MasukHari pernikahan datang. Benar-benar satu hari setelah Petra dikeluarkan dari penjara. Ia hanya menatap lurus kosong, gumaman dendam masih ada
Christa benar-benar membawakan gaun hitam berbahan sutra berat. Sesuai dengan keinginan sang nona untuk hari pernikahan paling tidak diinginkan oleh sang mempelai wanita. “Ini gaunnya, nona.” Petra menoleh, membawa gaun hitam yang dibawakan oleh Christa dengan tatapan datar. “Bagus,” katanya singkat. Christa mengangguk tipis. Dia lantas memberikan kode pada para pelayan untuk membantu memakaikan sang nona gaun hitam pernikahannya. Mereka mendekat. Enam dari mereka bergerak lebih lambat dari biasanya karena gemetar. Gaun hitam dalam pernikahan, mereka tidak pernah menyentuh yang seperti ini sebelumnya. Ini terasa seperti kutukan. “Jangan gemetar,” ujar Petra pelan. Tidak ada nada yang mencoba menenangkan para pelayan, hanya datar. Dia hanya ingin segera selesai, tidak ada waktu untuk hal-hal yang tidak penting. “Anda terlihat menawan, nona,” ujar Christa dengan tenang. Lebih terasa seperti formalitas daripada pujian yang tulus. Petra menatap pantulan dirinya. Dia bahkan tidak peduli dengan penampilannya. Tapi gaun hitam ini memang menekankan ketidaksetujuan Petra terhadap pernikahan ini. Setelah selesai mengenakan gaun hitam. Christa mendekat, membawakan beragam perhiasan emas Ambrogio. “Silahkan pilih, nona.” Petra menatap perhiasan-perhiasan itu dalam diam. Emas itu terlihat cantik dan mahal, desainnya juga unik. Tapi itu tidak membuat Petra bahagia, itu adalah rantai lain yang akan mengingatkan dia pada keadaannya sekarang. “Tidak.” Christa mundur, bingung. “Kenapa, nona? Pengantin harus mengenakan perhiasan.” “Aku memakai perhiasan, cukup.” Christa menatap cincin kuno perak yang ada di jari Petra–peninggalan ibunya. Dari banyaknya perhiasan yang bisa dipakai, Petra hanya mengenakan perhiasan itu. Itu pun bukan perhiasan Ambrogio. “Hanya itu?” “Hanya ini,” ulang Petra tegas. Tidak ada yang berani menegur lebih. Mereka hanya bisa patuh. Christa pun langsung meletakan perhiasan-perhiasan itu kembali ke tempat semula. “Kalau begitu, anda sudah siap, nona. Mari kita ke altar,” katanya dengan senyuman formal andalannya. Petra hanya melangkahkan kakinya. Dia tidak menggenggam tangan siapapun, dia hanya menguatkan dirinya sendiri. Pintu terbuka. Petra tidak dibawa melalui pintu utama yang dipenuhi rakyat. Alih-alih suara rakyat, Petra justru dihadapkan dengan kesunyian. Mereka berjalan melewati lorong-lorong yang dijaga ketat. Jadi, ini semua disembunyikan, batin Petra. Ia menyadari bahwa pernikahan ini dirahasiakan publik dan politik sementara waktu untuk menghindari kerusuhan. “Tentu saja. Orang gila mana yang menikahi tawanan perangnya?” Gumam Petra lirih. Ternyata suaranya sempat terdengar oleh Christa. “Ya, nona?” “Tidak,” balas Petra singkat. Melanjutkan langkah kakinya tanpa membalas pertanyaan atau kalimat yang keluar dari salah satu dayang. Tak terasa, perjalan menuju altar tidak selama yang Petra perkiraan. Dia berhenti di depan pintu altar, kedua tangannya bertautan memberikan kekuatan dari dirinya dan untuk dirinya. Begitu pintu terbuka, Petra lagi-lagi dibuat bingung dengan pemandangan yang asing. Dia tahu pernikahan ini mungkin disembunyikan, tapi dia tidak menyangka di altar hanya ada pendeta, dirinya dan siluet Viel. Petra melangkahkan kakinya masuk, gaun hitamnya menyentuh lantai ketika dia masuk. Di samping-samping, Petra bisa merasakan ada banyak pengawal bayangan. Mata Petra menatap sekeliling, lalu kembali ke tengah ke arah pendeta