Beranda / Rumah Tangga / Dipaksa Menjadi Istri Musuhku / Bab 6: Cahaya Pagi yang Menghakimi

Share

Bab 6: Cahaya Pagi yang Menghakimi

Penulis: Jingjing
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-06 13:11:35

Petra terbangun setelah semalaman berpikir. Dia menarik selimutnya pelan, bangun perlahan menatap ke sekeliling. Dia masih disana, di kamar Viel. Hanya saja, dia sendirian.

Mata Petra sedikit menyipit saat mencoba memahaminya. Viel sudah pergi dari sebelum matahari terbit, dia adalah suami yang sibuk. Itu kalimat yang pernah Petra dengan dari Christa.

“Jadi dia sudah pergi, baguslah.”

Tidak ada yang dirugikan dengan kepergian Viel dari pagi buta. Justru Petra merasa senang, dia bisa sedikit bernapas lega untuk sekarang.

Kaki kecilnya menapak di atas lantai marmer yang dingin, sejenak dia tersentak karena dinginnya. Matahari sudah naik, tapi kehangatan tidak mau masuk ke dalam celah kamar Viel. Seolah-olah, kamarnya saja membawa batasan yang dingin.

“Asing,” gumam Petra lirih.

Dia bangkir dari ranjangnya, hendak ke kamar mandi. Sebelumnya, dia berhenti. Matanya menatap sofa tempat Viel tidur kemarin, bau alkohol sudah menghilang. Entah Viel yang memerintah pelayan pagi-pagi buta untuk menghilangkan bau nya, atau tidak.

Tok. Tok. Tok.

Petra terdiam. Kakinya berhenti. Dia menoleh ke pintu kamarnya, seseorang mendorong dan masuk. Itu Christa.

“Selamat pagi, nona. Pelayan-pelayan anda akan menghangatkan air dan membantu anda mandi,” katanya diikuti langkah para dayang yang masuk ke kamar mandi.

Petra hanya menatap, lagi-lagi tidak membalas.

“Anda suka aroma sabun yang seperti apa, nona?” tanya Christa lagi setelah salah satu dayang tidak berani membalas langsung.

“Bau apapun yang menyengat, bunga melati mungkin,” balasnya datar.

Setelah mempersiapkan air hangat, Petra dituntun masuk ke dalam bak mandinya. Sama seperti kemarin-kemarin, dia tidak suka dibantu. Christa dan para dayang hanya bisa menunggu dan mematuhinya.

Petra selesai mandi. Christa membuka lemari untuknya. Ada banyak pilihan gaun yang berwarna terang, kontras dengan interior Amborgio yang serba gelap. Ada warna putih sampai kuning secerah matahari pagi.

“Silahkan, yang mulia,” ujar Christa.

“Aku tidak suka gaun dengan warna yang mencolok,” katanya menatap gaun-gaun itu dengan tatapan datar.

Christa tersenyum tipis, jenis senyum yang sudah tahu kalau hal ini akan terjadi. “Tapi, nona. Warna melambangkan kebahagiaan. Sudah lama tidak ada yang memberikan warna di istana ini. Semua grand duches dulu melakukan hal yang sama.”

“Tapi aku tidak seperti Grand Duches yang dulu,” potong Petra dingin.

“Anda sama, yang mulia. Anda tidak berhak—”

“Tidak.”

Petra memotong kalimat Christa dengan dingin. Membuat kepala pelayan itu membeku dan terdiam. “Baiklah kalau itu mau Anda,” katanya.

Christa membawakan gaun-gaun lain. Kali ini bercorak agak gelap, tidak seperti gaun berkabung. Dari banyaknya jejeran gaun berwarna navy sampai coklat, Petra memilih yang berwarna abu-abu.

“Pilihan yang bagus, yang mulia,” puji Christa formal, seperti biasanya.

Petra tidak membalas.

Dengan dibantu para pelayan, Petra memakai gaun berwarna abu-abu haja yang pas di tubuhnya. Memang bukan warna berkabung seperti sedia kala, tapi warna ini memberikan kesan bahwa dia adalah “pedang yang disembunyikan”.

“Mari, yang mulia. Sudah waktunya Anda sarapan.”

Karena Viel memang sudah berangkat bekerja dari sebelum matahari terbit, Petra sarapan sendirian. Dia duduk di ujung meja panjang sendirian sementara telinganya mendengar setiap bisik-bisikan yang para pelayan ucapkan tentang nya.

Menu sarapan di meja makan masih sama seperti kemarin malam, masakan dari kerajaan Petra. Sepertinya mereka memang benar-benar sedang merendahkan Petra.

Petra menggenggam garpu dan pisaunya. Dia tidak suka direndahkan, tapi dia juga harus makan. Meski rasanya mual karena makan saja harus dibumbui bisik-bisik yang menyuarakan nya.

“Lihat, bisa-bisanya dia makan dengan tenang begitu. Dia tidak lain hanya seorang tawanan yang dijadikan istri.”

“Kau benar. Entah sihir apa yang digunakan untuk mengikat tuan Duke.”

