MasukBegitu pintu apartemen lantai 12 itu tertutup dan terkunci, suasana langsung berubah drastis. Keenan tidak membiarkan Aruna menapakkan kaki di lantai. Ia langsung membopong Aruna menuju kamar utama mereka. Keenan menurunkan Aruna tepat di balik pintu kamar, menyudutkan tubuh wanita itu di antara pintu dan tubuh kekarnya. "Keenan..." desah Aruna saat merasakan deru nafas hangat Keenan terasa di keningnya. "Aku perlu memeriksa semuanya, Aruna. Semua bagian tubuhmu," bisik Keenan serak. Dengan gerakan yang sangat lembut namun penuh hasrat, tangan Keenan mulai membuka satu per satu kancing blazer yang dikenakan Aruna. Matanya menatap tajam setiap inci kulit yang mulus, mencari-cari apakah ada memar atau luka yang terlewatkan. Blazer jatuh ke lantai, disusul dengan kemeja putih Aruna. Keenan menelan ludah saat melihat istrinya kini hanya mengenakan dalaman satin tipis. Ia meraba bahu Aruna, lengannya, dan saat jarinya menc
Kenan tersenyum, menoleh ke arah Aruna sesaat. Sementara mobil melaju menuju area yang sangat dikenal Aruna, kawasan medis pusat kota. "Kita punya urusan sebentar," jawab Keenan singkat. "Urusan apa? Kamu mau beli obat? Luka dadamu sakit lagi? Atau jahitannya terbuka lagi?!" Aruna mulai panik, tangannya bergerak hendak memeriksa kancing kemeja Keenan. Keenan menahan tangan Aruna, membawanya ke pangkuannya dan meremasnya lembut. "Bukan aku yang sakit, Sayang. Tapi kita harus ke rumah sakit sekarang." "Kenapa kita ke rumah sakit?!" suara Aruna meninggi karena tiba-tiba merasa cemas. Keenan menghentikan mobilnya di depan lobi unit gawat darurat salah satu rumah sakit swasta terbaik. Ia menoleh pada Aruna dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh kekhawatiran yang ia sembunyikan sejak tadi. "Kamu terjebak asap di dalam ruangan pengap itu selama hampir satu jam, Aruna. Kamu batuk-batuk heba
Suasana di lobi utama Arkana Group sore itu masih terasa tegang. Meskipun jam pulang kantor sudah lewat sepuluh menit yang lalu, para karyawan masih tampak berlalu-lalang, seakan sengaja memperlambat langkah mereka hanya untuk melihat pemandangan yang dianggap ‘skandal baru’ di perusahaan itu. Aruna melangkah keluar dari lift dengan kepala tegak, meskipun aroma samar sisa kebakaran tadi pagi masih tercium di rambutnya. Aruna merasa sangat lelah luar biasa. Lelah fisik karena terjebak asap, dan lelah batin karena terus-menerus dipanggil Julian ke ruangannya hanya untuk pertanyaan tidak penting yang memancing gosip kembali memanas. [Aku sudah di depan lobi, Aruna. Jangan lewat pintu samping. Keluar lewat pintu utama,] suara Keenan terdengar di telinganya. [Keenan, jangan nekat! Kalau kamu muncul di sini, wartawan atau orang Papa bisa melihatmu,] balas Aruna berbisik sambil berpura-pura membetulkan posisi tasnya. [Aku tid
Keenan yang memperhatikan dan mendengarkan semuanya merasa begitu cemas, ia pun tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak mencegah Aruna. [Aruna, jangan masuk ke sana sendirian. Aku bersumpah, kalau dia menyentuhmu, aku akan meledakkan server perusahaan itu sekarang juga,] suara Keenan terdengar serak dan penuh ancaman di telinganya. [Tenang, Keenan. Kamu menonton semuanya, kan? Dia tidak akan berani macam-macam di kantor saat semua orang sedang memperhatikanku,] bisik Aruna lirih sambil melangkah menuju lantai atas. Begitu pintu lift terbuka di lantai CEO, suasana sunyi langsung menyambutnya. Namun, kesunyian itu terasa begitu mencekam. Aruna melewati meja sekretaris yang kini diisi oleh Zaskia. Sahabatnya itu memberikan tatapan cemas. Zaskia berdiri, berpura-pura merapikan dokumen saat Aruna lewat. "Hati-hati, dia sedang dalam suasana hati yang... Aneh," bisik Zaskia nyaris tak terdengar. Aruna mengang
Di apartemen, Keenan yang sedang memantau audio ruangan Aruna tapi tiba-tiba mendengar suara batuk-batuk yang hebat dan suara gemeretak api. [Aruna?! Aruna, jawab aku! Apa yang terjadi?!] Tidak ada jawaban. Keenan panik. Ia mencoba menghubungi ponsel Aruna, tapi dialihkan ke kotak suara. Keenan pun segera menghubungi Nando, "NANDO! KE RUANGAN ARUNA SEKARANG! ADA YANG TIDAK BERES!" teriak Keenan dengan sangat panik. Nando tidak membuang waktu. Ia berlari menuruni tangga darurat menuju lantai bawah tanah. Saat sampai di depan gudang riset, asap sudah keluar dari celah pintu. "ARUNA!" Nando menendang pintu itu dengan sekuat tenaga. BRAKK! BRAKK! BRAKK! Pintu akhirnya terbuka setelah tendangan ketiga. Nando segera menerjang masuk ke dalam menerobos kepulan asap. Ia melihat Aruna sudah tersungkur di lantai dekat meja riset, tangannya masih berusaha meraih sebuah kotak berisi data risetnya. "A
Keenan mencoba membuka pintu mobil, namun Aruna menahannya dengan sekuat tenaga. Ia memeluk leher Keenan, membenamkan wajahnya di dada pria itu. "Keenan, jangan! Jangan hancurkan rencana kita hanya karena bajingan mabuk itu!" isak Aruna. "Dengarkan aku... jika kamu menyerangnya sekarang, Alexander akan punya alasan untuk memenjarakanmu lagi. Kita butuh Global Medika. Kita butuh bukti kejahatannya. Tolong, tenanglah demi aku... Demi bayi kita." Mendengar kata 'bayi', tubuh Keenan yang tegang perlahan melunak. Ia mengatur napasnya yang memburu, meski matanya masih berkilat penuh amarah. Ia mencium kening Aruna dengan kasar, menyalurkan rasa protektifnya yang luar biasa. "Satu kali lagi... Kalau dia menyentuhmu satu kali lagi, aku tidak akan peduli pada rencana apa pun. Aku akan meratakan gedung itu," desis Keenan. Keenan menoleh pada Nando. "Nando, pastikan CCTV kejadian tadi diamankan. Itu akan jadi kartu as kita nanti.







