Beranda / Rumah Tangga / Dipaksa Menjadi Istri Musuhku / Bab 2: Persiapan Menyebalkan

Share

Bab 2: Persiapan Menyebalkan

Penulis: Jingjing
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-06 13:08:31

Beberapa saat setelah kepergian Viel, keheningan kembali menelan sel itu. Petra tidak langsung menangis. Ia hanya duduk memeluk lututnya, menunduk. Napasnya berat namun teratur. Kebencian terasa lebih hangat daripada air mata.

“Aku membencinya,” bisiknya pelan. Kali ini bukan sekedar keluhan yang sering dia gumam kan, ini sumpah.

Suara pintu terbuka kembali. Petra diam, kepalanya terangkat pelan menatap pintu dengan tajam. Matanya tidak lagi basah, kebencian menyelimutinya.

“Siapa?” Tanyanya dengan suara yang dingin.

Seorang wanita paruh baya berdiri diambang pintu. Posturnya tegak. Gaunnya rapi. Matanya menatap lurus ke arah Petra. Tatapan tenang namun tidak lembut. “Saya Christa. Kepala pelayan istana. Saya ditugaskan untuk mempersiapkan anda.”

Petra menyipitkan matanya, menatap tanpa berdiri. “Untuk apa?” Katanya bertanya.

“Untuk pernikahan anda dan Yang Mulia Grand Duke.”

Satu kalimat, satu tuntutan. Keadaan di sel itu langsung hening seperti ada hembusan angin dingin yang menerpa kulit Petra. Tatapan putri itu menegang, kali ini lebih kuat. “Aku tidak akan menikah,” balasnya datar.

Christa tidak tersinggung. Alih-alih itu, dia masih berdiri dengan posisi yang sama persis seperti sebelumnya. Menatap tenang. “Anda akan menikah, Nona Petra.”

"Pernikahan membutuhkan dua persetujuan.” Petra menyadarkan kepalanya ke dinding batu yang dingin. “Dan aku tidak memberikannya.”

“Persetujuan anda tidak termasuk dalam perintah perintah,” ujar Christa. Tidak kasar, justru terlalu profesional.

Petra bangkit perlahan. Ia berdiri meski gaunnya kotor dan rambutnya kusut. Tatapannya lurus dan tegas. “Aku bukan barang rampasan,” balasnya.

“Tidak,” jawab Petra.

“Anda adalah simbol.”

Kalimat itu membuat rahang Petra mengeras.

“Simbol penaklukan,” lanjut Christa tenang. “Dan simbol perdamaian.”

“Perdamaian yang dibangun di atas darah ayahku?” Mata Petra berkilat tajam. “Itu bukan perdamaian. Itu penghinaan.”

Christa menatapnya beberapa detik, seolah menilai. “Kita tidak punya banyak waktu. Silahkan ikut dengan sukarela, atau saya akan memerintahkan orang untuk membawa anda.”

Petra terdiam. Kedua tangannya mengepal kuat menahan amarah yang bisa meledak kapan saja, tapi dia tahu diri kalau dia tidak bisa menang untuk sekarang.

Christa mengangkat tangannya sekali. Tepukan singkat terdengar. Enam pelayan masuk dengan langkah tertatih. Mereka berjalan mendekati Petra.

Petra tidak meronta. Dia tidak berteriak. Ia hanya berkata pelan, namun cukup tajam untuk memotong udara: “Jangan sentuh aku.”

Ketika dua pelayan mencoba menggenggam lengannya, barulah ia menepis satu tangan dengan keras. Tatapannya membuat yang lain ragu. Suaranya tenang, namun sangat menusuk. “Aku bisa jalan sendiri,” katanya dingin.

Christa mengangguk tipis.

Perjalanan menuju pemandian dilewati dalam diam. Tatapan para tahanan lain mengikuti langkahnya. Petra merasakan panas malu yang menjalar, tetapi dagunya tetap terangkat. Ia tidak akan memberikan mereka pemandangan seorang putri yang runtuh.

Kolam pemandian telah disiapkan. Uap tipis naik dari air hangat adalah pemandangan pertama yang Petra lihat begitu mereka masuk.

“Silahkan,” ujar Christa.

Pelayan mendekat hendak membantu membuka pakaian Petra. Namun, Petra menatap tangan-tangan itu. Lalu dia berkata pelan, “keluar.”

Christa mengangkat alis.

“Aku masih tahu cara menanggalkan pakaianku sendiri,” ujar Petra datar.

Beberapa detik hening, lalu Christa memberi isyarat. Para pelayan langsung mundur.

Petra melepaskan gaunnya tanpa tergesa. Air hangat menyentuh kulitnya yang lama akrab dengan dingin batu. Ia menutup mata sejenak—bukan untuk menikmati, tapi untuk menguatkan diri.

