LOGIN"Lepas, ansel tolong aku. Mereka ingin memisahkan kita," pinta Lili. "Kamu pantas mendapat semua ini. Aku akan menuntut kamu atas kasus pembunuhan," sahut Ansel. "Tidak!" Lili terus saja memberontak dari kedua satpam. Dia tidak mau dipenjara. Di antara ketakutan dan panik, dia dengan keras menginjak salah satu kaki satpam dan satu satpam lagi ditendang pada bagian kelemahan kaum laki-laki. Setelah itu dia segera lari dari sana. "Lili!" panggil Ansel. "Tuan, kalau Tuan ingin mengejar Lili, saya bisa menjaga Mama Tuan. Saya janji akan menjaganya dengan baik. Ini sebagai bentuk permintaan maaf saya," ujar Meka supaya Gilang dan Ansel bisa mengejar Lili. "Baiklah, Terima kasih. Pa, ayo kita kerja Lili," ajak Ansel. "Ya." Ansel, Gilang dan kedua satpam segera mengejar Lili yang berlari di dalam rumah sakit. Para pengunjung, pasien, suster dan lainnya terganggu oleh Ansel dan lainnya. Mereka penasaran apa yang terjadi. "Lili, tunggu! Jangan lari," teriak Ansel. "Tidak, aku tidak
Bab 77. Karma Kembali beberapa menit yang lalu. Sekarang di dalam ruangan hanya tinggal Miranda dan Lili. Ansel masih berada di luar dan Gilang berada di kamar mandi. Lili adalah orang pertama yang sadar. Dia melihat ke sekeliling ruangan dengan kening berkerut. "Kenapa aku bisa ada di rumah sakit?" gumam Lili melihat tangannya yang di infus. Kepala sedikit pusing. Efek obat dan juga benturan di kepala. Lili kembali memutar memorinya untuk mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Setelah dia mengingat apa yang terjadi, dia jadi sangat ketakutan. Matanya dengan cepat beralih ke arah Miranda. "Tidak, mama tidak boleh menceritakan hal ini kepada Ansel. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kalau mama tidak mau menutup mulut, lebih baik aku akan menutup mulutnya untuk selama-lamanya," gumam Lili menyeringai. Lili dengan kasar mencabut jarum infus dan masker oksigen. Lalu dia turun dari tempat tidurnya. Dia sudah dikuasai oleh rasa takut terhadap obsesi tentang harta. Sehingga membu
*** Tanpa sengaja Meka melihat Ansel di lorong rumah sakit. Dia segera mengejar Ansel tapi Ansel menghilang disaat belokan. Dia tidak menemukan Ansel setelah menelusuri beberapa lorong. "Kemana Ansel pergi? Aku harus segera menemui dia. Anakku tidak boleh menderita lagi. Sebaiknya aku tanya sama resepsionis." gumam Meka. Meka segera pergi ke resepsionis. Dia menanyakan satu persatu keluarga dari Ansel yang kemungkinan dirawat di rumah sakit. Akhirnya dia menemukan Miranda dan Lili yang dirawat. Meka dengan segera berlari ke arah ruang rawat Miranda dan Lili. Sekarang dia sudah berada di depan ruang rawat Miranda dan Lili. Hatinya masih berdebar karena dia sendiri takut untuk bercerita pada Ansel. Tapi, dengan tekad yang kuat dia mengetuk pintu di depannya. *** Gilang dan Ansel masih menunggu Miranda dan Lili terbangun. Di saat mereka menunggu, mereka mendengar suara ketukan pintu. "Siapa itu?" "Papa juga tidak tahu," sahut Gilang. "Sebentar Pa, biar Ansel bukakan pintu," uj
"Ada apa Gilang?" tanya David ikut menyusul Gilang yang sedikit menjauh dari tempat duduk saat mengangkat telepon dari Ansel. "David, aku pulang duluan. Kamu tolong jaga Riri, Arka dan Alex," sahut Gilang. Saat ini mereka berlima sedang melakukan pertemuan di cafe. Riri masih saja menggunakan topi hitam dan juga mata agar Arka tidak mengenali dirinya. Arka yang merengek ingin bertemu dengan Alex dan juga Riri. Dia sangat suka bermain dengan mereka berdua. "Memangnya, apa yang terjadi?" tanya David mencium bau yang tidak beres. "Tadi aku mendapat telepon dari Ansel, katanya istri aku dan Lili jatuh dari tangga," jawab Gilang karena David juga berhak tahu tentang keadaan Lili. "Apa? Jatuh dari tangga? Kok bisa?" "Aku juga tidak tahu cerita lengkapnya. Tidak ada yang melihat saat mereka jatuh. David, aku minta maaf, jika benar Lili yang mencelakai istri aku, aku tidak akan tinggal diam," ujar Gilang menepuk bahu David dengan berat. "Kalau memang Lili bersalah, aku tidak akan memb
