เข้าสู่ระบบPagi itu, Jakarta disambut langit biru yang cerah.Tidak ada hujan.Tidak ada awan gelap.Hanya sinar matahari yang menyelinap melalui jendela sebuah suite hotel mewah, menerangi gaun pengantin putih yang tergantung anggun di dekat cermin.Dan di tengah kamar yang dipenuhi rangkaian bunga, Anastasia Putri Ville sedang mengalami krisis kecil.“JESICA!”Jesica yang sedang berbicara dengan penata rias langsung menoleh.“Apa?!”Ana berdiri di depan cermin dengan wajah panik.“Aku tidak bisa bernapas!”Jesica membulatkan mata.“KENAPA?!”Ana menunjuk gaunnya.“Ini terlalu indah!”Jesica terdiam.Kemudian, ia memejamkan mata.“Anastasia.”Ana menoleh.“Ya?”“Aku kira ada masalah serius!”Ana mengangguk mantap.“Ini serius!”Jesica tertawa.“Apa yang serius?”Ana memperhatikan pantulan dirinya.Gaun putih dengan detail renda halus membalut tubuhnya dengan anggun. Rambut panjangnya ditata dalam sanggul rendah, dihiasi aksesori mutiara kecil dan veil transparan yang menjuntai hingga punggung.
Nathaniel Jacko Hamilton pernah menghadapi negosiasi bernilai ratusan miliar rupiah tanpa kehilangan ketenangan.Ia pernah memimpin rapat dengan puluhan investor yang mempertanyakan setiap keputusan bisnisnya.Ia bahkan berhasil mempertahankan Hamilton Otomotive Company ketika reputasi perusahaan nyaris hancur akibat skandal distribusi ilegal.Namun, pagi itu, pria berusia dua puluh delapan tahun tersebut berdiri di depan cermin selama hampir sepuluh menit hanya untuk memikirkan satu pertanyaan.Bagaimana kalau Anastasia menolak lamaranku?“Nath!”Suara David terdengar dari luar kamar.“Kau sudah siap?”Nath menghela napas.“Masuk.”David membuka pintu.Ia langsung berhenti ketika melihat kakaknya.Kemudian, senyuman jahil muncul di wajahnya.“Wah.”Nath menoleh.“Apa?”David melipat kedua tangan.“CEO Hamilton gugup.”“Aku tidak gugup.”David menunjuk dasi di tangan Nath.“Kalau begitu, kenapa dari tadi kau memegang dasi yang belum dipakai?”Nath menunduk.Benar.Ia bahkan belum meny
Senin pagi, Anastasia Putri Ville menghadapi masalah yang belum pernah diajarkan dalam pendidikan bisnis mana pun.Bagaimana caranya bersikap profesional ketika atasannya sendiri adalah pacarnya?Ana berdiri di depan pintu ruang kerja Nathaniel Hamilton sambil menarik napas panjang.“Baik, Anastasia,” gumamnya. “Di kantor, dia atasanmu. Di luar kantor, dia pacarmu. Mudah.”Ia mengetuk pintu.“Masuk.”Ana membuka pintu dengan senyum profesional.“Selamat pagi, Pak Nathaniel.”Nath yang sedang membaca dokumen langsung mendongakkan kepala.“Selamat pagi, Nona Anastasia.”Ana mengangguk sopan.“Apakah ada pekerjaan yang perlu saya prioritaskan pagi ini?”Nath meletakkan pulpennya.“Ada.”“Baik. Apa itu, Pak?”Nath menatapnya serius.“Pertama, berhenti berdiri sekaku itu.”Ana membeku.“Apa?”“Kedua, jangan memanggilku Pak Nathaniel dengan nada seperti sedang menghadapi sidang skripsi.”Ana menutup wajahnya.“Nath!”Pria itu tertawa.“Baru lima menit dan kau sudah menyerah.”Ana mendengus.