Setelah selesai, ia dibawa ke kamar yang telah disiapkan. Tiga gaun pengantin berjajar di sana. Putih gading. Perak pucat. Biru lembut. Terlalu megah dan selaras dengan keagungan bangsawan Amborgio.

Christa berdiri di sampingnya. “Yang Mulia memilihkan sendiri ketiganya.”

Petra memandang gaun-gaun itu lama. Wajahnya tanpa ekspresi. Tidak meneliti setiap inti gaun, hanya menatap kosong. “Terlalu cerah,” ucapnya akhirnya.

“Nona?”

“Aku tidak sedang merayakan apa pun.”

Christa diam. Menunggu kalimat lanjutan dari Petra yang mungkin adalah jawaban dari gaun yang diinginkan.

“Siapkan gaun hitam,” kata Petra singkat.

Hening. Suasana kamar yang biasanya hening terasa lebih dingin. Para dayang diam. Sampai akhirnya, Christa kembali berbicara. “Itu warna berkabung.”

“Tepat.” Petra menatap pantulannya di cermin. “Kerajaanku telah mati. Ayahku telah mati. Dan hari ini, kebebasanku juga mati.”

Ia berdiri dari kursinya. “Jika ia memaksaku ke altar, maka ia akan berdiri di hadapan seorang wanita yang berkabung. Bukan pengantin.”

Christa mempelajarinya, menatap lama, mencoba memahami hati yang tidak bisa dibaca itu. “Anda yakin?”

Petra mengangkat dagu. “Biarkan seluruh istana tahu,” katanya pelan, “bahwa aku tidak pernah datang dengan sukarela.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Christa bergerak tipis. Bukan senyum. Lebih seperti pengakuan. “Baiklah, Nona Petra.”

Dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari sel, Petra merasa ia tidak sepenuhnya dipaksa. Ia memilih. Hitam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 10: Catur di Balik Bayangan

    Suatu malam, Petra tidak bisa tidur di kamarnya. Viel belum pulang karena kerjaan yang menumpuk, meninggalkan Petra sendirian di kamar mereka. Cahaya bulan datang, seharusnya menjadi pendukung tidur yang nyaman. Tapi suara-suara bisikan dan langkah kaki di luar kamarnya membuat Petra tidak bisa tidur. Terlalu bising, terlalu membuat Petra penasaran. “Ada apa sebenarnya?” Gumam Petra sembari menarik selimutnya turun. Dia yang awalnya berbaring langsung duduk, matanya fokus ke satu arah sementara dia mencoba menajamkan telinganya. Sebagai putri dari suatu kerajaan, Petra tidak bisa tidur jika berisik. Apalagi kalau ada samar-samar bisik-bisik yang terdengar, ia ingin mendengar pembahasan mereka lebih lanjut. Srak. Petra bangun dari ranjangnya, mengenakan sandal kamarnya dan berjalan dengan langkah yang pelan mendekati pintu keluar kamar mereka. Berbekal kebiasaannya saat kecil, Petra melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya tanpa ketahuan. “Bagus, tidak ada siapapun,” gumamnya l

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 9: Topeng Kesetiaan

    Suasana ruangan itu berbeda malam ini. Tidak ada denting perak dari belasan bangsawan atau bisik-bisik pelayan di sudut aula. Hanya ada sebuah meja kecil di dekat perapian kamar pribadi Viel, temaram cahaya lilin, dan keheningan yang menyesakkan.Petra berdiri di dekat jendela, menatap bayangannya sendiri di kaca sebelum berbalik saat mendengar langkah bot yang berat. Viel masuk, melepaskan jubah militernya yang berat, dan melemparkannya ke kursi tanpa mengalihkan pandangan dari Petra."Makan malam privat?" Viel mengangkat alis, bibirnya membentuk lengkungan tipis yang sarkastik. "Aku tidak menyangka kau akan mengundang 'pembunuh ayahmu' untuk makan malam yang begitu intim."Petra menarik napas panjang, menekan rasa mual yang muncul setiap kali ia mendengar suara pria itu. Ia melangkah maju, tangannya sedikit gemetar saat meraih botol anggur—sebuah detail yang sengaja ia tunjukkan agar terlihat rapuh."Aku lelah berperang dengan bayang-bayang, Jenderal," ucap Petra pelan, suaranya ter

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 8: Perpustakaan yang Terkunci

