharap banyak.”

“Kau bisa datang lagi besok. Mungkin saja akan ada diskon yang lainnya.”

Ana menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, kalau begitu aku memesan nasi campur saja. Air putih juga.”

“Seperti biasa?”

“Tentu saja. Kau bahkan sudah mengingat pesananku rupanya.”

David tersenyum.

Sementara itu, Nath masih memperhatikan keduanya dari kejauhan.

Ia tak menyangka bahwa perempuan yang sempat menolak tawaran pekerjaan darinya itu justru mengenal David.

Bahkan, mereka terlihat cukup akrab.

Nath lalu teringat dengan sesuatu.

Kemarin David sempat mengatakan bahwa ada seorang pelanggan perempuan yang cukup unik. Pelanggan tersebut bahkan meminta diskon dengan harga yang sangat tidak masuk akal.

Apakah perempuan yang dimaksud adalah Ana?

Nath tersenyum kecil.

“Rupanya dunia ini memang sempit,” gumamnya seorang diri.

“Jadi, bagaimana dengan wawancaramu kemarin?”

Pertanyaan David seketika membuat Ana memberhentikan kegiatannya yang tengah mengeluarkan uang dari dalam dompet.

“Astaga, jangan mengingatkanku mengenai hal itu.”

David mengernyit.

“Kenapa? Apakah kau tidak diterima?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Ana menghela napas panjang.

“Aku diterima, Gab. Bahkan mereka menawarkan gaji yang sangat besar kepadaku.”

“Wah, selamat kalau begitu.”

“Tapi aku menolaknya.”

David terdiam sejenak.

Ia lalu menatap ke arah Ana dengan pandangan tak percaya.

“Kau menolaknya?”

Ana mengangguk.

“Benar sekali. Aku menolak pekerjaan itu karena atasannya sangat menyebalkan.”

Mendengar hal tersebut, David seketika teringat dengan percakapannya bersama Nath beberapa menit yang lalu.

Jangan-jangan…

“Memangnya kau melamar pekerjaan di perusahaan mana?” tanya David kemudian.

“Hamilton Otomotive Company.”

David membulatkan kedua matanya.

Astaga!

Jadi, perempuan yang sejak tadi diceritakan oleh Nath adalah Ana?

Ia lalu melirik ke arah salah satu meja yang berada di dekat jendela.

Di sana terlihat Nath yang sedang menatap ke arah mereka.

David mencoba menahan tawanya.

“Jadi, kau menolak pekerjaan itu hanya karena atasannya?”

“Tentu saja. Kau tahu, Gab? Pria itu sangat sombong. Bahkan ia menyuruhku mencari identitasnya sendiri. Memangnya aku ini seorang detektif?”

David menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa.

“Begitu rupanya.”

“Belum lagi ia mengatakan bahwa nilai pendidikanku mungkin saja palsu. Astaga, aku bahkan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan pendidikan itu!”

David mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Memang keterlaluan sekali.”

“Benar, bukan?”

“Tentu saja.”

Ana tersenyum puas.

Akhirnya ia menemukan seseorang yang memahami kekesalannya.

“Jika kau menjadi aku, apakah kau akan menerima pekerjaan itu?”

David berpikir sejenak.

“Hm, tergantung berapa gaji yang ditawarkan.”

“Sepuluh juta setiap bulan.”

David kembali terdiam.

Ia lalu menatap ke arah Nath yang masih berada di tempat duduknya.

Pria itu nampak sedang memijat pelipisnya sendiri.

David hampir saja tertawa kembali.

“Menurutku, kau seharusnya mempertimbangkannya lagi.”

Ana mendengus.

“Astaga, kau sama saja seperti pikiranku sejak tadi.”

“Kenapa?”

“Karena aku juga sedang menyesal telah menolaknya.”

David akhirnya tak bisa menahan tawanya.

Sementara itu, Ana hanya menatap pria tersebut dengan pandangan bingung.

“Apa yang lucu?”

“Tidak, tidak ada apa-apa.”

“Dasar aneh.”

Ana lalu mengambil makanan pesanannya.

“Baiklah, aku akan makan di sini saja. Kebetulan aku belum sarapan.”

“Silakan, Ana.”

Perempuan itu mengangguk.

Ia lalu mulai mencari tempat duduk yang nyaman untuk menikmati sarapannya kali ini.

Namun, langkah kakinya seketika terhenti saat melihat sosok pria yang sedang duduk membelakanginya di dekat jendela.

Ana mengernyit.

Entah mengapa postur tubuh pria itu terlihat sangat tidak asing baginya.

Rambut cokelat yang tertata rapi, kemeja putih dengan lengan yang sedikit digulung, serta sebuah arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.

Ana mencoba untuk mengingat sesuatu.

“Tunggu sebentar…”

Perempuan itu lalu berjalan mendekati meja tersebut.

“Permisi, apakah kursi ini kosong?”

Pria itu tak langsung menjawab.

Ia justru meletakkan ponselnya ke atas meja dan setelah itu mendongakkan kepalanya secara perlahan.

“Tentu saja, Anastasia.”

Ana membulatkan kedua matanya seketika.

Astaga!

“KAU?!”

Beberapa pengunjung yang berada di dekat sana sontak menoleh ke arah mereka.