tua yang sedang ketakutan. Sebenarnya, seberapa kuat kuasa Amborgio? Gumamnya dalam hati. Ruangan ini terlalu sunyi, para dayang juga tidak dipersilahkan masuk. Petra hanya bisa mendekat, melewati karpet merah yang asing. Siluet Viel yang berdiri di depan pendeta membuat Petra gugup dan marah secara bersamaan. Sampai Petra sempat mematung saat Viel berbalik menghadapnya. Matanya meneliti gaun hitam yang Petra kenakan, tidak menyangka. Petra meremas gaunnya, siap membalas perkataan Viel yang mungkin akan memarahinya karena mengenakan gaun hitam di acara pernikahan mereka. Namun, alih-alih marah, Viel justru memberikan tatapan intens yang sulit diartikan—antara geram dan kagum atas keberanian Petra. Tangannya terulur, hendak membantu Petra melangkahkan kakinya menaiki tangga altar agar sejajar dengannya. Tangannya sedikit menarik Petra mendekat, berbisik. “Kau datang untuk melayat, Petra?” Petra melepaskan genggaman tangan Viel begitu ia sudah sampai di depan pendeta tua. “Aku datang untuk menyaksikan kematian musuhku, meski itu dimulai dengan kematian diriku sendiri,” balasnya datar tanpa menoleh sedikitpun.Suatu malam, Petra tidak bisa tidur di kamarnya. Viel belum pulang karena kerjaan yang menumpuk, meninggalkan Petra sendirian di kamar mereka. Cahaya bulan datang, seharusnya menjadi pendukung tidur yang nyaman. Tapi suara-suara bisikan dan langkah kaki di luar kamarnya membuat Petra tidak bisa tidur. Terlalu bising, terlalu membuat Petra penasaran. “Ada apa sebenarnya?” Gumam Petra sembari menarik selimutnya turun. Dia yang awalnya berbaring langsung duduk, matanya fokus ke satu arah sementara dia mencoba menajamkan telinganya. Sebagai putri dari suatu kerajaan, Petra tidak bisa tidur jika berisik. Apalagi kalau ada samar-samar bisik-bisik yang terdengar, ia ingin mendengar pembahasan mereka lebih lanjut. Srak. Petra bangun dari ranjangnya, mengenakan sandal kamarnya dan berjalan dengan langkah yang pelan mendekati pintu keluar kamar mereka. Berbekal kebiasaannya saat kecil, Petra melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya tanpa ketahuan. “Bagus, tidak ada siapapun,” gumamnya l
Suasana ruangan itu berbeda malam ini. Tidak ada denting perak dari belasan bangsawan atau bisik-bisik pelayan di sudut aula. Hanya ada sebuah meja kecil di dekat perapian kamar pribadi Viel, temaram cahaya lilin, dan keheningan yang menyesakkan.Petra berdiri di dekat jendela, menatap bayangannya sendiri di kaca sebelum berbalik saat mendengar langkah bot yang berat. Viel masuk, melepaskan jubah militernya yang berat, dan melemparkannya ke kursi tanpa mengalihkan pandangan dari Petra."Makan malam privat?" Viel mengangkat alis, bibirnya membentuk lengkungan tipis yang sarkastik. "Aku tidak menyangka kau akan mengundang 'pembunuh ayahmu' untuk makan malam yang begitu intim."Petra menarik napas panjang, menekan rasa mual yang muncul setiap kali ia mendengar suara pria itu. Ia melangkah maju, tangannya sedikit gemetar saat meraih botol anggur—sebuah detail yang sengaja ia tunjukkan agar terlihat rapuh."Aku lelah berperang dengan bayang-bayang, Jenderal," ucap Petra pelan, suaranya ter
