Share

74. Berkas

Author: bluaeya
last update publish date: 2026-09-18 17:59:17

Di rumah kecil itu, Evelyn masih duduk termenung di ruang tamu.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini, nama yang muncul di layar adalah Bram. Evelyn menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol hijau.

"Halo."

"Evelyn, kita perlu bicara. Videonya sudah membuat semuanya lebih rumit dari yang kita bayangkan." suara Bram terdengar lelah di seberang telepon.

Evelyn menutup matanya sejenak, merasakan beban baru yang tiba-tiba menumpuk di pundaknya. "Aku tahu, Bram. Aku juga baru saja bic
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   75. Kesempatan

    Keesokan paginya, pernyataan resmi itu terbit hampir bersamaan di akun resmi Grup Wijaya dan beberapa media besar yang sebelumnya sudah dihubungi tim humas.Reaksi publik datang lebih cepat dari yang siapa pun perkirakan.Sebagian orang menuliskan komentar penuh kekecewaan, merasa dikhianati oleh kisah cinta yang baru saja mereka rayakan beberapa hari sebelumnya. Sebagian lain justru memuji keduanya karena bersikap terbuka dan dewasa, tidak seperti kebanyakan pasangan publik figur yang memilih menutupi masalah rumah tangga mereka.~~~Sinta membaca pernyataan resmi itu di kamarnya sendiri, duduk di depan meja rias dengan cermin besar di hadapannya.Ponselnya berdering. Nama Ibu Wijaya muncul di layar."Halo, Bu." jawabnya dengan nada lembut yang sudah terlatih."Sinta, aku ingin minta tolong sesuatu darimu." suara Ibu Wijaya terdengar lelah di seberang telepon."Apa pun, Bu. Katakan saja.""Bisakah kau menemani Bram beberapa hari ini? Aku khawatir dia terlalu sibuk mengurus semuanya s

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   74. Berkas

    Di rumah kecil itu, Evelyn masih duduk termenung di ruang tamu.Ponselnya bergetar lagi. Kali ini, nama yang muncul di layar adalah Bram. Evelyn menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol hijau."Halo.""Evelyn, kita perlu bicara. Videonya sudah membuat semuanya lebih rumit dari yang kita bayangkan." suara Bram terdengar lelah di seberang telepon. Evelyn menutup matanya sejenak, merasakan beban baru yang tiba-tiba menumpuk di pundaknya. "Aku tahu, Bram. Aku juga baru saja bicara dengan pengacaraku.""Apa katanya?""Katanya, kalau pihakmu memakai video ini sebagai bukti hubungan kita masih baik, sidang mediasi bisa tertunda, bahkan mungkin lebih rumit dari yang kita kira."Hening sejenak di ujung telepon."Aku tidak akan memakainya untuk itu, tapi aku tidak bisa menjamin apa yang akan dilakukan dewan komisaris atau tim legal perusahaan kalau mereka melihat ini sebagai peluang."Evelyn menggenggam erat ponselnya. "Jadi sekarang bukan cuma soal kita berdua lagi.""Sepe

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   73. Viral

    Malam berjalan dengan lancar untuk sebagian besar waktu. Evelyn menjawab beberapa sapaan ringan dari kenalan lama keluarga Wijaya, tersenyum ketika perlu, dan menghindar dengan sopan ketika pertanyaan mulai mengarah terlalu dalam.Hingga seorang wanita berpakaian formal dengan kartu identitas media tergantung di lehernya mendekat, membawa mikrofon kecil dan seorang juru kamera di belakangnya.“Nyonya Evelyn, boleh saya tanya sesuatu?” katanya dengan senyum ramah.Evelyn menoleh, sedikit menegang. “Silakan.”“Belakangan ini ada beberapa spekulasi soal keharmonisan Anda dan Tuan Bram. Bisa Anda tanggapi?”Sebelum Evelyn sempat menjawab, Bram melangkah lebih dekat. “Malam ini kami di sini untuk mendukung acara amal, bukan untuk membahas spekulasi.”Wartawan itu tersenyum, meski tidak sepenuhnya puas. “Baik, terima kasih, Tuan Bram.”Ia mundur, tetapi matanya sempat melirik Evelyn sekali lagi sebelum benar-benar pergi, seperti menyimpan sesuatu untuk ditanyakan lain waktu.Evelyn menghela

