Accueil / Rumah Tangga / Dipaksa Menjadi Istri Musuhku / Bab 7: Langkah di Atas Kaca

Share

Bab 7: Langkah di Atas Kaca

Auteur: Jingjing
last update Dernière mise à jour: 2026-02-07 08:46:23

Malam ini adalah momen yang membuat Petra gugup. Pertemuan pertama Petra dengan para Jenderal bawahan Viel dan para bangsawan yang datang untuk memberikan “penghormatan”.

Petra mengenakan gaun yang masih tidak jauh dengan kegelapan, warna biru tua yang gelap dan terkesan sangat dingin. Rambut keemasannya kontras dengan kegelapan.

“Oh, menarik.”

Petra menoleh, Viel sudah siap dengan seragam formalnya yang membentuk tubuhnya terlihat semakin jelas dan tegas. Warna hitam, tentu saja. Namun ada lencana biru yang entah mengapa selaras dengan gaun milik Petra.

“Mari pergi,” katanya sambil mengulurkan tangan.

Petra diam, dia menatap tangan itu lalu menerima uluran tangannya pelan. Dia sudah membuat kesepakatan kalau dia akan menjadi istri yang sempurna. Dia tidak bisa merusak kesepakatannya diawal seperti ini.

Setelah merasakan tangan Petra, Viel tersenyum tipis. Ia membawa Petra melangkahkan menuju tempat dimana acara utama itu dilaksanakan. Aula Audiensi.

Begitu pintu terbuka, seluruh mata yang didominasi oleh pria memandang Viel dan Petra. Tatapan mereka beragam, ada banyak yang merendahkan, ada juga yang tidak bisa diartikan.

Para jendral yang sudah menunggu menyunggingkan senyumannya ketika Viel datang. Mata mereka menatap Petra bukan sebagai manusia, tapi sebagai “Piala Perang”.

Langkah kaki mereka menggema di lantai marmer yang dipoles hingga mengkilap. Viel menarik kursi utama untuk Petra dengan gerakan yang tampak sopan di mata orang awam, namun terasa seperti tekanan bagi Petra. Begitu ia duduk, suasana berubah mencekam.

Seorang jenderal muda dengan bekas luka di pipinya—Jenderal Kovar—berdiri sambil mengangkat cawan anggurnya tinggi-tinggi. Matanya yang merah menatap Petra dengan binar menghina.

"Selamat atas pernikahan Anda, Jenderal Amborgio," suara Kovar serak dan keras. "Saya tidak menyangka piala perang yang Anda bawa dari reruntuhan Kerajaan Petra ternyata masih memiliki duri yang indah. Meskipun, ya... duri itu tidak berguna ketika tembok pertahanan mereka runtuh seperti pasir ditiup angin dalam satu malam."

Tawa rendah pecah di sudut ruangan. Beberapa bangsawan menutup mulut dengan kipas, membisikkan kata 'lemah' dan 'memalukan'.

Petra merasakan darahnya mendidih. Ia melirik Viel di sampingnya. Pria itu justru bersandar santai di kursinya, menyilangkan kaki, dan menyesap anggur tanpa niat membela. Matanya yang tajam menatap Petra seolah berkata, 'Tunjukkan padaku, apakah kau layak menyandang gelar Duchess-ku.'

Petra menarik napas dalam, menegakkan punggungnya hingga dagunya terangkat sempurna. Ia tidak menatap cawan anggur itu, ia menatap langsung ke mata Kovar.

"Jenderal Kovar, jika saya tidak salah ingat dari catatan arsip ayah saya," suara Petra tenang, namun memiliki daya tembus yang luar biasa di ruangan yang mendadak sunyi itu. "Anda adalah komandan yang memimpin Divisi Ketiga di perbatasan lembah sungai dua tahun lalu, bukan?"

Kovar mengernyit, senyumnya sedikit memudar. "Benar. Lalu?"

"Lalu, Anda kehilangan hampir separuh pasukan karena terjebak dalam formasi 'Sayap Patah' yang dirancang oleh ayah saya. Anda tertahan selama empat belas hari oleh pasukan yang jumlahnya hanya sepertiga dari pasukan Anda," Petra menjeda sejenak, memberikan senyum yang lebih dingin dari es.

"Ayah saya tidak kalah karena taktik Anda atau para jenderal di sini. Beliau kalah karena strategi pengepungan Jenderal Viel yang sangat efisien—yang saya akui, jauh di atas standar rata-rata jenderal Amborgio lainnya. Jadi, jika Anda menyebut kerajaan saya runtuh seperti pasir, bukankah itu berarti Anda mengakui bahwa butuh waktu dua minggu bagi Anda hanya untuk menyingkirkan seonggok pasir?"