Ana segera menutup mulutnya sendiri.

Sementara itu, Nath hanya tersenyum tipis sambil menatap perempuan yang tengah berdiri di hadapannya itu.

“Selamat pagi. Rupanya kita bertemu kembali.”

Ana memejamkan kedua matanya.

Sial!

Kenapa pria ini selalu muncul di tempat yang tak pernah ia duga?

“A-apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ana dengan nada yang sedikit gugup.

Nath menaikkan sebelah alisnya.

“Menurutmu, apa yang biasanya dilakukan seseorang ketika datang ke sebuah kafetaria?”

Ana terdiam.

Tentu saja untuk makan!

Astaga, pertanyaan bodoh macam apa yang baru saja ia lontarkan?

“Aku hanya bertanya.”

“Dan aku sudah menjawabnya.”

Ana menghela napas panjang.

Baiklah, ia harus segera pergi dari sana sebelum kembali mempermalukan dirinya sendiri.

“Kalau begitu, selamat menikmati makananmu. Aku akan duduk di tempat lain.”

Namun, belum sempat Ana membalikkan tubuhnya, suara Nath kembali terdengar.

“Anastasia.”

“Apa lagi?”

“Duduklah. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”

Ana menatap pria tersebut dengan pandangan curiga.

“Tentang apa?”

“Pekerjaanmu.”

Mendengar satu kata tersebut, Ana seketika terdiam.

Nath lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Atau mungkin kau sudah mendapatkan pekerjaan lain sejak meninggalkan kantorku tadi pagi?”

Ana menggigit bibir bawahnya.

Tentu saja belum!

Bahkan ia baru saja mencari lowongan pekerjaan sebelum memutuskan untuk pergi ke kafetaria tersebut.

Namun, bagaimana mungkin ia mengatakan hal itu secara langsung kepada pria menyebalkan ini?

“Aku masih mempertimbangkan beberapa tawaran,” jawab Ana penuh percaya diri.

Nath mengangguk perlahan.

“Begitu rupanya.”

“Ya.”

“Kalau begitu, selamat. Semoga kau mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginanmu.”

Ana terdiam.

Hanya itu?

Astaga, kenapa pria ini justru tak membujuknya untuk kembali bekerja?

Padahal beberapa detik sebelumnya Ana sempat berharap bahwa pria tersebut akan menawarkan kembali pekerjaan itu kepadanya.

Nath kemudian meraih cangkir minumannya.

“Ngomong-ngomong, apakah kau sudah mengetahui identitasku?”

Ana kembali menatapnya.

Sial!

Pertanyaan itu lagi!

“Belum,” jawab Ana dengan sangat malas.

“Sayang sekali.”

“Kenapa kau tak memberitahukannya saja? Apa susahnya mengatakan sebuah nama?”

Nath tersenyum tipis.

“Karena aku ingin mengetahui seberapa besar usahamu untuk mencari informasi.”

Ana mendengus.

“Kalau begitu, seharusnya kau menjadi seorang dosen saja. Kau bisa memberikan tugas kepada mahasiswa setiap hari.”

Nath hampir saja tersedak minumannya.

Ia segera meletakkan kembali cangkir tersebut.

“Kau selalu berbicara seperti ini kepada orang yang baru dikenal?”

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Tergantung seberapa menyebalkannya orang tersebut.”

Nath terdiam sejenak.

Kemudian, tanpa bisa ditahan lagi, pria itu tertawa kecil.

Ana justru semakin mengernyit.

Apa yang lucu?

“Baiklah, Anastasia. Aku akan memberikanmu satu kesempatan lagi.”

“Kesempatan apa?”

“Kembali bekerja di perusahaanku.”

Ana membulatkan kedua matanya.

“Benarkah?”

Nath mengangguk.

“Tentu saja.”

Ana hampir saja tersenyum lebar. Namun, ia segera mengingat kembali harga dirinya yang sejak tadi berusaha dipertahankan.

Perempuan itu lalu berdeham pelan.

“Aku akan mempertimbangkannya.”

“Baiklah.”

Nath lalu bangkit dari posisinya.

Ana yang melihat hal tersebut seketika menjadi panik.

“Tunggu! Kau hendak pergi?”

“Ya. Aku harus kembali ke kantor.”

“Lalu, bagaimana dengan tawaranmu tadi?”

Nath menatap perempuan itu sejenak.

“Kau mengatakan ingin mempertimbangkannya, bukan?”

Ana terdiam.

“Jadi, pikirkanlah baik-baik. Kau bisa memberikan jawaban kepada sekretarisku sebelum pukul lima sore nanti.”

Nath kemudian meraih jas yang berada di samping kursinya.

Namun, sebelum benar-benar pergi, pria itu kembali menatap ke arah Ana.

“Oh ya, Anastasia.”

“Apa?”

“Jika kau memutuskan untuk kembali bekerja, aku memiliki satu syarat tambahan untukmu.”

Ana mengernyit.

“Syarat apa lagi?”

Nath tersenyum kecil.

“Kau harus berjanji untuk tidak memukul kepala atasanmu.”

Ana seketika membulatkan kedua matanya.

Astaga!

Jadi, pria ini masih mengingat semua ucapannya ketika berada di dalam mobil kemarin?

“KAU!”