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   72. Setuju

    Sinta sudah menghilang di balik pintu samping mansion, tetapi Ibu Wijaya belum bergerak dari kursi rotannya. Matanya masih tertuju pada kolam koi, namun perhatiannya sepenuhnya pada putra sulungnya yang duduk kaku di seberangnya.“Kau belum menjawab pertanyaanku, Bram.”Bram mengangkat kepala. “Pertanyaan apa, Bu?”“Kenapa kau tidak langsung bilang siapa yang akan kau ajak ke gala. Kau menarik napas dulu, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu yang berat.”Bram menatap permukaan air yang bergerak pelan mengikuti gerakan ikan-ikan di bawahnya. “Aku belum tahu jawabannya, Bu. Aku sudah bilang itu kepada Evelyn di telepon.”“Kalau begitu, kenapa kau masih duduk di sini? Kenapa tidak langsung menemuinya?”Pertanyaan itu membuat Bram menoleh. “Aku akan ke sana malam ini.” jawab Bram akhirnya. Ia berdiri, merapikan lengan jasnya yang sedikit kusut.Ibu Wijaya mengangguk pelan. “Apa pun jawaban Evelyn nanti, jangan memaksanya.”Bram mengangguk kecil. Ia berjalan menjauh dari taman, meningg

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   71. Bersiap

    Ibu Wijaya menarik napas panjang. “Sinta adalah perempuan yang baik, keluarganya juga baik. Ibu selalu senang bertemu mereka, Bram.” Ibu Wijaya menepuk pundak Bram. “Ibu mau ke kamar.”Setelah Ibu Wijaya masuk ke kamarnya dan menutup pintu, Bram masih berdiri di koridor. Ia menutup matanya sejenak. Di dalam hatinya, ada dua kekuatan yang saling tarik-menarik.~~~Pagi itu di ruang rapat divisi keuangan, Bram baru saja menyelesaikan rapat mingguan yang berlangsung selama satu setengah jam.Bram duduk di kursi kepalanya, merapikan tumpukan dokumen di depannya ketika pintu ruang rapat terbuka dan Pak Budi masuk.“Tuan.” panggil Pak Budi dengan hormat. Ia memberikan map kepada Bram. “Ada satu acara yang perlu segera diputuskan.”Bram mengangkat kepalanya. Ia meletakkan pulpennya dan mengulurkan tangan untuk menerima map hitam itu. “Mereka mengadakan gala tahunan?” tanya Bram sambil matanya menyapu detail acara. Pak Budi mengangguk. “Bukan sekadar gala, Tuan. Tahun ini mereka juga akan m

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   70. Masakan

    Dua hari setelah jadwal mediasi ditetapkan, kondisi Ibu Wijaya semakin membaik. Sore itu, langit di atas mansion Wijaya berwarna biru cerah. Sinta datang menjemput Ibu Wijaya dengan mobilnya.Pintu utama mansion dibuka oleh Sari, yang langsung mempersilakan Sinta masuk. Ibu Wijaya sedang duduk di ruang tamu.“Ibu Wijaya,” sapa Sinta. “Ibu saya masak banyak di rumah. Beliau tahu Ibu sudah boleh keluar rumah, jadi beliau mengundang Ibu untuk makan malam.”Ibu Wijaya tertawa kecil mendengar itu. “Nanti merepotkan.”“Justru Ibu yang berkali-kali meminta saya mengajak Ibu Wijaya.” bantah Sinta dengan lembut. "Beliau bilang masakannya sudah banyak dan tidak ada yang lebih menyenangkan daripada makan bersama teman lama. Jadi, Ibu Wijaya tidak perlu sungkan.”Kevin, yang sejak tadi duduk di ruang keluarga sambil bermain ponsel, ikut mendengar percakapan itu. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ibunya. “Ibu mau keluar? Bagus juga, biar nggak bosan di rumah.”Ibu Wijaya mengangguk. “Baiklah, k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status