“Kalau dilihat-lihat, dia menyebalkan.”

Dan masih ada banyak bisikan yang sengaja dikeluarkan hanya agar Petra bisa mendengar mereka dengan jelas.

Alih-alih terusik, Petra mulai menikmati makanannya dalam diam. Para pelayan berdiri di sekitarnya, beberapa berbisik dan Petra tidak peduli.

“Lihat, dia—”

Salah satu pelayan tertangkap mata tajam Petra saat dia hendak membicarakan nya. Sang Grand Duches sebenarnya hanya melirik, tapi itu benar-benar berdampak. Pelayan itu seketika mematung, dia langsung menunduk.

Petra memang hanya tawanan, tapi dia tidak hanya bisa menangis. Dia bisa melawan, dan itu janjinya.

Ini sarang musuh. Petra tidak kaget kenapa banyak yang membicarakannya. Bagi orang-orang di Amborgio ini, dia hanya “tontonan eksotis”. Sesuatu yang bisa menjadi bahan pembicaraan mereka setelah bertahun-tahun dilanda kesepian.

Satu tatapan mata Petra ternyata bisa membungkam para pelayan itu. Mereka semua yang tadinya berani berbisik kini hanya menunduk, mencoba sopan. Tidak mau dihukum Viel.

Mata Petra menyipit, dia sadar ada yang benar-benar takut kepada Petra. Bukan karena takut dihukum Viel, tapi memang takut kepada Petra.

Dia gadis muda, sepertinya pelayan baru. Tangannya gemetaran. Jangan membicarakan Petra, menatapnya saja gadis itu tidak bisa. Dia terlalu takut.

Petra tersenyum tipis, menatapnya. “Kemarilah,” panggilnya.

Satu panggilan Petra sukses membuat para pelayan lain menegang, memikirkan berbagai rencana buruk yang mungkin akan Petra lakukan pada pelayan muda itu.

Namun Petra tidak melakukan nya, dia malah tersenyum. Senyum yang seolah mengatakan “aku tidak hanya pajangan yang ditakutkan”. Sambil menikmati tatapan para pelayan lain, Petra membuka suaranya kembali. “Siapa namamu?”

Gadis itu bergetar, tidak berani menatap Petra. “R-rivera.”

Tangan Petra terangkat, menepuk kepala gadis itu dengan satu tepukan yang sangat singkat. Tapi dampaknya besar, baik bagi Rivera maupun pelayan lainnya. “Nama yang bagus,” katanya.

Petra tidak melakukan itu dengan percuma. Wajahnya tersenyum, tetapi kepalanya sedang mencatat siapa saja yang bisa dipengaruhi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 10: Catur di Balik Bayangan

    Suatu malam, Petra tidak bisa tidur di kamarnya. Viel belum pulang karena kerjaan yang menumpuk, meninggalkan Petra sendirian di kamar mereka. Cahaya bulan datang, seharusnya menjadi pendukung tidur yang nyaman. Tapi suara-suara bisikan dan langkah kaki di luar kamarnya membuat Petra tidak bisa tidur. Terlalu bising, terlalu membuat Petra penasaran. “Ada apa sebenarnya?” Gumam Petra sembari menarik selimutnya turun. Dia yang awalnya berbaring langsung duduk, matanya fokus ke satu arah sementara dia mencoba menajamkan telinganya. Sebagai putri dari suatu kerajaan, Petra tidak bisa tidur jika berisik. Apalagi kalau ada samar-samar bisik-bisik yang terdengar, ia ingin mendengar pembahasan mereka lebih lanjut. Srak. Petra bangun dari ranjangnya, mengenakan sandal kamarnya dan berjalan dengan langkah yang pelan mendekati pintu keluar kamar mereka. Berbekal kebiasaannya saat kecil, Petra melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya tanpa ketahuan. “Bagus, tidak ada siapapun,” gumamnya l

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 9: Topeng Kesetiaan

    Suasana ruangan itu berbeda malam ini. Tidak ada denting perak dari belasan bangsawan atau bisik-bisik pelayan di sudut aula. Hanya ada sebuah meja kecil di dekat perapian kamar pribadi Viel, temaram cahaya lilin, dan keheningan yang menyesakkan.Petra berdiri di dekat jendela, menatap bayangannya sendiri di kaca sebelum berbalik saat mendengar langkah bot yang berat. Viel masuk, melepaskan jubah militernya yang berat, dan melemparkannya ke kursi tanpa mengalihkan pandangan dari Petra."Makan malam privat?" Viel mengangkat alis, bibirnya membentuk lengkungan tipis yang sarkastik. "Aku tidak menyangka kau akan mengundang 'pembunuh ayahmu' untuk makan malam yang begitu intim."Petra menarik napas panjang, menekan rasa mual yang muncul setiap kali ia mendengar suara pria itu. Ia melangkah maju, tangannya sedikit gemetar saat meraih botol anggur—sebuah detail yang sengaja ia tunjukkan agar terlihat rapuh."Aku lelah berperang dengan bayang-bayang, Jenderal," ucap Petra pelan, suaranya ter