Nath terkekeh.

“Sampai jumpa, Anastasia.”

Pria itu lalu berjalan meninggalkan meja tersebut dengan langkah yang cukup santai.

Sementara itu, Ana hanya bisa menatap punggungnya dengan perasaan kesal yang kembali memuncak.

“Dasar pria menyebalkan! Siapa juga yang ingin memukul kepalamu?!” gerutu Ana perlahan.

Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali terdiam.

“Tapi, sepuluh juta…”

Ana memejamkan kedua matanya.

Astaga, sepertinya ia benar-benar akan kehilangan harga dirinya demi uang sepuluh juta setiap bulan.

David yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya dari meja kasir hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

Ia benar-benar tak menyangka bahwa kakaknya bisa berbicara sepanjang itu dengan seorang perempuan yang baru dikenalnya.

Bahkan, Nath terlihat beberapa kali tersenyum dan tertawa.

Sesuatu yang cukup jarang terjadi sejak hubungan terakhirnya berakhir.

“Sepertinya akan ada banyak kejadian menarik setelah ini,” gumam David seorang diri.

Namun, senyumannya perlahan menghilang ketika ponsel yang berada di dalam saku celananya tiba-tiba bergetar.

Drrt! Drrt!

David segera meraih benda tersebut.

Sebuah pesan singkat baru saja masuk dari salah satu anggota tim penyelidikannya.

Target kembali terlihat di sekitar kafetaria. Kami menduga transaksi akan dilakukan dalam waktu dekat.

David mengangkat kepalanya.

Pandangan pria itu langsung mengarah ke luar jendela.

Di seberang jalan, seorang pria mengenakan jaket hitam terlihat sedang berdiri sambil memperhatikan pintu masuk kafetaria tersebut.

David mengernyit.

Ia mengenali pria itu.

Orang yang sama dengan sosok yang sempat dilihat Nath beberapa menit sebelumnya.

“Rupanya kau akhirnya muncul juga,” gumam David perlahan.

Pria itu segera membalas pesan yang baru saja diterimanya.

Jangan lakukan penangkapan terlebih dahulu. Aku ingin memastikan siapa yang akan ditemuinya.

Setelah mengirimkan pesan tersebut, David kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.

Ia lalu mencoba untuk bersikap seperti biasanya.

Namun, pandangannya sesekali masih mengarah ke luar jendela.

Pria berjaket hitam itu terlihat sedang berbicara melalui ponselnya. Sesekali ia menoleh ke arah kanan dan kiri, seolah sedang memastikan bahwa tak ada seseorang yang memperhatikannya.

David menghela napas perlahan.

Ia sudah menghabiskan cukup banyak waktu untuk menyelidiki jaringan peredaran obat-obatan terlarang yang diduga beroperasi di sekitar kawasan tersebut.

Bahkan, dirinya harus menyamar sebagai pengemudi ojek online dan pegawai kafetaria hanya untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.

Namun, sampai saat ini ia masih belum berhasil menemukan orang yang menjadi penghubung utama jaringan tersebut.

“Gab!”

Suara Ana seketika membuyarkan lamunannya.

David segera menoleh.

“Ya, Ana?”

“Apakah kau memiliki saus sambal tambahan?”

David mengangguk.

“Tentu saja. Sebentar, akan kuambilkan.”

Ana tersenyum senang.

“Terima kasih!”

David lalu mengambil beberapa sachet saus sambal dan berjalan menuju meja Ana.

Namun, ketika dirinya hendak kembali ke meja kasir, Ana tiba-tiba saja memanggilnya kembali.

“Gab, tunggu sebentar.”

“Ada apa?”

Ana menatap ke arah pintu masuk kafetaria.

“Apakah kau mengenal pria yang berdiri di luar sana?”

David seketika terdiam.

Ia lalu mengikuti arah pandangan Ana.

Pria berjaket hitam itu masih berada di tempat yang sama.

“Kenapa kau bertanya?” tanya David dengan nada yang berusaha dibuat senormal mungkin.

Ana mengedikkan kedua bahunya.

“Entahlah. Sejak tadi ia terus melihat ke arah sini. Aku sempat mengira bahwa ia ingin membeli makanan.”

David mengangguk perlahan.

“Mungkin ia sedang menunggu seseorang.”

“Ah, benar juga.”

Ana lalu kembali menyantap makanannya.

Sementara itu, David masih berdiri di samping meja tersebut.

“Ngomong-ngomong, Ana.”

“Hm?”

“Apakah kau sering datang ke sini?”

“Tentu saja. Makanan di sini cukup murah dan lezat. Lagi pula jaraknya tak terlalu jauh dari rumahku.”

David mengangguk.

“Kalau begitu, berhati-hatilah ketika berjalan sendirian. Terutama jika hari sudah mulai gelap.”

Ana mengernyit.

“Kenapa? Apakah daerah ini berbahaya?”

“Tidak juga. Aku hanya mengingatkanmu.”

Ana tersenyum.

“Baiklah, Pak Polisi.”

David seketika membulatkan kedua matanya.

“Apa?”

Ana terkekeh.

“Astaga, kenapa kau terlihat begitu terkejut? Aku hanya bercanda. Kau terdengar seperti seorang polisi yang sedang memberikan nasihat kepada masyarakat.”

