LOGINNando segera berlari keluar dari ruang kontrol. Ia harus mencegat Zaskia sebelum wanita itu membuka pintu dan melihat pemandangan yang bisa menghancurkan reputasi Keenan sebagai CEO dingin.
Tepat saat Zaskia hendak mendorong pintu ruang rapat, Nando muncul dari tikungan lorong dan berteriak. "ZASKIA! TUNGGU!" Zaskia terlonjak kaget dan menoleh. "Nando? Kamu mengejutkanku! Aku hanya mau ambil ponselku yang tertinggal di dalam." NKeenan tiba-tiba merasa gelisah setelah membaca kertas yang diberikan papanya. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi Aruna. “Kenapa ponselnya mati?!” gamenya cemas. Keenan mencoba menelpon Nando dan Zaskia tapi tidak ada satupun jeng menjawab. “Sial! Kenapa ponsel mereka semua?! Tidak mungkin aku diam-diam pergi lagi ke penthouse, kan?!”gumamnya. Ia pun mengirim pesan pada Aruna. [Aruna : Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kenapa ponselnya mati?! Hubungi aku secepatnya kalau sudah baca pesan ku.] pesan itu terkirim tapi hanya centang satu. “Hhhh.. Ini benar-benar menyiksaku!” gerutu Keenan sambil mondar mandir di samping ranjangnya. Sementara itu, setelah Alexander meninggalkan kamar Keenan dengan ancaman, ia tidak langsung tidur. Ia menuju ruang kerja pribadinya, di mana Sofia, istrinya, sudah menunggu dengan wajah pucat dan mata sembab. ”Pa, aku tidak tahan lagi," isak Sofia saat pintu tertutup. "Felicia terus menerorku. Dia meminta bagian saham lebih banyak, atau dia akan b
Pintu kamarnya dibuka kasar oleh Alexander. Keenan berpura-pura terkejut dan menatap Papanya dengan tenang. "Papa? Dari mana saja? Malam-malam begini berisik sekali," tanya Keenan dengan nada datar. Alexander menatap putranya, lalu melihat ke arah kaki Keenan. Ada sedikit debu marmer dari balkon penthouse yang masih menempel di ujung celananya. Alexander berjalan mendekat, ia melihat debu itu, namun ia tidak mengatakan apa-apa. Ia mengeluarkan catatan dari Felicia dan melemparnya ke dada Keenan. "Selesaikan urusanmu dengan wanita ini, Keenan. Papa sudah menutupinya selama dua tahun, jangan sampai di hari pernikahanmu, skandal ini meledak. Kalau Aruna sampai terluka sedikit saja karena masa lalumu yang kotor ini, Papa sendiri yang akan membatalkan pernikahan kalian dan mengirimmu ke luar negeri selamanya," ancam Alexander sebelum berbalik pergi. Keenan menatap catatan itu. Isinya jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. [Keenan, rahasia di rumah sakit itu bukan cuma masala
"Itu Papa," desis Keenan. Ia menoleh ke sekeliling kamar dengan panik. Kalau Alexander menemukannya di sini, bukan hanya masa pingitan yang hancur, tapi Papa Keenan mungkin akan membatalkan pernikahan karena menganggap Keenan tidak disiplin dan tidak menghormati tradisi. "Keenan, kamu mau lewat mana?! Tidak mungkin kalau keluar lewat pintu depan!" Aruna mulai panik, ketakutannya pada Felicia kini beralih pada ketakutan akan kemarahan Alexander. Keenan melirik ke arah balkon. Di sudut balkon penthouse itu, terdapat tangga darurat vertikal yang terhubung dengan unit di bawahnya yang masih kosong—unit cadangan milik perusahaan. "Aku akan turun lewat tangga darurat ke lantai bawah. Aruna, dengarkan aku," Keenan memegang wajah Aruna dengan kedua tangannya, mencium keningnya dengan sangat dalam dan lama. "Jangan katakan pada Papa kalau aku di sini. Bilang saja kamu tadi bermimpi buruk dan tidak sengaja memicu alarm balkon. Zaskia... Dii mana Zaskia?" "Dia tidur di kamar tamu, dia m