Sabtu pagi, Anastasia Putri Ville telah mengganti pakaiannya sebanyak empat kali.Gaun biru muda.Terlalu formal.Blus putih dan celana jins.Terlalu biasa.Gaun hitam selutut.Terlalu seperti hendak menghadiri makan malam perusahaan.Ana berdiri di depan lemari sambil memegang dua gantungan pakaian.“Kenapa memilih baju untuk kencan lebih sulit daripada ujian akhir Harvard?”Ia menghela napas panjang.Kemudian, menatap pantulan dirinya di cermin.“Tunggu.”Ana mengangkat satu jari.“Ini bahkan belum tentu kencan.”Ia terdiam.Lalu mengingat perkataan Nath.Ini ajakan pribadi.Kalau kau mau menyebutnya begitu.Ana langsung menutup wajahnya.“AAAA!”Ia menjatuhkan tubuh ke kasur.“Kenapa dia harus mengatakan sesuatu seperti itu dengan wajah setenang orang sedang membahas laporan keuangan?”Ponselnya bergetar.Pesan dari Nath.Selamat pagi. Aku akan menjemputmu pukul sepuluh. Tidak perlu terburu-buru.Ana menatap layar.Kemudian, melihat jam.Pukul delapan lewat lima belas.Masih ada wa
Pukul tujuh pagi, Nathaniel Jacko Hamilton menerima sebuah pesan yang membuat darahnya seolah berhenti mengalir.Pesan itu berasal dari nomor tidak dikenal.Kalau kau ingin Anastasia tetap selamat, hentikan penyelidikan terhadap Adrian Wiratama.Di bawahnya terdapat sebuah foto.Ana sedang berdiri di depan minimarket dekat rumahnya.Foto tersebut diambil dari kejauhan.Nath langsung menelepon Ana.Panggilan pertama tidak dijawab.Ia mencoba lagi.Tetap tidak ada jawaban.“Angkat, Ana,” gumamnya.Panggilan ketiga akhirnya tersambung.“Halo, Tuan?”Nath langsung berdiri.“Anastasia, kau di mana?”Ana terdiam.“Di rumah. Kenapa?”Nath menghela napas lega.“Kau sendirian?”“Iya. Memangnya ada apa?”“Pastikan pintu terkunci. Jangan keluar dulu.”Ana langsung serius.“Tuan, ada ancaman lagi?”Nath terdiam sesaat.“Ya.”Ana menghela napas.“Baik. Saya tetap di rumah.”“Aku akan menghubungi David.”“Tuan.”Nath berhenti.“Ya?”“Hati-hati juga.”Nath memejamkan mata.Bahkan ketika dirinya seda
Nathaniel Hamilton tidak pernah menyangka bahwa satu foto dapat membuatnya mempertanyakan begitu banyak hal.Di layar ponselnya, Adrian Wiratama berdiri di samping Richard Hamilton dan Surya Pradipta.Foto itu tampaknya diambil bertahun-tahun lalu, ketika kerja sama distribusi antara Hamilton dan PT Cakrawala Sentosa Abadi masih berlangsung.Bukan sesuatu yang aneh.Adrian memang sering menghadiri pertemuan bisnis keluarga Hamilton.Namun, yang membuat Nath gelisah bukan keberadaan Adrian dalam foto tersebut.Melainkan pesan yang menyertainya.Orang yang paling dekat dengan keluargamu mungkin menyimpan rahasia terbesar.Nath menatap layar selama beberapa detik.Kemudian, ia menghubungi David.Panggilan tersambung pada dering kedua.“Nath?”“Aku menerima foto Adrian.”David terdiam.“Adrian Wiratama?”“Ya.”“Apa isi pesannya?”Nath membacakannya.David tidak langsung menjawab.“Nath, jangan menganggap foto itu sebagai bukti keterlibatannya.”“Aku tahu.”“Pengirimnya mungkin sedang beru
Nath menatap ke arah sebuah cafetaria yang berada tepat di sebelah kirinya saat ini. "Hm, tak begitu buruk. Semoga saja makanan di dalam sana sesuai dengan apa yang selalu ia katakan kepadaku selama ini," gumam Nath dan setelah itu keluar dari dalam mobilnya.Ia sempat mengintip beberapa saat ke a
Ana menatap ke arah gedung pencakar langit itu. Ia datang lebih awal hari ini, namun ia masih belum menemukan informasi mengenai pria itu. Sial."Baiklah, aku akan berpasrah diri saja pagi ini. Lagi pula aku memang tak ingin bekerja di sini," gumam Ana sembari berjalan menuju ke arah dalam dari ged
"Nasi campur dan es jeruk." Ana terlihat menahan dirinya untuk tak memesan menu sapi panggang atau pun ayam panggang yang tertera di sana. "Semuanya Rp18.000, ada tambahan lagi?" tanya sang kasir. Ana menggeleng. Ia lalu menyerahkan uang miliknya dan nampak menatap sang kasir yang tentu saja s
Ana masih mencoba untuk menjernihkan isi otaknya saat ini. Ia benar-benar masih tak menyangka sama sekali dengan apa yang ia lihat di saat ini juga. "J-jadi, supir yang bernama Ucup itu adalah atasanku yang sebentar lagi akan melakukan sesi wawancara kepadaku? Yang benar saja?" gumam Ana di dalam