David menghela napas lega.

“Dasar kau ini.”

Ana kembali tertawa.

Ia sama sekali tak menyadari bahwa perkataannya barusan hampir saja membuat David kehilangan ketenangannya.

Sementara itu, Nath sudah berada di dalam mobilnya.

Ia baru saja menyalakan mesin kendaraan ketika ponselnya kembali berdering.

Kring! Kring!

Nama Jesica terlihat pada layar ponselnya.

“Ya, Jes?”

“Selamat pagi, Tuan. Maaf mengganggu waktu Anda. Ada beberapa berkas yang perlu mendapatkan tanda tangan hari ini.”

Nath menghela napas.

“Bukankah kau mengatakan bahwa tak ada jadwal penting sampai besok?”

“Benar, Tuan. Namun, berkas tersebut baru saja dikirimkan oleh divisi keuangan. Mereka membutuhkan persetujuan Anda sebelum siang nanti.”

“Baiklah, aku akan segera kembali.”

“Terima kasih, Tuan.”

Namun, sebelum Jesica menutup panggilan tersebut, Nath kembali memanggilnya.

“Jes.”

“Ya, Tuan?”

“Apakah Anastasia sudah menghubungimu?”

Jesica terdiam sejenak.

“Belum, Tuan. Apakah ada sesuatu yang terjadi?”

“Tidak. Aku hanya ingin memastikan.”

“Baik, Tuan.”

Nath lalu kembali terdiam.

Ia sebenarnya ingin mengatakan bahwa dirinya telah menawarkan kembali pekerjaan tersebut kepada Ana.

Namun, entah mengapa ia justru merasa tak perlu menjelaskannya kepada Jesica.

“Jika ia menghubungimu sebelum pukul lima sore, terima kembali permohonannya.”

Jesica terdengar cukup terkejut.

“Maaf, Tuan. Maksud Anda, Nona Anastasia?”

“Benar.”

“Baiklah, Tuan. Akan saya lakukan.”

Nath mengangguk walaupun Jesica tak bisa melihatnya.

“Kalau begitu, aku akan segera kembali.”

Panggilan pun terputus.

Nath meletakkan ponselnya dan mulai menjalankan mobil tersebut.

Namun, beberapa meter setelah meninggalkan kafetaria, pria itu tiba-tiba saja tersenyum kecil.

Ia teringat dengan ekspresi Ana ketika mendengar tawaran pekerjaan yang kembali diberikannya.

Perempuan itu terlihat begitu senang, tetapi berusaha keras untuk menyembunyikannya.

“Dasar keras kepala,” gumam Nath.

Ia lalu menggelengkan kepalanya.

Entah mengapa dirinya justru merasa cukup terhibur setelah bertemu dengan perempuan tersebut.

Padahal, sejak semalam Nath merasa sangat lelah akibat pekerjaan yang belum selesai.

Bahkan, ia sama sekali tak memiliki waktu untuk beristirahat.

Namun, hanya dengan mendengar gerutuan Ana, rasa lelahnya seolah sedikit berkurang.

Nath kembali tersenyum.

“Anastasia Ville.”

Pria itu menyebut nama tersebut secara perlahan.

“Sepertinya bekerja denganmu akan cukup menarik.”

“Jadi, kau ingin menerimanya atau tidak?”

Ana kembali menatap layar ponselnya.

Saat ini ia sudah berada di rumah setelah menyelesaikan sarapannya di kafetaria.

Namun, pikirannya masih saja tertuju kepada tawaran Nath.

Ia bahkan sudah membuka kontak Jesica sejak beberapa menit yang lalu.

Hanya saja, sampai saat ini ia masih belum berani menghubunginya.

“Astaga, Ana. Kau hanya perlu mengatakan bahwa kau menerima pekerjaan itu. Apa sulitnya?”

Perempuan itu lalu mengetik sebuah pesan singkat.

Selamat siang, Jes. Aku ingin memberitahukan bahwa aku bersedia menerima kembali tawaran pekerjaan tersebut.

Ana membaca ulang pesan itu.

Beberapa detik kemudian, ia justru menghapusnya.

“Terlalu mudah. Nanti mereka mengira bahwa aku benar-benar membutuhkan pekerjaan itu.”

Ia kembali mengetik pesan yang berbeda.

Selamat siang, Jes. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, aku memutuskan untuk menerima kembali tawaran pekerjaan dari Hamilton Otomotive Company.

Ana mengangguk puas.

“Nah, ini lebih baik.”

Namun, sebelum menekan tombol kirim, perempuan itu kembali terdiam.

“Apakah aku harus meminta maaf juga karena sudah menolak pekerjaan itu sebelumnya?”

Ana berpikir sejenak.

Ia lalu menambahkan satu kalimat.

Aku juga meminta maaf atas keputusan yang sempat kusampaikan pagi tadi.

“Baiklah, sudah cukup.”

Ana segera mengirimkan pesan tersebut sebelum dirinya kembali berubah pikiran.

Ting!

Pesan berhasil terkirim.

Ana menghela napas lega.

“Akhirnya!”

Ia lalu meletakkan ponselnya di atas meja dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air putih.

Namun, baru beberapa langkah, ponselnya kembali berdering.

Drrt! Drrt!

