Beranda / Rumah Tangga / Dipaksa Menjadi Istri Musuhku / Bab 5: Sangkar Emas yang Dingin

Share

Bab 5: Sangkar Emas yang Dingin

Penulis: Jingjing
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-06 13:11:00

Malamnya, Petra di pindahkan ke sayap utama istana. Dia hanya mengenakan gaun tidurnya yang tipis dan polos, membuat angin dingin masuk ke kulitnya. Tapi yang lebih menjadi masalah bukan anginnya, tapi kemana Petra akan pergi.

“Jangan lengah, nona. Kamar anda masih jauh,” tegur Christa saat melihat Petra memandang taman.

Petra hanya diam.

“Nona?” panggil Christa lagi.

Petra menoleh, dia menatap tenang. “Aku hanya menikmati pemandangan, Christa. Kau pikir aku akan kabur?” Tanyanya dengan nada yang sedikit meremehkan.

Christa menggeleng pelan. “Saya tidak bilang begitu,” katanya tenang. Sama sekali tidak terpancing untuk mengeluarkan emosi aslinya.

Hening.

“Mari, nona.”

Petra dan Christa berjalan menuju sayap utama tanpa sepatah kalimat lagi.

Sayap utama istana terlihat lebih megah dan lebih sunyi. Interiornya tinggi dan megah namun gelap, khas Amborgio. Keheningan yang justru menyesakkan, dan figur lukisan yang seolah-olah menuntut.

“Ini kamar anda,” katanya menunjuk pintu di depan mereka dengan tatapannya.

Petra sendiri hanya menatap pintu itu tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi. Hanya menatap datar.

“Kalau begitu, saya pergi. Kalau ada apapun, katakan saja,” lanjut Christa lalu berbalik melangkahkan kakinya menjauhi Petra.

Namun sebelum dia benar-benar menjauh, dia sempat berhenti. Bicara tanpa menoleh.

“Nona?”

Petra tidak membalas.

Christa tahu Petra mendengarkan. “Disini, dinding memiliki telinga dan bayangan memiliki mata. Jangan mencoba menjadi pahlawan yang mati konyol.”

Setelah mengatakan kalimat itu, Christa melanjutkan langkahnya meninggalkan Petra yang masih berdiri di depan pintu kamarnya sendirian.

Petra berbalik, dia mendorong pintu lalu masuk ke dalam kamar. Kamarnya luas, megah dan tentu saja bercorak gelap. Tidak hangat, hanya sangat dingin. Meski begitu, Petra tidak punya pilihan lain selain masuk.

Kakinya melangkah, bergerak duduk di atas ranjang dalam diam. Jendela kamar terbuka, bulan purnama datang. “Setidaknya kau bersinar meski sendirian,” gumam Petra.

Ia baru mau menaikan kakinya ke ranjang, sampai suara pintu terbuka membuat dia menoleh.

Pintu kayu ek yang berat itu berderit pelan sebelum tertutup dengan dentuman yang solid. Petra menahan napas. Di ambang pintu, Viel berdiri dengan seragam yang sudah tidak serapi tadi siang. Kancing atasnya terbuka, dan aroma alkohol yang tajam—campuran anggur tua dan bau tembakau—segera memenuhi ruangan.

Viel tidak langsung bicara. Ia melemparkan sarung tangan kulitnya ke atas meja kayu dengan kasar, lalu menatap Petra yang duduk di tepi ranjang. Tatapannya tidak lagi tajam seperti elang, melainkan sedikit sayu karena pengaruh mabuk, namun tetap memancarkan dominasi yang berbahaya.

"Masih terjaga, Grand Duchess?" suaranya rendah, serak, dan penuh penekanan pada gelar baru Petra.

Petra tidak menjawab. Ia bangkit perlahan, berdiri tegak di tengah ruangan. Gaun tidurnya yang tipis terasa seperti kulit kedua, membuatnya merasa telanjang di bawah tatapan Viel, namun ia menolak untuk membungkuk atau menunduk.

