Share

67. Rumah

Author: bluaeya
last update publish date: 2026-09-09 20:00:55

Evelyn akhirnya membalikkan tubuh dan masuk ke dalam mobil, ia duduk di jok belakang. Pak Budi masuk ke kursi pengemudi.

Mobil perlahan meluncur keluar dari halaman rumah besar itu.

Sesampainya di parkiran kantor pengacara, Pak Budi mematikan mesin lalu menoleh ke belakang. “Nyonya, saya akan menunggu di sini.”

Evelyn mengangguk, membuka pintu, dan melangkah keluar dari mobil.

~~~

Kantor pengacara tampak lebih ramai. Evelyn duduk di kursi dengan punggung tegak, kedua tangannya menggenggam erat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   70. Masakan

    Dua hari setelah jadwal mediasi ditetapkan, kondisi Ibu Wijaya semakin membaik. Sore itu, langit di atas mansion Wijaya berwarna biru cerah. Sinta datang menjemput Ibu Wijaya dengan mobilnya.Pintu utama mansion dibuka oleh Sari, yang langsung mempersilakan Sinta masuk. Ibu Wijaya sedang duduk di ruang tamu.“Ibu Wijaya,” sapa Sinta. “Ibu saya masak banyak di rumah. Beliau tahu Ibu sudah boleh keluar rumah, jadi beliau mengundang Ibu untuk makan malam.”Ibu Wijaya tertawa kecil mendengar itu. “Nanti merepotkan.”“Justru Ibu yang berkali-kali meminta saya mengajak Ibu Wijaya.” bantah Sinta dengan lembut. "Beliau bilang masakannya sudah banyak dan tidak ada yang lebih menyenangkan daripada makan bersama teman lama. Jadi, Ibu Wijaya tidak perlu sungkan.”Kevin, yang sejak tadi duduk di ruang keluarga sambil bermain ponsel, ikut mendengar percakapan itu. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ibunya. “Ibu mau keluar? Bagus juga, biar nggak bosan di rumah.”Ibu Wijaya mengangguk. “Baiklah, k

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   69. Jadwal

    Menjelang malam, Bram baru keluar dari ruang rapat.Pertemuan berlangsung hampir lima jam. Investor akhirnya tetap melanjutkan kerja sama, tetapi dengan satu syarat tambahan.Mereka meminta Grup Wijaya memperkuat tata kelola perusahaan agar urusan keluarga tidak memengaruhi keputusan bisnis.Saat semua orang meninggalkan ruang rapat, Pak Surya menghampiri Bram. “Maaf kalau saya lancang. Kalau konflik rumah tangga ini berlangsung terlalu lama, dewan komisaris bisa mulai mempertanyakannya.”Bram mengangkat wajah. “Maksud Bapak?”“Direktur utama bukan hanya memimpin perusahaan. Ia juga membawa nama keluarga pemilik. Saya harap kau bisa menyelesaikan masalah ini demi perusahaan.”Bram tidak segera menjawab.Ia sadar, perjuangannya mempertahankan Evelyn kini tidak lagi berbenturan dengan perasaan istrinya saja.Perusahaan yang dibangun keluarganya perlahan ikut terseret ke dalam pusaran konflik itu.~~~Keesokan paginya, Bram tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ia berharap bisa menyel

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   68. Kunjungan

    Menjelang sore, suasana di sekitar rumah Evelyn terasa tenang dan damai. Di dalam rumah, Evelyn sedang sibuk di dapur, mencuci piring-piring kotor setelah persiapan makan malam.Di ruang tamu, Rara duduk di lantai sambil menggambar di atas kertas besar dengan pensil warna-warni. Kegiatannya itu tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar ketukan di pintu depan.Tok. Tok. Tok.Rara meletakkan pensil warnanya, berdiri dan berlari kecil menuju pintu. Dengan semangat, ia membuka pintu lebar-lebar.Begitu pintu terbuka, Rara tertegun sejenak. Rara membuka mulutnya lebar, lalu teriak kegirangan. “Kak Bram!”Bram tersenyum kecil. “Rara, gimana kabarnya?”Rara mengangguk dengan antusias, matanya berbinar-binar. “Udah sehat, Kak! Dokter bilang aku boleh sekolah lagi minggu depan.” Ia meraih tangan Bram dan menariknya masuk ke dalam rumah, tanpa memberi kesempatan Bram untuk menanggalkan sepatunya. “Yah! Kak! Kakak Bram datang!”~~~Di dapur, Evelyn menutup keran air, mengeringkan tangannya dengan h