Ana segera berbalik.

“Astaga, cepat sekali!”

Ia meraih ponselnya dan membaca pesan yang baru saja diterimanya.

Selamat siang, Ana. Terima kasih atas konfirmasinya. Dengan senang hati kami menerima keputusanmu. Kau bisa mulai bekerja besok pagi pukul delapan. Selamat bergabung kembali dengan Hamilton Otomotive Company.

Ana tersenyum lebar.

“YES!”

Perempuan itu bahkan melompat kecil di ruang tamunya.

“Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan!”

Namun, kegembiraannya tak berlangsung lama.

Ia kembali teringat dengan satu hal.

Atasannya.

Pria menyebalkan yang bahkan sampai saat ini masih belum ia ketahui namanya.

Ana menghela napas panjang.

“Baiklah, demi sepuluh juta rupiah setiap bulan, aku akan mencoba untuk bersabar.”

Ia lalu menatap pantulan dirinya melalui cermin yang berada di dekat ruang tamu.

“Anastasia Putri Ville, mulai besok kau harus menjadi perempuan yang sabar, sopan, dan profesional.”

Ana menganggukkan kepalanya sendiri.

“Tak boleh menggerutu di depan atasan. Tak boleh membantah. Dan yang paling penting…”

Perempuan itu terdiam sejenak.

“Tak boleh memukul kepalanya.”

Ana mendengus.

“Astaga, kenapa aku harus mengingat perkataan pria itu lagi?”

Di tempat lain, Jesica baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaannya ketika sebuah pesan masuk dari Ana.

Ia tersenyum setelah membaca isi pesan tersebut.

“Syukurlah, akhirnya ia menerima kembali pekerjaan itu.”

Jesica lalu bangkit dari posisinya dan berjalan menuju ruang kerja Nath.

Tok! Tok!

“Masuk.”

Jesica membuka pintu tersebut.

“Permisi, Tuan. Saya ingin menyampaikan informasi mengenai Nona Anastasia.”

Nath yang sedang memeriksa beberapa berkas seketika mengangkat kepalanya.

“Bagaimana?”

“Ia sudah menghubungi saya dan menyatakan bersedia menerima kembali pekerjaan tersebut.”

Nath mengangguk perlahan.

“Bagus.”

Jesica tersenyum.

“Kalau begitu, saya akan menyiapkan seluruh keperluannya untuk mulai bekerja besok.”

“Baiklah.”

Namun, ketika Jesica hendak meninggalkan ruangan tersebut, Nath kembali memanggilnya.

“Jes.”

“Ya, Tuan?”

“Siapkan meja kerjanya di ruangan ini.”

Jesica terdiam sejenak.

“Maaf, Tuan. Maksud Anda, di ruang kerja pribadi Anda?”

“Benar.”

“Tapi, biasanya asisten keuangan bekerja di ruangan divisi keuangan, Tuan.”

Nath kembali menatap berkas yang berada di hadapannya.

“Aku membutuhkannya untuk membantu pekerjaan secara langsung. Jadi, akan lebih mudah jika ia berada di ruangan yang sama denganku.”

Jesica mengangguk perlahan.

“Baiklah, Tuan. Akan saya siapkan.”

Nath kembali melanjutkan pekerjaannya.

Sementara itu, Jesica berjalan meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan yang cukup heran.

Sepanjang dirinya bekerja sebagai sekretaris pribadi Nath, pria itu hampir tak pernah mengizinkan pegawai lain bekerja di ruang pribadinya.

Bahkan, beberapa asisten sebelumnya selalu ditempatkan di ruangan terpisah.

Namun, kali ini justru berbeda.

“Sepertinya Nona Anastasia memang cukup menarik perhatian Tuan Hamilton,” gumam Jesica perlahan.

Ia lalu tersenyum kecil.

“Semoga saja mereka bisa bekerja sama dengan baik.”

Malam harinya, Ana terlihat sibuk menyiapkan seluruh perlengkapan yang akan digunakannya untuk bekerja besok.

Ia bahkan sudah memasang lima alarm sekaligus agar kejadian terlambat seperti kemarin tak kembali terulang.

“Baiklah, alarm pertama pukul lima. Kedua pukul lima lewat sepuluh. Ketiga pukul lima lewat dua puluh.”

Ana lalu menganggukkan kepalanya.

“Sepertinya cukup.”

Ia kembali memeriksa pakaian yang telah disiapkannya.

Sebuah kemeja berwarna putih dan celana panjang hitam menjadi pilihannya kali ini.

Walaupun Jesica mengatakan bahwa tak ada aturan khusus mengenai pakaian, Ana tetap ingin terlihat profesional pada hari pertamanya bekerja.

“Setidaknya aku harus memberikan kesan yang baik kepada pegawai lainnya.”

Ia lalu meraih sebuah buku catatan kecil.

Di halaman pertama, Ana menuliskan beberapa hal yang harus dilakukannya besok.

Datang tepat waktu.

Bersikap sopan.

Tidak membantah atasan.

Tidak menggerutu.

Ana terdiam sejenak.

Kemudian, ia kembali menambahkan satu kalimat di bagian paling bawah.

Jangan memukul kepala CEO.

Perempuan itu menatap tulisan tersebut selama beberapa detik.

