Share

Dipaksa Menjadi Istri Musuhku
Dipaksa Menjadi Istri Musuhku
Penulis: Jingjing

Bab 1: La Viel Amborgio

Penulis: Jingjing
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-06 13:07:17

"Kau bisa menyeret ku ke altar, tapi kau hanya akan menikahi mayat. Karena jiwaku tidak akan pernah sudi kau miliki!”

Suara Petra menggema di ruangan tanpa cahaya itu. Rasa jijik menjalar membayangkan dia akan menikah dengan pembunuh ayahnya sendiri. “Lebih baik aku mati daripada menjadi istrimu!” kata-kata itu berulang di kepalanya.

Hatinya hancur lebur. Di ruang sempit yang diperuntukkan untuk tawanan perang sepertinya, Petra merasa sendirian. Seharusnya, perasaan sendirian itu lebih baik daripada kedatangan Viel pagi tadi. Dia tidak menarik Petra keluar dari kesendirian, dia menarik Petra ke neraka yang lebih menyiksanya.

Pagi itu, lantai beton di bawah telapak kaki telanjang Petra masih terasa dingin. Dingin yang tidak sedingin saat ia melihat mayat ayahnya terakhir kali dipertontonkan di depan banyak orang.

Petra meringkuk di sudut sel yang paling gelap, memeluk lututnya hingga kuku-kuku nya memutih. Setiap tetesan air yang jatuh dari langit terasa seperti hitungan mundur menuju kematiannya. “Aku berharap mereka segera mengeksekusi,” batinnya. Kematian adalah satu-satunya kemerdekaan yang tersisa bagi putri kerajaan yang telah rata dengan tanah.

Klotak. Klotak.

Suara sepatu bot yang berat menghantam lantai batu. Petra menegang. Jantungnya hampir copot. Itu bukan langkah kaki penjaga yang menyeret langkah. Itu langkah kaki yang teratur, angkuh dan penuh kuasa.

Pintu besi yang berat itu mengerang terbuka. Cahaya obong dari lorong menusuk mata Petra yang sudah biasa dengan kegelapan, memaksa dunianya yang hitam menjadi abu-abu yang menyakitkan.

Diambang pintu, berdirilah bayangan tinggi itu. Seragam Jendral yang kaku, lencana yang berkilat—simbol kehancuran bangsaku. La Viel Amborgio.

“Apa yang kau lakukan disini?” Suara Petra pecah, bergetar diantara isakan yang belum kering.

Viel tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah masuk, mempersempit ruang napas Petra, membuatnya merasa tercekik. Dia berjongkok di depannya, menyamakan tingginya dengan martabat Petra yang sudah hancur. Tangannya bergerak, seolah ingin menyentuh rambut Petra yang kotor oleh debu penjara.

“Jangan sentuh aku!”

Petra menepis dengan sisa tenaga, matanya berkilat penuh kebencian. “Lebih baik aku membusuk disini daripada menjadi budakmu.”

Viel tidak marah. Dia justru tertawa kecil, tawa yang membuat bulu kuduk musuh meremang.

“Aku tidak butuh budak, Petra,” ucapnya tenang. Jari-jarinya mencengkram dagu Petra, memaksanya menatap manik mata yang sedingin es. “Aku butuh seorang istri.”

Seketika, Petra mematung. Dunianya terasa berhenti. “Aku tidak akan menikah dengan pembunuh ayahku!”

“Keinginanmu tidak pernah masuk dalam hitunganku,” bisiknya, mendekatkan wajahnya hingga napasnya yang hangat terasa di kulit. Dia mencondongkan tubuh, mendekat ke telinga Petra yang membuat si putri membeku. “Kau akan menjadi milikku. Menjadi Grand Duchess-ku.”

Petra meremang. Sebelum ia sempat meludahi Viel, kecupan singkat dan dingin terasa di lehernya. Sebuah klaim. Sebuah segel kepemilikan.

Viel berdiri, merapikan seragamnya seolah baru saja melakukan percakapan santai tentang cuaca, lalu berbalik meninggalkan Petra yang gemetar hebat di lantai sel.