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   67. Rumah

    Evelyn akhirnya membalikkan tubuh dan masuk ke dalam mobil, ia duduk di jok belakang. Pak Budi masuk ke kursi pengemudi. Mobil perlahan meluncur keluar dari halaman rumah besar itu.Sesampainya di parkiran kantor pengacara, Pak Budi mematikan mesin lalu menoleh ke belakang. “Nyonya, saya akan menunggu di sini.”Evelyn mengangguk, membuka pintu, dan melangkah keluar dari mobil.~~~Kantor pengacara tampak lebih ramai. Evelyn duduk di kursi dengan punggung tegak, kedua tangannya menggenggam erat sebuah map berisi dokumen-dokumen.Tidak lama kemudian, pintu ruang kerja di ujung koridor terbuka. Seorang perempuan melangkah keluar. “Silakan masuk, Nyonya. Kita bicara di dalam.”Evelyn berdiri, mengikuti perempuan itu ke dalam ruang kerja pengacara.Perempuan itu membuka map yang dibawa Evelyn, matanya bergerak cepat membaca sesekali ia mengangguk kecil. Tak lama kemudian ia mengangkat kepalanya menatap Evelyn. “Semuanya lengkap, Nyonya.”Evelyn mengangguk pelan. “Saya sudah memikirkannya

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   66. Damai

    Mobil berhenti di halaman mansion, mesinnya mereda sebelum akhirnya mati sepenuhnya. Pak Budi turun lebih dulu membuka pintu untuk Evelyn. Evelyn keluar dengan tangan membawa map.Di ruang keluarga, Ibu Wijaya duduk di kursi tunggal. Tubuhnya dibungkus selimut tipis. Di hadapannya, Sinta duduk dengan mangkuk sup.Ibu Wijaya tersenyum tipis. “Kau ini selalu merepotkan diri, Sinta. Kau tidak perlu datang hanya untuk membawakan sup.”“Tidak, Ibu.”Saat itulah Evelyn masuk ke ruang keluarga.“Evelyn, kau pulang.”“Halo, Sinta.” Evelyn tersenyum tipis.Ibu Wijaya memperhatikan map di tangan Evelyn. “Sudah selesai?”Evelyn mengangguk. “Sudah. Pengacaranya akan mulai menyiapkan berkas gugatan, tapi sebelum didaftarkan ke pengadilan, pengacara memintaku menyerahkan beberapa dokumen tambahan termasuk salinan buku nikah dan beberapa surat perjanjian pernikahan.”Tak lama kemudian, Bram masuk dan langsung menatap map di tangan Evelyn, rahangnya mengeras. “Kau jadi menyiapkannya.”Evelyn mengangg

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   65. Pengacara

    Pukul enam pagi.Hari yang selama enam bulan tidak pernah ingin dipikirkan akhirnya tiba. Hari terakhir kontrak pernikahan Bram dan Evelyn.Bram sama sekali tidak tidur. Ia masih duduk di ruang kerja sejak semalam dengan jas yang sudah kusut, kemeja yang tidak lagi rapi, dan mata yang merah karena begadang. Di hadapannya, tergeletak map kontrak pernikahan.Tok. Tok.Pak Budi masuk membawa secangkir kopi hitam. “Tuan, hari ini Ibu Wijaya sudah diperbolehkan pulang. Dokter mengatakan kondisinya cukup stabil untuk dirawat di rumah, asalkan tetap istirahat total dan tidak ada stres.”Bram mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada map di hadapannya. “Aku akan menjemputnya sendiri. Setelah itu, aku akan membawa Ibu pulang ke sini.”Pak Budi menundukkan kepala. “Tuan, lalu bagaimana dengan kontraknya?”Bram menyentuh permukaan map itu. “Aku belum tahu, Pak Budi.”Pak Budi hanya mengangguk. Ia meletakkan kopi di meja, lalu mundur perlahan, menutup pintu dengan pelan.~~~Rumah sakit masih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status