Share

TERLAMBAT DAN MIMPI BURUK

"Astaga, aku terlambat!"

Ana terbangun karena ia mendengar suara yang berdering sangat keras sekali dari arah ponselnya. Tentu saja itu adalah bunyi dari alarm miliknya.

Tak ada yang bisa ia lakukan lagi selain mempersiapkan dirinya dan juga menyantap sarapannya itu. Untung saja ia masih memiliki satu menu makanan yang kemarin ia simpan. Hanya perlu menghangatkannya saja setelah ini.

Ana lalu menatap ke arah jam dindingnya saat ini sambil menyantap sarapannya itu. Ia hanya memiliki waktu 30 menit saja sebelum sesi wawancara itu di mulai hari ini.

"Semuanya sudah siap, tak usah menggunakan lipstik, sudah tak sempat untuk melakukannya," gumam Ana kemudian.

Setelah ia membawa seluruh berkas dan juga perlengkapan miliknya itu, Ana lalu memutuskan untuk memesan ojek online. Tentu saja waktunya sudah sangat mepet sekali saat ini. Apalagi jarak kantor itu cukup jauh, belum lagi keadaan yang akan tersendat akibat banyaknya orang yang hendak pergi untuk bekerja pagi ini.

"Seharusnya aku pergi satu atau dua jam lebih awal, astaga. Ini semua karena film romantis yang kau tonton itu, Ana. Seharusnya kau hanya perlu menonton satu episode saja," gumam Ana kemudian.

Ia juga sempat untuk membaca beberapa profil dari kantor tersebut. Entah bentuk gedungnya seperti apa karena ia sama sekali tak mengetahui apa pun.

"Kenapa lama sekali? Apakah semuanya tak ingin mengantarkanku?" gumam Ana yang semakin cemas. Ia lantas menunggunya beberapa saat sambil tetap membaca seluruh berkas yang telah ia siapkan semalam.

***

Ting!

Suara dentingan notifikasi dari benda pipih tersebut lantas membuat sesosok pria jangkung itu memberhentikan langkahnya sejenak setelah menerima orderan tersebut.

"Ah, aku mendapatkan satu penumpang di pagi hari ini rupanya. Kebetulan sekali lokasinya cukup dekat dengan-"

Kring! Kring!

Belum sempat menyapa calon penumpangnya dengan sebuah pesan singkat berupa sapaan seperti biasanya, tiba-tiba saja pria itu kembali mendengar ponselnya yang berdering. Namun kali ini pertanda sebuah panggilan masuk untuknya.

"Ya, halo. Aku di sini."

"..."

"Apa? Sekarang juga? Tapi, aku baru saja hendak ke lokasi itu, kebetulan sekali jaraknya sangat dekat dengan-"

"..."

"Astaga, baiklah. Aku akan segera menuju ke kantor."

Panggilan pun terputus. Pria itu menghela napas panjang dengan tatapan yang cukup bingung pagi ini, "Aku tak mungkin menolaknya seketika. Semuanya akan tak sesuai dengan rencana awalku."

Pandangannya lalu tertuju ke arah samping kanannya, ia mendengar sapaan singkat dari saudaranya itu kali ini.

"Tumben sekali. Apakah kau hendak pergi berkerja pagi ini? Atau-"

"Gantikanlah aku untuk mengantarkannya. Aku tak mungkin membatalkannya secara sepihak. Tolonglah. Kau bisa membawa ponsel ini untuk melacak alamatnya dan melihat lokasi yang hendak ia tuju. Gunakan motorku yang berada di dalam garasi itu, oke?"

Belum saja ia membalas semua ucapan itu, seketika itu juga pria tersebut sudah tak terlihat lagi setelah memberikan perintah dan juga ponsel miliknya kepada saudara sulungnya itu.

"Cepatlah, Nath. Kau tak boleh membuat penumpang menunggu. Aku pergi dulu, ada satu panggilan yang harus aku kunjungi," ujarnya kembali sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah megah itu.

Nathaniel Jacko Hamilton, kerap di sapa Nath tersebut masih mencoba untuk menahan kesabarannya pagi ini. Di tambah lagi ia sudah cukup terlambat pagi ini. Hanya satu alasan yang membuatnya terlambat, menonton pertandingan bola. Tapi ia tak perlu memikirkannya terlalu dalam. Semua itu hanyalah alasan sepele.

"Aku bahkan belum sempat mengatakan iya kepadanya, tapi baiklah. Aku akan menurutinya kali ini saja. Itu pun karena tugasnya yang sangat berat, maka dari itu aku menghormatinya," gumam Nath kemudian. Ia sangat tahu betul mengenai pekerjaan adiknya itu belakangan ini. Ia harus mencari tahu keberadaan salah satu tersangka dari sindikat narkotika. Begitu katanya.