"Urus dia," suaranya menggema di lorong, ditujukan pada asistennya yang menunggu di luar. "Bawa dia pada Christa. Pastikan pengantinku siap untuk besok.”

Pintu beton itu tertutup kembali dengan dentuman keras, mengunci teriakan Petra didalam kegelapan yang kini terasa jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya.

Dalam kegelapan yang menelannya, air mata Petra mengering. Api baru menyala di relung hatinya, lebih panas dari bara. "Kau akan menyesali hari ini, Amborgio," bisiknya pada keheningan. "Aku akan bangkit dari abu, dan membalas setiap tetes darah yang kau tumpahkan!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 10: Catur di Balik Bayangan

    Suatu malam, Petra tidak bisa tidur di kamarnya. Viel belum pulang karena kerjaan yang menumpuk, meninggalkan Petra sendirian di kamar mereka. Cahaya bulan datang, seharusnya menjadi pendukung tidur yang nyaman. Tapi suara-suara bisikan dan langkah kaki di luar kamarnya membuat Petra tidak bisa tidur. Terlalu bising, terlalu membuat Petra penasaran. “Ada apa sebenarnya?” Gumam Petra sembari menarik selimutnya turun. Dia yang awalnya berbaring langsung duduk, matanya fokus ke satu arah sementara dia mencoba menajamkan telinganya. Sebagai putri dari suatu kerajaan, Petra tidak bisa tidur jika berisik. Apalagi kalau ada samar-samar bisik-bisik yang terdengar, ia ingin mendengar pembahasan mereka lebih lanjut. Srak. Petra bangun dari ranjangnya, mengenakan sandal kamarnya dan berjalan dengan langkah yang pelan mendekati pintu keluar kamar mereka. Berbekal kebiasaannya saat kecil, Petra melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya tanpa ketahuan. “Bagus, tidak ada siapapun,” gumamnya l

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 9: Topeng Kesetiaan

    Suasana ruangan itu berbeda malam ini. Tidak ada denting perak dari belasan bangsawan atau bisik-bisik pelayan di sudut aula. Hanya ada sebuah meja kecil di dekat perapian kamar pribadi Viel, temaram cahaya lilin, dan keheningan yang menyesakkan.Petra berdiri di dekat jendela, menatap bayangannya sendiri di kaca sebelum berbalik saat mendengar langkah bot yang berat. Viel masuk, melepaskan jubah militernya yang berat, dan melemparkannya ke kursi tanpa mengalihkan pandangan dari Petra."Makan malam privat?" Viel mengangkat alis, bibirnya membentuk lengkungan tipis yang sarkastik. "Aku tidak menyangka kau akan mengundang 'pembunuh ayahmu' untuk makan malam yang begitu intim."Petra menarik napas panjang, menekan rasa mual yang muncul setiap kali ia mendengar suara pria itu. Ia melangkah maju, tangannya sedikit gemetar saat meraih botol anggur—sebuah detail yang sengaja ia tunjukkan agar terlihat rapuh."Aku lelah berperang dengan bayang-bayang, Jenderal," ucap Petra pelan, suaranya ter

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 8: Perpustakaan yang Terkunci

    Esok harinya, setelah Petra mendapatkan izin dari Viel untuk mengeksplorasi istana. Dia langsung bersiap dengan semangat yang baru. Artinya, dia bisa mencari celah-celah informasi dan rahasia fisik yang bisa digunakan untuk membalaskan dendamnya. Hari ini, dia mengenakan gaun yang lebih santai. Masih dengan gaun berwarna gelap, kali ini hijau tua. Dia berjalan-jalan di istana, diawasi oleh dua pengawal yang dari tadi sedang mengikutinya. “Bunganya indah,” celetuk Petra begitu melewati taman, mengetes reaksi para pengawal. Tapi karena ini adalah pengawal Amborgio yang di bawah kepemimpinan Viel persis, mereka sangat serius. Sepanjang Petra berjalan-jalan, dia hanya mendapatkan hal normal. Tapi ada satu hal yang sangat dia sadari untuk sekarang. Setelah berkeliling, Petra sadar kalau keamanan istana Viel sangat tidak masuk akal. Seolah-olah dia takut akan ada pengkhianatan dari dalam, batin Petra. Langkah kaki Petra yang diikuti dua pengawal itu berjalan menuju ruangan yang letakn