Viel melangkah maju. Langkahnya sedikit goyah, namun setiap inci gerakannya terasa seperti predator yang sedang mengklaim wilayahnya. "Kau tahu apa arti malam ini, bukan?" Viel berhenti tepat di depan Petra, sangat dekat hingga Petra bisa merasakan panas tubuh pria itu. "Secara hukum, kau adalah milikku. Jiwa, raga... dan setiap napas yang kau ambil."

Tangan Viel terangkat, jemarinya yang kasar menyentuh pundak Petra yang terbuka, mengusap kulitnya dengan gerakan yang menuntut. "Apakah kau akan terus memasang wajah batu itu di tempat tidurku?"

Petra bisa saja meludahi wajahnya. Ia bisa saja berteriak. Namun, kata-kata Christa tentang 'pahlawan yang mati konyol' terngiang di telinganya. Ia mengambil napas panjang, menatap tepat ke mata kelam Viel.

"Mari kita buat kesepakatan, Viel," ucap Petra lantang. Suaranya stabil, kontras dengan gemetar di jemarinya yang tersembunyi di balik lipatan gaun.

Viel menghentikan gerakannya. Ia mengangkat alis, tampak sedikit terhibur oleh keberanian wanita di depannya. "Kesepakatan? Di kamar pengantinmu sendiri?"

"Aku akan menjadi istri yang sempurna di hadapan publik," lanjut Petra tanpa ragu. "Aku akan berdiri disampingmu, memberikanmu legitimasi politik yang kau butuhkan untuk menjinakkan rakyatku. Aku akan menjadi simbol kedamaian yang kau inginkan agar kekuasaanmu tidak digoyang oleh para bangsawan yang membencimu."

Petra menjeda sejenak, matanya berkilat. "Sebagai gantinya... jangan sentuh aku tanpa izin. Jangan paksa aku melakukan kewajiban ranjang ini jika kau tidak ingin memeluk mayat yang dingin setiap malam."

Hening sejenak. Lalu, tawa rendah dan sinis keluar dari tenggorokan Viel. Ia tiba-tiba merangsek maju, mencengkram kedua bahu Petra dan mendorongnya hingga punggung Petra menghantam dinding dengan keras.

Dugh.

Viel mengurung Petra dengan kedua lengannya, menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Kau pikir kau punya posisi untuk menawar, Petra?" bisiknya tajam. "Aku bisa mengambil apa pun yang aku mau, kapan pun aku mau. Kau hanyalah tawanan yang kebetulan mengenakan mahkota."

Petra tidak berkedip. "Tawanan yang hidup jauh lebih berguna daripada perhiasan yang rusak karena dipaksa, Jenderal."

Viel menatap bibir Petra, lalu kembali ke matanya. Tensi di antara mereka begitu pekat, seolah-olah satu percikan saja bisa membakar seluruh kamar itu. Untuk beberapa detik, Petra yakin Viel akan melanggar kesepakatan itu.

Namun secara tiba-tiba, Viel melepaskan cengkeramannya. Ia mundur selangkah, merapikan rambutnya yang berantakan dengan gusar. Ia menatap Petra dengan tatapan yang sulit diartikan—seperti seorang kolektor yang menyadari bahwa barang buruannya memiliki taring.

"Sangat baik," ujar Viel dingin. "Aku tidak suka memaksa wanita yang jiwanya sudah mati. Itu membosankan."

Viel berbalik, berjalan menuju sofa panjang di sudut ruangan yang gelap. Ia menjatuhkan dirinya di sana, menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. "Tidurlah di ranjang itu. Tapi jangan berpikir ini adalah kemenanganmu. Ini hanyalah penundaan."

Petra tetap berdiri di tempatnya selama beberapa menit, memastikan Viel benar-benar tidak akan bergerak lagi. Dengan tangan yang masih gemetar, ia merangkak ke atas ranjang yang terlalu luas itu.

Malam itu, Petra tidak tidur. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang penuh ukiran rumit. Suara napas berat Viel di sofa menjadi pengingat konstan bahwa ia sedang tidur di dalam gua singa.