*** Lili sudah menunggu Miranda setengah jam lebih. Miranda juga tidak kunjung balik ke tempatnya. "Kemana mama Miranda pergi?" Kenapa dia dari tadi tidak balik ya? Apa dia lupa sama aku? Tapi mama bukan tipe orang seperti itu, yang meninggalkan orang begitu saja tanpa alasan. Apa terjadi sesuatu sama mama," gumam Lili jenuh sendiri di sana. "Lebih baik aku susul saja. Ngapain juga aku di sini sendiri. Aku sengaja ke sini biar tidak sendiri. Tahu begini aku pergi shopping saja," lanjut Lili. Lili bangkit dari tempat duduk. Dia akan mencari keberadaan Miranda. *** Lili sudah bertanya pada pembantu yang kebetulan lewat. Katanya Miranda ada di ruang kerja Gilang. "Kenapa mama bisa lama di sana. Apa yang mama lakukan." Lili ingin ke lantai satu untuk mencari Miranda. Namun Miranda sudah duluan naik ke lantai dua kembali. "Mama, Mama dari mana saja? Kenapa Mama lama sekali? Lili sudah dari tadi menunggu Mama," tanya Lili mendekati Miranda. "Jangan panggil aku Mama lagi. Aku buka
Lili dengan segera kabur dari sana dan masuk ke dalam kamar Arka. Dia semakin takut dikejar oleh Riri. Dengan cepat dia bersembunyi di balik selimut Arka. Arka sedikit terganggu ketika Lili masuk ke dalam selimutnya. Kasur ikut bergoyang karena Lili naik dengan kasar ke atas kasur. "Mama," ucap Arka terkejut melihat Lili yang sudah menutup mata di sampingnya. Arka tersenyum kecil melihat Lili yang ada di sana. Dia dengan segera merapatkan diri ke pelukan Lili. Tangan kecilnya memegang pinggang Lili. Lili juga membalas memeluk Arka agar Arka tidak pergi dari sisinya. Kemudian Riri tidak bisa mengganggu tidurnya. *** Lili sengaja bermain ke tempat Miranda. Alex sudah dibawa pergi oleh Gilang dan David lagi. Kemudian mamanya juga sudah pergi untuk menemui teman-temannya. Sehingga hanya dia sendiri di rumah. Dia masih tidak berani tinggal sendiri di rumah, akhirnya dia memutuskan untuk ke rumah Miranda. Setidaknya, dia tidak sendiri di sana. "Tumben kamu main kesini? Kamu sudah la
Riri menghapus air mata yang berada di ujung ekor mata. Tidak tega melihat raut wajah Miranda yang merasa bersalah. Padahal dia juga tahu bukan dia yang sedang dimarahi. Tetap saja bawaannya mau menangis karena marah di depan dia. "Sudah, sekarang Mama kawanin kamu USG ya," bujuk Miranda kasihan
"Cincinnya bagus. Pasti cocok untuk Lili," ujar Riri memaksa tersenyum."Bukan, ini bukan untuk Lili," sahut Ansel."Bukan untuk Lili?" balas Riri dengan kening berkerut. Kalau bukan untuk Lili, untuk siapa lagi."Iya, kemarin kan kita nikah. Tidak ada cincin pernikahan sama sekali. Jadi aku membel
Azumi hanya bisa mengalah. Tidak protes lagi. Selama Lili ada kartu kredit milik Ansel, semua bisa dibeli. Walaupun sedikit disayangkan, ratusan juta hanya untuk tas. Bahkan hampir mencapai satu milyar."Mbak, ambil tas itu ""Baik Mbak. Sekali lagi kami ingatkan, kalau barang ini sudah disentuh, m
"Maaf, apa kamu lama menunggu aku?" tanya Riri menghampiri Ansel. "Nggak apa-apa kok. Aku juga sambil istirahat di sini. Kamu sudah selesai mainnya?" tanya Ansel sambil berdiri dari tempat duduk."Ah, iya. Sudah," sahut Riri menggaruk tekuk yang tidak gatal. Tidak enak dengan Ansel yang duduk send