    Esok harinya, setelah Petra mendapatkan izin dari Viel untuk mengeksplorasi istana. Dia langsung bersiap dengan semangat yang baru. Artinya, dia bisa mencari celah-celah informasi dan rahasia fisik yang bisa digunakan untuk membalaskan dendamnya. Hari ini, dia mengenakan gaun yang lebih santai. Masih dengan gaun berwarna gelap, kali ini hijau tua. Dia berjalan-jalan di istana, diawasi oleh dua pengawal yang dari tadi sedang mengikutinya. “Bunganya indah,” celetuk Petra begitu melewati taman, mengetes reaksi para pengawal. Tapi karena ini adalah pengawal Amborgio yang di bawah kepemimpinan Viel persis, mereka sangat serius. Sepanjang Petra berjalan-jalan, dia hanya mendapatkan hal normal. Tapi ada satu hal yang sangat dia sadari untuk sekarang. Setelah berkeliling, Petra sadar kalau keamanan istana Viel sangat tidak masuk akal. Seolah-olah dia takut akan ada pengkhianatan dari dalam, batin Petra. Langkah kaki Petra yang diikuti dua pengawal itu berjalan menuju ruangan yang letakn

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 7: Langkah di Atas Kaca

    Malam ini adalah momen yang membuat Petra gugup. Pertemuan pertama Petra dengan para Jenderal bawahan Viel dan para bangsawan yang datang untuk memberikan “penghormatan”. Petra mengenakan gaun yang masih tidak jauh dengan kegelapan, warna biru tua yang gelap dan terkesan sangat dingin. Rambut keemasannya kontras dengan kegelapan. “Oh, menarik.” Petra menoleh, Viel sudah siap dengan seragam formalnya yang membentuk tubuhnya terlihat semakin jelas dan tegas. Warna hitam, tentu saja. Namun ada lencana biru yang entah mengapa selaras dengan gaun milik Petra. “Mari pergi,” katanya sambil mengulurkan tangan. Petra diam, dia menatap tangan itu lalu menerima uluran tangannya pelan. Dia sudah membuat kesepakatan kalau dia akan menjadi istri yang sempurna. Dia tidak bisa merusak kesepakatannya diawal seperti ini. Setelah merasakan tangan Petra, Viel tersenyum tipis. Ia membawa Petra melangkahkan menuju tempat dimana acara utama itu dilaksanakan. Aula Audiensi. Begitu pintu terbuka, selur

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 6: Cahaya Pagi yang Menghakimi

    Petra terbangun setelah semalaman berpikir. Dia menarik selimutnya pelan, bangun perlahan menatap ke sekeliling. Dia masih disana, di kamar Viel. Hanya saja, dia sendirian. Mata Petra sedikit menyipit saat mencoba memahaminya. Viel sudah pergi dari sebelum matahari terbit, dia adalah suami yang sibuk. Itu kalimat yang pernah Petra dengan dari Christa. “Jadi dia sudah pergi, baguslah.”Tidak ada yang dirugikan dengan kepergian Viel dari pagi buta. Justru Petra merasa senang, dia bisa sedikit bernapas lega untuk sekarang. Kaki kecilnya menapak di atas lantai marmer yang dingin, sejenak dia tersentak karena dinginnya. Matahari sudah naik, tapi kehangatan tidak mau masuk ke dalam celah kamar Viel. Seolah-olah, kamarnya saja membawa batasan yang dingin. “Asing,” gumam Petra lirih. Dia bangkir dari ranjangnya, hendak ke kamar mandi. Sebelumnya, dia berhenti. Matanya menatap sofa tempat Viel tidur kemarin, bau alkohol sudah menghilang. Entah Viel yang memerintah pelayan pagi-pagi buta u

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 5: Sangkar Emas yang Dingin

    Malamnya, Petra di pindahkan ke sayap utama istana. Dia hanya mengenakan gaun tidurnya yang tipis dan polos, membuat angin dingin masuk ke kulitnya. Tapi yang lebih menjadi masalah bukan anginnya, tapi kemana Petra akan pergi. “Jangan lengah, nona. Kamar anda masih jauh,” tegur Christa saat melihat Petra memandang taman. Petra hanya diam. “Nona?” panggil Christa lagi. Petra menoleh, dia menatap tenang. “Aku hanya menikmati pemandangan, Christa. Kau pikir aku akan kabur?” Tanyanya dengan nada yang sedikit meremehkan. Christa menggeleng pelan. “Saya tidak bilang begitu,” katanya tenang. Sama sekali tidak terpancing untuk mengeluarkan emosi aslinya. Hening. “Mari, nona.”Petra dan Christa berjalan menuju sayap utama tanpa sepatah kalimat lagi. Sayap utama istana terlihat lebih megah dan lebih sunyi. Interiornya tinggi dan megah namun gelap, khas Amborgio. Keheningan yang justru menyesakkan, dan figur lukisan yang seolah-olah menuntut. “Ini kamar anda,” katanya menunjuk pintu di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status