Mulai besok, batin Petra, matanya menatap tajam ke dalam kegelapan. Aku akan mempelajari setiap inci tempat ini. Setiap wajah, setiap rahasia, setiap kelemahanmu. Jika aku tidak bisa membunuhmu dengan pedang, aku akan membunuhmu dengan istanamu sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 10: Catur di Balik Bayangan

    Suatu malam, Petra tidak bisa tidur di kamarnya. Viel belum pulang karena kerjaan yang menumpuk, meninggalkan Petra sendirian di kamar mereka. Cahaya bulan datang, seharusnya menjadi pendukung tidur yang nyaman. Tapi suara-suara bisikan dan langkah kaki di luar kamarnya membuat Petra tidak bisa tidur. Terlalu bising, terlalu membuat Petra penasaran. “Ada apa sebenarnya?” Gumam Petra sembari menarik selimutnya turun. Dia yang awalnya berbaring langsung duduk, matanya fokus ke satu arah sementara dia mencoba menajamkan telinganya. Sebagai putri dari suatu kerajaan, Petra tidak bisa tidur jika berisik. Apalagi kalau ada samar-samar bisik-bisik yang terdengar, ia ingin mendengar pembahasan mereka lebih lanjut. Srak. Petra bangun dari ranjangnya, mengenakan sandal kamarnya dan berjalan dengan langkah yang pelan mendekati pintu keluar kamar mereka. Berbekal kebiasaannya saat kecil, Petra melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya tanpa ketahuan. “Bagus, tidak ada siapapun,” gumamnya l

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 9: Topeng Kesetiaan

    Suasana ruangan itu berbeda malam ini. Tidak ada denting perak dari belasan bangsawan atau bisik-bisik pelayan di sudut aula. Hanya ada sebuah meja kecil di dekat perapian kamar pribadi Viel, temaram cahaya lilin, dan keheningan yang menyesakkan.Petra berdiri di dekat jendela, menatap bayangannya sendiri di kaca sebelum berbalik saat mendengar langkah bot yang berat. Viel masuk, melepaskan jubah militernya yang berat, dan melemparkannya ke kursi tanpa mengalihkan pandangan dari Petra."Makan malam privat?" Viel mengangkat alis, bibirnya membentuk lengkungan tipis yang sarkastik. "Aku tidak menyangka kau akan mengundang 'pembunuh ayahmu' untuk makan malam yang begitu intim."Petra menarik napas panjang, menekan rasa mual yang muncul setiap kali ia mendengar suara pria itu. Ia melangkah maju, tangannya sedikit gemetar saat meraih botol anggur—sebuah detail yang sengaja ia tunjukkan agar terlihat rapuh."Aku lelah berperang dengan bayang-bayang, Jenderal," ucap Petra pelan, suaranya ter

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 8: Perpustakaan yang Terkunci

    Esok harinya, setelah Petra mendapatkan izin dari Viel untuk mengeksplorasi istana. Dia langsung bersiap dengan semangat yang baru. Artinya, dia bisa mencari celah-celah informasi dan rahasia fisik yang bisa digunakan untuk membalaskan dendamnya. Hari ini, dia mengenakan gaun yang lebih santai. Masih dengan gaun berwarna gelap, kali ini hijau tua. Dia berjalan-jalan di istana, diawasi oleh dua pengawal yang dari tadi sedang mengikutinya. “Bunganya indah,” celetuk Petra begitu melewati taman, mengetes reaksi para pengawal. Tapi karena ini adalah pengawal Amborgio yang di bawah kepemimpinan Viel persis, mereka sangat serius. Sepanjang Petra berjalan-jalan, dia hanya mendapatkan hal normal. Tapi ada satu hal yang sangat dia sadari untuk sekarang. Setelah berkeliling, Petra sadar kalau keamanan istana Viel sangat tidak masuk akal. Seolah-olah dia takut akan ada pengkhianatan dari dalam, batin Petra. Langkah kaki Petra yang diikuti dua pengawal itu berjalan menuju ruangan yang letakn