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 8: Perpustakaan yang Terkunci

    Esok harinya, setelah Petra mendapatkan izin dari Viel untuk mengeksplorasi istana. Dia langsung bersiap dengan semangat yang baru. Artinya, dia bisa mencari celah-celah informasi dan rahasia fisik yang bisa digunakan untuk membalaskan dendamnya. Hari ini, dia mengenakan gaun yang lebih santai. Masih dengan gaun berwarna gelap, kali ini hijau tua. Dia berjalan-jalan di istana, diawasi oleh dua pengawal yang dari tadi sedang mengikutinya. “Bunganya indah,” celetuk Petra begitu melewati taman, mengetes reaksi para pengawal. Tapi karena ini adalah pengawal Amborgio yang di bawah kepemimpinan Viel persis, mereka sangat serius. Sepanjang Petra berjalan-jalan, dia hanya mendapatkan hal normal. Tapi ada satu hal yang sangat dia sadari untuk sekarang. Setelah berkeliling, Petra sadar kalau keamanan istana Viel sangat tidak masuk akal. Seolah-olah dia takut akan ada pengkhianatan dari dalam, batin Petra. Langkah kaki Petra yang diikuti dua pengawal itu berjalan menuju ruangan yang letakn

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 7: Langkah di Atas Kaca

    Malam ini adalah momen yang membuat Petra gugup. Pertemuan pertama Petra dengan para Jenderal bawahan Viel dan para bangsawan yang datang untuk memberikan “penghormatan”. Petra mengenakan gaun yang masih tidak jauh dengan kegelapan, warna biru tua yang gelap dan terkesan sangat dingin. Rambut keemasannya kontras dengan kegelapan. “Oh, menarik.” Petra menoleh, Viel sudah siap dengan seragam formalnya yang membentuk tubuhnya terlihat semakin jelas dan tegas. Warna hitam, tentu saja. Namun ada lencana biru yang entah mengapa selaras dengan gaun milik Petra. “Mari pergi,” katanya sambil mengulurkan tangan. Petra diam, dia menatap tangan itu lalu menerima uluran tangannya pelan. Dia sudah membuat kesepakatan kalau dia akan menjadi istri yang sempurna. Dia tidak bisa merusak kesepakatannya diawal seperti ini. Setelah merasakan tangan Petra, Viel tersenyum tipis. Ia membawa Petra melangkahkan menuju tempat dimana acara utama itu dilaksanakan. Aula Audiensi. Begitu pintu terbuka, selur

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 6: Cahaya Pagi yang Menghakimi

    Petra terbangun setelah semalaman berpikir. Dia menarik selimutnya pelan, bangun perlahan menatap ke sekeliling. Dia masih disana, di kamar Viel. Hanya saja, dia sendirian. Mata Petra sedikit menyipit saat mencoba memahaminya. Viel sudah pergi dari sebelum matahari terbit, dia adalah suami yang sibuk. Itu kalimat yang pernah Petra dengan dari Christa. “Jadi dia sudah pergi, baguslah.”Tidak ada yang dirugikan dengan kepergian Viel dari pagi buta. Justru Petra merasa senang, dia bisa sedikit bernapas lega untuk sekarang. Kaki kecilnya menapak di atas lantai marmer yang dingin, sejenak dia tersentak karena dinginnya. Matahari sudah naik, tapi kehangatan tidak mau masuk ke dalam celah kamar Viel. Seolah-olah, kamarnya saja membawa batasan yang dingin. “Asing,” gumam Petra lirih. Dia bangkir dari ranjangnya, hendak ke kamar mandi. Sebelumnya, dia berhenti. Matanya menatap sofa tempat Viel tidur kemarin, bau alkohol sudah menghilang. Entah Viel yang memerintah pelayan pagi-pagi buta u

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 5: Sangkar Emas yang Dingin

    Malamnya, Petra di pindahkan ke sayap utama istana. Dia hanya mengenakan gaun tidurnya yang tipis dan polos, membuat angin dingin masuk ke kulitnya. Tapi yang lebih menjadi masalah bukan anginnya, tapi kemana Petra akan pergi. “Jangan lengah, nona. Kamar anda masih jauh,” tegur Christa saat melihat Petra memandang taman. Petra hanya diam. “Nona?” panggil Christa lagi. Petra menoleh, dia menatap tenang. “Aku hanya menikmati pemandangan, Christa. Kau pikir aku akan kabur?” Tanyanya dengan nada yang sedikit meremehkan. Christa menggeleng pelan. “Saya tidak bilang begitu,” katanya tenang. Sama sekali tidak terpancing untuk mengeluarkan emosi aslinya. Hening. “Mari, nona.”Petra dan Christa berjalan menuju sayap utama tanpa sepatah kalimat lagi. Sayap utama istana terlihat lebih megah dan lebih sunyi. Interiornya tinggi dan megah namun gelap, khas Amborgio. Keheningan yang justru menyesakkan, dan figur lukisan yang seolah-olah menuntut. “Ini kamar anda,” katanya menunjuk pintu di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status