Hening yang mematikan menyelimuti aula. Kovar memerah padam, tangannya yang memegang cawan bergetar karena amarah dan malu. Di sisi lain, para bangsawan mulai saling lirik, terkejut mendengar seorang 'tawanan' memiliki ingatan militer seakurat itu.

Viel meletakkan cawannya ke meja. Dentuman kecil itu seolah menjadi tanda berakhirnya ronde pertama. Ia menoleh ke arah Petra, dan untuk pertama kalinya, Petra melihat kilatan kepuasan di mata suaminya. Viel memberikan senyum tipis—hampir tak terlihat, namun penuh pengakuan.

"Duduklah, Kovar," suara Viel terdengar rendah namun penuh otoritas. "Kau sudah kalah telak dalam perdebatan ini. Istriku benar. Jika kau punya waktu untuk menghina sejarah, lebih baik gunakan waktu itu untuk belajar taktik agar divisi-mu tidak memalukan namaku lagi."

Kovar duduk dengan kasar, tidak berani membantah Viel.

Petra menggenggam jemarinya di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia merasakan sebuah kekuatan baru. Viel memang telah merampas kerajaannya, mahkotanya, dan kebebasannya. Namun, dia tidak bisa merampas kecerdasan yang telah ditanamkan ayahnya sejak kecil.

Mulai sekarang, batin Petra sambil menatap para musuhnya satu per satu, aku tidak akan membiarkan lidah kalian menyentuh martabatku lagi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 10: Catur di Balik Bayangan

    Suatu malam, Petra tidak bisa tidur di kamarnya. Viel belum pulang karena kerjaan yang menumpuk, meninggalkan Petra sendirian di kamar mereka. Cahaya bulan datang, seharusnya menjadi pendukung tidur yang nyaman. Tapi suara-suara bisikan dan langkah kaki di luar kamarnya membuat Petra tidak bisa tidur. Terlalu bising, terlalu membuat Petra penasaran. “Ada apa sebenarnya?” Gumam Petra sembari menarik selimutnya turun. Dia yang awalnya berbaring langsung duduk, matanya fokus ke satu arah sementara dia mencoba menajamkan telinganya. Sebagai putri dari suatu kerajaan, Petra tidak bisa tidur jika berisik. Apalagi kalau ada samar-samar bisik-bisik yang terdengar, ia ingin mendengar pembahasan mereka lebih lanjut. Srak. Petra bangun dari ranjangnya, mengenakan sandal kamarnya dan berjalan dengan langkah yang pelan mendekati pintu keluar kamar mereka. Berbekal kebiasaannya saat kecil, Petra melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya tanpa ketahuan. “Bagus, tidak ada siapapun,” gumamnya l

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 9: Topeng Kesetiaan

    Suasana ruangan itu berbeda malam ini. Tidak ada denting perak dari belasan bangsawan atau bisik-bisik pelayan di sudut aula. Hanya ada sebuah meja kecil di dekat perapian kamar pribadi Viel, temaram cahaya lilin, dan keheningan yang menyesakkan.Petra berdiri di dekat jendela, menatap bayangannya sendiri di kaca sebelum berbalik saat mendengar langkah bot yang berat. Viel masuk, melepaskan jubah militernya yang berat, dan melemparkannya ke kursi tanpa mengalihkan pandangan dari Petra."Makan malam privat?" Viel mengangkat alis, bibirnya membentuk lengkungan tipis yang sarkastik. "Aku tidak menyangka kau akan mengundang 'pembunuh ayahmu' untuk makan malam yang begitu intim."Petra menarik napas panjang, menekan rasa mual yang muncul setiap kali ia mendengar suara pria itu. Ia melangkah maju, tangannya sedikit gemetar saat meraih botol anggur—sebuah detail yang sengaja ia tunjukkan agar terlihat rapuh."Aku lelah berperang dengan bayang-bayang, Jenderal," ucap Petra pelan, suaranya ter

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 8: Perpustakaan yang Terkunci