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 7: Langkah di Atas Kaca

    Malam ini adalah momen yang membuat Petra gugup. Pertemuan pertama Petra dengan para Jenderal bawahan Viel dan para bangsawan yang datang untuk memberikan “penghormatan”. Petra mengenakan gaun yang masih tidak jauh dengan kegelapan, warna biru tua yang gelap dan terkesan sangat dingin. Rambut keemasannya kontras dengan kegelapan. “Oh, menarik.” Petra menoleh, Viel sudah siap dengan seragam formalnya yang membentuk tubuhnya terlihat semakin jelas dan tegas. Warna hitam, tentu saja. Namun ada lencana biru yang entah mengapa selaras dengan gaun milik Petra. “Mari pergi,” katanya sambil mengulurkan tangan. Petra diam, dia menatap tangan itu lalu menerima uluran tangannya pelan. Dia sudah membuat kesepakatan kalau dia akan menjadi istri yang sempurna. Dia tidak bisa merusak kesepakatannya diawal seperti ini. Setelah merasakan tangan Petra, Viel tersenyum tipis. Ia membawa Petra melangkahkan menuju tempat dimana acara utama itu dilaksanakan. Aula Audiensi. Begitu pintu terbuka, selur

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 6: Cahaya Pagi yang Menghakimi

    Petra terbangun setelah semalaman berpikir. Dia menarik selimutnya pelan, bangun perlahan menatap ke sekeliling. Dia masih disana, di kamar Viel. Hanya saja, dia sendirian. Mata Petra sedikit menyipit saat mencoba memahaminya. Viel sudah pergi dari sebelum matahari terbit, dia adalah suami yang sibuk. Itu kalimat yang pernah Petra dengan dari Christa. “Jadi dia sudah pergi, baguslah.”Tidak ada yang dirugikan dengan kepergian Viel dari pagi buta. Justru Petra merasa senang, dia bisa sedikit bernapas lega untuk sekarang. Kaki kecilnya menapak di atas lantai marmer yang dingin, sejenak dia tersentak karena dinginnya. Matahari sudah naik, tapi kehangatan tidak mau masuk ke dalam celah kamar Viel. Seolah-olah, kamarnya saja membawa batasan yang dingin. “Asing,” gumam Petra lirih. Dia bangkir dari ranjangnya, hendak ke kamar mandi. Sebelumnya, dia berhenti. Matanya menatap sofa tempat Viel tidur kemarin, bau alkohol sudah menghilang. Entah Viel yang memerintah pelayan pagi-pagi buta u

  • Dipaksa Menjadi Istri Musuhku    Bab 5: Sangkar Emas yang Dingin

    Malamnya, Petra di pindahkan ke sayap utama istana. Dia hanya mengenakan gaun tidurnya yang tipis dan polos, membuat angin dingin masuk ke kulitnya. Tapi yang lebih menjadi masalah bukan anginnya, tapi kemana Petra akan pergi. “Jangan lengah, nona. Kamar anda masih jauh,” tegur Christa saat melihat Petra memandang taman. Petra hanya diam. “Nona?” panggil Christa lagi. Petra menoleh, dia menatap tenang. “Aku hanya menikmati pemandangan, Christa. Kau pikir aku akan kabur?” Tanyanya dengan nada yang sedikit meremehkan. Christa menggeleng pelan. “Saya tidak bilang begitu,” katanya tenang. Sama sekali tidak terpancing untuk mengeluarkan emosi aslinya. Hening. “Mari, nona.”Petra dan Christa berjalan menuju sayap utama tanpa sepatah kalimat lagi. Sayap utama istana terlihat lebih megah dan lebih sunyi. Interiornya tinggi dan megah namun gelap, khas Amborgio. Keheningan yang justru menyesakkan, dan figur lukisan yang seolah-olah menuntut. “Ini kamar anda,” katanya menunjuk pintu di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status