Mau tak mau Nath lalu bergegas menuju ke arah luar rumahnya. Terlihat jelas seorang asisten rumah tangga yang telah menyiapkan dua helm berwarna hijau itu kepada Nath. Pria itu memberhentikan langkahnya sejenak.

"Helmnya, Tuan."

"Tidak perlu. Aku akan pergi ke kantor sekaligus. Simpan saja kedua helm ini karena aku akan menggunakan mobil saja," jawab Nath kemudian dan setelah itu nampak sebuah anggukan kepala dari asistennya tersebut.

Tak ada waktu lagi. Ia lalu segera melesat pergi menuju ke alamat yang ditunjukkan oleh aplikasi tersebut. 

"Sial, aku bahkan melupakan jas itu," gumam Nath setelah ia berada di tengah perjalanan. Ah, mungkin ia tak akan menggunakannya saja hari ini. Lagi pula tak akan ada rapat penting apa pun. Ia hanya perlu hadir untuk mewawancarai seseorang calon asisten keuangan untuk dirinya.

***

Ana merasa tak sabar sekali. Pada akhirnya ia pun memutuskan untuk berjalan menyusuri gang kecil untuk melewatinya. Ya, ia akan berjalan kaki saja. Tak peduli pukul berapa ia akan sampai di tempat tujuan itu.

"Driver bernama Ucup ini cukup lama juga rupanya. Apakah ia sedang terjebak kemacetan di perjalanan?" gumam Ana seorang diri, mengingat mereka semua tinggal di pusat kota.

Setelah berjalan menyusuri gang kecil yang sangat sepi itu, ia melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam yang saat ini telah terparkir di depan minimarket tepat berada di hadapannya.

Drrt! Drtt!

Ana lalu memeriksa ponselnya itu. Rupanya driver bernama Ucup tersebut tengah menghubunginya.

"Selamat pagi, dengan Anastasia?"

"Ya, saya sendiri. Mungkin saya akan berjalan kaki saja karena waktunya sudah sangat terlambat, Pak."

"Ah, tidak perlu, saya sudah berada di depan rumah Anda. Plat kendaraan N 4 TH."

Kedua mata Ana seketika membulat lebar saat melihat sebuah plat kendaraan yang sangat sesuai dengan apa yang telah disebutkan tadi.

"Apakah sebuah mobil hitam yang terparkir di depan minimarket?"

"Benar. Itu dia, maaf karena menggunakan mobil karena saya hendak pergi bekerja sekaligus. Silahkan."

Ana cukup tercengang. Padahal sudah jelas-jelas ia memesan ojek motor untuk pagi ini. Tapi kenapa sebuah mobil mewah yang datang untuk menjemputnya?

"Astaga, bagaimana jika biayanya jauh lebih mahal?" gumam Ana seorang diri.

Ia lalu kembali mencocokkannya dengan data yang telah ia pesan sebelumnya. Semuanya memang tak salah. Hanya driver itu saja yang terlalu mewah.

"Selamat pagi."

Ana tersenyum saat mendengarnya, "Selamat pagi."

Perempuan itu memilih untuk duduk di belakang supir tersebut. Sambil membaca semua profil itu, ia juga cukup merasa pusing akibat kegugupan yang ia rasakan saat ini.

"Aku dengar-dengar bahwa atasan mereka terkenal sangat galak sekali. Ah, aku cukup takut sekarang. Bagaimana jika ia menanyakan hal aneh selama sesi wawancara itu?" gumam Ana perlahan. Ia lalu membolak-balikkan berkas tersebut beberapa kali.

Ana juga melihat beberapa berita yang sempat ia simpan sebelumnya. Sebuah berita yang menyatakan bahwa CEO dari Hamilton Otomotive Company sangat tegas dan galak. Mereka semua memiliki sifat yang sama, di tambah lagi dengan putra anak sulung yang dirumorkan baru saja mendapatkan jabatannya sejak satu minggu yang lalu.

"Ah, aku yakin putra sulungnya itu sangat baik, tapi entahlah. Media mengatakan jika mereka semua sangat galak dan juga menyebalkan. Tapi, kenapa ada banyak sekali orang yang bekerja di sana jika memang begitu faktanya?" gumam Ana dan tentu saja ucapannya itu cukup keras sekali terdengar sehingga sang supir bernama Ucup itu juga mendengarnya.

"Ah, jika aku menjadi mereka maka aku akan pergi dari sana. Tapi, jika keadaan memang tak berpihak kepadaku tentu saja, apalagi jika atasan yang disebutkan mereka itu benar. Tinggal pukul saja kepalanya," gumam Ana kembali seraya terkekeh.