    Esok harinya, setelah Petra mendapatkan izin dari Viel untuk mengeksplorasi istana. Dia langsung bersiap dengan semangat yang baru. Artinya, dia bisa mencari celah-celah informasi dan rahasia fisik yang bisa digunakan untuk membalaskan dendamnya. Hari ini, dia mengenakan gaun yang lebih santai. Masih dengan gaun berwarna gelap, kali ini hijau tua. Dia berjalan-jalan di istana, diawasi oleh dua pengawal yang dari tadi sedang mengikutinya. “Bunganya indah,” celetuk Petra begitu melewati taman, mengetes reaksi para pengawal. Tapi karena ini adalah pengawal Amborgio yang di bawah kepemimpinan Viel persis, mereka sangat serius. Sepanjang Petra berjalan-jalan, dia hanya mendapatkan hal normal. Tapi ada satu hal yang sangat dia sadari untuk sekarang. Setelah berkeliling, Petra sadar kalau keamanan istana Viel sangat tidak masuk akal. Seolah-olah dia takut akan ada pengkhianatan dari dalam, batin Petra. Langkah kaki Petra yang diikuti dua pengawal itu berjalan menuju ruangan yang letakn

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 7: Langkah di Atas Kaca

    Malam ini adalah momen yang membuat Petra gugup. Pertemuan pertama Petra dengan para Jenderal bawahan Viel dan para bangsawan yang datang untuk memberikan “penghormatan”. Petra mengenakan gaun yang masih tidak jauh dengan kegelapan, warna biru tua yang gelap dan terkesan sangat dingin. Rambut keemasannya kontras dengan kegelapan. “Oh, menarik.” Petra menoleh, Viel sudah siap dengan seragam formalnya yang membentuk tubuhnya terlihat semakin jelas dan tegas. Warna hitam, tentu saja. Namun ada lencana biru yang entah mengapa selaras dengan gaun milik Petra. “Mari pergi,” katanya sambil mengulurkan tangan. Petra diam, dia menatap tangan itu lalu menerima uluran tangannya pelan. Dia sudah membuat kesepakatan kalau dia akan menjadi istri yang sempurna. Dia tidak bisa merusak kesepakatannya diawal seperti ini. Setelah merasakan tangan Petra, Viel tersenyum tipis. Ia membawa Petra melangkahkan menuju tempat dimana acara utama itu dilaksanakan. Aula Audiensi. Begitu pintu terbuka, selur

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 6: Cahaya Pagi yang Menghakimi

    Petra terbangun setelah semalaman berpikir. Dia menarik selimutnya pelan, bangun perlahan menatap ke sekeliling. Dia masih disana, di kamar Viel. Hanya saja, dia sendirian. Mata Petra sedikit menyipit saat mencoba memahaminya. Viel sudah pergi dari sebelum matahari terbit, dia adalah suami yang sibuk. Itu kalimat yang pernah Petra dengan dari Christa. “Jadi dia sudah pergi, baguslah.”Tidak ada yang dirugikan dengan kepergian Viel dari pagi buta. Justru Petra merasa senang, dia bisa sedikit bernapas lega untuk sekarang. Kaki kecilnya menapak di atas lantai marmer yang dingin, sejenak dia tersentak karena dinginnya. Matahari sudah naik, tapi kehangatan tidak mau masuk ke dalam celah kamar Viel. Seolah-olah, kamarnya saja membawa batasan yang dingin. “Asing,” gumam Petra lirih. Dia bangkir dari ranjangnya, hendak ke kamar mandi. Sebelumnya, dia berhenti. Matanya menatap sofa tempat Viel tidur kemarin, bau alkohol sudah menghilang. Entah Viel yang memerintah pelayan pagi-pagi buta u

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 5: Sangkar Emas yang Dingin

    Malamnya, Petra di pindahkan ke sayap utama istana. Dia hanya mengenakan gaun tidurnya yang tipis dan polos, membuat angin dingin masuk ke kulitnya. Tapi yang lebih menjadi masalah bukan anginnya, tapi kemana Petra akan pergi. “Jangan lengah, nona. Kamar anda masih jauh,” tegur Christa saat melihat Petra memandang taman. Petra hanya diam. “Nona?” panggil Christa lagi. Petra menoleh, dia menatap tenang. “Aku hanya menikmati pemandangan, Christa. Kau pikir aku akan kabur?” Tanyanya dengan nada yang sedikit meremehkan. Christa menggeleng pelan. “Saya tidak bilang begitu,” katanya tenang. Sama sekali tidak terpancing untuk mengeluarkan emosi aslinya. Hening. “Mari, nona.”Petra dan Christa berjalan menuju sayap utama tanpa sepatah kalimat lagi. Sayap utama istana terlihat lebih megah dan lebih sunyi. Interiornya tinggi dan megah namun gelap, khas Amborgio. Keheningan yang justru menyesakkan, dan figur lukisan yang seolah-olah menuntut. “Ini kamar anda,” katanya menunjuk pintu di

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status