Lalu, ia tertawa seorang diri.

“Astaga, aku benar-benar sudah gila.”

Ana menutup buku catatannya dan meletakkannya di atas meja.

Namun, ketika hendak mematikan lampu kamar, tiba-tiba saja ia teringat dengan sesuatu.

“Ah, benar juga!”

Ana segera meraih ponselnya.

Ia kembali membuka mesin pencarian dan mengetik nama perusahaan tempatnya akan bekerja.

Hamilton Otomotive Company.

Beberapa informasi kembali muncul di layar ponselnya.

Namun, seperti sebelumnya, ia masih tak menemukan identitas pria yang akan menjadi atasannya itu.

Ana mengernyit.

“Kenapa sulit sekali menemukan namanya?”

Ia lalu mencoba mencari informasi mengenai keluarga Hamilton.

Beberapa nama mulai muncul.

Martin Hamilton.

David Hamilton.

Dan beberapa anggota keluarga lainnya.

Namun, tak ada satu pun foto yang memperlihatkan sosok pria yang ditemuinya pagi tadi.

“Apakah ia benar-benar anggota keluarga Hamilton?”

Ana menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak terasa gatal.

Ia lalu kembali teringat dengan perkataan pria itu.

Karena aku ingin mengetahui seberapa besar usahamu untuk mencari informasi.

Ana mendengus.

“Dasar menyebalkan.”

Ia kemudian mematikan layar ponselnya.

“Sudahlah, besok aku pasti akan mengetahui namanya.”

Ana merebahkan tubuhnya di atas kasur.

Namun, sebelum benar-benar terlelap, perempuan itu kembali tersenyum kecil.

“Sepuluh juta rupiah setiap bulan.”

Ia menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.

“Selamat malam, calon orang kaya.”

Sementara itu, di kediaman keluarga Hamilton, Nath baru saja tiba setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya.

Ia berjalan menuju ruang keluarga dan mendapati David yang sedang duduk sambil memeriksa sesuatu melalui laptopnya.

“Belum tidur?” tanya Nath seraya meletakkan jasnya di atas sofa.

David mendongakkan kepalanya.

“Belum. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan.”

Nath mengangguk.

“Bagaimana dengan penyelidikanmu?”

David menutup laptopnya perlahan.

“Masih berjalan. Aku mulai mendapatkan beberapa petunjuk baru.”

“Baguslah.”

Nath lalu duduk di sofa yang berada di hadapan adiknya.

David memperhatikan wajah kakaknya selama beberapa detik.

“Kau terlihat cukup senang malam ini.”

Nath mengernyit.

“Memangnya kenapa?”

“Tidak biasanya kau pulang dengan wajah seperti itu.”

“Seperti apa?”

“Seperti seseorang yang baru saja memenangkan sesuatu.”

Nath menghela napas.

“Kau terlalu banyak berbicara.”

David terkekeh.

“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kandidat yang sempat kau ceritakan tadi pagi?”

Nath menatap adiknya.

“Ia sudah menerima kembali pekerjaan itu.”

David tersenyum lebar.

“Wah, selamat!”

“Untuk apa kau mengucapkan selamat kepadaku?”

“Karena akhirnya kau mendapatkan asisten yang selama ini kau cari.”

Nath mengangguk.

“Benar juga.”

David lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Siapa namanya?”

“Anastasia Ville.”

David berpura-pura terkejut.

“Nama yang bagus.”

Nath mengernyit.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?”

“Tidak. Aku hanya merasa nama itu cukup menarik.”

Nath menggelengkan kepalanya.

“Dasar aneh.”

David kembali terkekeh.

Ia sebenarnya ingin sekali mengatakan bahwa dirinya sudah mengenal Ana sejak beberapa hari yang lalu.

Namun, mengingat penyamarannya yang masih berlangsung, David memilih untuk menyimpan informasi tersebut terlebih dahulu.

Lagi pula, ia cukup penasaran dengan bagaimana hubungan kakaknya dan perempuan itu akan berkembang setelah ini.

“Ngomong-ngomong, Nath.”

“Hm?”

“Apakah kau sudah melupakan masa lalumu?”

Pertanyaan tersebut seketika membuat Nath terdiam.

Senyuman tipis yang sebelumnya menghiasi wajahnya perlahan menghilang.

David menyadari perubahan tersebut.

“Maaf, aku hanya bertanya.”

Nath menghela napas panjang.

“Tak perlu membicarakannya lagi.”

David mengangguk.

“Baiklah.”

Nath lalu bangkit dari posisinya.

“Aku akan beristirahat. Besok masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

“Selamat malam, Nath.”

“Selamat malam.”

Nath berjalan meninggalkan ruang keluarga tersebut.

Namun, sebelum benar-benar memasuki kamarnya, ia sempat berhenti sejenak.

Pertanyaan David barusan kembali terngiang di kepalanya.

Apakah kau sudah melupakan masa lalumu?

Nath memejamkan kedua matanya.

Ia sebenarnya sudah berusaha untuk melupakan semua kejadian yang pernah menimpanya beberapa tahun lalu.

Namun, rupanya tak semudah itu.

Ada beberapa kenangan yang masih tersimpan dengan sangat jelas di dalam pikirannya.