Pria tersebut mengernyit saat mendengarnya. Ia merasa bahwa Ana cukup berbeda dari perempuan kebanyakan. Atau mungkin karena ini adalah kali pertama ia membantu David Hamilton - sang adik bungsunya itu untuk mengantarkan penumpangnya. Entahlah, tapi ia merasa bahwa Ana memiliki sifat yang unik dan ceria.

Perlahan mobil tersebut terhenti seketika dan membuat Ana menatap ke arah depannya. Kedua matanya membulat saat ia mengetahui kemacetan yang panjang itu.

"Rupanya sudah dekat," gumam Ana seorang diri. Mungkin ia akan berjalan kaki saja untuk melanjutkan perjalanannya kali ini.

"Pak Ucup, saya akan berjalan kaki saja. Lagi pula jaraknya sudah dekat dari sini. Jadi, berapa saya harus membayarnya? Sesuai dengan aplikasi, bukan?" tanya Ana dan kali ini adalah momen yang cukup membuatnya berdegup kencang.

Nath menatap ke arah Ana sejenak, "Ah, baiklah kalau begitu. Tak usah membayarnya juga tak masalah."

Ana kembali terkejut saat mendengarnya. Baiklah, kebaikan apalagi ini?

"Terima kasih. Kalau begitu saya pergi dulu, jika tidak maka calon atasan saya itu pasti akan mengamuk, begitu katanya. Tapi  mungkin saya akan memukul kepalanya langsung jika ia aneh-aneh. Sampai jumpa, Pak Ucup," ujar Ana seraya keluar dari mobilnya itu.

Tak ada yang dikatakan oleh Nath saat ini selain menatap ke arah Ana yang telah berjalan cepat ke arah depannya itu, di tambah lagi dengan perasaan gelinya saat mendengar panggilan dari Ana, "Astaga, bahkan David juga menggunakan nama samaran untuk melakukan pekerjaan ini rupanya."

Di sisi lain, saat ini Ana tengah berbincang dengan salah satu resepsionis dari Hamilton Otomotive Company. Mereka menyatakan bahwa sang CEO belum tiba sampai detik ini sehingga Ana bisa langsung pergi ke ruang wawancara dan menunggunya di sana.

Ana menghela napas lega sambil berjalan menuju ke lantai 10 yang telah di katakan oleh sang resepsionis sebelumnya.

"Untung saja keberuntungan berpihak kepadaku saat ini" gumam Ana seorang diri setelah ia tiba di sebuah ruangan mewah itu. Nampak sepi, tapi ia menyukainya.

Sambil menunggu kehadiran CEO yang terkenal memiliki banyak rumor itu, Ana memutuskan untuk kembali membaca semua catatan yang ia miliki.

Terlihat di lantai bawah saat ini ada banyak sekali salam sapaan yang di berikan untuk Nath saat ia memasuki gedung pencakar langit itu.

"Selamat pagi, Tuan Hamilton. Sesi wawancara bisa langsung di mulai karena kandidat telah menunggu di ruang wawancara," ujar sang resepsionis saat melihat sang CEO tiba.

Nath melepaskan kacamata hitamnya itu sejenak, "Baiklah, tolong panggil sekretaris pribadiku untuk segera membawakan CV dari kandidat itu ke ruang wawancara sekarang."

"Baik, Tuan," jawabnya sembari menghubungi sang sekretaris pribadi yang di minta.

Banyak sekali mata memandang ke arah Nath pagi ini. Bahkan sebelumnya juga sama seperti itu.

Rambut cokelat, mata indah berwarna hazel, beserta dengan hidung mancung dengan postur tubuh yang sangat luar biasa tentu saja berhasil menjadikan sosok Nath sebagai pusat perhatian di mana pun ia berada. Belum lagi dengan semua kekayaan yang ia miliki sampai sejauh ini. Tentu saja semua itu berada di luar warisan yang akan diturunkan kepadanya.

Langkah kakinya yang lebar itu pun akhirnya tiba di ruang wawancara, bersamaan dengan kehadiran sekretaris pribadinya itu, Jesica.

"Selamat pagi, Tuan Hamilton," sapa Jesica seraya membantu Nath untuk membukakan pintu ruangan itu.

Nath hanya mengangguk saja dan setelah itu masuk ke dalam sana dengan langkah yang sangat percaya dirinya itu.

"Selamat pagi. Maaf saya sangat terlambat. Tapi, saya akui bahwa Anda begitu berkompeten karena telah tiba lebih awal dari yang saya duga," ujar Nath sembari membalikkan tubuhnya untuk melihat sosok kandidat yang akan ia wawancarai pagi ini.

Ana yang melemparkan pandangannya ke arah depan itu, seketika membulat lebar saat pandangan mereka saling bertemu saat ini.

Astaga, selain terlambat, ia juga mendapatkan sebuah mimpi buruk rupanya.

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status