Esok harinya, setelah Petra mendapatkan izin dari Viel untuk mengeksplorasi istana. Dia langsung bersiap dengan semangat yang baru. Artinya, dia bisa mencari celah-celah informasi dan rahasia fisik yang bisa digunakan untuk membalaskan dendamnya. Hari ini, dia mengenakan gaun yang lebih santai. Masih dengan gaun berwarna gelap, kali ini hijau tua. Dia berjalan-jalan di istana, diawasi oleh dua pengawal yang dari tadi sedang mengikutinya. “Bunganya indah,” celetuk Petra begitu melewati taman, mengetes reaksi para pengawal. Tapi karena ini adalah pengawal Amborgio yang di bawah kepemimpinan Viel persis, mereka sangat serius. Sepanjang Petra berjalan-jalan, dia hanya mendapatkan hal normal. Tapi ada satu hal yang sangat dia sadari untuk sekarang. Setelah berkeliling, Petra sadar kalau keamanan istana Viel sangat tidak masuk akal. Seolah-olah dia takut akan ada pengkhianatan dari dalam, batin Petra. Langkah kaki Petra yang diikuti dua pengawal itu berjalan menuju ruangan yang letakn
Malam ini adalah momen yang membuat Petra gugup. Pertemuan pertama Petra dengan para Jenderal bawahan Viel dan para bangsawan yang datang untuk memberikan “penghormatan”. Petra mengenakan gaun yang masih tidak jauh dengan kegelapan, warna biru tua yang gelap dan terkesan sangat dingin. Rambut keemasannya kontras dengan kegelapan. “Oh, menarik.” Petra menoleh, Viel sudah siap dengan seragam formalnya yang membentuk tubuhnya terlihat semakin jelas dan tegas. Warna hitam, tentu saja. Namun ada lencana biru yang entah mengapa selaras dengan gaun milik Petra. “Mari pergi,” katanya sambil mengulurkan tangan. Petra diam, dia menatap tangan itu lalu menerima uluran tangannya pelan. Dia sudah membuat kesepakatan kalau dia akan menjadi istri yang sempurna. Dia tidak bisa merusak kesepakatannya diawal seperti ini. Setelah merasakan tangan Petra, Viel tersenyum tipis. Ia membawa Petra melangkahkan menuju tempat dimana acara utama itu dilaksanakan. Aula Audiensi. Begitu pintu terbuka, selur
Petra terbangun setelah semalaman berpikir. Dia menarik selimutnya pelan, bangun perlahan menatap ke sekeliling. Dia masih disana, di kamar Viel. Hanya saja, dia sendirian. Mata Petra sedikit menyipit saat mencoba memahaminya. Viel sudah pergi dari sebelum matahari terbit, dia adalah suami yang sibuk. Itu kalimat yang pernah Petra dengan dari Christa. “Jadi dia sudah pergi, baguslah.”Tidak ada yang dirugikan dengan kepergian Viel dari pagi buta. Justru Petra merasa senang, dia bisa sedikit bernapas lega untuk sekarang. Kaki kecilnya menapak di atas lantai marmer yang dingin, sejenak dia tersentak karena dinginnya. Matahari sudah naik, tapi kehangatan tidak mau masuk ke dalam celah kamar Viel. Seolah-olah, kamarnya saja membawa batasan yang dingin. “Asing,” gumam Petra lirih. Dia bangkir dari ranjangnya, hendak ke kamar mandi. Sebelumnya, dia berhenti. Matanya menatap sofa tempat Viel tidur kemarin, bau alkohol sudah menghilang. Entah Viel yang memerintah pelayan pagi-pagi buta u
Malamnya, Petra di pindahkan ke sayap utama istana. Dia hanya mengenakan gaun tidurnya yang tipis dan polos, membuat angin dingin masuk ke kulitnya. Tapi yang lebih menjadi masalah bukan anginnya, tapi kemana Petra akan pergi. “Jangan lengah, nona. Kamar anda masih jauh,” tegur Christa saat melihat Petra memandang taman. Petra hanya diam. “Nona?” panggil Christa lagi. Petra menoleh, dia menatap tenang. “Aku hanya menikmati pemandangan, Christa. Kau pikir aku akan kabur?” Tanyanya dengan nada yang sedikit meremehkan. Christa menggeleng pelan. “Saya tidak bilang begitu,” katanya tenang. Sama sekali tidak terpancing untuk mengeluarkan emosi aslinya. Hening. “Mari, nona.”Petra dan Christa berjalan menuju sayap utama tanpa sepatah kalimat lagi. Sayap utama istana terlihat lebih megah dan lebih sunyi. Interiornya tinggi dan megah namun gelap, khas Amborgio. Keheningan yang justru menyesakkan, dan figur lukisan yang seolah-olah menuntut. “Ini kamar anda,” katanya menunjuk pintu di







