Mag-log inTerima kasih sudah menemani Tama hingga Bab 101! Jangan lupa tinggalkan vote/gem dan terus ikuti kelanjutan konflik yang makin panas di bab berikutnya
Lampu hias di lorong lantai dua rumah megah Jakarta memancarkan pendar keemasan yang tenang saat malam makin melarut.Suara ketukan high heels yang tergesa-gesa terdengar menaiki anak tangga kayu jati utama.Wina melangkah masuk ke rumah dengan wajah tampak begitu tegang dan bibir ranumnya yang memanyun sebal.Eksekutif seksi berumur dua puluh tiga tahun itu melepas sepatu hak tingginya di dekat pintu, lalu melempar tas kerja kulitnya ke atas sofa ruang tengah dengan nada kesal.Tama yang sedang duduk di meja makan merapikan beberapa berkas nota restoran Wanda langsung berdiri menghampiri sang kakak tiri kedua."Mbak Wina... baru pulang kantor? Kok mukanya cemberut gitu?" sapa Tama ramah mencoba mencairkan suasana.Wina menengok, menyilangkan kedua tangannya di bawah dada hourglass-nya yang menantang, melayangkan tatapan mata jutek penuh cem
Sinar matahari pagi menembus kaca jendela meja makan utama rumah megah di Jakarta.Aroma harum nasi goreng spesial buatan Bi Surti menggugah selera sarapan seluruh penghuni rumah yang sudah berkumpul rapi di meja jati.Namun, Wanda yang duduk di samping Tama tampak gelisah menatap layar gawai di tangannya tanpa menyentuh piring makanannya."Mbak Wanda... kok nasi gorengnya cuma diaduk-aduk aja dari tadi?" tanya Tama memiringkan kepalanya menatap lembut raut cemas sang kakak tiri pertama."Iya nih, Kak Wanda dari tadi dahi berkerut mulu. Ada masalah di usaha restoran ya?" timpal Wina yang tampil rapi dengan seragam kerja eksekutifnya.Wanda menghela napas panjang, merapatkan duduknya ke dekat Tama sambil memperlihatkan pesan singkat dari manajer restorannya."Ini, Mas... Manajer Restoran Mbak di Jakarta baru aja kirim laporan," tutur Wanda dengan nada suara be
Malam mulai merayap makin larut menyelimuti kawasan perumahan elit di Jakarta.Suasana di dalam rumah megah berdinding marmer itu terasa sangat tenang dan sejuk oleh terpaan pendingin udara yang berembus halus.Usai santap malam bersama yang hangat, Diana, Wanda, dan Wina sudah kembali ke kamar masing-masing di lantai atas untuk beristirahat.Tama duduk sendirian di meja bundar balkon ruang tengah lantai dua, merapikan catatan kecil pembukuan kas rumah megah yang baru saja dipercayakan Diana padanya.Pena di jemari tegap Tama menari lincah mencatat rincian belanja harian, memastikan seluruh aliran dana keluarga terdata dengan sangat presisi.'Disuruh pegang kendali brankas rumah megah begini bikin kepala gue berasa jadi manajer keuangan korporasi yang harus siap disidak kapan aja,' batin Tama tersenyum tipis.Tiba-tiba, gawai pintar milik Tama yang tergeletak
Kecupan hangat di pipi kiri dan kanan Tama dari Wanda serta Weni meninggalkan rona merah bahagia di wajah pemuda tegap itu.Diana yang duduk bersandar di sofa utama tersenyum manis mengamati pemandangan harmonis di depan matanya."Sudah-sudah, anak bujang Mama jangan digendong terus sama kalian berdua," goda Diana dengan nada suara anggun nan hangat."Biarin, Ma! Kan jarang-jarang aku bisa meluk Mas Ganteng yang lagi pakai sweater baru pilihan aku," balas Weni melepaskan pelukannya perlahan sambil tertawa renyah.Wanda mengusap lembut bahu Tama, merapikan lipatan syal wol biru yang membalut leher sang pemuda dengan tatapan penuh kepasrahan emosional."Mbak mau ke kamar atas dulu ya, mau mandi sama ganti baju santai," pamit Wanda berbisik lembut di dekat telinga Tama."Iya, Mbak Wanda. Nanti kalau butuh bantuan panggil saya aja ya," jawab Tama penuh p
Deru mesin mobil MPV mewah melaju halus membelah jalanan menurun pegunungan Puncak menuju jalur utama tol arah Jakarta.Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat nyaman, diiringi alunan musik instrumental bernuansa santai yang menemani perjalanan siang menuju sore itu.Di kursi tengah, Diana dan Wanda duduk berdampingan sambil berbincang ringan membahas agenda mingguan bisnis kuliner dan properti Wanda di Depok.Sementara itu, Wina duduk di kursi baris ketiga bersama Weni, sesekali melempar candaan ringan dan saling menggoda mengenai liburan mereka yang berkesan di vila Puncak.Tama memegang kemudi dengan penuh konsentrasi, memastikan laju kendaraan tetap stabil di tengah kepadatan lalu lintas arus balik akhir pekan."Gimana, Mas? Perjalanannya nggak bikin ngantuk kan?" tanya Diana menengok ke depan dari kursi tengah."Aman banget, Ma. AC-nya dingin dan musi
Pemandangan bukit pinus yang hijau membentang luas di seberang lembah Puncak diselimuti sisa kabut pagi yang berarak tipis.Sebelum seluruh pintu mobil dirapatkan untuk perjalanan pulang, Diana mengusulkan agar rombongan menikmati sajian sarapan pagi terlebih dahulu di balkon lantai dua vila.Sinar matahari pagi yang mulai meninggi membiarkan pendar hangatnya menyentuh meja kayu tebal di sudut balkon yang menghadap langsung ke hamparan jurang dan pepohonan hijau.Tama melangkah menaiki anak tangga kayu membawa nampan berisi piring-piring roti panggang beroles mentega gurih, selai stroberi, serta potongan buah melon dan apel yang sudah diiris rapi."Awas pelan-pelan bawa nampannya, Mas," ingat Wanda yang sudah duduk anggun di kursi jati balkon memakai kardigan rajut tipis."Tenang aja, Mbak Wanda. Pegangan nampannya kokoh kok," sahut Tama tersenyum manis meletakkan piring-piring s