Termasuk sosok perempuan yang pernah begitu dicintainya.

Nath menghela napas panjang.

“Sudahlah. Semuanya sudah berakhir.”

Ia lalu memasuki kamarnya dan menutup pintu tersebut.

Namun, tanpa ia sadari, kehadiran Anastasia Ville dalam kehidupannya justru akan membawa banyak perubahan yang sama sekali tak pernah dibayangkannya.

Dan semuanya akan dimulai besok pagi.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dinikahi CEO Tampan   SELAMANYA, ANASTASIA

    Pagi itu, Jakarta disambut langit biru yang cerah.Tidak ada hujan.Tidak ada awan gelap.Hanya sinar matahari yang menyelinap melalui jendela sebuah suite hotel mewah, menerangi gaun pengantin putih yang tergantung anggun di dekat cermin.Dan di tengah kamar yang dipenuhi rangkaian bunga, Anastasia Putri Ville sedang mengalami krisis kecil.“JESICA!”Jesica yang sedang berbicara dengan penata rias langsung menoleh.“Apa?!”Ana berdiri di depan cermin dengan wajah panik.“Aku tidak bisa bernapas!”Jesica membulatkan mata.“KENAPA?!”Ana menunjuk gaunnya.“Ini terlalu indah!”Jesica terdiam.Kemudian, ia memejamkan mata.“Anastasia.”Ana menoleh.“Ya?”“Aku kira ada masalah serius!”Ana mengangguk mantap.“Ini serius!”Jesica tertawa.“Apa yang serius?”Ana memperhatikan pantulan dirinya.Gaun putih dengan detail renda halus membalut tubuhnya dengan anggun. Rambut panjangnya ditata dalam sanggul rendah, dihiasi aksesori mutiara kecil dan veil transparan yang menjuntai hingga punggung.

  • Dinikahi CEO Tampan   SATU PERTANYAAN UNTUK SELAMANYA

    Nathaniel Jacko Hamilton pernah menghadapi negosiasi bernilai ratusan miliar rupiah tanpa kehilangan ketenangan.Ia pernah memimpin rapat dengan puluhan investor yang mempertanyakan setiap keputusan bisnisnya.Ia bahkan berhasil mempertahankan Hamilton Otomotive Company ketika reputasi perusahaan nyaris hancur akibat skandal distribusi ilegal.Namun, pagi itu, pria berusia dua puluh delapan tahun tersebut berdiri di depan cermin selama hampir sepuluh menit hanya untuk memikirkan satu pertanyaan.Bagaimana kalau Anastasia menolak lamaranku?“Nath!”Suara David terdengar dari luar kamar.“Kau sudah siap?”Nath menghela napas.“Masuk.”David membuka pintu.Ia langsung berhenti ketika melihat kakaknya.Kemudian, senyuman jahil muncul di wajahnya.“Wah.”Nath menoleh.“Apa?”David melipat kedua tangan.“CEO Hamilton gugup.”“Aku tidak gugup.”David menunjuk dasi di tangan Nath.“Kalau begitu, kenapa dari tadi kau memegang dasi yang belum dipakai?”Nath menunduk.Benar.Ia bahkan belum meny

  • Dinikahi CEO Tampan   CALON MENANTU KELUARGA HAMILTON

    Senin pagi, Anastasia Putri Ville menghadapi masalah yang belum pernah diajarkan dalam pendidikan bisnis mana pun.Bagaimana caranya bersikap profesional ketika atasannya sendiri adalah pacarnya?Ana berdiri di depan pintu ruang kerja Nathaniel Hamilton sambil menarik napas panjang.“Baik, Anastasia,” gumamnya. “Di kantor, dia atasanmu. Di luar kantor, dia pacarmu. Mudah.”Ia mengetuk pintu.“Masuk.”Ana membuka pintu dengan senyum profesional.“Selamat pagi, Pak Nathaniel.”Nath yang sedang membaca dokumen langsung mendongakkan kepala.“Selamat pagi, Nona Anastasia.”Ana mengangguk sopan.“Apakah ada pekerjaan yang perlu saya prioritaskan pagi ini?”Nath meletakkan pulpennya.“Ada.”“Baik. Apa itu, Pak?”Nath menatapnya serius.“Pertama, berhenti berdiri sekaku itu.”Ana membeku.“Apa?”“Kedua, jangan memanggilku Pak Nathaniel dengan nada seperti sedang menghadapi sidang skripsi.”Ana menutup wajahnya.“Nath!”Pria itu tertawa.“Baru lima menit dan kau sudah menyerah.”Ana mendengus.