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 7: Langkah di Atas Kaca

    Malam ini adalah momen yang membuat Petra gugup. Pertemuan pertama Petra dengan para Jenderal bawahan Viel dan para bangsawan yang datang untuk memberikan “penghormatan”. Petra mengenakan gaun yang masih tidak jauh dengan kegelapan, warna biru tua yang gelap dan terkesan sangat dingin. Rambut keemasannya kontras dengan kegelapan. “Oh, menarik.” Petra menoleh, Viel sudah siap dengan seragam formalnya yang membentuk tubuhnya terlihat semakin jelas dan tegas. Warna hitam, tentu saja. Namun ada lencana biru yang entah mengapa selaras dengan gaun milik Petra. “Mari pergi,” katanya sambil mengulurkan tangan. Petra diam, dia menatap tangan itu lalu menerima uluran tangannya pelan. Dia sudah membuat kesepakatan kalau dia akan menjadi istri yang sempurna. Dia tidak bisa merusak kesepakatannya diawal seperti ini. Setelah merasakan tangan Petra, Viel tersenyum tipis. Ia membawa Petra melangkahkan menuju tempat dimana acara utama itu dilaksanakan. Aula Audiensi. Begitu pintu terbuka, selur

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 6: Cahaya Pagi yang Menghakimi

    Petra terbangun setelah semalaman berpikir. Dia menarik selimutnya pelan, bangun perlahan menatap ke sekeliling. Dia masih disana, di kamar Viel. Hanya saja, dia sendirian. Mata Petra sedikit menyipit saat mencoba memahaminya. Viel sudah pergi dari sebelum matahari terbit, dia adalah suami yang sibuk. Itu kalimat yang pernah Petra dengan dari Christa. “Jadi dia sudah pergi, baguslah.”Tidak ada yang dirugikan dengan kepergian Viel dari pagi buta. Justru Petra merasa senang, dia bisa sedikit bernapas lega untuk sekarang. Kaki kecilnya menapak di atas lantai marmer yang dingin, sejenak dia tersentak karena dinginnya. Matahari sudah naik, tapi kehangatan tidak mau masuk ke dalam celah kamar Viel. Seolah-olah, kamarnya saja membawa batasan yang dingin. “Asing,” gumam Petra lirih. Dia bangkir dari ranjangnya, hendak ke kamar mandi. Sebelumnya, dia berhenti. Matanya menatap sofa tempat Viel tidur kemarin, bau alkohol sudah menghilang. Entah Viel yang memerintah pelayan pagi-pagi buta u

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 5: Sangkar Emas yang Dingin

    Malamnya, Petra di pindahkan ke sayap utama istana. Dia hanya mengenakan gaun tidurnya yang tipis dan polos, membuat angin dingin masuk ke kulitnya. Tapi yang lebih menjadi masalah bukan anginnya, tapi kemana Petra akan pergi. “Jangan lengah, nona. Kamar anda masih jauh,” tegur Christa saat melihat Petra memandang taman. Petra hanya diam. “Nona?” panggil Christa lagi. Petra menoleh, dia menatap tenang. “Aku hanya menikmati pemandangan, Christa. Kau pikir aku akan kabur?” Tanyanya dengan nada yang sedikit meremehkan. Christa menggeleng pelan. “Saya tidak bilang begitu,” katanya tenang. Sama sekali tidak terpancing untuk mengeluarkan emosi aslinya. Hening. “Mari, nona.”Petra dan Christa berjalan menuju sayap utama tanpa sepatah kalimat lagi. Sayap utama istana terlihat lebih megah dan lebih sunyi. Interiornya tinggi dan megah namun gelap, khas Amborgio. Keheningan yang justru menyesakkan, dan figur lukisan yang seolah-olah menuntut. “Ini kamar anda,” katanya menunjuk pintu di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status