Keenan terdiam sejenak mendengar pertanyaan Aruna. Jantungnya berdebar cepat. Keenan ingin jujur, tapi ia tidak ingin menghancurkan Aruna sekarang, hanya tiga hari sebelum janji suci mereka. "Felicia hanya terobsesi padaku, Aruna. Dia pernah bekerja untuk keluargaku dan dia merasa punya hak atas aku karena sebuah kejadian kecelakaan di masa lalu yang melibatkan Mamaku. Tapi aku bersumpah, tidak ada perasaan apa pun di antara kami. Aku hanya mencintaimu," kata Keenan sambil menatap Aruna dalam-dalam. Untuk membuktikan ucapannya, Keenan menarik tengkuk Aruna dan melumat bibir wanita itu. Ciuman itu terasa sangat emosional, antara rasa bersalah, rasa rindu yang menyiksa, dan keinginan untuk melindungi. Aruna membalasnya dengan desahan pasrah, tangannya merayap masuk ke balik hoodie Keenan, merasakan otot-otot keras yang selalu membuatnya merasa aman. "Aku merindukanmu, Keenan," bisik Aruna di sela ciuman mereka. "Aku lebih merindukanmu. Tiga hari itu sangat menyiksaku, Aruna. Da
Keenan membanting gelas wiski di atas meja ke lantai. Suara nafasnya memburu seketika itu, bukan karena alkohol, tapi karena amarahnya yang memuncak mendengar suara Felicia di sebrang telepon. [Dengar, Felicia! Jangan pernah berani menyentuh Aruna atau mendekatinya satu senti pun, atau aku bersumpah kamu akan menyesal nantinya!] desis Keenan dengan suara yang ditekan rendah, namun penuh ancaman. Di seberang telepon, Felicia hanya tertawa renyah, suara yang dulu terdengar elegan bagi Keenan, kini terdengar seperti suara iblis. [Oh, Keenan sayang... Kamu tahu ancaman tidak berlaku padaku. Kita punya ikatan yang lebih kuat dari sekadar ancaman. Catatan medis itu, janji di bawah sumpah itu... Kamu pikir Aruna yang suci itu akan tetap mencintaimu kalau dia tahu tanganmu pernah bersimbah darah demi menutupi kesalahanku dan Mamamu?] [Itu masa lalu, Felicia! Aku sudah membayar semuanya!] [Belum, Keenan. Kamu belum membayar 'bunganya'. Aku ingin kamu membatalkan pernikahan konyol ini
Keenan melepaskan pagutan bibir mereka, turun menuju telinga Aruna dan menggigit kecil daun telinganya. "Katakan, Aruna... Siapa yang pemilik tubuh mu?" "Kamu... Ahhh... Hanya kamu, Keenan," rintih Aruna. Suaranya terdengar pecah karena gairah yang sudah di ujung tanduk. Keenan menyeringai puas. Ia memposisikan dirinya di antara kedua paha Aruna yang terbuka lebar. Dengan gerakan yang perlahan namun penuh tekanan, ia kembali menyatu dengan Aruna. Sentuhan kulit ke kulit yang begitu intim membuat keduanya memekik nikmat. Setiap hentakan yang diberikan Keenan terasa begitu dalam, seolah ia ingin menyentuh jiwa Aruna, bukan sekadar tubuhnya. "Aku mencintaimu... Aruna... Sangat mencintaimu..." gumam Keenan serak. Napasnya memburu di depan wajah Aruna. Ia meraih kedua tangan Aruna, menguncinya di atas kepala dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi meremas aset berharga Aruna dengan penuh gairah. Malam itu, penthouse baru mereka menjadi saksi bisu betapa frustrasinya Keena