  • Dinikahi CEO Tampan   BUKAN LAGI SEKADAR ATASAN

    Sabtu pagi, Anastasia Putri Ville telah mengganti pakaiannya sebanyak empat kali.Gaun biru muda.Terlalu formal.Blus putih dan celana jins.Terlalu biasa.Gaun hitam selutut.Terlalu seperti hendak menghadiri makan malam perusahaan.Ana berdiri di depan lemari sambil memegang dua gantungan pakaian.“Kenapa memilih baju untuk kencan lebih sulit daripada ujian akhir Harvard?”Ia menghela napas panjang.Kemudian, menatap pantulan dirinya di cermin.“Tunggu.”Ana mengangkat satu jari.“Ini bahkan belum tentu kencan.”Ia terdiam.Lalu mengingat perkataan Nath.Ini ajakan pribadi.Kalau kau mau menyebutnya begitu.Ana langsung menutup wajahnya.“AAAA!”Ia menjatuhkan tubuh ke kasur.“Kenapa dia harus mengatakan sesuatu seperti itu dengan wajah setenang orang sedang membahas laporan keuangan?”Ponselnya bergetar.Pesan dari Nath.Selamat pagi. Aku akan menjemputmu pukul sepuluh. Tidak perlu terburu-buru.Ana menatap layar.Kemudian, melihat jam.Pukul delapan lewat lima belas.Masih ada wa

  • Dinikahi CEO Tampan   KEBENARAN YANG AKHIRNYA TERUNGKAP

    Pukul tujuh pagi, Nathaniel Jacko Hamilton menerima sebuah pesan yang membuat darahnya seolah berhenti mengalir.Pesan itu berasal dari nomor tidak dikenal.Kalau kau ingin Anastasia tetap selamat, hentikan penyelidikan terhadap Adrian Wiratama.Di bawahnya terdapat sebuah foto.Ana sedang berdiri di depan minimarket dekat rumahnya.Foto tersebut diambil dari kejauhan.Nath langsung menelepon Ana.Panggilan pertama tidak dijawab.Ia mencoba lagi.Tetap tidak ada jawaban.“Angkat, Ana,” gumamnya.Panggilan ketiga akhirnya tersambung.“Halo, Tuan?”Nath langsung berdiri.“Anastasia, kau di mana?”Ana terdiam.“Di rumah. Kenapa?”Nath menghela napas lega.“Kau sendirian?”“Iya. Memangnya ada apa?”“Pastikan pintu terkunci. Jangan keluar dulu.”Ana langsung serius.“Tuan, ada ancaman lagi?”Nath terdiam sesaat.“Ya.”Ana menghela napas.“Baik. Saya tetap di rumah.”“Aku akan menghubungi David.”“Tuan.”Nath berhenti.“Ya?”“Hati-hati juga.”Nath memejamkan mata.Bahkan ketika dirinya seda

  • Dinikahi CEO Tampan   HARGA SEBUAH KEPERCAYAAN

    Nathaniel Hamilton tidak pernah menyangka bahwa satu foto dapat membuatnya mempertanyakan begitu banyak hal.Di layar ponselnya, Adrian Wiratama berdiri di samping Richard Hamilton dan Surya Pradipta.Foto itu tampaknya diambil bertahun-tahun lalu, ketika kerja sama distribusi antara Hamilton dan PT Cakrawala Sentosa Abadi masih berlangsung.Bukan sesuatu yang aneh.Adrian memang sering menghadiri pertemuan bisnis keluarga Hamilton.Namun, yang membuat Nath gelisah bukan keberadaan Adrian dalam foto tersebut.Melainkan pesan yang menyertainya.Orang yang paling dekat dengan keluargamu mungkin menyimpan rahasia terbesar.Nath menatap layar selama beberapa detik.Kemudian, ia menghubungi David.Panggilan tersambung pada dering kedua.“Nath?”“Aku menerima foto Adrian.”David terdiam.“Adrian Wiratama?”“Ya.”“Apa isi pesannya?”Nath membacakannya.David tidak langsung menjawab.“Nath, jangan menganggap foto itu sebagai bukti keterlibatannya.”“Aku tahu.”“Pengirimnya mungkin sedang beru

  • Dinikahi CEO Tampan   MENU MAKANAN PILIHAN

    Nath menatap ke arah sebuah cafetaria yang berada tepat di sebelah kirinya saat ini. "Hm, tak begitu buruk. Semoga saja makanan di dalam sana sesuai dengan apa yang selalu ia katakan kepadaku selama ini," gumam Nath dan setelah itu keluar dari dalam mobilnya.Ia sempat mengintip beberapa saat ke a

  • Dinikahi CEO Tampan   BERPASRAH DIRI

    Ana menatap ke arah gedung pencakar langit itu. Ia datang lebih awal hari ini, namun ia masih belum menemukan informasi mengenai pria itu. Sial."Baiklah, aku akan berpasrah diri saja pagi ini. Lagi pula aku memang tak ingin bekerja di sini," gumam Ana sembari berjalan menuju ke arah dalam dari ged

  • Dinikahi CEO Tampan   HADIAH YANG TAK TERDUGA

    "Nasi campur dan es jeruk." Ana terlihat menahan dirinya untuk tak memesan menu sapi panggang atau pun ayam panggang yang tertera di sana. "Semuanya Rp18.000, ada tambahan lagi?" tanya sang kasir. Ana menggeleng. Ia lalu menyerahkan uang miliknya dan nampak menatap sang kasir yang tentu saja s

  • Dinikahi CEO Tampan   NAMPAK ANEH DAN MENCURIGAKAN

    Ana masih mencoba untuk menjernihkan isi otaknya saat ini. Ia benar-benar masih tak menyangka sama sekali dengan apa yang ia lihat di saat ini juga. "J-jadi, supir yang bernama Ucup itu adalah atasanku yang sebentar lagi akan melakukan sesi wawancara kepadaku? Yang benar saja?" gumam Ana di dalam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status